
Aduh bagaimana ini? Sebelumnya aku tidak pernah ketemuan sama ikhwan.
"Ketemu bagaimana maksudnya, Bang?" tanyaku pada Bang Rizky. "Ketemu face to face gitu?" lanjutku.
"Iya, face to face. Boleh kan, Ra?" ia balik bertanya padaku.
"Sebelumnya Aura minta maaf ya Bang. Aura belum pernah ketemuan sama ikhwan."
"Kamu takut? Hahaha. Jangan takut, Ra. Kita ketemu tidak hanya berdua. Nanti saya akan membawa Kakak saya untuk menemani kita." ucapnya.
"Oh begitu. In syaa Allah ya, Bang."
"Iya. Kapan dan di mana, nanti akan saya kabari lagi. Assalamu'alaikum."
"Baik, Bang. Wa'alaikumussalam." jawabku.
Ya Allah, ini Aura tidak mimpikan? Aura rasanya seneng banget bisa kenal dengan Bang Rizky. Salah tidak sih kalau Aura maunya dia yang jadi jodoh Aura? Mau berharap tapi takut broken heart.
***
Hari ini aku mau main ke rumah Icha. Mau curhat tentang Bang Rizky.
"Bu, Adik mau pergi ke rumah Icha, Bu." ucapku pada Ibu saat Ibu menghampiri aku di kios.
"Oh, ya sudah. Ibu yang akan menjaga kiosnya." sahut Ibu.
"Ibu tidak mau pergi ke grosir hari ini, Bu?" tanyaku.
"Tidak, Dik. Kenapa?"
"Adik mau bawa sepeda motor Ibu."
"Iya bawa saja, Ibu tidak ada niat mau pergi kemana-mana."
"Ok, Bu. Aura pergi sekarang ya." ucapku sambil meraih tangan kanan Ibu dan mencium punggung tangannya. "Assalamu'alaikum, Bu." sambungku.
"Iya, wa'alaikumussalam. Adik hati-hati di jalan." jawab Ibu.
"In syaa Allah, Bu.” sahutku.
Aku ambil kunci sepeda motor yang di gantung Ibu di dekat pintu, kemudian bergegas pergi menuju motor yang terparkir di sebelah kios. Setelah menyalakan mesin dan memanaskannya beberapa menit, akupum segera meluncur ke rumah Icha.
Tok.. Tok.. Tok... bunyi pintu yang aku ketuk. "Assalamu'alaikum, Chaaa." aku memanggil nama Icha dari luar rumahnya.
"Wa'alaikumussalam." ucap seseorang dari sebalik pintu. "Owh, Aura. Masuk, Nak." ucap Ibu Icha setelah membukakan pintu.
"Terima kasih, Buk. Aura mau ketemu sama Icha." jawabku.
"Owh, iya. Sebentar ya, Ra. Duduk saja dulu di sini." ucap Ibu Icha dan mempersilahkan aku untuk duduk. Lalu ia pergi memanggil Icha.
"Hai, Ra." sapa Icha. "Sudah lama?" tanyanya.
"Baru sampai, Cha." jawabku.
"Ayo kita santai-santai di kamar saja. Biar lebih leluasa." ajaknya.
__ADS_1
"Ayo." sahutku. Lalu kami pun pergi menuju kamar Icha.
"Duduk saja dulu, Ra. Icha mau ke dapur sebentar."
"Iya, Cha. Terima kasih." ucapku. Kemudian aku duduk dan bersandar pada katil Icha.
Lima menit kemudian, Icha datang.
"Ini, Ra. Icha bawakan cemilan sama minum. Silahkan." ucapnya dan meletakkan nampan berisi cemilan dan teh hangat.
"Wah, makasih, Cha. Jadi ngerepotin."
"Mana ada ngerepotin. Cuma segini saja, hee." ucap Icha.
"Aura makan ya. Bismillah." ucapku lalu memasukkan roti ke dalam mulutku.
"Oh ya, bgaimana, Ra? Rizky baik, kan?" tanyanya.
"Itu yang mau Aura ceritakan, Cha." jawabku.
"Iya iya. Ceritain donk. Icha jadi kepo deh, hehe." ucapnya sambil tertawa kecil.
"Icha kenapa tidak bilang kalau dia Bang Rizky Mahesa Putra?" tanyaku.
"Lha, memangnya Aura tidak tau?" tanyanya dengan mimik wajah heran.
"Iya, tidak tau." jawabku terus terang.
"Tapi setelah tau orangnya, kamu suka kan? Hayo ngaku." godanya.
"Alhamdulillah, Icha ikut bahagia." ucapnya.
"Oh ya? Kapan Icha menikah sama Bang Abdul?"
"In syaa Allah sebulan lagi."
"Hah? Cepat amat, Cha." ucapku kaget.
"Iya, keluarga Bang Abdul yang menentukan tanggal dan bulannya. Icha manut saja."
"Tapi bagus juga tuh cepat-cepat. Sudah sama-sama suka ngapain lama-lama, ya kan?" kali ini aku yang menggodanya.
"Betul. Cibu buat Aura, hehe." jawab Icha.
"Oh ya, bay the way Icha kapan kenalan sama Bang Rizky?"
"Oooh itu, sudah lama. Dari masih di pesantren. Jadi waktu itu Icha pernah jadi MC di acara porseni. Bang Rizky sempat ngobrol sama Icha waktu dia ngasi nomor urut lomba MTQ." ucap Icha menjelakan.
"Sejak saat itu sampai sekarang masih komunikasi?"
"Tidak pernah, Ra. Cuma beberapa kali saja, ketika itu dia minta nomor HP Aura. Itu juga nanya dari messenger, karena kita berteman di aplikasi biru berlogo F."
"Oh gitu. Icha tahu tidak? Bang Rizky bilang kalau dia ngefans sama Aura. Padahal kan sebenarnya dia yang punya banyak fans."
"Sungguh?" tanyanya kaget dan spontan memegang tanganku.
__ADS_1
"Iya, Cha. Aneh kan? Apa coba yang bisa buat dia jadi ngefans sama Aura? Aura cuma wanita biasa."
"Iya. Bagi Aura cuma wanita biasa. Tapi kalau bagi Icha, Aura tuh cantik luar dalam, pinter, solehah juga. Kalau bagi Bang Rizky, mungkin lebih dari itu."
"Ah jangan berlebihan, Cha." ucapku.
"Tuh kan, mulai merendah." sahutnya.
"Oh ya, Bang Rizky ngajak ketemuan."
"What? Kapan?" tanyanya antusias.
"Aura belum tau kapan, katanya nanti dia kabarin tanggal dan tempatnya."
"Hurmm. Pokonya Icha do'akan semoga Aura dan Bang Rizky berjodoh dunia akhirat." ucapnya tulus.
"Amiin ya Allah."
"Akhirnya, Aura dan Icha bisa nyusul Luna ke pelaminan, hee." ucapnya penuh rasa bahagia.
"Alhamdulillah, tapi kan Aura belum pasti Cha. Icha yang sudah mendekati hari H pernikahan."
"Iya sih. Tapi Icha yakin banget kalau Bang Rizky serius sama Aura." ucapnya meyakinkanku.
"Oh ya? Kenapa Icha bisa yakin?" tanyaku.
"Karena biarpun dia sempat di reject berkali-kali sama Aura, dia tidak menyerah." jawabnya. "Oh ya, tehnya di minum, Ra. Nanti keburu dingin tuh. Di anggurin mulu, hehe." sambungnya.
"Iya, ucapan Icha ada benernya juga. Semoga saja memang benar begitu." ucapku lalu meneguk teh perlahan-lahan.
"Aamiin, bi idznillah." sahut Icha.
"Tidak terasa ya sudah satu jam. Aura pamit pulang ya. Terima kasih roti dan tehnya." ucapku.
"Buru-buru amat pulangnya, padahalkan Aura jarang-jarang main ke sini."
"Lain kali kita meet up lagi di pantai sambil minum es kelapa, bagaimana? Sebelum Icha jadi istri Bang Abdul. Nanti kalau sudah menikah, pasti bakalan susah ketemu." pujukku.
"In syaa Allah nanti kalau ada waktu Icha whatsapp Aura ya." ucapnya.
"Oh ya, Aura lupa mau nanya. Setelah Aura chatting sama Bang Rizky, dia masih ada menghubungi Icha?" tanyaku.
"Tidak ada, Ra. Bang Rizky chat Icha cuma kalau ada keperluan saja." jawabnya.
"Oh gitu. Ya sudah deh, Aura pamit pulang ya. Salam sama Ibuk." ucapku.
"Iya, Aura hati-hati ya di jalan."
"In syaa Allah. Assalamu'alaikum, Cha. Daahh." ucapku lalu menyalakan motor.
"Wa'alaikumussalam." sahutnya.
Setelah mendengar Icha menjawab salamku, akupun menjalankan sepeda motorku, meninggalkan pekarangan rumah Icha sahabatku.
Setelah perjalanan lima belas menit, akupun tiba di rumah.
__ADS_1