Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Wedding Day


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Dua hari sebelum hari H, rumah kami sudah ramai di kunjungi oleh saudara-saudara dari jauh. Iya, mereka menginap di rumah kami.


Tetangga yang ikut rewang juga sudah pada berdatangan untuk bantu-bantu menyiapkan persiapan makan jalan, seperti membungkus tisu dan tusuk gigi, menggoreng kerupuk, meracik bumbu-bumbu dan sebagainya.


Sementara Kak Mea, senyuman seakan tidak mau pergi dari bibirnya. Dia terlihat sangat bahagia, lebih bahagia dari hari-hari sebelumnya. Sepupu-sepupu kami terus saja menggodanya sambil mengukir inai di kaki dan tangannya.


"Kak, beruntung Abang itu ya Kak, bisa mempersunting Kakak. Kakak kan cantik, baik, Abang itu kurang tampan." ucap Liya salah satu sepupu kami.


"Tidak apa-apa kurang tampan, yang penting tidak kurang baik, hehe." jawab Kak Mea sambil senyum cengengesan.


"Iya kan, Kak. Yang penting Abang itu baik, bertanggung jawab, sayang sama keluarganya." sambung Riri sepupu kami juga.


"Betul itu. Do'akan saja yang baik-baik untuk kami berdua ya." pinta Kak Mea.


"Iya, Kak." jawab mereka serentak.


Aku hanya duduk diam di sebelah Kak Mea, memperhatikan mereka berdua mengukir inai sambil mendengarkan semua yang mereka bicarakan.


Ntah mengapa, aku masih tidak yakin bahwa Bang Rafli sebaik yang Kak Mea kira. Ntah ini Su'udzon atau firasat buruk, biarlah waktu yang akan menjawabnya.


Hari ini teratak telahpun di pasang di depan rumah kami, pelaminan yang sangat indah juga telah siap. "Oh ya Allah, indah sekali pelaminannya. Andai saja Aura punya keberanian untuk duduk di sana berdua dengan Pria yang akan menjadi jodoh Aura." Ucapku dalam hati.


Aku yakin, jodoh terbaik pilihan Allah akan datang suatu hari nanti, saat aku benar-benar sudah siap untuk menikah, membentangkan jalan selebar-lebarnya menuju hubungan yang halal. Mengarungi bahtera rumah tangga bahagia bersama orang yang tepat.


Besok pagi pukul 10 Kak Mea akan melangsungkan Akad Nikah. Malam ini dia tidur lebih awal agar saat bangun pagi Kak Mea merasa segar.


***


Pagi-pagi sekali perias pengantin sudah datang untuk merias wajah Kak Mea, dia mendandaninya secantik mungkin di hari bahagia dan bersejarah ini.


"Ma syaa Allah. Cantik banget Kakak." ucapku pada Kak Mea.


"Iya donk, siapa dulu yang make-upin." ucap Kak Lala perias pengantin.


"Iya sih, tapi cantiknya Kak Mea bukan hanya faktor make-up, faktor orang juga itu. Hehe." sahutku dengan cengengesan.

__ADS_1


"Aura tidak mau sekalian Kakak make-up. Mana tau nanti ada yang kepincut sama Aura, bisa cepat-cepat nyusul Mea menikah."


"Terima kasih atas tawaran Kakak, tapi Aura tidak pernah make-up, takut nanti jadi aneh wajahnya. Aura mau natural saja."


"Aura tidak perlu make-up juga sudah banyak yang naksir, dianya saja yang belum mau buka hati." ucap Kak Mea.


"Namanya juga usaha, supaya nanti Kakak bisa dapat job lagi di sini. Haha." sahut Kak Lala sambil tertawa.


"Oalah, itu toh alasannya." ucap Kak Mea.


"Iya, tidak ada salahnyakan? Namanya juga usaha. Haha." ucap Kak Lala.


"Hahahahhh." aku hanya balas dengan tawa.


Setelah Kak Mea selesai make-up dan memakai baju kebaya putih, aku menuntunnya menuju tempat Ijab Qobul. Disana sudah ada Ayah, para saksi dan juga Ustadz.


Aku mengikuti semua tahap demi tahap, itung-itung menambah ilmu. Jika tiba giliranku nanti, aku sudah tau dan tidak terlalu gugup.


Kak Mea terlihat sangat canggung dan malu-malu saat duduk di sebelah Bang Rafli. Mungkin karena jarang bertemu membuat Kak Mea belum terbiasa berada di sisi Bang Rafli.


Kemudian aku menemani Ibu duduk di meja tamu. Menyambut setiap orang yang datang dan langsung mempersilahkan mereka masuk dan mengambil makanan.


Aku tatap wajah Ibu, terlihat sangat lelah tapi masih tetap saja bisa beramah-tamah dengan semua tamu undangan.


"Bu, Ibu sudah makan siang, Bu?" tanyaku.


"Belum, sebentar lagi Ibu makan, ini masih ada tamu yang datang. Ibu segan kalau tidak di sambut."


"Iya ya, cukup banyak juga tamu yang memenuhi undangan kita ya, Bu. Kalau begitu Adik ambilkan nasi Ibu ya, Ibu di sini sambil makan."


"Iya, boleh juga. Kamu juga makan ya, Nduk." pinta Ibu.


"Baik, Bu." sahutku. Kemudian aku beranjak dari tempat dudukku dan segera menuju meja hidangan.


Aku ambil satu persatu makanan yang menurutku sangat sedap. Tapi tidak terlalu banyak, takut mubazir kalau tidak habis. Setelah mengambil dua porsi makanan, aku pun kembali ke tempat Ibu.

__ADS_1


"Ini, Bu. Enak-enak menunya." ucapku sambil duduk lagi di sebelah Ibu.


"Terima kasih, Nak. Banyak juga ini."


"Kebanyakan ya, Bu?"


"Tidak apa-apa. In syaa Allah bisa Ibu habiskan. Tadi pagi Ibu juga belum sarapan."


"Loh, kenapa Ibu tidak sarapan?"


"Tidak keburu."


"Jangan begitulah, Bu. Kalau tidak makan nanti habis pesta Ibu malah tepar."


"In syaa Allah Ibu kuat. Oh ya, Ayahmu mana?"


"Sudah pulang dari tadi, Bu. Ibuk sama adik-adik juga tidak datang ke sini." jawabku.


"Kenapa begitu? Inikan hari pernikahan anaknya."


"Mana Adik tau, Bu. Biarlah, Bu."


Kemudian kami hanya diam dan fokus pada makanan masing-masing. Aku pun tidak tau apa yang ada di dalam fikiran Ayah. Jika Ibuk tidak mau datang ke sini aku sih nggak masalah, tapi kenapa Ayah juga nggak betah? Padahal di sini juga banyak saudara-saudara dari belah Ayah. Nenek, Bi Yana dan juga lima saudara kandung Ayah yang lainnya juga ada di sini, bahkan tadi malam Nenek dan Bi Yana menginap di rumah kami.


Ibu sudah memaafkan Nenek dan Bi Yana. Mereka juga sudah berubah dan sangat baik terhadap kami.


Aku lihat Kak Mea sudah beberapa kali ganti baju dan foto-foto di pelaminan bersama suaminya, pasangan halalnya.


Sesekali aku dan Ibu ikut berfoto bersama mereka. Begitu juga dengan sepupu dan saudara-saudara kami. Gambar ini nantinya akan menjadi kenangan yang indah.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, kantukku pun sudah datang. Lelah sekali rasanya hari ini, biarpun aku tidak banyak bantu-bantu.


Aku mendatangi Ibu dan memberithukannya kalau aku sudah ngantuk dan lelah. Lalu Ibu menyuruhku masuk ke dalam dan tidur. Agak segan sih, tapi mau bagaimana lagi, jika terus aku paksakan aku takut Asmaku akan kambuh karena terlalu capek.


Sesampainya di kamar aku langsung mengganti pakaianku. Kemudian pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu' sebelum tidur.

__ADS_1


Masih terdengar suara musik diluar, "Mungkin masih beres-beres." ucapku dalam hati. Tidak menunggu lama, begitu ragaku terbaring di katil akupun terus tertidur.


__ADS_2