
Angel tiba di perusahaan dan langsung naik ke lantai atas.
Sangat mudah baginya untuk keluar masuk ke dalam perusahaan karena dia adalah pemilik yang sah.
Angel masuk ke dalam ruangan Anton tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan mambuat Anton kaget.
“Papa.” Ucap Angel.
Anton membelalakkan kedua bola matanya menatap Angel.
“Angel sayang. Tumben datang ke perusahaan, ada apa?” Tanya Anton dengan lembut.
“Aku butuh bantuan Papa.”
“Hal penting apa itu? Bisa membuat putri Papa langsung datang ke perusahaan.”
“Aku mau Papa menyelidiki identitas seseorang.” Jawab Angel.
“Oh, siapa itu?” Anton penasaran. “Apa Angel memiliki musuh diluar?” Pikirnya.
“Aku hanya tau namanya Arfa. Presdir sebuah perusahaan. Tapi aku juga tidak tau nama perusahaannya. Sudah dua minggu aku tidak melihatnya.”
“Emmm. Boleh Papa tau siapa Arfa ini?” Anton semakin penasaran.
“Emmm.” Angel merasa malu hingga wajahnya sedikit memerah.
“Apa putri Papa menyukainya?” Anton bertanya.
Angel mengangguk sembari menutup wajahnya.
“Baiklah, karena dia orang yang disukai oleh putri Papa. Maka Papa pasti akan menyelidikinya hingga ke akar-akar.” Jawab Anton sembari tersenyum melihat putrinya yang sedang merona.
Kemudian Anton meminta sekretarisnya memeriksa identitas Arfa.
Sementara itu Angel memainkan gawainya sambil bersantai hingga ia merasa bosan.
“Pa, sudah dua jam berlalu. Kenapa masih belum mendapatkan berita apa-apa?” Tanya Angel lesu.
“Tunggu sebentar lagi sayang.” Pinta Anton.
Tokk.. Tokk.. Tokk.. Pintu ruangan Anton diketuk.
Kreakk!! Sekretaris Anton masuk ke dalam.
“Tuan, aku minta maaf. Aku sama sekali tidak bisa menemukan informasi tentang pria itu.” Ucap sekretarisnya.
“Baik, tidak apa-apa.” Sahut Anton.
Kemudian sekretarisnya mengundurkan diri.
“Haiissshhh. Sudah menunggu lama, tapi tidak mendapatkan hasil apa-apa.” Angel kesal dan merengut.
“Hmmmm.” Anton menghela nafas. “Sepertinya dia bukan orang biasa. Karena itu kita tidak bisa menyelidiki identitasnya.” Ucap Anton kemudian.
“Iya juga. Dia memang tidak terlihat seperti orang biasa.” Ucap Angel. “Ya sudahlah, kalau begitu aku pulang saja.” Lanjutnya.
“Pulang ke rumah, jangan menginap di hotel lagi.”
“Iya, Pa.” Sahut Angel.
“Tentang Arfa itu, kamu tenang saja. Papa masih bisa bertanya tentangnya pada rekan-rekan bisnis Papa.”
“Ok. Aku akan menunggu kabar baik dari Papa.” Angel tersenyum manis lalu keluar dari ruangan kerja Papanya.
__ADS_1
***
Keesokan hari.
Pagi-pagi setelah selesai sholat subuh Zara dan Zayn bersiap-siap untuk berangkat ke pesantren.
“Kita sarapan diluar saja.” Ajak Zayn.
“Baik.” Jawab Zara.
Selama ini Zara tidak pernah memasak dirumah karena memang dia tidak ahli memasak sama seperti Ibunya.
Zara bisa mengerjakan pekerjaan rumah yang lainnya. Tapi lemah dalam hal masak memasak, jadi mereka selalu memesan makanan dari luar atau makan diluar.
Pukul tujuh pagi mereka berangkat dari Apartment lalu mampir di restoran untuk sarapan pagi.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan.
“Bang, berapa lama perjalanan ke pesantren?” Tanya zara. Karena ini pertama kalinya ia pergi ke sana.
Dulu Amir dan Zayn sekolah di pesantren yang sama.
Zayn sekolah disana karena tempatnya terpencil dan aman baginya untuk bersembunyi dari para preman yang dulu pernah mengejarnya.
Sementara Zara dan Hulya juga sekolah di pesantren yang sama. Hanya saja tidak terlalu jauh dari kota.
“Emm, sekitar lima atau enam jam.” Jawab Zayn.
“Ma syaa Allah, jauh juga ternyata. Jika nanti aku mengantuk bagaimana?”
“Kalau mengantuk tidur. Kalau lapar makan.” Jawab Zayn datar.
Zara memutar bola matanya.
“Aku juga tahu itu. Tapi nanti kalau Abang bosan sendirian bagaimana?” Tanyanya.
“Ya sudah.” Zara ikutan cuek.
Setelah itu Zara fokus menatap jalanan yang mereka lalui.
Sesekali Zara memainkan ponselnya untuk menghilangkan kebosanan. Karena walaupun ada Zayn yang bersamanya, dia tetap merasa bosan.
Sepanjang jalan Zayn hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Sedangkan Zayn hanya fokus menyetir dan juga fokus mendengarkan lagu-lagu yang diputar di radio.
Pukul sepuluh lebih tiga puluh menit, Zara mengantuk dan kantuknya itu sudah tidak bisa ia tahan. Akhirnya ia pun memejamkan matanya.
Zayn tersenyum melihat Zara yang tertidur.
Beberapa jam kemudian.
“Zara, bangunlah. Kita sudah sampai.” Ucap Zayn sembari menggoyangkan bahu Zara perlahan-lahan.
Zara membuka matanya perlahan-lahan.
“Hah, sudah sampai?” Tanya Zara yang masih setengah sadar.
“Iya.” Jawab Zayn singkat.
“Sekarang sudah pukul berapa?” Tanya Zara lagi.
“Sudah pukul satu lebih. Ayo turun. Sholat Dzuhur.” Ajak Zayn.
__ADS_1
“I-iya.” Jawab Zara.
Mereka berdua turun lalu di sambut dengan ramah oleh Ustadz yang mengundang Rizky.
“Assalamu’alaikum, Ustadz.” Ucap Zayn.
“Wa’alaikumussalam, selamat datang Zayn.” Sahut Ustadz Ridwan. Lalu keduanya berjabat tangan.
“Ustadz, ini Zara istri saya.” Ucap Zayn memperkenalkan Zara pada Ustadz Ridwan.
Zara mengatupkan kedua tangannya didada lalu mengangguk. Begitu juga dengan Ustadz Ridwan.
“Apa sudah makan siang?” Tanya Ustadz Ridwan kemudian.
“Belum Ustadz.” Jawab Zayn. “Kami berdua mau sholat dzuhur terlebih dahulu.” Lanjutnya.
“Owh, baik. Silahkan.” Ustadz Ridwan mempersilahkan mereka berdua.
Zara dan Zayn permisi untuk pergi ke masjid yang berada ditengah-tengah pesantren.
Sementara itu, Ustadz Ridwan masuk ke dalam rumahnya lalu meminta istrinya untuk menyiapkan makan siang.
“Makan siang untuk siapa, Bi?” Tanya Ustadzah Amina.
“Untuk Zayn dan istrinya.” Jawab Ustadz Ridwan.
“Oh, ma syaa Allah. Sudah sampai.” Ustadzah Amina sumringah.
“Sudah, sekarang sedang sholat dzuhur di masjid.” Jawab Ustadz Ridwan.
“Abi, siapa yang datang?” Tanya Maryam pada Abinya.
“Alumni pondok pesantren kita. In syaa Allah besok akan menjadi juri.”
“Ma syaa Allah. Sudah lama lulusnya, Bi?” Tanya Maryam lagi.
“Sudah, Nduk.” Jawab Abinya. “Kamu bantu Ummi untuk menyiapkan makanan ya.” Pinta Ustadz Ridwan.
“Baik, Abi.” Sahut Maryam.
Tidak lama kemudian Zayn dan Zara masuk ke dalam rumah Ustadz Ridwan.
“Assalamu’alaikum, Ustadz.” Ucap Zayn.
“Wa’alaikumussalam. Ayo sini masuk, Nak. Makan siang sudah dihidangkan.” Sahut Ustadz Ridwan dengan ramah.
“Ma syaa Allah, terima kasih banyak Ustadz. Afwan (maaf) kami jadi merepotkan.” Ucap Zayn.
“Ini hal kecil. Sama sekali tidak merepotkan. Ayo silahkan dimakan.” Ucap Ustadzah Amina.
“Terima kasih, Ustadz dan Ustadzah.” Ucap Zayn dsn Zara serentak.
Zayn dan Zara makan siang berdua ditempat yang sudah disediakan oleh Ustadzah Amina dan Maryam.
“Ummi.” Panggil Maryam.
“Ada apa, Nduk?” Tanya Ustadzah Amina.
“Sekarang sudah saatnya ganti pisp*t. Tapi tadi saat aku memegang tubuhnya, dia demam.” Jawab Maryam menjelaskan.
“Ya Allah. Kenapa bisa demam?” Ustadzah Amina tampak panik.
Zayn dan Zara memperhatikan sambil makan.
__ADS_1
“Mungkinkah adiknya sedang sakit?” Zara bertanya didalam hatinya.
“Siapa yang sakit? Bukankah Ustadz Ridwan hanya memiliki seorang putri?” Zayn juga bertanya didalam hatinya.