Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
First Love Cafe


__ADS_3

Hari ini aku dan Bang Rizky akan bertemu di First Love Cafe setelah sholat dzuhur.


Aku bingung mau pakai gamis yang mana? Hurmm. Aku buka lemari baju milikku dan aku pandangi satu per satu gamis yang tergantung di dalamnya.


Sebenarnya gamisku tidak banyak, hanya sekitar tiga puluh saja. Tapi itu tetap membuatku sulit untuk membuat keputusan.


Setelah setengah jam mantengin isi lemari, akhirnya aku putuskan untuk memakai gamis yang berwarna hitam. Dipadukan dengan khimar pink kesukaanku. Jadilah aku Aura black pink, haha.


Allahhu Akbar,, Allahu Akbar... Suara adzan dzuhurpun berkumandang. Aku bergegas pergi ke kamar mandi untuk berwudhu' dan menunaikan sholat dzuhur empat raka'at.


Setelah selesai sholat, akupun mandi dan siap-siap untuk pergi menemui Bang Rizky.


"Bu, Adik mau pergi sekarang." ucapku pada Ibu berpamitan.


"Adik mau ke mana?" tanya Ibu. Sepertinya Ibu lupa, padahal aku sudah bilang kalau hari sabtu mau pergi ke First Love Cafe.


"Adik mau pergi ke First Love Cafe, Bu. Kan kemarin Adik sudah cerita sama Ibu." jelasku.


"Oh iya, mau ketemu sama calon menantu Ibu, iya kan?" ucap Ibu dan tersenyum.


"Hehee. Iya, Bu. Tapi jangan bilang calon menantu donk, Bu. Adik belum ada hubungan apa-apa sama dia."


"Tidak apa-apa. Lagi pula niatnya sudah benar, mau jadi suami Adik. Berarti calon menantu Ibu." ucap Ibu.


"Iya deh, Bu. Do'akan saja, semoga Adik tidak salah memilih pendamping hidup." sahutku.


"Aamiin, semoga tidak salah. Ya sudah, Adik perginya hati-hati. Ini uang buat ongkos dan pegangan." ucap Ibu sambil menyodorkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah dan biru.


"Hah? Apa ini tidak kebanyakan, Bu?" tanyaku dengan ekspresi kaget.


"Tidak, sudah di bawa saja."


"Iya, Adik pergi dulu ya, Bu." ucapku sambil meraih tangan kanan ibu dan mencium punggung tangannya. "Assalamu'alaikum." lanjutku.


"Iya, wa'alaikumussalam." sahut Ibu.


Setelah selesai berpamitan dengan Ibu. Aku pun pergi menuju First Love Cafe.


Sesampainya di sana, aku tidak melihat sosok Bang Rizky, "Mungkin belum sampai." gumamku di dalam hati. Lalu aku pergi duduk di pojok dan menunggu kedatangan mereka.


Lebih kurang sudah lima belas menit aku duduk sendirian di sini dan belum memesan apapun.


Tiba-tiba ada seorang pria yang menghampiriku.


"Apa saya boleh dusuk di sini?" tanyanya.


"Maaf, Bang. Saya sedang menunggu teman, Abang duduk di tempat lain saja ya." jawabku. Aku tidak melihat siapa yang ada di depanku, karena aku masih fokus memainkan gawaiku.


"Teman? Siapa?" tanyanya lagi.


Aku diam dan tidak menjawab pertanyaannya kali ini. "Mau tau saja urusan orang." gumamku di dalam hati.


Karena aku tidak merespon pertanyaannya, diapun langsung duduk di depanku.

__ADS_1


"Bang, saya......" kalimatku berhenti di situ saat aku mengangkat kepalaku dan melihat sosok yang kini ada dihadapanku.


"Saya apa? Hehe." tanyanya sambil tertawa kecil.


Aduh ya Allah, ternyata Bang Rizky. Mana senyumnya manis banget lagi. "Wajahku, please jangan jadi merah seperti tomat." ucapku di dalam hati. Aku tidak berani menatapnya lagi, lalu aku menundukkan kepalaku.


"Kamu kenapa? Wajahnya berubah jadi merah begitu? Marah sama saya?" tanyanya serius.


"Ini bukan marah Bang, tapi malu!" ucapku di dalam hati dan masih menundukkan kepalaku.


"Eh, tidak kenapa-kenapa, Bang. Biasa saja, hehe." ucapku cengengesan. "Oh ya, Kakak Abang mana?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Ada, katanya masih di jalan. Mungkin sebentar lagi sampai." jawabnya. "Aura sudah berapa lama menunggu?" sambungnya.


"Emm, sekitar lima belas menit gitu." jawabku jujur.


"Owh, maaf ya Abang telat. Aura jadi menunggu lama." ucapnya merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Bang. Santai saja, hehe." ucapku sambil tertawa kecil untuk menghilangkan rasa bersalahnya itu.


"Oh ya, Aura belum pesan apa-apa?" tanyanya.


"Belum." jawabku singkat.


"Bang, sini." ucapnya sambil melambai-lambaikan tangannya memanggil pelayan.


"Iya, Bang. Silahkan di lihat-lihat daftar menunya." ucap pelayan yang menghampiri meja kami sambil menyodorkan buku menu.


"Aura mau pesan apa?" tanya Bang Rizky.


"Pesan Cappuccino saja." jawabku.


"Kalau begitu, pesan cappucino satu dan jus nanas buah naga satu." ucap Bang Rizky pada pelayan tersebut.


"Baik." ucapnya, setelah mencatat pesanan kami, pelayan itu pun pergi.


"Aura suka minum kopi?" tanyanya tiba-tiba, memecahkan keheningan.


"Iya, suka." jawabku.


"Jangan sering-sering ya." ucapnya pelan. Mungkin dia tidak ingin membuatku tersinggung.


"Iya, tidak sering." jawabku.


"Oh, ya. Abang mau memberikan ini pada Aura." ucapnya sambil menyodorkan beberapa lembar kertas yang sudah di klip.


"Ini apa, Bang?" tanyaku sambil meraihnya.


"Lihat saja judul besarnya, bacanya nanti saja di rumah." jawabnya.


"Owh, ini proposal ta'aruf."


"Iya."

__ADS_1


"Tapi Aura tidak ada buat proposal seperti ini, Bang."


"Tidak apa-apa, ini cuma inisiatif Abang saja. Supaya Aura bisa lebih tau tentang kehidupan pribadi Abang." jelasnya.


"Jadi, Aura tidak perlu buat proposal seperti ini?" tanyaku.


"Tidak perlu." jawabnya singkat.


Tiba-tiba datang seorang wanita menghampiri kami bersama dua anaknya, laki-laki dan perempuan.


"Ky, maaf ya Kakak baru sampai." ucap wanita tersebut.


"Iya tidak apa-apa." sahut Bang Rizky. "Aura, ini Kakak saya, Kak Agatha." ucap Bang Rizky padaku memperkenalkan Kakaknya.


Kak Agatha mengulurkan tangannya padaku, akupun menyambutnya dan menyalaminya.


"Aura, Kak." ucapku.


"Iya. Ini anak-anak Kakak. Yang ini Rasya dan yang ini Bella." ucap Kak Agatha memperkenalkan aku pada putra putrinya.


"Iya, Kak." ucapku dan menganggukkan kepalaku.


"Ayo duduk." ajak Bang Rizky.


Kemudian kami duduk dan melanjutkan obrolan.


"Kak, kami sudah pesan minum. Kakak mau pesan apa?" tanya Bang Rizky pada Kakaknya.


"Kakak pesan jus alpukat tiga." jawab Kak Agatha.


"Ini Mas, Mba, cappucino dan jus nenas buah naga." ucap pelayan yang datang mengantarkan pesananku dan Bang Rizky.


"Iya, terima kasih. Saya tambah jus alpukat 3 ya." ucap Bang Rizky.


"Baik, Mas." sahut pelayan tersebut, lalu pergi meninggalkan kami.


"Om, Tante ini siapa? Bella belum pernah lihat." tanya anak perempuan yang bernama Bella.


"Ini bukan Tante, sayang. Tapi ini Ucu, Ucu Aura. Teman Om." jelas Bang Rizky.


“Owh, Ucu." sahut Bella.


"Kalian cuma pesan minum saja, tidakmau sekalian makan?" tanya Kak Agatha tiba-tiba.


"Kakak belum makan?" Bang Rizky balik bertanya pada Kakaknya.


"Belum, hehe. Kirain mau sekalian makan." jawab Kak Agatha sambil cengengesan.


"Kalau Aura? Apa belum makan juga?" tanya Bang Rizky padaku.


"Aura sudah makan tadi di rumah. Tapi kalau Kak Agatha dan Abang mau makan, silahkan. Nanti Aura pesan chicken chop saja." jawabku.


Kebetulan tadi aku lihat di daftar menu ada chicken chop. Tadi mau pesan tapi aku merasa tidak enak kalau makan sendirian. Kebetulan banget Kak Agatha belum makan, akhirnya kesampaian deh makan chicken chopnya, hehe.

__ADS_1


__ADS_2