Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Dia Seorang Chef


__ADS_3

Seampainya di rumah, Ibu langsung memberiku banyak pertanyaan.


"Assalamu'alaikum, Bu. Adik pulang." ucapku lalu menghampiri Ibu di kios.


"Wa'alaikumussalam. Bagaimana tadi, Dik? Lancar?" tanya Ibu.


"Alhamdulillah, Bu." jawabku.


"Ayo ngobrol di dalam saja. Mumpung belum ada pembeli." ajak Ibu. Lalu Ibu masuk untuk mengobrol di ruang tengah.


Sebelum aku masuk ke dalam mengikuti Ibu, aku mengambil fanta dari kulkas.


"Sini, sini, sini, cerita sama Ibu." ucap Ibu antusias.


"Cerita apa, Bu?" tanyaku setelah meneguk fanta.


"Dia orang mana, Dik?"


"Orang Medan, Bu." jawabku.


"Wah, jauh-jauh dia datang ke sini cuma buat ketemu sama Adik. Hebat itu." ucap Ibu.


"Iya, Bu. Di angkot lebih kurang memakan waktu 4 jam. Pasti pinggangnya pegal-pegal, haha." ucapku sambil tertawa.


"Iya, Adik saja kalau naik angkot dari sini ke Medan, selalu ngeluh sakit pinggang, hehe." ucap Ibu. "Lalu bagaimana tadi di sana? Dia bilang apa saja? Kakaknya baik tidak pada Adik?" tanya Ibu lagi.


"Alhamdulillah Kak Agatha baik, Bu. Kita tadi di sana cuma ngobrol biasa saja dan makan." jawabku.


"Owh gitu. Ibu kira sudah merencanakan pernikahan, hehe." ucap Ibu.


Aku tau mengapa Ibu bersikap demikian, itu karena Ibu sangat bahagia melihat aku sudah mulai berani membuka hati dan mencoba untuk menerima seseorang.


"Belum, Bu." ucapku. Lalu aku mengeluarkan sebuah proposal dari dalam tasku. "Tapi tadi Bang Rizky memberi proposal ini pada Adik, Bu." sambungku.


"Proposal? Proposal apa itu?" tanya Ibu.


"Proposal ta'aruf, Bu. Tapi belum Adik baca sih." jawabku.


"Ya sudah, langsung di baca. Nanti kalau sudah selesai baca, ceritakan sama Ibu isinya apa." pinta Ibu.


"Iya, Bu. Adik masuk kamar dulu ya, Bu. Mau baca ini, Adik juga penasaran isinya apa, hehe." ucapku sambil cengengesan.


"Iya." sahut Ibu sambil mengangguk pelan.


Aku beranjak dari tempat dudukku dan pergi masuk ke kamarku. Aku langsung membuka lembar pertama.


Lembar pertama berisi nama lengkap Bang Rizky, tempat tanggal lahir dan lain-lain.


But wait, Bang Rizky bekerja sebagai chef di sebuah hotel bintang lima??

__ADS_1


*"Kyyyaaaaaaaaaaaaaaaaa....."* ini serius? Ya Allah, apa jadinya kalau dia tau Aura tidak pintar masak? Hiks,, hiks,, hiks... Tiba-tiba saja nyaliku menjadi ciut.


Lalu aku buka lembar berikutnya, ia menceritakan visi misi dalam pernikahan dan lain-lain.


Hingga aku sampai pada lembar yang terakhir, di sana tertulis bahwa dia pernah ingin berkenalan denganku, tapi malu untuk menyapa duluan.


Lalu dia menulis bahwa dia pernah mencoba untuk menjebakku dengan cara menjatuhkam sebuah surat saat papasan denganku. Saat itu aku sedang berjalan sendirian sambil membaca buku.


"Kalau saja waktu itu Aura mengambil surat itu dan memberikannya kepada saya, saya pasti akan memberanikan diri untuk bertanya nama Aura. Tapi sayangnya, Aura terlalu cuek, sehingga Aura mengabaikan amplop surat itu." tulisnya.


"Ini kejadiannya kapan ya? Aku sama sekali tidak ingat." tanyaku di dalam hati.


Aku coba mengingat-ingat kejadian itu. Lama aku berfikir tapi belum juga bisa mengingatnya. Hurmm.


Saat aku berjalan sendirian sambil baca buku, berjalan sendirian dan baca buku, jalan sambil baca buku, hurrmm. Aku terus mengulang-ulang kalimat itu sampai aku ingat kejadian itu.


"Ahaaa, aku ingat. Saat itu aku sedang menghafal materi untuk kultum setelah selesai sholat maghrib. Karena itulah aku berjalan sendirian tanpa di temani oleh Luna atau Icha. Lalu saat itu aku berpapasan dengan seseorang, tapi aku tidak tau seseorang itu siapa karena aku terlalu fokus pada bukuku. Lalu aku perasan ada sebuah amplop surat jatuh, aku lihat amplop itu dan aku yakin itu bukan milikku, maka aku mengabaikannya." ucapku pada diri sendiri.


Bang Rizky lucu ih, mau kenalan saja pakai acara jatuhin amplop surat segala, haha. Bayangkan kalau dia berbuat seperti itu pada fansnya, mungkin mereka akan teriak-teriak kegirangan, atau bahkan pingsan.


Aku selalu mendengar mereka membicarakan Bang Rizky, dia putih bersih, tingginya ideal, tampan, hidung mancung, raut wajah mirip oppa-oppa, fisiknya perfect, prestasi selangit. Wanita mana yang tidak menginginkannya?


Saat tadi aku berdiri di dekat Bang Rizky, aku hanya sebahunya, hikss.


Ting!! Gawaiku berbunyi. Aku raih dan langsung membuka sebuah chat.


"Assalamu'alaikum, Aura sudah sampai rumah?" tanya Bang Rizky.


"Iya tidak masalah. Sudah selesai di baca?" tanyanya lagi.


"Sudah, Bang."


"Apa pendapat Aura tentang saya?"


"Abang lucu."


"Lucu? Lucu bagaimana maksudnya?"


"Iya, lucu. Oh ya, Bang. Kalau Aura boleh tau isi suratnya apa?" tanyaku.


"Surat yang mana?"


"Surat yang waktu itu Abang jatuhkan di kaki Aura?"


"Oowh, tidak ada isinya. Itu cuma amplop sama kertas kosong doank, hehe." tulisnya.


"Oh begitu. Abang nanti sholat asharnya bagaimana?"


"Kami mampir di masjid."

__ADS_1


"Oh, nanti habis sholat naik angkot lagi? Pasti lama nunggu angkotnya datang."


"Hah? Angkot? Siapa yang naik angkot?" tanyanya.


"Abang bukannya naik angkot ya?" aku balik bertanya padanya.


"Tidak. Abang bawa mobil."


"Apa? Bawa mobil? Lalu kenapa bisa chatting?"


"Ini sedang berhenti di masjid, sebentar lagi masuk waktu sholat ashar."


"Oh, iya. Kalau Abang bawa mobil, kenapa tadi datangnya tidak barengan sama Kakak?"


"Kakak datang belakangan karena ada urusan, setelah urusannya selesai barulah dia menyusul Abang ke sana."


"Oh gitu. Berarti sekarang pulangnya barengan?"


"Iya. Sudah dulu chatnya ya, Ra. Abang mau wudhu', di sini sudah adzan. Assalamu'alaikum."


"Iya, Bang. Wa'alaikumussalam." balasku.


Hurmm, barusan aku ketawa-ketawa karena ngebayangin dia sakit pinggang naik angkot. Tapi ternyata dia naik mobil pribadi, bukan angkot.


Aku mau memberi tau Bang Rizky kalau aku tidak pintar masak, tapi aku malu. Kalau ternyata nanti Bang Rizky mundur karena hal itu bagaimana? Aura bakalan broken heart donk.


Kemudian aku mendengar suara adzan berkumandang, aku segera pergi menuju kamar mandi untuk berwudhu' dan melaksanakan sholat ashar.


Setelah selesai sholat, aku pergi menghampiri Ibu.


"Bu, Adik sudah sholat. Sini biar Adik yang jaga kiosnya. Ibu sholat saja dulu." ucapku pada Ibu sesampainya aku di kios. "Oh ya, ini uang yang tadi Ibu kasi. Cuma terpakai Rp.10.000.00 buat ongkos." sambungku dan menyerahkan uang pada Ibu.


"Oh, ya sudah. Uangnya simpan saja di dalam laci. Ibu masuk dulu ya." ucap Ibu.


"Iya, Bu." jawabku.


"Ra, ini belanjaan Kakak sudah siap, hitung ya berapa totalannya." ucap Kak Rina yang sedang berbelanja.


"Iya, Kak."


Lalu aku menghampiri Kak Rina, aku ambil kalkulator dan kresek. Setelah selesai menghitung, semua bahan makanan dan jajanannya aku masukkan ke dalam kresek yang besar.


"Ini semuanya Rp.55.000.00, Kak." ucapku sambil menyerahkan belanjaannya.


"Owh, ok. Ini uangnya, terima kasih." ucapnya sambil menyodorkan dua lembar uang kertas berwarna biru dan hijau kecoklatan. Lalu meraih kresek tersebut dan pergi meninggalkan aku.


"Iya, Kak. Terima kasih juga." sahutku.


Setelah selesai melayani Kak Rina, aku pun menyimpan uangnya di dalam laci. Aku duduk di kios sambil memainkan gawaiku.

__ADS_1


Aku hendak memberitahu Bang Rizky, meskipun aku seorang wanita tetapi aku kalah darinya dalam hal masak memasak. Kira-kira seperti apa reaksinya ya?


__ADS_2