Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Dokter Wahyu vs Lilian


__ADS_3

Setelah merasa yakin bahwa tempat mereka aman dan sudah jauh dari Lilian dan Aura. Dokter Wahyu mulai bertanya tentang Lilian pada Rizky.


“Ky, siapa wanita itu?” Tanya Dokter Wahyu perlahan agar Lilian dan Aura tidak mendengar perbincangan mereka.


“Dia sahabat Aura, namanya Lilian.” Jawab Rizky dengan nada seperti biasanya dia berbicara.


“Ngomongnya pelan dikit donk, aku tidak mau kalau mereka mendengar obrolan kita.” Ucap Dokter Wahyu. “Bay the way, kenapa Lilian bisa mirip dengan Alisya?” Lanjutnya sambil menggaruk-garuk dagunya.


“Wallahu a’lam bishawab. Apa mungkin yang di bilang orang-orang itu benar? Kita punya kembaran sebanyak tujuh orang.” Ucap Rizky sambil berfikir.


“Whatever, pendapat itu tidak penting. Yang aku inginkan sekarang kamu bantu aku agar bisa kenal dengannya. Please.” Dokter Wahyu memohon pada Rizky.


“Huffft!!” Rizky menghempas nafasnya.


“Why? Why? Why? Why?” Dokter Wahyu benar-benar terlihat kekanakan hanya karena seorang wanita.


“Saya tidak keberatan untuk memperkenalkan kamu dengan Lilian. Hanya saja sepertinya ada sedikit masalah, saya tidak mau kamu mendekatinya hanya karena dia mirip dengan Alisya. Biar bagaimanapun juga, jika suatu hari nanti dia tau bahwa kamu menginginkannya karena mirip dengan Alisya, dia pasti akan sangat sakit hati.” Rizky coba menasehati Dokter Wahyu.


Dokter Wahyu terdiam, wajahnya menunduk.


Dia merasa bahwa yang dikatakan Rizky itu memang benar, saat ini niatnya ingin mendekati Lilian hanya karena dia mirip dengan Alisya, wanita yang sangat dirindukannya.


“Wahyu, wajahnya memang terlihat sangat mirip dengan Alisya.” Ucap Rizky sambil menepuk bahu Wahyu. “Tapi, jika nanti karakternya bertentangan dengan Alisya, apa kamu masih menginginkannya? Sebaiknya kamu tanya hati kamu, apa tujuan kamu ingin kenal dengan Lilian? Karena sesungguhnya mereka adalah dua orang yang berbeda.” Rizky menasehati Dokter Wahyu sekali lagi.


“Iya, kamu benar. Aku memang ingin dekat dengannya karena aku rindu dengan Alisya.” Ucap Dokter Wahyu pelan.


“Dan kamu juga tau kalau itu salah, iya kan?” Tanya Rizky.


“Iya. Tapi aku tetap ingin minta nomor teleponnya.” Jawab Dokter Wahyu.


“Ok. Nanti kamu bisa minta langsung dengan orangnya.” Sahut Rizky.


Dokter Wahyu mengangguk.


Kemudian mereka berdua kembali lagi menghampiri Aura dan Lilian.


Dokter Wahyu meminta Aura untuk duduk di kursi agar Dokter Wahyu bisa langsung memeriksanya.


“Semuanya bagus, tensinya juga sudah normal.” Ucap Dokter Wahyu setelah selesai memeriksa Aura.


“Alhamdulillah.” Ucap Rizky.


Aura dan Lilian bertatapan dan saling melempar senyuman.


“Dan satu lagi, untuk saat ini kesehatan mental Aura sudah tidak perlu dikhawatirkan. Tapi tetap saja Aura harus ceria, tidak boleh bersedih berlebihan.” Ucap Dokter Wahyu lagi.


Aura mengangguk mengiyakan nasehat Dokter Wahyu yang ditujukan padanya.


“Oh ya, nama kamu siapa?” Tanya Dokter Wahyu pada Lilian.


“Na..nama saya Lilian, Dok.” Jawab Lilian terbata karena gugup.


“Dok? Kenapa kamu panggil saya Dok? Kita tidak sedang berada di rumah sakit dan kamu juga bukan pasien saya. Hehe.” Ucap Dokter Wahyu sambil tertawa kecil.


“Ma..maaf.” Ucap Lilian yang tersipu malu.

__ADS_1


“No problem, panggil saya Wahyu saja.” Ucap Dokter Wahyu.


Aura menatap Rizky dan memberi kode melalui matanya.


Rizky mengerti bahwa Aura sedang bertanya “What’s going on?” Rizky pun menjawab dengan kode melalui senyuman.


Aura mengerti bahwa jawaban Rizky “Ini pertanda baik.”


Aura pun tersenyum pada Rizky.


Perbincangan antara Dokter Wahyu dan Lilian pun berlanjut hingga saling tukar nomor telepon.


Ibu dan Ummi datang menghampiri anak-anak muda yang sedang berkumpul.


“Eh, ada Dokter. Kapan datang?” Tanya Ummi.


“Sudah dari tadi, Tante.” Jawab Dokter Wahyu.


“Oh ya?” Tanya Ummi lagi.


“Iya, Mi. Tadi Ummi masih ngobrol dengan Ibu.” Kali ini Aura yang menjawab Ummi.


“Oh iya, kami keasikan ngobrol. Sekarang sudah tengah hari. Kita makan siang bareng-bareng ya.” Ajak Ummi. “Rizky pukul berapa kembali lagi ke hotel?” Tanya Ummi pada Rizky.


“Nanti saja setelah selesai sholat dzuhur.” Jawab Rizky.


Merekapun pergi ke ruang makan untuk makan siang bersama.


Setelah itu, Dokter Wahyu pamit dan akan langsung kembali ke rumah sakit.


“Ra, how lucky I am??” Ucap Lilian yang merasa sangat bahagia. “Hari ini aku datang ke sini malah dapat kenapan Dokter ganteng. Aaaaaaa.” Lanjutnya histeris.


“Husssttt, jangan pakai teriak-teriak. Nanti di kira ada apa-apa lagi sama Ibu dan Ummi.” Ucap Aura sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir Lilian. “Tapi jujur aku ikut bahagia melihat kamu sebahagia ini.” Lanjutnya setelah melihat Lilian membatu.


“Iya, Alhamdulillah. Aku bahagia banget. Selama ini di antara kita berempat hanya aku yang jomblonya awet. Semoga Wahyu mau mengubah status jombloku, hihihii.” Lilian cekikikan.


“Aamiin.. Aamiin Allahumma Aamiin.” Sahut Aura.


“Oh ya, Ra. Bay the way, orang yang mengirim kue untuk kamu, sudah di tangkap polisi?” Lilian tiba-tiba teringat dengan orang jahat yang mencelakai Aura.


“Masih belum, Li. Aura juga ingin dia secepatnya di tangkap dan masuk ke dalam penjara. Tapi hingga saat ini masih belum ada kabar baik dari polisi.” Jawab Aura yang tiba-tiba raut wajahnya berubah jadi lesu.


“Maaf, Ra. Gara-gara aku bertanya tentang hal itu, kamu jadi sedih deh.” Ucap Lilian yang merasa bersalah. Ia mengelus bahu Aura dengan lembut.


“Tidak apa-apa, jangan merasa bersalah seperti itu. Do’akan saja semoga dia segera tertangkap.” Ucap Aura dengan lembut lalu memeluk Lilian.


“Aamiin. Aku pasti tidak akan putus-putus mendo’akan agar dia secepatnya tertangkap. Kalau sudah ketemu orangnya, pasti bakalan aku tampar bolak balik. Urghh!” Ucap Lilian yang terlihat geram. Tapi geramnya hanya bercanda, hal itu ia lakukan agar Aura tertawa.


“Hahaha. Memangnya kamu berani?” Tanya Aura sambil tertawa.


Lilian menggelengkan kepalanya dan juga ikut tertawa bersama Aura.


“Ra, tidak terasa sudah pukul dua. Aku pamit pulang ya. In syaa Allah kapan-kapan aku datang lagi ke sini.” Ucap Lilian.


“Iya. Bay the way kamu tinggalnya di mana?” Tanya Aura.

__ADS_1


“Aku ngekos, Ra.” Jawab Lilian.


“Oh, hati-hati ya. Jaga diri baik-baik.” Ucap Aura.


“In syaa Allah.” Sahut Lilian.


Aura pun mengantarkan Lilian hingga keluar pagar. Aura tidak masuk ke dalam rumah sebelum Lilian mendapatkan taxi.


“Assalamu’alaikum.” Ucap Lilian begitu ia naik ke dalam taxi.


“Wa’alaikumussalam, hati-hati.” Sahut Aura sambil melambaikan tangannya mengiringi kepergian Lilian.


Baru saja Aura ingin melangkah masuk, tiba-tiba seseorang memanggil namanya.


“Aura!!!” Teriak orang itu.


Spontan Aura menoleh ke arah suara tersebut berasal.


“Ningrum.” Ucap Aura pelan.


“Hahahahahahaa.” Ningrum tertawa terbahak-bahak begitu ia tiba dihadapan Aura.


“Kenapa kamu ketawa? Apa yang lucu?” Tanya Aura.


“Aku tau, kamu keguguran. Rasain kamu!! Orang jahat tidak akan pernah bisa bahagia. Hahahaha.” Ningrum masih mentertawakan Aura.


“Apa maksud kamu bicara seperti itu? Memangnya saya punya salah apa sama kamu?” Aura masih bertanya dengan tenang.


“Salah kamu? Dasar tidak tau diri, kesalahan yang kamu lakukan adalah merebut Rizky dariku!!” Jawab Ningrum seraya membentak Aura.


Aura terkejut mendengar ucapan Ningrum tersebut. Ternyata bukan hanya Lucy yang menuduhnya demikian, tetapi Ningrum juga.


“Kamu tau? Seharusnya rumah yang kamu tinggali ini adalah tempat tinggalku. Seharusnya Ibuku yang menjadi istri Pak Kholiz, bukan Ibu Rizky.” Ucap Ningrum lagi.


“Rum, itu masalah orang-orang tua. Kita tidak tau seperti apa kejadian yang sebenarnya.” Ucap Aura dengan lembut. Ia masih terus berusaha untuk mengontrol emosinya.


“Apa? Kita? Tidak, hanya kamu yang tidak mengerti. Aku lebih pintar darimu. Seharusnya aku tetap bisa menjadi Nyonya di rumah ini, jika aku menikah dengan Rizky. Tapi kamu malah merebutnya dariku!!!” Teriak Ningrum.


Ningrum mengangkat tangannya dan hendak menampar Aura.


Aura menyadari akan hal itu, lalu ia segera berlari dan masuk ke dalam.


“Mang, cepat tutup pintu gerbangnya!” Teriak Aura pada Mang Jaja.


“Baik, Nyonya Muda.” Sahut Mang Jaja dan bergegas menutup pintu pagarnya.


Ia lihat Ningrum berusaha menerobos masuk, tapi dihalangi oleh Mang Jaja.


Jantung Aura berdegup kencang, ia merasa takut pada Ningrum. Takut jika nanti Ningrum akan mencekik lehernya lagi seperti waktu itu.


“Nyonya Muda tidak apa-apa?” Tanya Mang Jaja yang mengkhawatirkan Aura.


“Alhamdulillah tidak apa-apa, Mang. Saya masuk ya.” Jawab Aura.


“Iya, Nyonya Muda.” Sahut Mang Jaja sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Aura pun segera masuk ke dalam rumah. Sedangkan Mang Jaja kembali masuk ke dalam pos sekuriti.


__ADS_2