Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps. 7


__ADS_3

Zara melepas cadarnya lalu menatap wajahnya dicermin. Ia tersenyum bahagia dan juga merasa lucu melihat wajahnya sendiri yang berwarna kemerah-merahan.


Apakah ini perasaan bahagia karena ingin menikah?


Lalu bagaimana lagi bahagianya jika sudah menikah?


Zara masih terus saja tenggelam dalam rasa bahagianya.


Selama ini ia selalu menjaga diri dari ajnabi (laki-laki bukan mahrom). Ia bahkan belum pernah merasakan jatuh cinta pada lawan jenis.


Kini pernikahannya sedang direncanakan, hal itu tentu saja membuatnya berbunga-bunga.


Berbeda jauh dengan pengalaman Ibunya. Saat Aura ingin menikah dulu, rasa trauma terus menghantuinya karena sudah melihat rusaknya rumah tangga Ibunya dan Kakaknya Mea.


Kini, saat rumah tangga Rizky dan Aura selalu hangat, damai dan bahagia. Membuat Zara berfikir bahwa pernikahan adalah hal yang membahagiakan. Sama sekali tidak ada rasa trauma dan takut menikah didalam dirinya.


Aura mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruang kerja Rizky.


“Bang, apakah Aura mengganggu?” Tanya Aura dengan pelan dan hati-hati.


“Tidak, sayang. Ada apa?” Tanya Rizky.


“Alhamdulillah, Zara setuju menikah dengan Zayn.” Aura sumringah.


“Ma syaa Allah, kabar baik ini harus segera diberitahukan pada Sidik.” Rizky tak kalah bahagia.


Aura dan Rizky berpelukan karena merasa bahagia untuk putri mereka berdua.


Tak lama kemudian, Handphone Rizky berdering.


“Halo.”


“Tuan Muda. Ada sedikit masalah dihotel.” Ucap seorang staff hotel.


“Baik. Aku akan segera kesana.” Kemudian Rizky memutuskan panggilan.


“Ada apa, Bang?” Tanya Aura.


“Staff hotel memberitahu ada masalah. Abang harus segera pergi ke hotel untuk melihatnya. Masalah Zara dan Zayn akan kita bahas lagi setelah Abang pulang.” Jawab Rizky lalu mengecup kening Aura.


“Abang pergi sekarang.” Lanjutnya.


“Baik, Bang. Hati-hati dijalan.” Ucap Aura.


Aura mengantarkan Rizky hingga depan pintu.


***


Di hotel..


“Tuan Muda.” Sambut staffnya.


“Dimana masalahnya?” Tanya Rizky.

__ADS_1


Lalu staff tersebut membawa Rizky bertemu dengan seorang wanita muda dikoridor.


“Nona, ada masalah apa bisa katakan pada saya.” Ucap Rizky ketika ia melihat seorang wanita yang masih muda memaki beberapa staffnya.


“Owh, Anda pemilik hotel ini?” Tanyanya.


“Iya, benar.” Sahut Rizky dengan tenang.


“Bagaimana Anda mendidik para staff di hotel ini?” Bentaknya.


“Memangnya apa kesalahan staff di hotel ini?”


“Tanyakan saja pada mereka!”


Rizky mengernyitkan dahinya. “Bagaimana orang tuanya mendidiknya? Anak ini begitu pemarah.” Gumamnya didalam hati.


“Coba jelaskan padaku.” Pinta Rizky.


“Begini, Tuan Muda. Nona ini seharusnya sudah cekout satu jam yang lalu. Tapi dia masih belum cekout. Lalu salah seorang dari kami datang ke kamarnya dan mengingatkannya tentang jam cekoutnya. Tapi dia langsung marah-marah.” Ucap Staff menjelaskan. “Kami juga sudah menawarkannya untuk menambah biaya agar dia bisa cekout beberapa jam lagi jika ia mau. Tapi Nona ini menolak. Ia mengatakan bahwa kami ingin merampok uangnya karena ia hanya lebih satu jam saja.” Lanjutnya menjelaskan.


“Hmm. Begitu ternyata.” Rizky mengerti. “Baiklah, Nona. Masalah ini cukup sampai disini saja. Saya tidak akan mempermasalahkan keterlambatan Nona. Asalkan Nona bisa cekout sekarang.” Ucap Rizky dengan lembut agar tidak menyinggungnya.


“Apa? Jadi Anda selaku Boss juga mau mengusirku? Anda tidak tau siapa Papaku?” Teriaknya.


“Saya tidak bermaksud mengusir. Tetapi memang seperti itulah peraturan di hotel. Jika sudah saatnya cekout, maka harus mengosongkan kamar dan pergi meninggalkan hotel.” Jawab Rizky menjelaskan peraturan hotel. “Tapi, aku cukup penasaran, siapa Papamu?”


“Jika aku menyebut namanya, Anda pasti akan langsung ketakutan.” Ucapnya dengan sombong. “Nama Papaku Anton.” Lanjutnya sinis.


“Oh, Anton adalah Papamu. Kalau begitu kamu pasti Angel.” Ucap Rizky.


Lalu tiba-tiba ia tersadar.


“Bagaimana Anda tau namaku?” Ucapnya sembari membelalakkan kedua bola matanya.


“Tentu saja aku tau. Aku adalah teman lama Papamu.”


Rizky meraih ponselnya lalu menelepon seseorang.


“Halo.” Ucap Anton diseberang sana.


“Anton, datanglah ke hotelku. Jemput Putrimu. Ia sangat pemarah, persis seperti Mamanya.” Ucap Rizky kemudian ia memutuskan panggilan.


Suasana menjadi hening, canggung dan tegang.


Angel mulai gelisah semenjak ia mengetahui bahwa pemilik hotel ini adalah teman Papanya.


Tidak lama kemudian Anton muncul dan langsung menghampiri Rizky.


“Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?” Tanya Anton lalu mengulurkan tangannya.


Rizky menyambut dan berjabat tangan dengan Anton.


“Alhamdulillah aku baik. Begitu juga dengan keluargaku.” Jawab Rizky.

__ADS_1


Anton tersenyum pada Rizky.


Lalu ia menatap Angel, putrinya.


“Masalah apa yang kamu ciptakan ditempat ini?” Tanya Anton.


“Aku,, aku..” Angel tampak ketakutan, ia bahkan tidak berani menatap wajah Papanya.


“Katakan dengan jelas!” Pinta Anton dengan tegas.


“Aku tidak mau pulang ke rumah, aku malas bertemu dengan Kak Nana.” Jawab Angel ketus.


“Hufffttt.” Anton menghela nafas.


“Angel, sayang. Biar bagaimanapun juga, Nana adalah Kakakmu.” Ucap Anton dengan lembut.


“Oh, Anton memiliki dua orang putri.” Gumam Rizky didalam hatinya.


“Hmph!” Angel kesal mendengar ucapan Papanya.


Anton mencoba sabar dalam menghadapi tingkah laku putrinya itu.


“Ky. Aku mewakili putriku untuk meminta maaf padamu. Selama ini aku terlalu memanjakan dia. Sehingga ia menjadi anak yang manja dan pemarah.” Ucap Anton pada Rizky. “Berapapun dendanya, aku pasti akan membayarnya.” Lanjutnya.


“Tidak perlu, tidak ada denda yang harus dibayar.” Sahut Rizky. “Mengingat kita adalah teman lama. Tapi aku harap tidak ada lagi kejadian seperti ini dikemudian hari.” Lanjutnya.


“Baik. Terima kasih banyak, Ky.” Ucap Anton.


Anton berjabat tangan dengan Rizky. Setelah itu ia pergi membawa putrinya.


Di dalam mobil.


“Pa, apa orang yang tadi itu benaran teman Papa?” Tanya Angel pelan.


Sesungguhnya ia masih merasa kesal bercampur takut dimarahi oleh Papanya. Tapi ia juga merasa penasaran. Setelah beberapa kali menginap di hotel tersebut, baru hari ini ia tahu bahwa Papanya kenal dengan pemilik hotel berbintang tersebut.


“Iya. Ada apa?”


“Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa Papa dan dia tidak begitu akrab.”


“Berteman tidak semestinya akrab, bukan? Jika akrab tentu saja namanya sahabat. Bukan hanya sekedar kenalan atau teman.”


“Benar juga.”


Tiba dirumah.


Angel masuk ke dalam rumah dengan wajahnya yang masam.


“Jangan cemberut donk sayang. Kamu masuk ke dalam rumah, istana kita. Bukan masuk ke dalam kandang harimau.” Ucap Anton membujuk Angel.


“Andai saja ini hanya rumah kita berdua. Sudah pasti aku bisa menganggapnya sebagai istana.” Jawab Angel yang tiba-tiba berubah menjadi sedih.


Sesungguhnya sejak awal ia tidak rela Papanya menikah lagi, apalagi Ibu Tirinya itu memiliki seorang anak perempuan dan menjadi Kakaknya.

__ADS_1


Ia ingin menjadi Putri Anton satu-satunya.


Tapi meskipun begitu, Anton tetap menikahi Helda. Tentu saja karena Anton juga memiliki alasannya sendiri.


__ADS_2