Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps 43


__ADS_3

Didalam kamar Arumi.


Ia duduk di atas katil, masih merenung belum mulai merapihkan kamarnya.


“Besok, jika aku bertemu dengan Kak Arin dan Bang Amir. Apa yang akan aku katakan pada mereka? Apa aku harus meminta mereka bercerai?”


“Tidak, itu tidak benar. Bagaimana mungkin demi ke-egoisanku aku memaksa sepasang suami istri untuk berpisah?”


“Atau, aku harus bertanya pada Kak Arin terlebih dahulu? Mengapa ia tega menghabi** aku? Padahal aku adalah saudara kembarnya, saudara kandungnya. Mengapa ia tega merebut calon suamiku? Menipu Bang Amir dan berpura-pura menjadi aku.”


“Ya Allah…” Dadanya menjadi sesak. “Banyak sekali pertanyaan dibenakku.”


“Dan yang paling ingin aku ketahui adalah, apakah Bang Amir masih memiliki perasaan terhadapku? Atau sudah berpindah hati pada Kak Arin? Hiksss…”


Arumi terisak sembari meremas baju didadanya. Ia tenggelam dalam kesedihannya.


Lalu tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.


Tok, tok, tok. “Bi, ayo makan.” Ucap Zara dari sebalik pintu.


Arumi segera mengusap air mata yang mengalir pipinya. Ia tidak ingin Zara tahu bahwa tadi ia menangis, jadi ia tidak membukakan pintu.


“Kamu dan Zayn makan saja duluan. Setelah aku selesai membersihkan kamar, aku akan pergi makan.” Sahut Arumi dari dalam.


“Baik, Bi.” Setelah itu Zara meninggalkan pintu kamar Arumi.


“Bang, Bibi masih membersihkan kamar. Kita makan saja duluan.” Ucap Zara sembari duduk berhadapan dengan Zayn.


Zayn mengangguk lalu mulai mengisi piringnya dengan makanan.


Setelah mereka berdua selesai makan, Zara merapikan meja makan.


Zayn masuk ke dalam kamarnya di susul oleh Zara yang sudah menyiapkan pekerjaannya di dapur.


“Bang, aku tidak harus memindahkan barang-barangku ke kamar ini, bukan?” Tanya Zara.


“Terserah kamu saja. Yang penting kamu tidak repot harus pindah-pindah kamar.” Jawab Zayn.


“Hmm. Iya ya. Aku jadi harus pindah-pindah kamar.” Zara merenung. Ia memikirkan bagaimana yang terbaik.


Setelah Arumi selesai membersihkan kamar dan merapikan barang-barangnya, ia keluar dari kamar.


Ia lihat tidak ada siapapun diruang tamu dan dapur. Ia merasa lega karena tidak perlu menjelaskan dan menyembunyikan matanya yang memerah karena menangis.


Arumi berjalan menuju dapur lalu mulai makan.


Sore hari setelah selesai sholat ashar, Zayn dan Zara duduk diruang tamu. Mereka berdua menunggu Arumi keluar dari kamarnya karena ada hal yang ingin mereka bicarakan.


“Apa Abang yakin tentang rencana ini?” Tanya Zara.

__ADS_1


Zayn mengangguk.


“Bagaimana jika Bibi Arumi tidak setuju?” Tanya Zara lagi.


“Maka akan kita tunda.” Jawab Zayn.


Tidak lama kemudian, Arumi keluar dari kamar mandi dan mau masuk ke dalam kamarnya.


“Bibi, sini.” Panggil Zara dengan lembut.


“Ada apa?” Tanya Arumi.


“Bibi baru selesai mandi?” Tanya Zara. “Aku kira Bibi ada didalam kamar tadi.” Lanjutnya.


“Iya, aku baru selesai mandi. Aku masuk ke kamar sebentar. Mau menyimpan handuk.” Jawab Arumi.


“Iya, Bi.” Zara menganggukkan kepalanya.


Beberapa menit kemudian Arumi kembali lalu duduk di sofa bersama Zara dan Zayn.


“Bi, apa malam ini Bibi sudah siap untuk bertemu dengan Om Amir dan Tante Arini?” Tanya Zayn to the point.


“Apa?” Arumi kaget. “Apa tidak terlalu cepat?” Tanyanya.


“Lalu menurut Bibi kapan waktu yang tepat?” Tanya Zayn. “Bukankah lebih cepat lebih baik?”


“Iya, Bi. Aku setuju dengan Bang Zayn.” Zara menimpali. “Lagi pula menurutku Om Amir pasti tidak bahagia menikah dengan Tante Arini.” Lanjutnya.


“Aku dengar dari Ibu, akhir-akhir ini Om Amir jarang pulang ke rumah. Dia selalu menginap dihotel atau di kantor.” Zara menjawab.


Arumi tertunduk.


“Jika aku muncul sekarang, apa aku tidak termasuk orang yang jahat? Bagaimana jika nanti mereka bercerai karena aku?” Arumi menumpahkan kekhawatirannya.


“Tidak, Bi. Jika nanti Om Amir dan Tante Arini bercerai, itu bukan salah Bibi. Karena dari awal memang tidak seharusnya mereka bersama.” Jawab Zara. “Lagi pula apa Bibi lupa? Seharusnya Bibi yang menjadi istri Om Amir. Tapi Tante Arini merebut posisi itu dengan cara yang sangat kej*m.” Lanjutnya.


“Tapi selama ini Bang Amir tidak mencariku, itu artinya dia tidak menyadari bahwa yang menikah dengannya adalah orang lain.”


“Bi, untuk apa kita menebak-nebak disini? Bukankah sebaiknya Bibi langsung bertanya pada Om Amir?” Zayn mengernyitkan dahinya.


“Benar. Tapi aku…. Ugh” Arumi bingung. Ia menghela nafas. “Pukul berapa kita akan berangkat?” Tanyanya.


“In syaa Allah setelah sholat isya.” Jawab Zayn. “Bibi tenang saja. Apapun yang akan terjadi disana, aku dan Zara pasti akan melindungi Bibi.” Zayn meyakinkan.


“Baiklah. Terima kasih.” Sahut Arumi.


“Aku akan menghubungi Ibu dan memberitahunya malam ini kita akan berkunjung.” Ucap Zara.


Zara meraih ponselnya dari atas nakas lalu menghubungi Aura.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum, Ibu.” Ucap Zara setelah Aura menjawab panggilannya.


“Wa’alaikumussalam, anak Ibu. Sudah lama tidak bertemu, kamu sehat?” Tanya Aura dengan penuh kasih sayang.


“Alhamdulillah aku sehat, Bu.”


“Bagaimana dengan Zayn?”


“Alhamdulillah Bang Zayn juga sehat.” Jawab Zara. “Oh ya, Bu. Malam ini aku dan Bang Zayn akan berkunjung ke sana. Aku rindu dengan Ayah dan Ibu. Aku harap Om Amir dan Tante Arumi juga berada dirumah malam ini.” Lanjutnya panjang lebar.


“Ma syaa Allah. Baik, Nak. Ibu dan Ayah pasti menyambut kedatangan kalian.” Sahut Aura sumringah.


Panggilan terputus setelah keduanya mengucapkan salam.


Aura segera menghubungi Rizky.


“Assalamu’alaikum, Bang.” Ucap Aura setelah Rizky menjawab panggilan darinya. “Baru saja Zara menelepon. Malam ini dia dan Zayn akan berkunjung. Abang beritahu Amir untuk pulang ke rumah karena Zara juga ingin bertemu dengannya.”


“Ok, Sayang. Abang akan pulang sebelum maghrib dan akan memberitahu Amir juga.” Sahut Rizky.


Malam hari dikediaman Rizky.


“Abang, malam ini tidak lembur?” Tanya Arini dengan manja.


“Tidak. Malam ini Zayn dan Zara akan datang. Jadi Abang tidak ambil lembur.” Jawab Amir.


“Oh.” Sahut Arini.


“Asiikkk, aku bisa bertemu lagi dengan pemuda yang tampan itu.” Gumam Arini didalam hatinya.


“Kamu juga bersiaplah.” Perintah Amir.


“Ok.” Sahut Arini.


Rizky dan Aura duduk diruang tamu menunggu kedatangan putri semata wayang mereka yang sudah hampir dua bulan tidak bertemu.


Tempat tinggal mereka tidak begitu jauh. Tapi Aura dan Rizky tidak ingin mengganggu mereka berdua agar hubungan mereka berdua bisa semakin dekat.


Pukul delapan lebih dua puluh menit, Aura dan Zayn tiba.


Saat itu, tidak ada satupun orang yang mengenali Arumi karena Zayn memintanya untuk mengenakan cadar seperti Zara.


“Siapa ini?” Tanya Aura.


“Dia teman baru kami, Bu.” Jawab Zara.


“Oh ya, siapa namanya?” Tanya Aura lagi.


“Nanti Ibu akan tau. Hehe.” Zara cengengesan.

__ADS_1


“Hmm.” Aura merasa aneh dengan sikap putrinya.


Amir dan Arini muncul bersamaan. Saat Arumi menatap mereka berdua. Jantungnya berdebar sangat kencang. Antara perasaan marah dan cemburu menjadi satu saat ia melihat Arini menggandeng tangan Amir.


__ADS_2