Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps 31


__ADS_3

Saat Nana berusia sembilan belas tahun. Ia ingin masuk ke Universitas kedokteran untuk mengejar Zayn.


Helda tidak mememiliki cukup uang untuk biaya kuliah Nana.


Namun demi anaknya, ia rela kerja mati-matian dan banting tulang. Saat gajinya tidak cukup, ia memberanikan diri untuk meminjam pada beberapa rentenir.


Hal itu terus berlangsung hingga usia Nana 21 tahun.


Saat itu, Helda sedang prustasi karena bingung harus kemana lagi mencari uang untuk membayar hutang-hutangnya dan membayar uang kuliah Nana.


Hingga ia mamutuskan untuk pergi ke sebuah klub malam.


Ia pergi kesana untuk mencari pekerjaan tambahan. “Jika hanya bekerja disiang hari, aku tidak mendapatkan uang yang cukup. Aku juga harus bekerja di malam hari untuk menambah penghasilanku.” Itulah yang ada didalam pikiran Helda saat itu.


Ia masuk dengan jantung berdebar. Inilah pertama kalinya ia masuk ke dalam tempat seperti itu.


Ia mendatangi seorang pelayan dan bertanya apakah ada pekerjaan untuknya?


Pelayan tersebut menyuruhnya untuk duduk dan menunggu.


Helda menurut.


Tidak lama kemudian datanglah seorang pria paruh baya.


Helda berdiri.


“Tuan, apakah Tuan Boss disini? Aku membutuhkan pekerjaan.” Helda bertanya dengan sopan.


“Iya, aku pasti akan memberikan pekerjaan untukmu. Dan juga pasti akan memberikan uang yang banyak padamu jika kamu bisa memuask*n aku.” Ucap pria parih baya tersebut.


“Ap-apa maksud ucapan Tuan?” Helda tidak mengerti. Namun perasaannya menjadi tidak enak.


“Tentu saja aku ingin kamu melay*ni aku, haha.” Ia tertawa kecil.


“Tidak, aku tidak mau pekerjaan yang seperti itu.” Helda mencoba melarikan diri. Namun tangannya dipegang oleh pria itu.


“Kamu mau kemana? Jangan pergi sebelum menyelesaikan pekerjaanmu. Haha.” Pria itu masih tertawa.


“Tolong lepaskan aku.” Pinta Helda.


“Ada apa ini?” Tanya seorang pria.


Helda menoleh lalu membelalakkan kedua bola matanya.


“Tuan, tolong aku.” Ucap Helda lalu meneteslah air matanya.


“Lepaskan dia.” Pinta Anton.


Saat itu Anton datang untuk membicarakan bisnis dengan pria paruh baya yang memegang tangan Helda.


“Kenapa aku harus melepaskannya?”


“Karena tadi dia sedang menungguku disini.” Jawab Anton datar.


Pria paruh baya itu percaya lalu menyerahkan Helda pada Anton. Karena dia sendiri juga tidak ingin gagal berurusan bisnis dengan Anton.

__ADS_1


Helda duduk disebelah Anton dan kembali merasa tenang.


Anton dan pria itu membicarakan tentang kerja sama perusahaan mereka hingga selesai.


Setelah selesai, Helda mengikuti Anton keluar dari klub.


“Kamu kenapa ada disini?” Tanya Anton sembari menatap Helda. “Dilihat dari penampilannya tidak seperti orang yang terbiasa berada di klub.” Pikirnya.


“Aku mencari pekerjaan.” Jawab Helda pelan.


“Kenapa mencari pekerjaan di tempat seperti ini?”


“Karena aku butuh uang untuk biaya kuliah anakku.”


“Kenapa tidak suamimu saja yang memikirkan uang kuliah anakmu?” Anton mengintrogasi.


“Maaf, Tuan. Aku tidak punya suami.”


“Owh, apakah sudah bercerai? Tetapi tetap saja anakmu itu tanggung jawab suamimu walaupun kalian sudah bercerai.”


“A-aku belum menikah.” Helda malu.


“Lalu siapa Ayah anakmu. Kenapa tidak bertanggung jawab.” Anton heran.


“Bu-bukankah, Tu-tuan sudah mem-bun*hnya.” Helda gugup.


“Hah?” Anton kaget. Sesungguhnya ia sudah melupakan Helda. “Aku?” Tanya Anton.


Helda menganggukkan kepalanya perlahan.


“Sekarang ceritakan padaku.” Pinta Anton.


“Dua puluh dua tahun yang lalu Tuan pernah menolongku di hutan… bla… bla… bla…”


Helda menceritakannya secara detail pada Anton.


“Jadi kamu adalah wanita yang waktu itu.” Akhirnya Anton mengingatnya.


“Benar, Tuan. Terima kasih karena sudah menolongku sekali lagi.”


“Tidak masalah.” Sahut Anton.


Setelah hari itu Helda dan Anton menjadi dekat.


Anton juga memberikan beberapa uang pada Helda untuk biaya kuliah Nana dan juga mencicil hutang-hutangnya.


Satu tahun kemudian mereka menikah. Karena Anton berpikir Nana membutuhkan seorang Ayah, sedangkan Angel membutuhkan seorang Ibu. Dengan begitu keluarga mereka akan lengkap seperti keluarga orang lain.


- Flashback selesai -


***


Di apartment, Zara sedang berkirim pesan dengan Hulya melalui aplikasi berwarna hijau.


“Hulya, bagaimana kabarmu disana?”

__ADS_1


“Alhamdulillah aku baik. Kakak sendiri bagaimana?”


“Alhamdulillah aku juga baik.” Balas Zara. “Hulya, aku ingin curhat tentang Bang Zayn.”


“Oh ya? Ceritakan saja.” Pinta Hulya.


“Ternyata di rumah sakit tempat Bang Zayn bekerja ada seorang wanita yang sepertinya cinta mati pada Bang Zayn. Dia bahkan terang-terangan ingin merebut Bang Zayn dariku.”


“Benarkah? Waaah, ternyata Abangku sangat hebat. Hahaa.” Balas Hulya.


“Iiihh, kamu ada di pihak siapa?”


“Tentu saja ada di pihak Kakak. Wanita itu tidak bisa dibandingkan dengan Kak Zara. Aku yakin pasti Bang Zayn sudah menolak wanita itu. Betul tidak yang aku katakan?”


“Iya, memang benar.”


“Lalu untuk apa Kakak khawatir? Tenang saja, Bang Zayn pasti setia pada istrinya.”


“Aamiin ya Allah.” Balas Zara. “Oh ya, ternyata Ayah memberitahu Bang Zayn tentang Bang Arfa. Hmm.” Lanjutnya.


“Oh ya? Lalau bagaimana reaksi Bang Zayn? Apakah dia cemburu?”


“Tidak, Bang Zayn biasa saja. Masih seperti gunung es.”


“Hmm..” Balas Hulya singkat.


“Tetapi Alhamdulillah di kampus ada yang mengejar Bang Arfa, mahasiswi baru. Namanya Angel anak Paman Anton. Walaupun Bang Arfa menolak, tapi ada baiknya juga ada wanita yang menyukainya. Setidaknya sekarang fokusnya tidak hanya padaku, tapi juga pada Angel yang bisa membuat dia kesal.”


“Oh, baguslah jika perhatiannya teralihkan. Lalu, apa Kakak mengenal Paman Anton itu?”


“Kakak tidak pernah bertemu dengannya, hanya pernah mendengar dari Ayah dan Ibu kalau Paman Anton itu dulunya adalah seorang Mafia.”


“Waaaa, Mafia.”


“Tapi itu dulu. Sekarang sepertinya sudah tidak lagi. Tapi aku juga tidak tau pasti. Karena Ayah sudah tidak pernah menyebutnya lagi.”


“Kak, ada yang harus aku lakukan. Lain kali kita chatting lagi. Semangat mengejar cinta Bang Zayn.” Ucap Hulya sambil menyelipkan emoji kiss.


“Hahaa. Baiklah. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam.” Balas Hulya.


Setelah itu Zara meletakkan ponselnya di atas nakas.


Ia berbaring di atas tempat tidurnya.


“Hmmm, Bang Zayn sudah memberitahu Dokter Nana bahwa dia sudah menikah denganku. Apa aku juga harus melakukan hal yang sama? Yaitu memberitahu Bang Arfa bahwa aku sudah menikah dengan Bang Zayn.” Zara sedang berpikir.


“Tapi jika aku membocorkan rahasia ini lalu Nayla marah padaku karena tidak mengundangnya bagaimana?”


“Aiiiihhhh, sepertinya aku harus memberitahu Nayla terlebih dahulu agar dia tidak ngambek.”


Zara menatap jam dinding.


“Wah, sudah pukul setengah enam. Sebaiknya aku mandi saja. Setelah itu bertanya pada Bang Zayn ingin makan apa malam ini.” Guman Zara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Zara meraih handuknya lalu masuk ke dalam kamar mandi.


__ADS_2