
Dafa pergi ke alamat perusahaan yang diberikan oleh Lucy.
“Mba, saya ingin bertemu dengan Tuan Anton. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan, mengenai Nona Lucy calon istrinya.” Ucap Dafa pada seorang resepsionis.
“Baik, Tuan. Silahkan tunggu sebentar.” Jawab resepsionis tersebut.
Dafa menganggukkan kepalanya lalu duduk di ruang tunggu. Ia lihat resepsionis itu sedang berbicara melalu telepon.
Setelah meletakkan gagang telepon, resepsionis tadi mendatangi Dafa.
“Ayo, Tuan. Saya hantarkan ke ruangan Pak Anton.” Ajak Lisa si resepsionis.
Dafa mengangguk lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan di belakang resepsionis hingga sampai di ruangan Anton.
“Silahkan masuk, Tuan.” Ucap Lisa seraya membukakan pintu untuk Dafa.
“Terima kasih, Mba.” Ucap Dafa.
“Sama-sama, Tuan.” Sahut Lisa sambil tersenyum.
Lisa menutup pintu ruangan Anton dan kembali ke meja resepsionis untuk melanjutkan tugasnya.
“Kamu siapa?” Tanya Anton.
“Saya Dafa. Sepupu Lucy.” Jawab Dafa.
“Hal apa yang ingin kamu sampaikan?” Tanya Anton lagi.
“Lucy dipenjara.” Ucap Dafa pelan.
“APA??” Anton sangat terkejut, spontan tangannya memukul meja dan dia langsung berdiri. Bola matanya hampir jatuh. Tanda tanya yang begitu banyak tiba-tiba datang menyerbu fikirannya.
“Tolong bantu dia.” Pinta Dafa.
“Aku pasti akan membantu dia. Aku sangat mencintainya.” Sahut Anton. “Tapi, kenapa dia bisa masuk ke dalam penjara? Dia memang bawel, tapi bukan seorang kriminal.” Lanjutnya.
“Aku juga tidak tau pasti duduk permasalahannya. Lebih baik kamu tanya saja langsung pada orang yang menjebloskan dia ke dalam penjara.” Jawab Dafa.
“Siapa dia?” Tanya Anton penasaran.
“Rizky.” Jawab Dafa singkat.
Anton mengepal tangannya pertanda bahwa dia merasa sangat geram pada Rizky.
Saat itu juga dia bergegas pergi untuk menemui Rizky. Rival yang sudah hampir menjadi temannya, kini malah kembali menjadi rivalnya lagi.
__ADS_1
Saat tiba di hotel, Anton tidak berbasa basi dengan resepsionis dan sekretaris Rizky. Dia langsung saja menerobos masuk ke dalam ruangan Rizky.
“Rizky!!!” Teriak Anton setelah ia mebuka pintu.
Rizky kaget. Ia melihat Anton datang dengan raut wajah yang tidak baik. Bahkan resepsionis dan sekretarisnya mengikuti Anton dari belakang, mereka berdua berusaha menghentikan Anton.
“Anton pasti marah karena Lucy.” Gumam Rizky di dalam hati.
“Rizky!!” Ucap Anton dan meremas kerah baju Rizky.
Resepsionis dan sekretaris Rizky berusaha memegangi Anton agar tidak bertindak lebih jauh lagi.
“Anton, tenanglah. Kita bisa membicarakannya baik-baik.” Bujuk Rizky.
“Kenapa kamu menjebloskan Lucy ke dalam penjara?” Anton masih belum bisa meredakan emosinya. Wajahnya juga masih terlihat merah.
“Itu karena dia mencelakai istriku!!” Hardik Rizky.
Spontan Anton melepaskan tangannya dari kerah baju Rizky.
“Sebagaimana kamu mencintai Lucy dan ingin melindunginya, begitu juga denganku yang sangat mencintai istriku. Lucy telah membunuh calon anakku, membuat istriku keguguran dan harus dioprasi. Membuat istriku hampir gila karena terlalu sedih kehilangan anaknya. Bahkan jika dia dipenjara seumur hidupnya. Masih tidak akan sebanding dengan apa yang dirasakan oleh istriku.” Ucap Rizky dengan nada tinggi.
“Sekejam itukah Lucy?” Anton lemas, ia terduduk di atas lantai.
“Sejujurnya kedatanganku ke sini ingin memintamu untuk membebaskan dia.” Ucap Anton pelan.
“Tidak bisa!” Jawab Rizky dengan tegas.
“Aku mohon, bebaskan dia. Aku janji akan membuatnya menjauhi keluargamu.” Bujuk Anton.
“Aku sudah pernah percaya padamu satu kali. Tapi ini akhir dari rasa percayaku.” Ucap Rizky sambil tersenyum sinis.
“Tolong beri aku satu kesempatan lagi. Aku pasti akan melakukan segala cara agar dia menjauhi keluargamu.” Ucap Anton memohon dengan sepenuh hati.
“Haha.” Rizky mentertawakan Anton.
“Please, Ky.” Kali ini Anton berlutut dihadapan Rizky sambil menangkupkan kedua tangannya.
“Kamu sungguh rela merendahkan dirimu dihadapanku demi gadis itu.” Ucap Rizky yang berjongkok dihadapan Anton.
“Kamu juga pasti akan melakukan hal yang sama demi istrimu, iyakan?”
“Hurmm. Tentu saja. Tapi sayangnya aku tidak akan pernah memohon pada seseorang untuk membebaskan dia dari penjara.” Sahut Rizky.
Rizky sangat menghargai ketulusan dan kesungguhan Anton. Jadi dia berniat akan membebaskan Lucy dengan syarat.
__ADS_1
“Apa kamu yakin kamu bisa menjauhkan Lucy dari keluargaku? Kamu sungguh yakin kamu bisa mengendalikan dia jika aku mau membebaskan dia?” Tanya Rizky dengan serius.
“Tentu saja aku yakin. Setelah dia keluar dari penjara, aku yang akan memenjarakan dia di dalam rumahku.” Jawab Anton mantap.
“Aku akan memegang ucapanmu.” Sahut Rizky. “Besok aku ada perjalan bisnis ke Penang Malaysia selama satu minggu, sekalian mengajak istriku jalan-jalan. Aku akan membebaskan Lucy setelah aku kembali lagi ke sini.” Lanjutnya.
“Apa? Dia masih harus menunggu satu minggu lagi? Dia bahkan sudah tidak bisa bertahan sedetikpun. Para Napi itu menyiksanya di sana.” Anton tidak terima.
“Tentu saja. Iya atau tidak sama sekali. Atau kamu mau dia menghabiskan masa hukumannya sampai bertahun-tahun? Satu minggu adalah waktu yang sangat singkat untuknya.” Ucap Rizky.
“Baiklah.” Sahut Anton dengan menahan kesal.
“Aku masih punya satu syarat lagi.” Ucap Rizky.
“Syarat apa lagi? Cepat katakan.” Pinta Anton.
“Kamu tidak boleh mengatakan pada Lucy bahwa aku yang membebaskan dia. Katakan saja padanya bahwa kamu yang menjamin dia. Dengan begitu dia akan berhutang budi padamu.” Jawab Rizky menjelaskan.
“Bagus!! Aku memang mau membuat dia berhutang budi padaku. Dengan begitu dia tidak akan bisa menolak lagi jika aku mau dia menikah denganku.” Ucap Anton sumringah. “Tapi kamu harus janji. Satu minggu lagi Lucy akan bebas dari penjara.” Lanjutnya.
“Tentu saka. Kamu bisa percaya pada ucapanku.” Jawab Rizky.
Walaupun sebenarnya Rizky enggan untuk membebaskan Lucy, tapi dia menaruh harapan pada Anton agar bisa mengubah sifat Lucy.
Mungkin dengan hidup terkekang bersama Anton, Lucy bisa lebih menahan diri dan tidak akan bertindak sesuka hati lagi.
Sesuai dengan jadwal Rizky. Dia bersama Aura pergi ke Penang Malaysia selama satu minggu.
Rizky membawa Aura ke salah satu cabang hotel milik Abi yang berada di luar negeri. Mereka menempati kamar VIP dengan pemandangan yang paling bagus.
Saat Rizky ingin bertemu dengan rekan bisnisnya, Aura menunggu di salah satu tempat makan sebuah Mall.
Dia memesan sate ayam, mi ayam dan juga jus alpukat. Semua itu untuk dirinya sendiri, ia juga memainkan gawainya agar tidak merasa bosan karena di tinggal sendirian oleh suaminya.
Hingga terdengar suara seorang wanita yang memanggilnya.
Suara yang cukup familiar bagi Aura. Pemilik suara itu adalah salah satu sahabr Aura di kampung yang sudah berpisah dengannya selama lebih kurang sepuluh tahun.
“Aura!!” Panggil wanita yang kini sudah berada dihadapannya.
Wanita tersebut memakai cadar, dan membuat Aura ragu, apakah memang sahabatnya atau bukan?
“Kamu siapa?” Tanya Aura untuk memastikan.
“Apa kamu sudah lupa? Saya Naura.” Jawab wanita bercadar tersebut.
__ADS_1