
Setelah kejadian tadi malam, aku jadi bisa melihat bahwa mertua Kak Mea bukan hanya tidak menyukainya, tapi juga tidak menyukai Ibu kami.
Biarpun kami tidak tau apa kesalahan kami, tetap saja kami tidak bisa meminta orang lain untuk selalu suka dengan kami.
Kesalahan kami yang ada di penglihatannya biarlah Allah yang menilai, apakah kami benar-benar salah dan buruk seperti yang di fikirkannya atau itu semua hanya fikiran buruknya semata.
Aku juga dapat melihat kebahagiaan di wajah Ibu setelah Ibu tahu bahwa Kak Mea tidak akan satu rumah lagi dengan mertuanya.
Biarpun Ibu juga tidak merasa cocok dengan besannya yang perempuan, tapi Ibu tidak pernah berbicara buruk tentang besannya itu.
"Assalamu'alaikum." ucap seseorang yang suaranya sudah tidak asing lagi di telingaku.
"Wa'alaikumussalam. Masuk, Lun." sahutku.
"Aku mau memberi tau kabar baik nih, Ra." ucapnya dengan penuh semangat.
"Oh ya? Kabar baik apa itu, Lun?" tanyaku dengan penasaran.
"In syaa Allah minggu depan aku akan di lamar, hehe." ucapnya dengan rasa malu-malu tapi bahagia.
"Benarkah? Siapa pemuda yang beruntung itu?" tanyaku kaget dan spontan aku mengguncang-guncang bahu sahabatku ini.
"Ada deh, orang Medan." jawabnya masih dengan raut wajah bahagia. Senyum bahagia itu seakan enggan pergi dari wajahnya.
"Kenal di mana?" tanyaku.
"Baru kenal sih, dia sepupunya Rina. Bulan lalu dia datang bersilaturahim ke rumahnya Rina, kebetulan aku juga sedang di sana ngobrol-ngobrol sama Rina. Ya sudah deh jadi dikenalin Rina sama sepupunya itu." jelas Luna.
Rina adalah tetangga Luna, rumah mereka bersebelahan. Rina dan Luna juga akrab banget, sama seperti aku dan Luna.
"Lalu bagaimana ceritanya? kenapa bisa langsung lamaran?" tanyaku lagi.
"Namanya juga sudah jodoh, hehe." jawabnya cengengesan.
"Alhamdulillah ya, sold out juga sahabat Aura yang satu ini." ucapku sambil mencubit pipinya. "Bay the way anyway busway, nama pangerannya siapa?"
"Namanya Yusuf." jawabnya singkat.
"Wah, pasti gantengnya juga seperti Nabi Yusuf ya." godaku dan menyenggol-nyenggol lengannya.
"Ah kamu bisa saja, Ra. Hahaha." ucapnya malu-malu dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Hahah... Alhamdulillah donk kalau iya." ledekku lagi.
"Aduh aduh, ada apa ini? kelihatannya bahagia sekali." ucap Ibu yang tiba-tiba datang menghampiri kami.
"Eh Ibu, bikin kaget saja." ucapku.
"Loh, kaget toh?" tanya Ibu.
__ADS_1
"Sedikit, Bu. Hehehe." jawabku cengengesan.
"Pertanyaan Ibu belum di jawab lho, ada apa? Kelihatannya bahagia banget?" tanya Ibu.
"Ini lho, Bu. In syaa Allah minggu depan Luna akan di lamar, Bu." jawabku.
"Wah, Alhamdulillah. Selamat ya, Nduk. Semoga jodoh terbaik pilihan Allah buat kamu." ucap Ibu.
"Aamiin. Makasih Buk atas ucapan dan Do'anya" sahut Luna. "Kamu kapan lagi, Ra?" sambungnya.
"Ah jangan ditanya." jawabku.
"Aura mah belum ada calonnya Nak Luna, nanti kamu saja yang carikan untuk dia." ucap Ibu.
"Gampang itu, Buk. Bisa di atur. Asalkan Auranya juga mau dicarikan." ucap Luna sambil melirikku.
"Bagus itu. Ya sudah Ibu tinggal dulu ya." ucap Ibu lalu pergi meninggalkan kami berdua.
"Iya, Buk." sahut Luna singkat. "Kamu maukan dicarikan calon suami, Ra?" tanya Luna padaku.
"Humm, Kalau cocok ya tidak masalah." jawabku.
"Nah, gitu donk. Aku jadi semangat buat mencarikan kamu calon suami."
"Sebenarnya sudah ada beberapa orang yang melamar, Lun. Tapi tidak aku tanggapi."
"Lha, kenapa begitu?"
"Humm, Mungkin kalau mau langsung melamar ke rumah, mereka takut di tolak. Haha. Makanya nyoba dulu lewat chat." ucap Luna lalu tertawa terbahak-bahak sepuasnya.
"Hahahh. Bisa saja kamu, Lun." sahutku lalu ikut tertawa bersamanya.
"Tapi yang aku bilang itu ada benernya, kan?"
"Iya juga sih."
"Kamu sih, Ra. Susah banget didekati. Makanya mereka takut mau datang melamar."
"Takut apa memangnya?"
"Ya itu tadi, takut di tolak. Haha."
"Hahahh.. Iya juga ya." lalu kami tertawa bersama-sama.
Aku tidak mengerti, sebenarnya Luna tertawa karena ucapannya itu atau justru tertawa karena bahagia sebentar lagi akan di lamar. Apapun itu, aku ikut bahagia melihat dia sangat bahagia.
Setelah ngobrol lebih kurang dua jam, akhirnya Luna pamit pulang.
Setelah Luna pulang, akupun mulai mengerjakan tugasku sehari-hari. Mencuci piring, angkat pakaian yang sudah kering kemudian di setrika.
__ADS_1
Saat aku sedang menyetrika pakaian, Ibu memasak di dapur. Aroma masakan Ibu tercium hingga membuatku tiba-tiba merasa lapar.
Ah Ibu, masakannya tak pernah tak sedap. Bahkan aromanya saja sudah berhasil membuatku kelaparan.
Sangat berbeda denganku yang tidak pandai masak ini. Pernah sekali aku coba memasak sambal, hasilnya sambal sedikit gosong dan asin.
Suatu hari nanti, adakah pria yang sudi mempersunting diriku ini? Bukankah katanya seorang istri harus pandai memanjakan perut suami. Sedangkan aku, memanjakan perut sendiripun aku tidak pandai, apalagi memanjakan perut suami.
Setelah selesai menyetrika pakaian, aku langsung menghampiri Ibu di dapur.
"Bu, sudah matengkah, Bu?" tanyaku.
"Sudah, Nak. Baru saja. Kenapa?"
"Aura mau makan, Bu. Tiba-tiba lapar karena mencium aroma masakan Ibu."
"Tapi nasinya belum mateng." ucap Ibu dengan sedikit menahan tawa.
"Yah, kenapa begitu?" ucapku kesal dan membuat wajah sedih.
"Nasi dingin ada, tapi cuma sedikit."
"Tidak apa-apa, lumayan." ucapku lalu membuka lemari makan. "Yah, ini sih porsi nasi kucing, Bu. Dikit banget, huaaaaa." sedih sekali perut ini, eh hati ini.
"Hahahahh. Yang sabar ya, Nak. Sekitar lima belas menit lagi baru nasinya mateng." ucap Ibu sambil tertawa. Kali ini tawanya lepas, tidak di tahan-tahan lagi seperti yang sebelumnya.
"Humm, baiklah, Bu. Adik tunggu nasinya mateng dulu, baru kemudian makan." jawabku lesu.
"Mandi saja dulu." usul Ibu.
"Oh iya, Adik lupa kalau belum mandi, hehe."
"Oalah, ya sudah buruan mandi, biar gantian sama Ibu."
"Baik, Bu."
Aku lalu pergi mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Saat aku hendak menggosok gigi, aku lihat obat gigi sudah habis. "Ya nasib, apes banget hari ini. Mau makan, nasi belum mateng. Mau menggosok gigi, odol habis. Hurmm." gerutuku.
"Buuuu,,, tolong ambilin odol yang baru, Bu." teriakku dari dalam kamar mandi.
Tak lama kemudian Ibu datang membawakan aku odol yang baru.
"Terima kasih, Bu." ucapku.
"Iya." jawab Ibu.
Setelah selesai mandi, aku menyiduk nasi dan lauk. Aku makan di kios sambil memainkan gawaiku. Menelusuri aplikasi F yang berwarna biru.
__ADS_1
Aku tipikal orang yang jarang update status namun aktif berselancar di sosial media.
Hitung-hitung mengisi waktu luang dengan membaca hal-hal yang bermanfaat, dan menskip hal-hal yang tidak penting bagiku.