
Setelah selesai melaksanakan sholat isya, Zara mulai merias dirinya.
Rasa gugup masih menyelimuti dirinya. Namun ia mencoba untuk bersikap biasa saja.
Zara keluar dari kamar setelah selesai mengganti pakaian.
Ia langsung menuju dapur untuk membantu Bi Sumi dan Rini menyiapkan makanan ringan untuk para tamu.
Sementara Rizky dan Aura menyambut kedatangan keluarga Sidik.
Sidik, Alisya dan juga Zayn langsung dipersilahkan duduk di ruang tamu.
Setelah selesai menghidangkan makanan ringan dan kue mue, Zara duduk disebelah Ibunya.
Zara mendengarkan obrolan dengan sesekali melirik ke arah Zayn yang sedang menikmati secangkir teh.
“Oh ya, Zara. Berapa bulan lagi kamu akan ujian semester?” Tanya Rizky pada putinya.
“Emm, satu bulan lagi, Ayah.” Jawab Zara.
“Wah, sesingkat itu.” Rizky agak kaget.
“Kenapa, Ayah? Ayah takut aku akan fail?”
“Bukan begitu. Putri Ayah sangat pintar, tidak mungkin fail. Hanya saja, pernikahan kalian akan dilaksanakan saat kamu libur semester.” Rizky menjelaskan.
“Apa? Secepat itu?” Kali ini Zayn yang kaget.
Zara juga tampak kaget hingga membelalakkan kedua bola matanya.
“Iya, memangnya kamu berharap berapa lama lagi?” Tanya Sidik pada Zayn.
“Tidak, Abi.” Jawab Zayn pelan.
“Lalu bagaimana menurutmu, Zara?” Tanya Rizky.
“Aku, aku…” Zara terdiam sesaat. “Aku ikut saja bagaimana baiknya.” Lanjutnya malu-malu.
Zara memberanikan diri melirik ke arah Zayn. Lalu ia mengernyitkan dahinya.
“Ekspresi apa itu? Apakah dia kecewa?” Zara bertanya didalam hatinya. Lalu menundukkan kepalanya lagi. “Apa mungkin dia memiliki seseorang yang dia sukai seperti Om Amir? Hmmm.” Zara menerka-nerka.
“Jadi sudah ditentukan. Pernikahan kalian akan diadakan 5 minggu kemudian.” Ucap Rizky.
“Aku setuju.” Sahut Sidik.
Kedua orang tua Zara dan Kedua orang tua Zayn terlihat sangat bahagia. Sedangkan Zara hanyut pada segudang pertanyaan didalam hatinya.
“Jika demikian, aku akan segera mengabari Hulya agar pulang ke Indonesia setelah ia selesai ujian semester.” Ucap Alisya.
“Iya, bagus itu.” Sahut Sidik.
__ADS_1
Obrolan mereka berlanjut hingga makan malam. Zara dan Zayn tidak banyak berbicara. Mereka hanya sesekali menjawab jika orang tuanya bertanya.
Aura menyadari kesedihan menyelimuti putrinya. Meski hanya matanya saja yang terlihat, namun seorang anak tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari Ibunya.
Pukul sepuluh malam Sidik, Alisya dan Zayn pamit pulang.
“Mulai hari ini kita akan sangat sibuk menyiapkan pernikah mereka. Meskipun hanya sekedar Akad saja.” Ucap Rizky.
“Hanya akad saja?” Tanya Zara.
“Iya, bukankah tadi kita sudah membahasnya.” Jawab Rizky.
“Maaf, Ayah. Aku tidak terlalu mendengarkan. Hehe.” Ucap Zara cengengesan.
“Tidak apa-apa. Ayah akan memberitahumu nanti.” Ucap Rizky.
Zara menganggukkan kepalanya.
Rizky dan Aura mengantarkan calon besannya hingga ke depan rumah. Mereka baru masuk ke dalam rumah setelah mobil calon besannya keluar dari gerbang.
Aura dan Rizky saling bertatapan mata ketika mereka melihat putrinya yang tampak tak bersemangat.
“Ada apa, Nak?” Tanya Aura dengan lembut setelah dia duduk disamping putri kesayangannya.
“Apa kamu menyesal?” Tanya Rizky.
“Tidak, Ayah, Ibu. Aku hanya lelah dan mengantuk.” Jawab Zara. “Oh ya, bukankah tadi Ayah ingin mengatakan sesuatu padaku?” Zara mengingatkan Rizky.
“Itu berarti, dua tahun lagi?” Tanya Zara.
“Iya, sayang. Ini semua kami lakukan demi kebaikan kamu.” Ucap Aura.
“Baiklah, aku mengerti.” Ucap Zara lalu tersenyum manis. “Oh ya, aku juga ingin bertanya satu hal.” Tiba-tiba Zara teringat dengan sesuatu.
“Hal apa itu?” Rizky dan Aura merasa penasaran.
“Malam ini, kenapa tidak ada seorangpun yang memintaku membuka cadar? Bukankah calon suamiku berhak melihat wajahku?” Tanya Zara dan mengernyitkan dahinya.
“Oh, itu. Zayn lihat atau tidaknya wajahmu, kalian tetap akan menikah. Jadi biarkan saja dia melihat wajahmu nanti setelah kalian menikah. Lagi pula Zayn juga tidak mengajukan diri untuk melihat wajahmu. Itu artinya dia tidak mempermasalahkan wajahmu. Cantik atau tidak kamu tetap akan menjadi istrinya.” Jawab Rizky.
“Oh, begitu.” Zara manggut-manggut.
“Hmm, padahal ibu sudah menantikan saat-saat wajah anak ibu berubah merah seperti tomat karena merasa malu.” Goda Aura.
“Hahaha. Ibu.” Zara tersipu. Lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan berlari-lari kecil menuju kamarnya.
Benar, jika Zara membuka cadarnya untuk pertama kali dihadapan orang banyak, ia pasti akan merasa sangat malu hingga wajahnya berubah merah.
“Bang, apa Abang tidak merasa kalau Zara sedang bersedih?” Tanya Aura pada Rizky.
“Iya, Abang juga merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh putri kita. Tapi apa itu?” Rizky terlihat sedang berfikir keras.
__ADS_1
“Apa mungkin karena sikap Zayn yang sangat dingin padanya?”
“Bukankah Zayn memang gunung es yang sangat dingin? Dari dulu dia juga bersikap seperti itu pada Zara.”
“Tapi mereka akan segera menikah, kenapa Zayn tidak bisa ramah sedikit saja pada Zara. Ah, putriku yang malang. Huffftttt.” Aura mengela nafas.
Rizky mengusap kepala Aura.
“Perlahan tapi pasti, sikap Zayn pada Zara bisa berubah setelah cinta tumbuh dihatinya. Bersabarlah.” Ucap Rizky dengan lembut.
“Iya, yang Abang katakan memang benar. Selama Zara menikah dengan pria yang baik, kita tidak perlu khawatir. Masalah cinta, pasti akan tumbuh seiring berjalannya waktu.” Ucap Aura sumringah. “Oh ya, Bang. Apa Abang tahu kenapa keluarga Kak Agatha tidak datang malam ini?” Tanyanya.
“Oh iya, Abang lupa memberitahu Aura. Suaminya tiba-tiba ada urusan di rumah orang tuanya, jadi Kak Agatha juga tidak bisa datang.” Jawab Rizky.
“Owh, begitu.” Aura menganggukkan kepalanya.
Rizky dan Aura beranjak dari tempat duduk mereka dan menuju kamar untuk beristirahat.
Sedangkan didalam kamar Zara terisak. Ia menyembunyikan wajahnya dikedua telapak tangannya.
“Apakah aku sudah salah membuat keputusan? Apakah aku tidak seharusnya setuju dengan pernikah ini?”
“Pernikahan yang terus aku pikirkan. Pernikahan yang aku nanti-nantikan. Kenapa malah seperti ini? Hiks hiks hiks.”
“Apa yang harus aku lakukan? Tanggal pernikahan sudah ditentukan. Hanya menghitung hari aku akan menjadi istrinya. Pria seperti gunung es itu, apa aku bisa hidup bahagia bersamanya? Hiks hiks hiks..”
“Aaaarrrrrgggggggghhhhhh!!!!” Zara berteriak tanpa mengeluarkan suara untuk membuat dirinya merasa lega.
Kemudian ia menenggelamkan wajahnya kedalam bantal. Masih terisak.
Lalu tiba-tiba ia tersentak. ia duduk tegak di atas katilnya.
“Astaghfirullah.” Ia Istighfar berulang kali.
“Apa yang sedang aku lakukan? Bukankah aku sudah istikharah? Lalu apa aku sedang mempertanyakan keputusan-Nya untukku?”
“Astaghfirullah. Ampuni hamba ya Allah.”
“Seketika hamba terhanyut dalam perasaan kecewa dan membuat hamba lupa, bahwa jalan menuju bahagia tak selalu mulus tanpa ujian.”
“Yang aku lakuhan seharusnya adalah bersabar, bukan malah sedih berlebihan.”
“Astaghfirullah.”
“Kenapa aku jadi begini? Kemarin-kemarin aku bahagia, bahagiaku berlebihan. Sekarang juga sama saat aku sedang bersedih, sedihku juga berlebihan.”
“Astaghfirullah.”
Setelah Istighfar beberapa kali, ia melanjutkan dengan sholawat hingga hatinya kembali merasa tenang.
Setelah merasa tenang, zara mulai memejamkan matanya dan tertidur lelap.
__ADS_1