
Hari ini adalah hari yang baru bagi Kak Mea. Setelah tiga hari menginap di rumah bersama suaminya, akhirnya kami akan mengantarkan dia kerumah barunya. Dia dan suaminya akan tinggal di rumah orang tua suaminya.
Bang Rafli memang termasuk orang yang sudah mapan, tapi sebagai anak pertama ia ingin membawa istrinya tinggal bersama kedua orang tuanya untuk sama-sama mengabdi sebagai anak dan juga menantu.
Aku tau dari raut wajah Ibu kalau Ibu sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Bang Rafli tersebut, tapi Ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan Ibu kurang suka terhadap Ibu mertua Kak Mea, tapi Ibu hanya memendamnya saja di hadapan Kak Mea.
"Ibu kenapa terlihat gundah? Apakah ada yang Ibu khawatirkan?" tanyaku saat melihat Ibu termenung di dalam kamarnya.
"Ibu tiba-tiba merasa khawatir sama kakakmu, Dik. Bagaimana kalau ternyata dia tidak bahagia tinggal bersama mertuanya? Ibu takut kalau mertuanya nanti akan ikut campur urusan rumah tangganya."
"Kenapa Ibu bisa berfikir seperti itu? Mungkin rasa khawatir Ibu terlalu berlebihan, makanya Ibu jadi su'udzon."
"Tidak, Nak. Apa Adik tidak memperhatikan sikap Ibu Rafli? Tidak ada ramah-tamahnya saat tadi kita datang ke sana. Sikapnya seperti orang yang tidak kenal saja. Padahal sekarang kita sudah jadi satu keluarga."
"Iya juga sih, Bu. Tapi alangkah lebih baik kalau Ibu berfikir Positif, agar yang terjadi juga hal-hal yang baik. Selalu do'akan Kak Mea agar Kak Mea bahagia di sana."
"Itu sudah pasti, Dik. Ibu pasti akan terus mendo'akan Kakak. Adik juga harus mendo'akan Kak Mea ya. Apalagi sekarang kita tinggalnya sudah berjauhan."
"In syaa Allah, Bu." ucapku sambil memijit-mijit bahu Ibu.
***
Sudah satu bulan tidak ada kabar dari Kak Mea, Ibu jadi semakin khawatir. Mau menelepon Kak Mea tapi tidak pernah masuk. Mau menelepon Bang Rafli tapi Ibu segan takut mengganggu Bang Rafli kerja.
Akhirnya kami putuskan untuk mengunjungi Kak Mea, meskipun jarak tempuh memakan waktu 2,5 jam perjalan menaiki Sepeda Motor. Tapi demi perasaan seorang Ibu, kami nekat pergi.
"Assalamu'alaikum." Ucapku dan Ibu serentak saat sampai di depan rumah mertua Kak Mea.
"Wa'alaikumussalam." jawab Kak Mea dari dalam dan membuka pintu. Kamipun masuk ke dalam.
"Sehat Kakak?" tanya Ibu.
"Alhamdulillah sehat, Bu. Ibu dan Adik bagaimana?"
"Alhamdulillah sehat juga." jawab Ibu.
"Kakak sendirian, Kak?" tanyaku karena tidak melihat siapapun.
__ADS_1
"Iya, Kakak sendirian. Bang Rafli dan Papa kerja, Mama ke rumah tetangga." jawabnya.
"Owh begitu. Kenapa nomor HP Kakak tidak pernah aktif, Kak?" tanyaku lagi.
"Kakak sudah tidak pegang HP lagi Dik. HP Kakak sama Bang Rafli." jawabnya pelan.
"Kenapa? Ibu jadi susah mau menghubungi Kakak." sahut Ibu.
"Mea tidak tau, Bu. Mea nurut saja sama maunya Bang Rafli."
"Mana boleh begitu." ucapku.
"Sudahlah, biarkan saja. Oya ada kabar gembira nih, hehe." ucap Kak Mea sambil tersenyum close up.
"Kabar apa?" tanya Ibu penasaran.
"Alhamdulillah Mea hamil sudah satu bulan, Bu." ucapnya dengan wajah berseri-seri.
"Alhamdulillah." ucapku dan Ibu secara bersamaan.
"Serius, Kak?" tanyaku masih tak percaya.
"Rezeki Kakak ya Kak cepat dapat momongan. Rezeki Adik juga sebentar lagi punya keponakan." ucapku penuh rasa gembira dan haru.
"Iya Alhamdulillah, Kakak juga tidak menyangka bisa hamil secepat ini."
"Iya bisa saja. Kemarin sewaktu menikah Kakak sedang datang bulan, jadi habis datang bulan itu Kakak masuk masa subur, makanya bisa langsung hamil." jelas Ibu pada kami.
"Memangnya bisa begitu, Bu?" tanyaku.
"Iya bisa. Tapi tetap saja tergantung kesuburan suami istri dan tergantung izin Allah." jelas Ibu lagi.
"Iya, ya." jawabku. Bertambah lagi deh ilmu baru.
"Sikap Mama baik sama Kakak?" tanya Ibu.
"Ya begitulah, Bu." jawab Kak Mea pelan.
__ADS_1
"Begitu bagaimana?" tanya Ibu penasaran.
"Kalau menurut Mea sih Mama kurang suka atau memang tidak suka sama Mea, sikapnya sama Mea kurang baik, Bu. Kalau dia ada di rumah, pasti marahin Mea mulu. Kadang Bang Rafli juga ikut-ikutan marahin Mea, padahal Bang Rafli tidak tau kejadian yang sebenarnya seperti apa, cuma dengar dari mulut Mama saja lalu memarahi Mea."
"Tuh kan, firasat Ibu benar kalau mertua Mea itu emang kurang baik. Huffftt." ucap Ibu sambil menghempaskan nafasnya.
"Marahnya karena apa, Kak?" tanyaku.
"Hal-hal sepele saja sih, Dik. Tapi di besar-besarkan." jawabnya.
"Berarti Bang Rafli tidak mengizinkam Kakak pegang HP supaya Kakak tidak bisa mengadu sama Ibu." ucapku.
"Bisa jadi itu. Apa Mea masih betah tinggal di sini?" tanya Ibu.
"In syaa Allah, Bu. Betah tidak betah sekarang ini sudah jadi rumah Mea." jawabnya dengan perlahan, terpancarlah di wajahnya kesedihan yang mendalam.
"Adik dari awal juga sudah tidak yakin kalau Bang Rafli itu pria baik." timpalku.
"Hussstt... Bang Rafli itu baik, cuma termakan omongan Mama saja. Biasalah, namanya juga anak laki-laki, pasti lebih menomor satukan Ibu dari pada Istri."
"Iya juga ya, Kak. Kakak tidak minta Bang Rafli untuk tinggal di rumah sendiri saja, ngontrak rumah misalnya. Bisa tinggal berdua saja supaya Mertua Kakak tidak marahi Kakak lagi."
"Sudah, Dik. Tapi Bang Rafli tidak mau." jawab Kak Mea.
"Aduh gimana ya." aku jadi bingung.
"Disabar-sabarin sajalah." ucap Kak Mea.
"Kalau sudah tau begini Ibu jadi tidak tenang meninggalkan Kakak di sini. Apalagi sekarang sedang hamil muda, tambah khawatir Ibu." ucap Ibu sedih, matanyapun sudah mulai berkaca-kaca.
"In syaa Allah Mea tidak apa-apa, Bu. Ibu jangan sedih, jangan khawatir, ada Allah yang akan menjaga Mea." ucap Kak Mea menenangkan hati Ibu.
"Iya memang, tapi kalau nanti Mea kenapa-kenapa bagaimana mau ngabarin Ibu coba? HP saja tidak punya." ucap Ibu dengan air mata yang mulai berlinang.
"Sebab itu Ibu harus Khusnudzon, supaya tidak terjadi hal-hal buruk sama Mea." pinta Kak Mea. "Do'a Ibu yang paling mujarab, jadi Mea harap Ibu do'akan yang baik-baik buat Mea, do'akan juga supaya sikap Mama bisa berubah jadi lebih baik sama Mea." sambungnya sambil bersandar di bahu Ibu.
"In syaa Allah, Nak. Pasti akan Ibu do'akan." ucap Ibu sambil mengelus-elus kepala Kak Mea.
__ADS_1
Sedih sekali rasanya melihat pemandangan seperti itu. Ibu jadi merasa bersalah karena sudah memberikan Kak Mea pada Bang Rafli. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.
Tidak bisa mengulang waktu, tidak mungkin juga menyuruh mereka bercerai. Hanya bisa berharap suatu hari nanti kak Mea bisa bahagia dengan Bang Rafli tanpa campur tangan orang tuanya lagi.