
Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.
Thank you. *Hug.
Happy Reading.... đź’•
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah Lucy mengatakan akan setuju menerima laki-laki lain asalkan laki-laki itu mampu membuat Lucy melupakan Rizky, Dona memutuskan untuk bertemu dengan Anton dan menyampaikan hal tersebut. Dona meminta Anton untuk segera mendekati Lucy.
Ttuutt... Ttuutt... Ttuutt... Ttuutt... Dona menelepon Anton.
"Aku tunggu di cafe tempat pertama kali kita bertemu." ucap Dona setelah Anton menjawab telepon darinya.
Setelah Anton setuju, Dona pun segera memesan taxi online untuk mengantarkannya pergi ke cafe. Sesampainya di cafe, Dona langsung duduk dan menunggu Anton datang.
Tidak lama kemudian, Anton pun tiba.
"Hai." sapa Anton yang langsung duduk berhadapan dengan Dona.
"Hai." sahut Dona.
"Sudah lama?" tanya Anton basa basi.
"Belum, hanya beberapa menit lebih awal dari pada kamu." jawab Dona.
"Oh." ucap Anton singkat.
"Kamu dengarkan baik-baik apa yang ingin aku sampaikan." ucap Dona yang mulai serius.
"Iya, katakan saja." pinta Anton.
"Kamu benar-benar menyukai Lucy kan?" tanya Dona untuk memastikan bahwa Anton tidak hanya ingin main-main dengan sahabatnya.
"Tentu saja. Kamu tidak usah meragukan perasaanku padanya." jawab Anton.
"Kalau begitu ini saatnya untuk kamu membuktikan." ucap Dona. "Satu bulan yang lalu Lucy sangat sedih karena sakit hati dengan Rizky." lanjutnya.
"Apa yang Rizky lalukan?" tanya Anton. Dia begitu kesal saat mengetahui Lucy sedih dan sakit hati. Dia sama sekali tidak ingin melihat Lucy disakiti oleh siapapun.
"Tenang dulu. Lagi pula kejadian itu sudah satu bulan yang lalu. Sekarang Lucy sudah tenang dan sudah baikan. Dan ini waku yang tepat untuk kamu coba mendekatinya." jelas Dona.
"Owh, syukurlah." sahut Anton.
"Waktu itu Lucy mengatakan bahwa dia bersedia menerima laki-laki lain asalkan laki-laki itu mampu mengobati luka hatinya dan mampu membuatnya melupakan Rizky." ucap Dona. "Aku rasa sudah saatnya kamu beraksi. Buktikan kalau kamu memang bisa membahagiakan dia." lanjut Dona.
"Tentu saja, aku yakin aku bisa diandalkan untuk mengobati luka hatinya. Tapi aku tidak tau di mana aku bisa bertemu dengannya." ucap Anton.
"Aku sudah punya rencana." sahut Dona.
"Apa yang kamu rencanakan?" tanya Anton.
"Besok aku akan meminta Lucy untuk menemuiku di taman. Kamu bisa bertemu dengannya di sana. Aku akan mengulur-ulur waktu agar aku telat sampai ke sana. Dan pastikan sebelum aku sampai, kamu sudah harus berada di sana." Dona menjelaskan rencananya untuk mempertemukan Anton dengan Lucy.
"Baik, aku pasti akan datang lebih dulu. Terima kasih karena sudah sudi membantuku." ucap Anton.
"It's okay." sahut Dona.
Setelah itu Dona pergi dari cafe dan menemui Lucy di rumahnya.
"Maaaanngggg, buka pintunya.” Teriak Dona memanggil Sekuriti yang menjaga rumah Lucy.
Sekuriti tersebut langsung keluar dari posnya dan membukakan pintu gerbang untuk Dona.
"Terima kasih, Mang." ucap Dona.
"Sama-sama, Neng." sahut si Mamang sekuriti.
Dona pun langsung masuk ke dalam rumah Lucy.
Saat Dona melihat Bi Minah yang sedang membersihkan debu-debu yang ada di lemari hias. Timbul hasrat keisengannya untuk mengusili Bi Minah.
Pllaakkk!!! Dona memukul bok*ng Bi Minah.
"Astaghfirullah,, Astaghfirullah,, Astaghfirullah,, Allah huakbar. Siapa yang berani macem-macem sama Bi Minah?" Bi Minah langsung loncat dan latah karena kaget bok*ngnya di pukul.
"Ahahahahahahahahahahaa." Dona tertawa terbahak-bahak karena puas telah membuat Bi Minah kaget dan Latah.
"Aduh, Non Dona. Jangan begitu donk, jantung Bibi sudah tidak kuat. Nanti kalau copot bagaimana." ucap Bi Minah sambil mengelus-elus dadanya.
"Siapa suruh Bibi lucu. Hahahaha." Dona masih tertawa.
"Haadduuuuhhh.. Non Dona bisa saja." ucap Bi Minah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dona!! Kapan datang?" tanya Lucy yang tiba-tiba muncul.
"Barusan." jawab Dona.
Lucy dan Dona mengobrol di ruang tamu. Sedangkan Bi Minah lanjut bersih-bersih.
"Ada gerangan apa tiba-tiba datang ke rumahku? Bahkan tidak bilang dulu padaku." tanya Lucy begitu mereka duduk di atas sofa.
"Aku mau ajak kamu jalan-jalan." jawab Dona.
__ADS_1
"Jalan-jalan ke mana?" tanya Lucy.
"Jalan-jalan ke taman. Kamu kan suka bunga." jawab Dona.
"Oh, ok. Aku ganti baju dulu ya." ucap Lucy yang langsung berdiri.
"Tunggu, duduk dulu sini." Dona menyuruh Lucy untuk duduk lagi.
"Ada apa?" tanya Lucy tidak mengerti. "Bukannya kita mau pergi ke taman?" lanjutnya.
"Iya, tapi bukan hari ini. Kita perginya besok saja. Aku tunggu kamu di taman barulah kita jalan-jalan." jawab Dona menjelaskan.
"Oh gitu. Besok juga boleh." sahut Lucy.
"Kamu janji ya, harus datang. Aku tunggu pukul 2 siang." ucap Dona.
"Iya iya iya." jawab Lucy.
Dona senang karena Lucy mau menerima ajakannya untuk pergi ke taman. Itu artinya langkah pertama sudah berhasil.
Keesokan hari...
Lucy berangkat dari rumah pukul 01:40WIB. Ia mengendarai mobil pribadinya yang berwarna merah.
Sesampainya di taman, Lucy belum melihat adanya sosok Dona. Jadi dia memutuskan untuk membeli sebotol air minum dan duduk di kursi taman untuk menunggu kedatangan Dona sahabat baiknya.
Wuusshhh... Tiba-tiba ada seseorang yang berdiri didepannya dan langsung menyodorkan seikat bunga mawar berwarna merah kepadanya.
Lucy mengangkat kepalanya untuk melihat wajah orang yang berdiri dedepannya saat itu.
"Kamu!!" ucap Lucy kaget.
"Iya, aku. Kenapa?" tanya Anton.
"Kenapa kamu ada di sini?" Lucy merasa tidak senang.
"Apa salah jika aku ada di sini? Tempat ini bukanlah taman pribadi kamu." jawab Anton.
"Iya, memang bukan taman pribadiku. Jadi aku akan pergi sekarang." ucap Lucy lalu membalikkan badannya. Tapi langkah kakinya terhenti saat Anton secepat kilat berpindah posisi.
"Minggir, kamu jangan menghalangi jalanku." ucap Lucy.
"Aku datang ke sini khusus untuk bertemu denganmu. Tapi kamu malah langsung mau pergi. Tidak akan aku biarkan." ucap Anton. "Ini bunga untukmu, ambillah." lanjutnya sambil menyodorkan seikat bunga mawar pada Lucy.
"Aku tidak suka bunga. Sebaiknya kamu simpan saja." Lucy menolak pemberian Anton.
"Benarkah? Tapi yang aku tau, kamu sangat menyukai bunga. Ambillah, jangan malu-malu." ucap Anton. Lalu Lucy pun meraih bunga tersebut.
"Lucy, mengapa kamu begitu kasar padaku?" tanya Anton.
"Memang seperti itulah sifatku. Kalau kamu tidak suka, jangan pernah muncul lagi dihadapanku!!" ucap Lucy dengan tegas.
"Lucy, kamu harus tau bahwa aku menyukaimu." Anton meluahkan perasaannya pada Lucy.
"Apa? Suka padaku? Sayang sekali aku sudah menyukai orang lain. Haha." ucap Lucy yang menertawakan Anton.
"Aku tau!! Rizky!! Pria yang sama sekali tidak memperdulikanmu dan sudah menikah dengan wanita lain. Apa pria seperti itu yang kamu idam-idamkan!!" bentak Anton.
"Bagaimana kamu bisa tau tentang semua ini? Siapa yang memberitahumu?" mata Lucy sudah mulai berkaca-kaca.
"Lucy, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu. Maafkan aku." Anton merasa bersalah karena membuat Lucy menangis.
"Pergilah, aku tidak mau melihatmu. Hikss,, hikss,, hikss." Lucy menangis dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Lucy, maafkan aku. Tolong izinkan aku membantumu untuk mengobati luka hatimu. Aku janji akan membahagiakan kamu." ucap Anton dengan sungguh-sungguh.
Lucy tidak menghiraukan Anton. Lucy pun lari dan bergegas masuk ke dalam mobilnya. Dia menelepon Dona dan bertanya kenapa lama sekali sampai ke taman.
Sebenarnya sudah lama Dona sampai di taman, tapi dia sengaja tidak muncul dihadapan Lucy. Dona bersembunyi karena ingin melihat sendiri bagaimana cara Anton mendekati Lucy.
Karena Lucy sudah menelepon, maka Dona pun keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung masuk ke dalam mobil Lucy.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" tanya Dona yang pura-pura tidak tau.
"Laki-laki jabingan itu datang dan menggangguku." jawab Lucy.
"Siapa? Siapa Laki-laki jabingan yang berani mengganggumu?" tanya Dona lagi.
"Yang waktu itu." jawab Lucy.
"Oh, sepertinya dia menyukaimu. Karena itu dia selalu muncul dan mengganggumu." Dona mulai memberi kode pada Lucy.
"Sepertinya begitu. Tadi dia juga bilang kalau dia menyukaiku dan berjanji akan membahagiakan aku." ucap Lucy pelan.
"Wah, so sweet. Dia berani meluahkan isi hatinya padamu. Lalu kamu terima?" tanya Dona sumringah. Dia sengaja ingin menggoda Lucy.
"Mana mungkin aku mau menerimanya." jawab Lucy.
"Kenapa tidak? Mana tau dia bisa lebih menghargai keberadaan kamu dari pada Rizky." ucap Dona.
"Aku tidak tau, Na. Hatiku tidak bisa menerimanya." ucap Lucy.
"Kalau kamu mau coba berteman dengannya, mungkin lama kelamaan hati kamu bisa menerimanya." Dona coba membujuk Lucy.
__ADS_1
"Mungkin bisa suatu hari nanti. Tapi tidak sekarang." sahut Lucy.
"Mau tidak mau kamu harus bisa mencobanya sekarang." pinta Dona.
"Kenapa kamu sangat memaksa?" tanya Lucy kesal.
"Karena kamu sama sekali sudah tidak punya kesempatan untuk merebut Rizky." jawab Dona.
"Apa maksudmu?" tanya Lucy lagi.
"Apa kamu tau bahwa Aura sekarang sedang hamil?" Dona balik bertanya pada Lucy.
"Tidak mungkin!!" Lucy sangat kaget ketika tau bahwa Aura sudah hamil.
"Apanya yang tidak mungkin? Mereka itu suami dan istri, wajar saja kalau dia hamil." ucap Dona.
"Aarrgghh!! Tapi tetap saja hatiku sakit." Lucy sangat kesal.
"Sudahlah, Cy. Jika kamu begini terus, kamu akan semakin tersiksa. Diantara kalian bertiga, hanya kamu yang selalu tersakiti." Dona coba menyadarkan Lucy.
"Huffttt..." Lucy menghempas nafasnya.
"Kita berdua bisa saja menyakiti Aura. Tapi hal itu tidak akan membuat Rizky suka padamu, yang ada malah dia semakin membencimu." ucap Dona. "Saran dariku sebaiknya kamu terima saja Anton." lanjutnya.
"Hah? Siapa Anton?" tanya Lucy.
"Laki-laki yang kamu sebut jabingan itu." jawab Dona.
"Oh, namanya Anton." ucap Lucy pelan.
"Iya." sahut Dona.
"Bagaimana kamu bisa tau namanya? Apa kalian saling kenal?" Lucy mulai menyadarinya.
"Iya, aku baru kenal dengannya." jawab Dona terus terang.
"Bagaimana bisa??" Lucy kaget.
"Whatever. Yang penting kamu harus tau bahwa dia tulus mencintaimu." jawab Dona dengan yakin.
"Tapi aku tidak bisa percaya begitu saja, apalagi aku baru mengenalnya." bantah Lucy.
"Kamu tidak akan tau selama kamu tidak memberikan dia kesempatan." ucap Dona.
"Iya sih, hurmmm." sahut Lucy. "Tapi, jika aku melepaskan Rizky, pasti wanita gil* itu yang akan mendapatkan Rizky." tiba-tiba Lucy teringat pada Ningrum.
"Apapun yang dia lakukan, percuma saja. Tidak akan ada orang yang bisa memisahkan Rizky dan Aura. Thrust me." ucap Dona.
"Kenapa kamu bisa begitu yakin?" tanya Lucy.
"Tentu saja karena Rizky dan Aura sudah ditakdirkan untuk bersama, mereka berdua sangat cocok. Itu sebabnya mereka berjodoh." jawab Dona. "Cy, kita bisa jatuh cinta dengan siapa saja. Tapi percayalah, kita hanya akan bisa bersama dengan orang yang sudah ditakdirkan menjadi jodoh kita." ucap Dona dengan lembut agar hati Lucy tidak merasa sakit saat mendengar ucapan Dona.
Lucy hanya diam dan terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Kita pulang saja, yuk." ajak Lucy beberapa menit kemudian.
"Baiklah, sebaiknya kita pulang supaya kamu bisa menenangkan hati dan fikiranmu. Jangan lupa untuk coba menerima Anton." ucap Dona.
"Untuk hal itu aku tidak bisa janji." sahut Lucy.
Kemudian mereka berdua pun pulang. Lucy mengantarkan Dona pulang ke rumahhnya, baru kemudian dia sendiri pulang ke rumahnya.
Setelah masuk ke dalam rumah, Dona menghubungi Anton dan memarahinya.
Ttuutt... Ttuutt... Ttuutt... Ttuutt... Dona menelepon Anton.
"Halo." sahut Anton di seberang sana.
"Begitu caramu mendekati Lucy? Bagus sekali!!" bentak Dona.
"Maaf, aku tau aku salah." ucap Anton yang merasa menyesal.
"Kamu bukan mengobati luka hatinya tapi malah menambah lukanya. Bagaimana sih? Payah sekali jadi laki-laki." ucap Dona kesal.
"Maafkan aku, Lucy sangat keras kepala. Tidak mudah untuk menaklukkannya." sahut Anton.
"Aku sudah pernah bilang padamu, jika kamu pria sejati kamu pasti tau bagaimana caranya menaklukkan hati wanita. Bukan malah membentaknya seperti itu. Huhh." Dona masih kesal pada Anton.
"Iya, aku akan mencobanya lagi. Maaf karena telah membuat kalian berdua kesal." ucap Anton.
"Ok, maafmu aku terima." jawab Dona lalu mematikan teleponnya.
"Apa semua laki-laki di dunia ini hanya bisa mematahkan hati wanita?" Dona berbicara sendiri. "Semoga saja my Dafa tidak seperti itu. Semoga saja my Dafa masih setia di sana. Aamiin." ucap Dona.
Dafa adalah kekasih Dona yang ia rahasiakan dari Lucy. Dona masih belum siap untuk memberitahukan Lucy tentang hubungan asmaranya dengan Dafa. Itu semua karena selama ini Lucy selalu sakit hati karena Rizky, Dona merasa tidak enak jika Lucy tau bahwa dia sedang menjalin hubungan yang hsrmonis dengan kekasihnya. Dona tidak mau membuat Lucy cemburu dengan hubungan Dona dan Dafa yang harmonis.
***
Di rumah Anton.
"Damn!!" teriak Anton lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "Kenapa sulit sekali memahami wanita?" lalu dia menumbuk sofanya.
"Aku rindu hidupku yang dulu, dimana aku selalu merasa nyaman dan tenang. Sangat berbeda dengan saat ini setelah aku jatuh hati pada Lucy. Dan anehnya lagi, kenapa aku bisa menyukai wanita kasar seperti dia?" ucap Anton lalu berfikir. "Tapi sekasar-kasarnya dia, dia pasti memiliki sisi lembutnya. Hanya saja dia belum menunjukkannya padaku. Padahal tadi aku sudah berniat untuk mendekatinya baik-baik, tapi malah berakhir seperti ini. Haduuuuhhh." Anton menepuk jidadnya.
__ADS_1