Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps 33


__ADS_3

“Jika dia hanya menginginkan uang, mengapa tidak memintanya sebagai kompensasi saja?” Tanya Rizky.


“Sepertinya dia menginginkan harta tanpa batas.” Amir berpendapat dan tertunduk lesu.


“Ugh.” Rizky mengusap wajahnya.


“Oh ya, aku ingat satu hal.” Amir langsung menatap wajah Rizky.


“Hal apa itu?” Tanya Rizky penasaran.


“Sehari sebelum aku dan Arumi menikah, aku sempat berkirim pesan dengan Arumi melalui aplikasi berwarna hijau. Aku bertanya pada Arumi apa yang diinginkan Kak Arin untuk menjadi kompensasi karena kami melangkahinya dalam menikah.”


“Lalu apa yang dikatakan Arumi?” Tanya Rizky lagi.


“Arumi bercerita padaku bahwa beberapa bulan yang lalu Kak Arin sempat dilamar oleh seorang pengusaha muda. Dia anak tunggal dikeluarganya. Karena itu sebelum mereka menikah, ibu pria tersebut meminta Kak Arin untuk cek kesehatan di rumah sakit. Kak Arin menurut, namun hasilnya tidak semuanya baik.”


“Ternyata Kak Arin mand*l, akhirnya orang tua pria itu tidak merestui hubungan mereka. Lalu Kak Arin ditinggalkan oleh calon suaminya.”


“Karena itu, Kak Arin memberi syarat yang berat pada kami.” Amir bercerita panjang lebar.


“Syarat yang berat?” Rizky heran. “Memangnya apa syaratnya?” Rizky semakin penasaran.


“Kak Arin mengatakan bahwa dia menginginkan anak pertama kami. Anak pertama kami harus menjadi anaknya karena dia tidak akan bisa memiliki anaknya sendiri.” Jawab Amir.


“Ya Allah.” Rizky kaget.


“Aku baru mengingat hal itu. Jadi aku berpikir, mungkin dia tidak mengizinkan aku menyentuhnya agar aku tidak bertanya tentang kehamilan padanya. Karena jika dia tidak hamil dalam jangka waktu yang lama, aku pasti akan curiga dengan identitasnya. Tapi sekarang walaupun dia menyembunyikan identitasnya, tetap saja dia bisa membuat kita curiga. Karena walaupun dia saudara kembar Arumi, sifat mereka berdua bagai langit dan bumi.”


“Betul. Abang setuju dengan ucapanmu. Sekarang sebaiknya kita banyak-banyak berdo’a kepada Allah. Agar bisa segera mendapat pentunjuk tentang keberadaan Arumi.”


“Aamiin. Baik, Bang.” Sahut Amir.


“Sekarang ayo kita pulang. Hari sudah sore.”


Amir mengangguk lalu keduanya keluar dari ruangan Rizky.


***


Di kampus.


Angel menemui Zara.


“Hey. Kenapa Bang Arfa tidak pernah datang lagi ke kampus?” Tanyanya sembari menyilangkan tangan dihadapan Zara dan Nayla.


“Aku tidak tahu.” Jawab Zara cuek. Lalu lanjut berjalan bersama Nayla.

__ADS_1


“Hey, aku bertanya padamu. Kamu pasti tau dia kemana dan juga pasti tau kenapa tidak pernah datang lagi.” Angel mencegat Zara sekali lagi.


“Sudah aku katakan, aku tidak tahu. Tolong jangan ganggu aku.” Ucap Zara.


“Iisshhh.” Angel kesal lalu pergi meninggalkan Zara dan Nayla.


Setiap hari Angel semangat pergi ke kampus karena berharap bisa melihat Arfa.


Akan tetapi sudah dua minggu berlalu, Arfa tidak pernah kunjung datang.


Zara dan Nayla duduk ditaman sambil memainkan gawainya masing-masing.


Zara menatap ponselnya lalu melihat ada chat dari Bang Zayn.


“Jangan lupa, besok kita akan pergi ke pesantren. Minta izin dengan dosenmun untuk libur beberapa hari.” Tulis Zayn.


“Ok.” Balas Zara singkat.


“Emm, Nayla. Besok aku dan Bang Zayn…. Ups!!!” Zara lupa kalau Nayla belum tahu dia sudah menikah dengan Zayn.


“Bang Zayn??? Siapa lagi itu??” Nayla melototi Zara.


“Emm… Maaf, Nay. Aku menyembunyikan sesuatu darimu.”


“Oh, aku ingat. Apa ini rahasia yang waktu itu membuatmu tidak fokus belajar?” Nayla mengingatkan.


“Iya.”


“Iya, akan aku beritahu. Sebenarnya aku sudah menikah dengan Bang Zayn sebulan yang lalu.” Ucap Zara pelan.


“Apa??” Nayla histeris.


“Hussttt!!” Jangan teriak.


“Maaf, aku terlalu kaget.” Ucap Nayla sembari menutup mulutnya. “Kamu serius sudah menikah diusiamu yang masih semuda ini??” Nayla masih tak percaya.


“Iya.” Jawab Zara. “Lagi pula apa salahnya? Aku bahkan merasa seperti memiliki Abang.” Lanjutnya


“Iya juga sih. Kamu kan anak tunggal.” Ucap Nayla. “Lalu apa pekerjaannya? Berapa usianya?”


“Bang Zayn enam tahun lebih tua dariku. Dia seorang Dokter Spesialis Jantung.” Jawab Zara berterus terang.


“Waa, pasti dia tampan.” Goda Nayla sembari mengedipkan matanya berkali-kali.


“Iya, hehe.” Zara cengengesan. “Oh ya, kembali ke awal. Tadi aku mau mengatakan bahwa besok kami akan pergi ke pesantren selama beberapa hari.” Lanjut Zara.

__ADS_1


“Ke pesantren? Ngapain?” Tanya Nayla.


“Ada lomba tahfidz disana. Bang Zayn akan menjadi salah satu jurinya.” Jawab Zara.


“Oh begitu. Lalu berapa lama kamu akan libur?”


“In syaa Allah paling lama satu minggu. Aku mau minta tolong padamu, tolong beritahu dosen. Lalu aku juga akan meminjam catatanmu nantinya.”


“Ok, no problem.” Sahut Nayla. “Apa Bang Arfa tahu kamu sudah menikah? Karena itu dia tidak pernah datang lagi untuk menemuimu?” Nayla mencari tahu.


“Iya, dia tahu…”


“Apa? Dia tahu? Lalu kenapa kamu baru memberitahu aku sekarang?” Nayla memotong ucapan Zara.


“Aduh Nayla. Aku belum selesai berbicara kamu sudah memotongnya. Bagaimana aku bisa menjelaskan padamu? Sebaiknya kamu dengarkan terlebih dahulu hingga aku selesai berbicara.”


“Hehehee.. iya, maaf.” Nayla cengengesan.


“Ibu memberitahuku bahwa dua minggu yang lalu Bang Arfa berkunjung ke rumah untuk minta restu. Nah, saat itu Ibu langsung memberitahunya bahwa aku sudah menikah. Sejak saat itu dia tidak pernah muncul lagi dinkampus kan?”


“Oh, jadi karena itu dia tidak pernah datang lagi. Hmm..” Nayla menghela nafas. “Semoga saja itu pertanda bahwa dia sudah menyerah.” Lanjutnya.


“Iya. Aku juga berharap demikian.” Sahut Zara.


“Kira-kira saat ini apa yang sedang dilakukan Bang Arfa? Apa mengurung dirinya di rumah? Haha.” Nayla tertawa kecil.


“Tidak perlu dipikirkan.” Ucap Zara. “Ayo kita kembali ke kelas. Sebentar lagi kelas akan dimulai.”


“Ok.”


Mereka berdua beranjak dari kursi taman dan berjalan beriringan menuju kelas.


Angel muncul dari sebalik pohon dan menatap punggung Zara dengan sinis.


“Dasar penip*!! Katanya tidak tahu apa penyebab Bang Arfa tidak pernah muncul. Tapi nyatanya dia tahu penyebabnya. Cihh.” Ucap Angel sinis.


“Sekarang aku harus pergi kemana mencari Bang Arfa? Aku bahkan tidak tahu alamat kantornya. Jangankan alamatnya, aku juga tidak tahu nama perusahaannya. Aiihhh.” Angel memijit kepalanya.


“Aha, aku pergi saja ke kantor Papa. Papa punya banyak koneksi, Pasti tidak sulit bagi Papa untuk menemukan identitasnya.” Angel sumringah.


Setelah itu Angel menelepon supir dan memintanya untuk menjemput Angel di kampus.


Kemudian dia pun bergegas pergi menuju kantor Papanya.


Dulunya perusahaan itu adalah milik Papa Lucy, karena Lucy anak tunggal dan sudah meninggal, akhirnya kantor itu diwariskan kepada cucunya yaitu Angel.

__ADS_1


Dikarenakan Angel masih kecil, akhirnya untuk sementara waktu Anton lah yang mengurus perusahaan tersebut. Saat usia Angel genap dua puluh lima tahun, barulah Angel akan diangkat manjadi Presdir di perusahaan itu.


__ADS_2