
Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.
Thank you. *Hug.
Happy Reading.... 💕
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kandunganku sudah memasuki minggu ke sebelas. Hari ini tiba-tiba aku Ingin makan lontong sayur.
Aku pergi ke belakang untuk mencari Bi Sumi dan minta tolong padanya untuk membelikan aku sebungkus lontong sayur.
"Biii." sapaku begitu aku melihat punggung Bi Sumi.
"Saya, Nyonya Muda." sahut Bi Sumi lalu menoleh ke arahku.
"Bi, tiba-tiba saya ingin makan lontong sayur. Masih adakah yang jual, Bi?" tanyaku pada Bi Sumi.
Aku takut kalau sudah tidak ada lagi warung yang menjual lontong sayur, karena matahari sudah tinggi.
"Sekarang sudah hampir pukul dua belas, Nyonya Muda. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang menjualnya." jawab Bi Sumi.
"Hurmm. Ya sudah tidak apa-apa, Bi." ucapku dengan rasa kecewa.
"Nyonya Muda makan siang saja ya. Lontong sayurnya biar Bibi saja yang masak untuk Nyonya Muda." ucap Bi Sumi.
"Beneran, Bi?" tiba-tiba aku semangat karena akhirnya aku bisa makan lontong sayur.
"Iya, Nyonya Muda. Bibi akan ambilkan makan siang untuk Nyonya Muda." jawab Bi Sumi. "Nyonya Muda silahkan tunggu di meja makan. Nanti akan Bibi antar makanannya." lanjutnya.
"Baik, Bi. Terima kasih." sahutku.
"Sama-sama, Nyonya Muda." jawab Bi Sumi.
Kemudian aku pergi menuju meja makan dan menunggu Bi Sumi datang membawakan makanan untukku.
Aku lihat Jihan pulang dari kampus dan wajahnya terlihat sangat sedih, seperti ingin menangis.
"Apa dia punya masalah dengan biaya? Atau ada masalah dengan temannya? Atau dosennya baru saja menghukumnya?" aku coba menebak-nebak.
"Ini makanannya, Nyonya Muda." ucap Bi Sumi membuyarkan lamunanku.
"Oh. Iya, Bi." sahutku. Lalu akupun mulai menyantap makan siangku. Masakan Bi Sumi dan Jihan sama-sama lezat. Tapi tetap saja kadang-kadang aku rindu dengan masakan Ibu. Hanya Ibu dan Kak Mea yang tau lauk kesukaanku.
***
Di kamar belakang.
"Nduk." Bi Sumi menemui Jihan di dalam kamarnya.
"Saya, Buk." sahut Jihan yang sedang duduk termenung di atas tempat tidur.
"Apa kamu masih lelah?" tanya Bi Sumi.
"Tidak terlalu lelah, Buk." jawab Jihan.
"Kalau begitu ayo bantu Ibuk masak lontong sayur." ajak Bi Sumi.
"Hah? Masak lontong sayur? Memangnya mau buat acara apa, Buk?" tanya Jihan yang sedang merasa heran.
"Bukan untuk acara apa-apa. Tapi Nyonya Muda sedang ngidam dan kepingin makan lontong sayur." jawab Bi Sumi menjelaskan.
"Owh, ayo kita mulai masak." ajak Jihan.
Kemudian Jihan dan Bi Sumi kembali ke dapur untuk mulai memasak lontong sayur yang diinginkan oleh majikannya. Bi Sumi juga meminta Chaca untuk membantu.
"Nduk, kamu dan Chaca potong-potong sayurnya dan bumbunya terlebih dulu. Ibuk mau pergi ke mini market beli lontong mentahnya." ucap Bi Sumi.
"Baik, Bu. Ibu hati-hati." ucap Chaca.
"In syaa Allah." sahut Bi Sumi.
Kemudian Chaca dan Jihan langsung mulai mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Bi Sumi.
Tidak lama kemudian Bi Sumi pulang membawa bungkusan yang berisi lontong mentah. Sesampainya Bi Sumi di dapur, Bi Sumi langsung merebus bungkusan lontong tersebut.
Jihan dan Chaca sudah selesai menyiapkan semua bahan-bahan yang diperlukan.
Merekapun langsung memasak semuanya. Masak sambal kacang tanah dan ikan teri. Masak mi lidi dan juga sayur.
***
Di depan TV aku duduk sendirian. Aku mencium aroma yang sangat lezat. Lalu aku pergi ke dapur untuk memeriksa, apakah lontong sayur yang mereka masak sudah siap.
"Wah, aromanya lezat banget. Sudah masakkah, Bi?" tanyaku begitu aku tiba di dapur.
"Hampir, Nyonya Muda. Tunggu sebentar lagi." jawab Bi Sumi.
"Sedang masak apa?" tanya Ummi yang baru saja pulang dari pengajian.
"Masak lontong sayur, Mi." jawabku.
"Tumben." ucap Ummi yang merasa sedikit heran.
"Ini permintaannya Nyonya Muda. Nyonya Muda sedang ngidam, kepingin makan lontong sayur. Begitu Nyonya Besar." ucap Bi Sumi menjelaskan.
"Owh, Aura sedang ngidam?" tanya Ummi padaku.
"Begitulah, Mi. Aura tiba-tiba kepingin makan lontong sayur. Tapi sayangnya sudah tidak ada lagi yang menjualnya." jawabku.
__ADS_1
"Oh, pantesan langsung masak di rumah, hehe." ucap Ummi sambil tertawa kecil. "Ummi masuk ke kamar sebentar, mau ganti baju." lanjutnya.
"Baik, Mi." sahutku.
Setelah Ummi pergi, aku coba mendekati Jihan. Aku ingin bertanya padanya, kenapa tadi saat pulang dari kampus wajahnya terlihat sangat sedih.
"Jihan." sapaku.
"Iya, Nyonya Muda." sahutnya.
"Kamu ada masalah?" tanyaku pelan agar tidak kedengaran oleh Chaca dan Bi Sumi.
"Tidak ada, Nyonya Muda." jawabnya.
"Jangan bohong. Tadi saya lihat kamu pulang dari kampus dengan wajah muram." ucapku. "Kenapa wajah kamu terlihat sangat sedih?" tanyaku lagi.
"Itu, saya, saya..." sepertinya Jihan ragu-ragu untuk mengatakannya padaku.
"Nyonya Muda." panggil Chaca.
"Iya, Cha." sahutku.
"Lontong sayur sudah masak. Sudah Bibi bawa ke meja makan. Ayo langsung di makan." ucap Bi Sumi.
"Owh, baik, Bi." sahutku. "Nanti saja kamu cerita pada saya. Jangan ragu-ragu, mana tau saya bisa bantu menyelesaikannya." ucapku pada Jihan.
"Baik, Nyonya Muda." jawab Jihan lalu mengangguk perlahan.
Aku meninggalkan Jihan dan pergi menuju meja makan. Lalu Ummi datang menghampiriku.
"Ummi, ayo kita makan lontong sayur." ajakku.
"Wah, kebetulan Ummi juga belum makan siang." ucap Ummi. "Tolong ambilkan piring satu lagi." pinta Ummi.
Lalu Bi Sumi pun mengambilkan piring untuk Ummi.
Aku dan Ummi mulai menikmati lontong sayur buatan Bi Sumi, Chaca dan Jihan.
"Wah, lezat. Alhamdulillah. Akhirnya terpenuhi juga keinginan Aura makan lontong sayur." ucapku.
"Alhamdulillah. Kalau sedang ngidam memang seperti itu, rasanya pasti senang banget kalau makanan yang diinginkan bisa didapatkan." ucap Ummi.
"Iya, Mi. Ini pertama kalinya Aura ingin makan sesuatu sampai segitunya. Sedih kalau tidak keturutan, ternyata seperti itu rasanya ngidam." ucapku.
"Iya, memang seperti itu." sahut Ummi.
Lalu kami berdua fokus menyantap makanan kami masing-masing. Setelah di piringku habis, aku masih tambah lagi sedikit.
Nanti setelah aku selesai makan, aku akan ajak Jihan bicara. Semoga nanti dia mau menceritakan masalahnya denganku.
Aku pasti akan merasa sangat bersalah jika membiarkan dia menanggungnya sendirian. Apalagi di sini dia tidak punya keluarga, mungkin sulit baginya untuk menceritakan hal itu padaku atau pada Chaca.
Setelah siap makan, aku pun langsung pergi ke belakang mencari Jihan. Aku lihat di kamar, Jihan sedang menangis dipelukan Chaca.
"Jihan, kamu kenapa? Ceritakan saja pada kami. Siapa tau dengan begitu perasaan kamu bisa lebih lega." pintaku pada Jihan.
"Nyonya Muda. Sepertinya saya sudah tidak sanggup untuk terus kuliah di sana. Hiks hiks hiks." ucap Jihan yang masih menangis.
"Kamu tenangkan dulu diri kamu. Setelah merasa lebih baikan baru cerita." ucapku dengan lembut.
Aku dan Chaca dengan sabar menunggu hingga Jihan selesai menangis.
"Sekarang sudah bisa cerita?" tanyaku pada Jihan setelah ia menyeka air matanya.
"Sudah, Nyonya Muda." jawab Jihan.
"Ayo ceritakan pelan-pelan." pintaku.
***
Di kampus Jihan.
Sudah beberapa hari ini Jihan sering di bully oleh teman kampusnya. Meskipun Jihan tidak tau apa alasannya, ntah apa yang menyebabkan mereka tega membully Jihan. Hingga akhirnya hari ini dia tau apa penyebabnya.
"Salsa, setelah habis kelas, saya mau langsung pulang saja." ucap Jihan pada Salsa temannya yang akrab di dalam kelas.
"Baiklah, Jihan hati-hati di jalan." ucap Salsa.
"In syaa Allah." jawab Jihan.
Lalu Salsa dan Jihan berjalan beriringan menuju gerbang kampus.
Tiba-tiba ada seseorang yang mendorong Jihan hingga jatuh.
"Kanaya!! kamu apa-apaan sih?" ucap Salsa kesal. Salsa pun membantu Jihan untuk berdiri.
Jihan merasa sangat malu karena kejadian itu disaksikan satu kampus.
"Saya tidak ada salah apa-apa dengan kamu. Tapi kenapa kamu selalu mencari gara-gara dengan saya?" tanya Jihan dengan sopan.
"Apa? Kamu tidak punya salah apa-apa? Mimpi kamu!!" bentak Kanaya. "Kalau kamu tidak punya salah, mana mungkin saya meluangkan waktu untuk kamu." lanjutnya.
"Memangnya Jihan punya salah apa sama kamu?" tanya Salsa.
Kanaya melirik ke arah sosok seorang Pria yang sedang jalan menuju Jihan.
"Apa kamu terluka?" tanya Firman pada Jihan.
"Tidak. Maaf, kamu siapa?" Jihan balik bertanya pada Firman.
__ADS_1
Jihan tidak mengenal Firman karena mereka bukan berasal dari kelas yang sama. Firman jurusan Teknik, sedangkan Jihan jurusan PAI (Pendidikan Agama Islam).
"Perkenalkan nama saya Firman. Kamu Jihan, ya kan." ucap Firman.
"Iya, bagaimana kamu bisa tau?" tanya Jihan.
"Tentu saja saya tau." jawab Firman lalu tersenyum manis pada Jihan.
"Heh, sempat-sempatnya kalian kenalan dan senyum-senyum dihadapanku!!" ucap Kanaya kesal.
Jihan, Salsa dan Firman tidak menghiraukan Kanaya.
"Firman, apa hebatnya dia? Sampai-sampai kamu suka sama gadis kampung seperti dia." ucap Kanaya.
"Bukan urusan kamu." jawab Firman.
"Heh, gadis kampung. Kamu ke kampus cuma ingin tebar pesona saja, iya kan?" fitnah Kanaya pada Jihan.
"Tidak, say datang ke kampus hanya untuk belajar." bantah Jihan.
"Lalu kenapa kamu bisa membuat Firman menyukaimu? Ilmu apa yang kamu gunakan? Atau jangan-jangan kamu menggunakan tubuhmu untuk menggodanya?" tanya Kanaya bertubi-tubi.
"Tolong jaga ucapanmu!" Jihan sangat emosi mendengar ocehan Kanaya. "Aku bahkan tidak mengenalnya, bagaimana mungkin aku bisa menggodanya!!" teriak Jihan.
Jihan sangat malu dengan semua teman-teman satu kampusnya. Mungkin setelah ini reputasinya akan hancur.
"Kamu sangat keterlaluan Kananya. Dia tidak bersalah." ucap Firman membela Jihan.
"Kamu tidak usah membela saya. Lebih baik kamu ajarkan sopan santun pada pacarmu itu." ucap Jihan pada Firman sambil menunjuk Kanaya.
"Dia bukan pacarku." ucap Firman.
"Kalau dia bukan pacarmu, kenapa dia marah dengan Jihan?" tanya Salsa.
"Saya juga tidak tau." jawab Firman.
"Firman, kamu bagaimana sih? Masih juga tidak peka. Kanaya ini suka sama kamu." ucap Friska sahabat Kanaya.
"Saya tidak peduli. Saya hanya ingin kalian berhenti mengganggu Jihan. Saya yang menyukainya, bukan dia yang menyukai saya. Jadi dia sama sekali tidak bersalah." ucap Firman.
Jihan kaget dengan pernyataan Firman. Pria yang tidak dia kenal ternyata bisa tertarik padanya.
"Apa maksudmu bicara seperti itu?" tanya Jihan dengan lembut.
"Jihan, dengarkan saya. Saya memang menyukai kamu, tapi saya tidak memaksa kamu untuk menyukai saya. Saya juga mau minta maaf karena sudah lancang memiliki perasaan seperti ini pada kamu." ucap Firman menjelaskan.
"Sudahlah jangan di bahas lagi. Saya mau pulang." ucap Jihan lalu meninggalkan mereka semua.
"Aku ikut, Han." ucap Salsa lalu mengejar Jihan.
"Sebaiknya kamu berhenti membully Jihan, atau kamu akan tau sendiri apa akibatnya." ucap Firman.
"Aku tidak takut. Selama kamu masih suka padanya, selama itu juga aku akan terus benci padanya dan mengganggunya." sahut Kanaya.
Firman pun berjanji pada dirinya sendiri untuk terus melindungi Jihan. Meskipun Jihan hanyalah seorang gadis yang berasal dari kampung. Karena rasa suka hadir tanpa mengenal status.
***
"Begitulah ceritanya, Nyonya Muda." ucap Jihan.
"Apa kamu juga menyukai Firman?" tanyaku pada Jihan.
"Tidal, Nyonya Muda. Saya bahkan tidak mengenal dia sebelumnya." jawab Jihan.
"Jihan, dimanapun kita berada pasti akan ada yang tidak menyukai kita." aku ingin memberi sedikit nasehat pada Jihan. "Sebaik apapun kita tetap saja ada yang tidak menyukai kita. Dan sejahat apapun kita pasti tetap ada yang menyukai kita. Memang begitulah lumrah kehidupan. Kamu harus bisa sabar, kamu tentu masih ingat apa tujuan kami kuliah." sambungku.
"Iya, Nyonya Muda. Apapun yang akan terjadi saya pasti akan tetap bertahan demi membahagiakan orang tua saya." jawab Jihan.
"Bagus itu." ucapku.
"Semangat ya Jihan. Kakak pasti akan terus membantu Jihan. Jika ada apa-apa di kampus. Cerita saja pada Kakak." ucap Chaca.
"In syaa Allah. Terima kasih Nyonya muda. Terima kasih juga Kak Chaca." ucap Jihan. Senyuman sudah mulai terukir diwajahnya.
"Bay the way, yang namanya Firman tampan tidak?" tanya Chaca sambil menyenggol-nyenggol siku Jihan.
"Aiiihh... Tampan sih, Kak." jawab Jihan.
"Berarti kamu beruntung donk!!" ucap Chaca.
"Tapi kami tidak cocok, Kak. Sepertinya dia anak orang kaya. Sedangkan saya hanya gadis kampung. Kampung saya dipegunungan pula." ucap Jihan merendah.
"Lalu apa menurutmu Nyonya Muda dan Tuan Muda juga tidak cocok?" tanya Chaca.
"Cocok, sangat cocok." Jihan menjawab secepat kilat.
"Hahaha." aku hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua.
"Itu artinya jodoh tidak memandang status, Jihan sayang." ucap Chaca.
"Tapi saya sama sekali tidak punya perasaan apapun pada Firman, Kak." ucap Jihan.
"Iya, tidak usah terlalu difikirkan masalah hati. Yang penting kamu harus terus semangat belajar." ucapku menasehati Jihan.
"In syaa Allah. Terima kasih Nyonya Muda dan Kak Chaca, sudah mau mendengarkan cerita saya. Sudah mau menasehati saya dan juga memberikan dukungan pada saya." ucap Jihan.
"Sama-sama Adik kecil." ucap Chaca. Kemudian kami bertiga berpelukan.
Semoga saja semangat belajar Jihan tidak sirna hanya karena Kanaya sering membully Jihan di kampus.
__ADS_1
Terkadang rasa cemburu memang bisa memicu seseorang untuk berusaha menyakiti orang lain. Sama seperti Lucy yang sering menyakiti aku hanya karena cintanya tidak di balas oleh Bang Rizky.