
Hampir pukul enam Jihan selesai memasak karena tadi aku mengajaknya ngobrol. Tepat pukul enam sore Jihan dan Kakek pamit pulang.
Aku memberanikan diri untuk bicara dengan Bang Rizky mengenai keinginan Jihan yang tadi ia sampaikan padaku.
"Bang, Aura ingin menyampaikan suatu hal." ucapku memulai obrolan.
"Hal apa itu?" tanya Bang Rizky.
"Abang ada niat untuk menambah ART?"
"Menambah ART? Tidak mudah untuk menerima ART baru, sayang." jawab Bang Rizky.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Dulu Ummi pernah mengambil satu ART lagi karena kasihan Bi Sumi mengurus rumah sendirian. Lalu ART tersebut lancang, dia berani mencuri perhiasan Ummi. Setelah itu, kita tidak pernah lagi menambah pembantu." jawab Bang Rizky menjelaskan.
"Owh, begitu." ucapku sambil manggut-manggut. " Tapi kalau kita sudah mengenal orangnya, apa dia boleh jadi ART di rumah?" lanjutku.
"Hurmm.." ucap Bang Rizky sambil mengernyitkan dahinya.
"Kakek sudah berapa lama mengurus Villa ini, Bang?"
"Sebentar Abang ingat-ingat dulu." jawabnya sambil berfikir. "Sekitar 20 tahun atau lebih." lanjutnya kemudian.
"Kalau Jihan? Sudah berapa lama Abang mengenalnya?" tanyaku lagi.
"Dari masih bayi, hehe." jawabnya sambil cengengesan. "Aura kenapa jadi wartawan dadakan begini?" tanyanya dan mengacak-acak rambutku.
"Aura mau bawa Jihan pulang ke kota." jawabku terus terang.
Aku lihat wajah Bang Rizky berubah setelah aku mengatakan hal itu.
"Kenapa?" tanyanya.
"Tadi di dapur Jihan cerita sama Aura, Jihan sangat ingin kuliah. Tapi tidak ada biaya. Kalau Jihan boleh kerja di rumah, uang gajinya bisa dia pergunakan untuk bayar kuliah." jelasku pada Bang Rizky.
"Apa Jihan mau pergi ke kota?" tanyanya memastikan.
"Kalau itu Aura belum tau, Bang. Tapi kalau misalnya Abang mau memperkerjakan Jihan, Aura akan tanya padanya besok." akupun tersenyum.
Dia membalas senyumku.
"In syaa Allah kita bisa menjadikannya ART, asalkan dia juga bersedia." ucap Bang Rizky.
"Alhamdulillah. Terima kasih, Bang." ucapku sumringah.
Alhamdulillah, akhirnya ada jalan buat Jihan agar bisa kuliah. Semoga Jihan bersedia ikut ke kota. Meskipun nanti dia akan pergi sendirian dan jauh dari orang tua. Tapi aku tidak keberatan untuk menjadi Kakaknya.
***
Hari ini setelah Jihan menyelesaikan pekerjaannya di Villa, aku memintanya untuk duduk denganku sambil menikmati pemandangan yang tidak pernah menbuatku bosan menatapnya.
"Jihan, apa Jihan mau pergi ke kota untuk kerja dan kuliah?" tanyaku.
"In syaa Allah saya mau, Nyonya. Tapi lulusan SMA seperti saya mau kerja apa di sana?"
__ADS_1
"Kalau kerja di rumah menjadi ART, bagaimana?"
"Saya tidak keberatan, Nyonya. Tapi, kerja sebagai ART itu berarti kerja selama 24 jam. Mana ada waktu untuk kuliah." jawabnya pelan.
"Kalau kerja di rumah kami bagaimana? Jihan mau?" tanyaku dan menatap sepasang netra miliknya.
"Apa? Di rumah Nyonya?" tanyanya antusias, bahkan tanpa ia sadari ia menggenggam erat kedua tanganku.
"Iya." jawabku singkat dan sumringah melihatnya begitu bersemangat.
"Tentu saja saya mau, Nya. Tapi....." ucapannya berhenti.
Aku menaikkan alisku, menunggu kelanjutan kalimatnya.
"Tapi apa Tuan Muda sudah tau?" tanya Jihan.
"Iya, Tuan Muda sudah tau. Saya sudah meminta persetujuannya tadi malam." jawabku. "Jihan bisa bekerja di rumah sebagai ART dan juga bisa ke kampus jika ada kelas." lanjutku.
"Terima kasih banyak atas bantuan Nyonya Muda." ucapnya, lalu tanpa ia sadari, ia ingin memelukku. Namun tidak jadi ia lakukan.
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Maaf Nyonya Muda, saya lancang." ucapnya dengan malu.
"Tidak masalah." ucapku lalu aku yang mulai memeluknya duluan. "Jika kamu pergi ke kota nanti, anggap saya sebagai Kakak kamu ya. Jangan sungkan-sungkan untuk minta bantuan." lanjutku.
"Iya, terima kasih banyak. Nyonya Muda sangat baik." ucapnya. Ia menghapus air matanya yang mengalir.
"Kenapa? Kenapa menangis?" aku merasa khawatir.
"Manis sekali kamu, Han." gumamku di dalam hati.
Tok... Tok... Tok.... Bunyi pintu di ketuk.
"Saya permisi buka pintu dulu, Nya. Sepertinya ada tamu." ucap Jihan.
Aku menganggukkan kepalaku, lalu ia segera pergi menuju pintu.
Aku melihat dua gadis langsung nyelonong masuk. Sungguh tidak sopan kelakuan mereka berdua.
"Heh, queen wanna be. Enak-enakan kamu di sini yaa." ucap Lucy yang langsung menghampiriku.
Aku tidak mau ribut dengannya, jadi aku mengabaikan dia begitu saja. Sapaannya itu hanya aku anggap sebagai angin lalu.
"Heh, bud** ya? Aku bicara sama kamu!" ucapnya lagi.
Aku menoleh ke arahnya. Astaghfirullah, itu mata sudah mau keluar.
"Ada apa?" tanyaku pura-pura tidak mengerti.
"Emang dasar kamu ya, dari tadi aku ngomong sama kamu, kamu anggap apa??" suaranya melengking.
"Angin lalu." jawabku dengan lembut serta melemparkan senyuman yang sangat manis untuknya.
"Kamu!!!!" teriaknya dan mengangkat tangan kanannya.
__ADS_1
"Lucy!!!!" teriak Bang Rizky membuat Lucy tidak jadi menamparku.
"Siapa yang menyuruhmu datang ke sini?" tanya Bang Rizky dengan nada yang tidak senang.
"Aku rindu sama kamu. Memangnya tidak boleh kalau mau ketemu?" tanya Lucy.
Astaga!!! Dia tidak merasa malu bicara seperti itu pada seseorang yang sudah bergelar suami. Dan pria itu adalah suamiku bukan suaminya.
"Rindu? Kamu kira kamu siapa? Saya tidak butuh rindumu itu. Pergi dari sini, sekarang!" ucap Bang Rizky dengan tegas.
"Ky, kita baru saja sampai. Mosok langsung di suruh pulang." ucap Dona tidak terima.
"Saya tidak peduli, bukan saya yang meminta kalian datang. Istri tercintaku sedang sakit, aku tidak ingin kalian berdua mengganggunya." ucap Bang Rizky.
"Hah? Sakit? Hahahaha." ucap Lucy sambil tertawa terbahak-bahak. Sebahagia itu dia mengetahui aku sakit.
"Pergi dari sini sekarang juga. Sebelum saya bersikap lebih kasar." ancam Bang Rizky.
"Ky, kamu kenapa lebih memilih dia? Dia itu adalah queen wanna be. Kenapa kamu tidak memilihku saja? The real queen." tanya Lucy pada Bang Rizky dengan perasaan bangga.
"Apa jawabannya sangat penting bagimu?" Bang Rizky balik bertanya padanya.
"Of course. Just tell me, why?" tanya Lucy.
"Kamu pasti tau film Maleficent, right?"
"Iya." jawab Lucy.
"Aurora itu cocok sekali dengan Aura. Mereka sama-sama baik, pada siapapun mereka pasti akan bersikap baik. Sedankan kamu, kamu memang queen. Tapi sayangnya kamu adalah queen jahat yang berperan sebagai Ibu pangeran. Queen yang itu memang sangat cocok mendeskripsikan karaktermu." ucap Bang Rizky. "Queen Lucy." lanjutnya ketus.
"Iiiiihhhhh..... Rizky!!" Lucy terlihat sangat emosi mendengar ucapan Bang Rizky barusan. Dia benar-benar tidak terima.
"Tunggu apa lagi? Pergi dari sini." pinta Bang Rizky lagi.
"Aku tidak mau." ucap Lucy. Lalu ia menarik tangan Dona dan segera masuk ke dalam salah satu kamar yang kosong. Dia dan Dona mengurung diri di kamar tersebut.
"Bang. Biarkan saja dulu." ucapku.
"Aura tidak merasa terganggu dengan kehadiran mereka berdua?" tanya Bang Rizky padaku.
"Sebenarnya Aura merasa terganggu. Sangat terganggu. Tapi kalau mereka masih mau di sini. Biarkan saja dulu." ucapku lembut.
"Baiklah kalau begitu." ucap Bang Rizky dan tersenyum.
"Jihan, sini." panggil Bang Rizky.
"Saya, Tuan Muda." ucap Jihan ketika menghampiri kami.
"Nanti sore, kamu tidak perlu masak. Saya dan Nyonya Muda akan makan di luar." jelas Bang Rizky.
"Baik, Tuan Muda. Saya mengerti." sahut Jihan lalu mengundurkan diri.
"Kenapa tidak masak? Masakan Jihan semuanya enak. Aura suka."
"Tidak apa-apa, sayang. Abang hanya ingin memberi mereka sedikit pelajaran. Nanti kalau mereka berdua lapar, biar mereka berusaha sendiri. Dari sini ke kampung terdekat lumayan jauh, jika mereka keluar mungkin akan kesasar. Dan setau Abang, anak manja seperti mereka berdua tidak ada yang bisa masak. Hahahahh." jelas Bang Rizky yang diakhiri dengan tawa bahagia.
__ADS_1
Aku pun ikut tertawa mendengar penjelasan Bang Rizky. Rasanya aku sudah tidak sabar ingin menyaksikan drama itu.