
Keesokan hari, Setelah selesai sholat subuh Ummi langsung menyiapkan perlengkapan yang akan ia bawa pergi bersama Abi.
Rasanya ia sudah tak sabar ingin bertanya secara detail dengan putranya perihal kejadian yang menimpa mereka. Mengapa bisa mantu kesayangannya hilang?
Ummi hanya bisa bersabar, Istighfar dan mengelus-elus dadanya tiap kali ia mengingat hal itu. Fikirannya terus saja ternoda dan merasa berdosa jika memikirnya hal-hal buruk mungkin saja sudah terjadi pada Aura. Segera ia beristighfar dan membuang jauh-jauh fikiran jelek yang terus saja singgah dikepalanya.
Sesampainya di vila tempat Rizky menginap.
Abi mengetuk pintu, lalu Alisya membukakan pintu dan menyambut kedatangan Abi dan Ummi.
Rizky yang mengetahui hal itu langsung berhambur kepelukan sang Ibu. Rizky menangis terisak seolah lupa bahwa dirinya adalah seorang Tuan Muda yang biasanya tegar dan tegas. Ia menangis sepuasnya tak memperdulikan sekitarnya. Ummi mendudukkan Rizky disofa dengan masih berpelukan.
Ummi mengelus-elus punggung Rizky, sambil berbisik “Nak, istrimu masih belum meninggal, tidak perlu menangis berlebihan seperti ini. Ikhlas dan Do’akan agar ia bisa segera ditemukan. Ingat, tidak ada satu kejadianpun yang terjadi tanpa izin dari Allah!”
Rizky yang mendengar ucapan Ummi segera mencoba untuk mengontrol emosinya agar bisa segera tenang.
Setelah Ummi melihat Rizky mulai tenang dan menghapus air matanya. Ummi mulai bertanya pada putranya itu.
“Nak, coba ceritakan pelan-pelan apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa semua ini bisa terjadi?” Ummi bertanya dengan lembut dan hati-hati.
“Awalnya semua baik-baik saja, Mi. Lalu ntah bagaimana tiba-tiba rem mobil Rizky blong. Saat itu setelah melewati tanjakan Rizky ingin mengurangi kecepatan barulah Rizky tau kalau ternyata rem mobil kami sudah blong.” Ucap Rizky menjelaskan, setelah itu ia menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan seolah-olah ingin menahan tangis dan air mata yang ingin berhambur keluar (lagi).
Sedangkan yang lain masih menunggu kelanjutan cerita Rizky.
“Lalu Rizky melihat ada sebuah jembatan didepan. Dan bodohnya Rizky mengira jika Aura pasti akan selamat jika ia jatuh ke dalam air tanpa tahu seperi apa keadaan dibawah jembatan itu. Rizky mengira jika Rizky dan Aura akan celaka bersama-sama jika mobil Rizky tidak bisa berhenti dan meledak.” Setelah itu air matanya sudah tak terbendung lagi. Rizky menangis lagi dipelukan Ummi.
Yang lainnya hanya bisa terdiam mendengarkan cerita Rizky.
“Apa kamu sudah memeriksa keadaan mobilmu sebelum berangkat?” Tanya Sidik saat dia yakin Rizky sudah lebih baik dan sudah puas menangis dipelukan Ibunya.
“Sudah, semuanya baik-baik saja sampai….” Ucapan Rizky terputus.
“Sampai… Apa?” Tanya Abi.
“Sampai saat Aura merasa lapar, kami singgah disebuah rumah makan. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan ke sini.” Jawab Rizky dengan suaranya yang parau.
“Itu artinya sejak awal sudah ada orang yang mengawasi kalian. Lalu ia mengambil kesempatan saat kalian sedang makan.” Ucap Sidik mengagetkan semua orang.
__ADS_1
“Maksudmu ada orang yang memang ingin mencelakai kami?” Tanya Rizky tak percaya.
“Benar.” Jawab Sidik dengan Yakin.
“Abi setuju dengan apa yang dikatakan oleh temanmu.” Abi berpendapat. “Abi yakin kalau kamu pasti memiliki musuh diluar sana. Katakan, siapa dia?” Tanya Abi.
“Tidak ada, Bi. Rizky tidak memiliki musuh.” Bantah Rizky.
Rizky berkata jujur, bahwa dirinya memang tidak memiliki musuh diluar sana. Hanya saja masih ada orang yang ingin bermusuhan dengannya.
***
Di markas Anton..
“Tuan saya sudah menerima berita dari orang suruhan kita.” Ucap salah seorang anak buah Anton.
“Benarkah? Bagaimana hasilnya?” Tanya Anton.
“Mereka berdua sudah hanyut.” Jawabnya. Orang suruhan anak buah Anton berbohong karena mereka berdua tidak mau dianggap gagal dalam menjalankan misi tersebut.
“Baguslah.” Ucap Anton yang merasa puas.
Anton memberikan isyarat pada anak buahnya untuk meninggalkan mereka berdua.
“Tentu saja orang yang ingin kamu lenyapkan.” Jawab Anton setelah anak buahnya pergi.
“Siapa maksudmu?” Tanya Lucy lagi. Sebenarnya ia sudah bisa menebak, namun ia sangkal pemikirannya itu.
“Tentu saja Rizky dan Aura.” Jawab Anton dengan bangga.
“Dasar jabingan! Aku hanya memintamu untuk membunuh Aura, bukan Rizky.” Spontan Lucy ingin langsung menampar wajah Anton. Namun dengan sigap Anton menangkap tangan Lucy.
“Kamu kira aku ini bodoh?” Anton menatap mata Lucy dengan tatapan yang tajam. “Jika aku hanya melenyapkan Aura, maka dengan berbagai cara kamu pasti akan kabur dariku dan mengejar Rizky lagi. Jadi lebih baik jika aku menghabisi keduanya, hehe.” Lanjutnya dengan senyum sinis.
Lucy menarik tangannya dari genggaman Anton.
“Bagaimanapun, kamu hanya akan menjadi istriku. Bahkan orang tuamu sendiri juga sudah menyerahkanmu padaku.”
__ADS_1
“Pergi ke kamarmu dan bersiaplah, besok pagi kita akan menikah. Aku sudah memesan baju pengantin untukmu.”
Lucy dengan perasaan kecewa pergi ke kamarnya. Ia menangis sejadi-jadinya meratapi nasibnya mendapatkan pendamping hidup seperti Anton.
“Mungkin ini karma bagiku. Aku juga bukan orang baik, karena itu Allah memberikanku suami sepertinya.” Ucapnya pada dirinya sendiri.
Anton menyalakan televisi dan mencari berita perihal kecelakaan yang menimpa Rizky.
“Eh, kenapa hanya Aura yang hanyut?” Ucap Anton kecewa.
“Tapi biarlah, yang terpenting saat ini Lucy mengira bahwa Rizky juga sudah tiada. Haha.” Ketawa jahat.
***
Tiga bulan kemudian…
Rizky masih terus berusaha untuk mencari Aura.
“Brak!!” Rizky memukul meja.
“Apa-apan ini? Kenapa kalian semua tidak becus bekerja? Sudah selama ini masih saja belum bisa menemukan keberadaan istriku.” Rizky membentak semua anak buahnya.
“Maafkan kami, Tuan Muda.” Ucap salah seorang dari mereka.
“Maaf saja tidak cukup. Aku mau kalian sebarkan berita dan buat sayembara. Siapapun yang berhasil menemukan istriku, akan mendapatkan imbalan uang 1 Milyar.” Rizky memberi perintah.
Semua anak buah Rizky tercengang mendengarkan ucapan Rizky. Uang sebanyak 1 Milyar, siapa yang tidak menginginkannya?
Lalu salah seorang dari mereka memberanikan diri untuk bertanya pada Rizky. Ia mewakili tanda tanya yang ada dikepala rekan-rekannya.
“Maaf, Tuan Muda. Apa kami juga berhak atas uang itu?” Tanyanya pelan karena merasa takut kalau Rizky akan marah lagi.
“Iya, tentu saja.” Jawab Rizky.
Tentu saja hal itu membuat hati mereka sangat senang dan sangat bersemangat untuk kembali menyusuri sungai dan mencari Nyonya Muda nereka.
Rizky tidak putus asa dan masih lanjut mencari Aura meskipun polisi sudah menutup kasus itu dua bulan yang lalu.
__ADS_1
Selama ia yakin bahwa Aura masih hidup, selama itu juga ia akan terus berusaha menemukannya.
“Ya Allah, jika hilangnya Aura adalah atas kehendak-Mu untuk menguji keimanan hamba, maka hamba yakin selama hamba meminta dengan penuh keyakinan, Engkau pasti akan memberikan jalan pada hamba untuk bisa menemukannya.” Ucap Rizky penuh harap.