Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Hometown


__ADS_3

Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.


Thank you. *Hug.


Happy Reading.... 💕


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebaiknya aku pergi sekarang untuk berkunjung ke rumah Bu Asma dan memberikan beberapa buah-buahan dan sekotak kue, kemarin aku belum berkunjung ke sana. Bagaimanapun juga ketika aku menikah dengan Bang Rizky dulu, Pak Ridwan suami Bu Asma sudah banyak membantu.


"Bu, Adik ke rumah Bu Asma sebentar ya, Bu." ucapku pada Ibu.


"Mau ngapain, Dik?" tanya Ibu.


"Ini buah sama kue dari kemarin masih utuh, padahal hanya sedikit. Mau Adik berikan separuh sama Bu Asma." jawabku menjelaskan.


"Oh, bagus itu. Biar Ibu masukkan dalam plastik." ucap Ibu.


"Iya, Bu." sahutku.


Kemudian aku masuk ke dalam kamar untuk menemui Bang Rizky dan sekalian minta izin. Agar nanti Bang Rizky tidak mencariku.


"Bang, Adik pergi ke rumah sebelah sebentar ya." ucapku setelah aku tiba di kamar. Bang Rizky sedang fokus pada laptopnya.


Katanya sih cuti 3 hari, tapi nyatanya masih ada pekerjaan yang dikerjakannya diam-diam.


"Ke rumah tetangga mau ngapain?" tanya Bang Rizky.


"Mau Silaturahim sama Bu Asma, sekalian mau memberikan buah dan kue yang kemarin kita bawa." jawabku menjelaskan.


"Owh, Iya." sahut Bang Rizky dan menganggukkan kepalanya.


Setelah itu aku keluar dari kamar dan langsung menemui Ibu.


"Bu, ini bungkusannya?" tanyaku.


"Iya, Adik pergi sendiri ya."


"Iya, Bu. Sebelah sini saja. Tidak jauh, hehe." ucapku sambil cengengesan. "Adik pergi ya, Bu." lanjutku.


"Iya." sahut Ibu.


Aku meraih bungkusan yang sudah disediakan Ibu lalu pergi ke rumah sebelah.


Saat aku sudah berada di depan pintu rumah Bu Asma, aku mengtuk pintu rumahnya.


Tokk.. Tokk.. Tokk..


"Assalamu'alaikum. Bu Asmaaa...." aku memanggilnya dari luar.


"Wa'alaikumussalam." terdengar suara Bu Asma menyahut dari dalam.


Beberapa saat kemudian, dia membuka pintu.


"Oh, Aura. Ayo masuk." ajak Bu Asma.


"Terima kasih, Bu. Aura hanya ingin mengantarkan ini." ucapku lalu menyerahkan sebungkus buah-buahan dan sekotak kue.


"Wah, Alhamdulillah. Terima kasih banyak Aura." ucap Bu Asma lalu meraihnya.


"Sama-sama, Bu. Maaf, Auta hanya bisa memberikan ini." ucapku dengan lembut.


"Tidak apa-apa." Bu Asma tidak kalah lembut. "Oh ya, Aura sudah hamil berapa bulan?" tanya Bu Asma.


"Alhamdulillah sudah masuk 4 bulan, Bu. Do'akan semoga lancar ya, Bu." pintaku.


"In syaa Allah lancar terus sampai melahirkan ya Aura." ucap Bu Asma.


"Aamiin ya Allah. Terima kasih, Bu." jawabku.


"Sama-sama." sahutnya.


"Aura permisi ya, Bu."


"Iya, sekali lagi terima kasih buah tangannya." ucap Bu Asma.


"Iya, Bu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." jawabnya.


Setelah berpamitan, aku pun langsung pulang ke rumah.


"Assalamu'alaikum, Bu. Adik pulang." aku langsung masuk melalui kios.


"Wa'alaikumussalam. Cepat." jawab Ibu.


"Iya, Bu. Karena Adik mau ajak Bang Rizky jalan-jalan ke pantai, Bu."


"Oh, mau jalan-jalan ternyata."


"Iya, Bu. Hehee." aku tersipu malu.


Lalu aku masuk ke dalam untuk melihat Bang Rizky, sudah selesai atau masih sibuk di depan laptop.


*Kreeekkkk!! *Aku buka pintu kamar.


"Astaghfirullah." ucap Bang Rizky kaget lalu spontan menoleh ke arahku.


"Astaghfirullah." ucapku pelan. "Abang kaget? Hahaha." ekspresi wajahnya sangat lucu.


"Iya." jawabnya lalu fokus lagi pada leptopnya.


"Maklum lah, pintunya sudah tua." ucapku lalu duduk disebelahnya. "Abang masih lama siapnya?" tanyaku.


"Sepertinya. Kenapa?"


"Aura mau jalan-jalan ke pantai. Abang ikut?"


"Kalau Abang tidak ikut, memangnya Aura mau pergi sama siapa?"


"Pergi sendiri saja." jawabku.


"jangan donk." ucap Bang Rizky dengan penuh kasih. "Kita pergi setelah sholzt dzuhur." lanjutnya.

__ADS_1


"Ok." jawabku lalu tersenyum padanya. "Aura keluar saja ya. Supaya Abang bisa konsentrasi." sambungku.


"Terima kasih atas pengertiannya my angel." ucapnya.


"Your welcome future father, hehe." aku tertawa kecil.


Hurmm, sebenarnya aku kepingin makan sesuatu. Tapi Bang Rizky mungkin tidak tau tentang makanan yang aku inginkan ini. Lebih baik aku katakan pada Ibu saja.


Aku pergi menghampiri Ibu di kios, kebetulan sedang ada pembeli. Lalu aku duduk di kursi dekat meja kasir, menunggu hingga Ibu selesai melayani pembeli.


Aku utarakan keinginanku saat Ibu menghampiriku dan hendak memasukkan uang ke dalam laci meja kasir.


"Bu." ucapku.


"Ada apa?" tanya Ibu dengan lembut.


"Adik kepigin makan tahu bumbu kari yang di jual Bu Menik." jawabku.


"Kepingin itu maksudnya ngidam?" tanya Ibu.


"Iya, Bu." aku menganggukkan kepalaku berkali-kali.


"Tunggu di sini, Adik jaga kios. Biar ibu yang pergi beli." ucap Ibu.


"Beneran, Bu?" tanyaku sumringah.


"Iya." jawab Ibu lalu mengambil beberapa lembar uang. "Ibu pergi sebentar. Assalamu'alaikum." lanjut Ibu.


"Iya, Bu. Wa'alaikumussalam." sahutku.


Kemudian Ibu pergi ke rumah Bu Menik untuk membeli tabu bumbu kari yang aku inginkan.


Lebih kirang 20 menit Ibu pergi, lalu kembali membawa makanan yang sudah membuatku ngiler sejak tadi.


"Alhamdulillah." ucapku sumringah begitu makanan yang aku nantikan sudah berada ditanganku. "Ibu mau juga?" tanyaku.


"Tidak usah. Itu buat Adik dan Rizky saja." ucap Ibu.


"Baik, terima kasih, Bu." jawabku.


Ibu hanya tersenyum melihat tingkahku.


Kemudian aku masuk ke dalam rumah dan langsung pergi ke dapur untuk mengambil piring.


Aku jejerkan di atas piring tahu tahu yang sudah ditusuk-tusuk dengan lidi, lalu aku siram bumbu kari yang rasanya sangat lezat. Nyummy!!


Aku bawa makanan tersebut masuk ke dalam kamar.


Bang Rizky baru saja menutup laptopnya.


"Pas banget, Abang sudah selesai kerja. Ini Aura bawa makanan enak, hehe." ucapku lalu meletakkan piring di atas nakas yang berada di sebelah katil.


"Apa ini?" tanya Bang Rizky. Sudah aku duga sebelumnya, Bang Rizky tidak tau makanan apa ini.


"Ini tahu bumbu kari. Cobain deh, rasanya lezat. Bikin ketagihan." ucapku. Sudah seperti orang endorse makanan. Wkwkwkwkk.


Bang Rizky pun percaya pada ucapanku. Ia mengambil satu tusuk dan mulai memakannya. Aku juga ikut makan donk, kan aku yang ngidam. Hehee.


"Tadi Aura kepingin ini, lalu Ibu pergi ke rumah Bu Menik untuk membelinya." jawabku.


"Oowh. Tidak jauh?" tanyanya lagi.


"Tidak, cuma di depan situ. Bu Menik tidak ada kios, karena suaminya menjual makanan ini di sekolah dan di pantai." jawabku menjelaskan.


Bang Rizky manggut-manggut tanda mengerti.


Adzan dzuhur pun berkumandang. Bang Rizky pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.


Sementara aku sibuk menghabiskan tahu yang masih tersisa di piring.


"Kalau sudah selesai makan, langsung sholat ya sayang. Jangan di tunda-tunda." ucap Bang Rizky.


"Siap, boss. Cuma sisa dua tusuk lagi."


"Iya, Abang mau pergi ke masjid." ucapnya.


"Iya." jawabku.


Aku segera menghabiskan makananku. Setelah itu aku pergi ke kamar mandi untuk berwudhu' dan menunaikan kewajibanku sebagai seorang hamba. Aku mulai dengan sholat rawatib dua rakaat lalu sholat fardhu empat rakaat.


Setelah aku selesai menunaikan sholat dzuhur, aku menghidangkan makanan di atas tikar. Karena di rumahku tidak ada meja makan.


Saat Bang Rizky sudah pulang dari masjid, makanan sudah terhidang. Ibu, aku dan Bang Rizky pun mulai menyantap makan siang bersama-sama.


Setelah selesai makan, aku dan Bang Rizky siap-siap untuk pergi ke pantai.


"Aura sayang, kita perginya naik sepeda motor?" tanya Bang Rizky.


"Tidak usah, Bang. Kita jalan kaki saja, pantainya juga tidak terlalu jauh." jawabku lalu tersenyum padanya.


Bang Rizky menuruti kemauanku. Kami pun pergi ke pantai dengan berjalan kaki.


Sesampainya di pantai, kami duduk-duduk di atas batu dan menikmati keindahan sekeliling.


"Bang, ayo minum es kelapa muda. Aura sudah merasa gerah." ajakku.


"Oh, baiklah my princess, ayo bawa Abang ke sana." pintanya.


Lalu aku membawa Bang Rizky pergi ke warung Nek Ijah.


Sesampainya di sana, Bang Rizky langsung duduk. Sedangkan aku langsung menemui Mba Jannah untuk memesan dua gelas es kelapa muda.


"Terakhir kali Aura datang ke sini bersama Icha, Bang." ucapku setelah aku duduk di depan Bang Rizky.


"Oh ya? Kapan itu?" tanya Bang Rizky.


"Sudah lama, Bang. Bahkan sebelum kita berdua mulai chatting." jawabku to the point.


"Hurmm... Berarti kurang lebih sudah satu tahun setengah." ucap Bang Rizky sambil berfikir dan menerka-nerka.


"Sepertinya begitu." jawabku. Aku menganggukkan kepalaku dan mengiyakan pendapat Bang Rizky.


"Ini es kelapa Muda pesanan Adik." ucap Mba Jannah yang tiba-tiba muncul. Lalu meletakkan dua gelas es kelapa muda dihadapan kami berdua.

__ADS_1


"Terima kasih, Mba." ucapku.


"Sama-sama." sahut Mba Jannah lalu ia pergi meninggalkan kami.


Aku lihat Bang Rizky fokus menatap ke arah sungai yang mengalir.


"Abang mikirin apa?" tanyaku setelah aku meneguk es kelapa muda beberapa kali.


"Tidak ada. Hanya sedang menikmati keindahan alam dan juga menikmati angin sepoi-sepoi." jawabnya dengan santai.


"Oh." jawabku singkat. "Oh ya Bang, ada yang mau Aura tanya tapi Aura selalu lupa." sambungku.


"Tanya tentang hal apa?" tanya Bang Rizky lalu menatap netraku.


"Besok kita sudah harus kembali ke kota. Kita berangkat jam berapa dari sini?"


"In syaa Allah kita akan berangkat setelah sholat dzuhur." jawab Bang Rizky.


"Owh, siap boss. Hehe." sahutku.


Aku pun fokus memakan kelapa muda yang ada di dalam gelasku. Begitu juga dengan Bang Rizky, ia pun mulai fokus menghabiskan es kelapa muda miliknya.


Setelah selesai minum es kelapa muda, aku menemui Mba Jannah lagi untuk membayar es kami.


Lalu aku dan Bang Rizky lanjut jalan-jalan hingga ke hujung pantai. Di hujung pantai tempat aku tinggal, ada dua air terjun yang sangat indah.


Di sini ada juga sebuah proyek, namanya adalah proyek mawas. Di sini mawas sudah hampir punah, oleh karena itu orang-orang tempatan mencoba untuk melestarikan mawas.


Mawas-mawas yang tersisa di jaga sangat ketat dan dilindungi oleh undang-undang. Siapa saja yang berani menyakiti mawas-mawas tersebut, maka akan kena sangsi pidana dan masuk ke dalam penjara.


Sepertinya Bang Rizky sangat ingin pergi ke proyek mawas tersebut, tapi tidak bisa karena tempatnya lumayan jauh. Sedangkan aku, dengan keadaanku yang seperti ini tidak akan sanggup berjalan lagi hingga ke sana.


"Abang pergi sendiri saja, Bang. Aura akan menunggu Abang di cafe itu." ucapku memberi saran.


"Tidak, Abang tidak akan meninggalkan Aura sendirian di sini. Mungkin sekarang belum rezeki Abang untuk pergi ke sana." jawabnya dengan lembut.


"Abang beneran tidak apa-apa kalau tidak pergi?" tanyaku untuk memastikan.


"Iya, tidak apa-apa. In syaa Allah nanti kita akan pergi ke sana bertiga." jawab Bang Rizky. Ia tersenyum sambil mengelus-elus perutku.


Kami duduk-duduk sebentar sambil menikmati pemandangan dan air terjun. Sesekali ada beberapa orang yang Tubing berlalu lalang di atas air yang mengalir.



Air terjun




Orang-orang yang sedang tubing.


Tidak lama kemudian kami memutuskan untuk pulang ke rumah karena sudah mau masuk waktu sholat ashar.


Setelah berjalan agak jauh, aku kecapean.


"Bang, Aura sudah tidak sanggup lagi." ucapku dengan nafas ngos-ngosan.


"Aura sayang. Aura tunggu di sini saja. Abang pulang sebentar untuk mengambil sepeda motor." ucap Bang Rizky. Tiba-tiba wajahnya berubah dan terlihat sangat khawatir pada keadaanku. Ia membantuku untuk duduk di kusri yang ada di pinggir jalan.


Setelah itu Bang Rizky bergegas pulang ke rumah untuk menjemput sepeda motor Ibu.


Lebih kurang lima belas menit aku menunggu Bang Rizky datang menjemputku.


"Aura sayang, Abang perginya tidak lamakan?" tanya Bang Rizky begitu ia tiba dihadapanku.


"Tidak. Jangan khawatir, Aura pasti setia menunggu. Hehee." jawabku sambil tertawa kecil.


Setelah aku duduk dengan posisi yang nyaman, Bang Rizky mulai menjalankan sepeda motornya.


"Assalamu'alaikum. Bu, Adik pulang." ucapku begitu kami masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumussalam. Adik baik-baik sajakan?" tanya Ibu yang terlihat sangat khawatir.


"Alhamdulillah adik baik-baik saja, Bu." jawabku.


"Ya sudah, Adik masuk saja. Istirahat di dalam kamar." pinta Ibu.


"Baik, Bu." jawabku. Lalu aku dan Bang Rizky segera masuk ke dalam kamar.


Aku langsung berbaring di atas tempat tidur.


Adzan ashar sudahpun berkumandang, Bang Rizky segera pergi ke kamar mandi untuk berwudhu' dan meluncur ke masjid.


Saat Bang Rizky meninggalkanku sendirian di dalam kamar. Gawaiku berbunyi.


Ting!! Ada sebuah pesan melalui aplikasi berwarna hijau dari sahabatku.


"Assalamu'alaikum, Ra." tulis Luna.


"Wa'alaikumussalam Luna. Bagaimana kabarnya?" balasku.


"Alhamdulillah masih dalam lindungan Allah. Kamu sendiri bagaimana, Ra?" tanya Luna.


"Alhamdulillah sama, Lun. Masih dalam lindungan Allah. Tasya bagaimana kabarnya? Pasti tambah lucu. Hehe." balasku.


"Alhamdulillah begitulah, Ra." balas Luna. "Oh ya, Ra. Beberapa hari terakhir aku sering bermimpi tentang kita berdua." lanjutnya.


"Oh ya, mimpi tentang apa?" tanyaku.


"Semoga ini hanya perasaanku saja, tapi sepertinya arti dari mimpi ini tidak baik, Ra." balasnya.


"Oh ya? Coba ceritakan pada Aura." pintaku. Ntah mengapa setelah membaca tulisan Luna itu, perasaanku menjadi tidak karuan.


Tiba-tiba Bang Rizky masuk ke dalam kamar.


"Abang mau pergi ke masjid. Aura juga langsung sholat ya. Nanti saja lanjut main hand phonenya." ucap Bang Rizky. Ia melihat aku sedang memegang ponselku.


"Baik, Bang." jawabku.


Aku meletakkan ponselku di atas nakas yang berada di sebelah tempat tidurku. Lalu aku pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.


Setelah aku selesai sholat ashar, aku langsung pergi mandi. Setelah aku selesai mandi baru aku akan membaca chat dari Luna.

__ADS_1


__ADS_2