
Setelah mengambil photo keluarga besar beberapa kali, Amir dan Arumi turun dari pelaminan. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Para tamu juga sudah hampir habis pulang ke rumah masing-masing.
Rizky meminta Pak Ujang untuk mengantarkan Amir dan Arumi pulang ke rumah terlebih dahulu.
Sedangkan Rizky dan Aura masih harus mengurus sesuatu di gedung tersebut.
“Ayah, apa aku boleh pulang duluan bersama Nayla?” Tanya Zara pada Rizky.
“Boleh. Lagi pula besok pagi kamu juga harus pergi ke kampus.” Jawab Rizky memberi izin.
“Terima kasih, Ayah.”
“Saya permisi, Om.” Ucay Nayla pada Rizky.
“Kalian berdua hati-hati di jalan.” Ucap Aura.
“Baik, Tante.” Sahut Nayla.
“Baik, Ibu.” Sahut Zara.
Setelah itu keduanya memesan taxi online dengan dua tujuan.
Rumah Zara yang pertama karena yang paling dekat dengan lokasi pesta. Baru kemudian menuju rumah Nayla yang hanya berjarak sepuluh menit saja.
Setelah sampai di rumah. Zara bersih-bersih dan membaringkan tubuhnya di atas katil.
Ia pun mulai melamun.
“Hari ini Om Amir dan Bibi Arumi terlihat sangat bahagia saat sedang bersanding di pelaminan. Itu wajar, karena mereka berdua memang saling mencintai.”
“Sedangkan aku? Aku dan Bang Zayn tidak memiliki perasaan seperti itu.”
“Mungkin memang sebaiknya kami menikah tanpa resepsi untuk saat ini.”
Setelah itu, Zara mulai memejamkan matanya.
Sementara itu, di kamar pengantin.
Amir memberanikan diri memeluk Arumi untuk pertama kalinya. Wanita yang ia cintai kini sudah menjadi Istrinya.
Seolah mengerti maksud hati Amir, Arumi langsung to the point.
“Maaf, Bang. Kita tidak bisa melakukan hal itu malam ini.” Ucap Arumi pelan.
“Hah? Kenapa?” Amir merasa heran. Bukankah sudah halal? Pikirnya.
“Karena aku, aku sedang datang bulan.” Jawab Arumi gugup.
“Owh, begitu. Baiklah, aku mengerti.” Jawab Amir.
Wajah keduanya tampak memerah karena merasa malu.
“Kita langsung tidur saja.” Ajak Amir.
Arumi mengangguk.
Kemudian Amir memeluk Arumi sambil tidur.
***
Pagi hari.
Rizky dan Aura duduk di ruang tamu menunggu Amir dan Arumi.
__ADS_1
Mereka berdua meminta Zara untuk memanggil Om dan Bibinya yang masih berada di dalam kamar.
Tidak lama kemudian, Amir dan Arumi muncul.
Mereka berduapun duduk di sofa.
Rizky menyerahkan sebuah kunci pada Amir.
“Kunci apa ini, Bang?” Tanya Amir.
“Ini adalah hadiah pernikahan dariku dan Kakakmu. Sebuah Apartment.” Jawab Rizky sambil tersenyum.
“Ma syaa Allah, Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Bang.” Amir sumringah. “Sebelumnya aku dan Arumi juga berencana untuk tinggal di rumah sendiri.” Lanjutnya.
Arumi yang berada disebelahnya tidak berkata apa-apa.
Amir menatap Arumi dan memberi kode agar Arumi segera mengucapkan terima kasih pada Abang dan Kakak iparnya.
“Eh, iya. Aku juga mengucapkan terima kasih banyak atas hadiah ini.” Ucap Arumi malu-malu.
Rizky dan Aura mengangguk sembari tersenyum.
“Sekarang, mari kita pergi sarapan.” Ajak Aura.
Mereka ber-empat beranjak dari tempat duduk lalu pergi menuju meja makan.
“Ayah, Ibu, Om, Bibi. Aku minta maaf karena sudah sarapan duluan.” Ucap Zara. “Aku buru-buru harus segera pergi ke kampus. Hari ini ada mata kuliah pagi.” Lanjutnya.
“Tidak apa-apa sayang.” Sahut Aura.
Zara mencium punggung tangan Ibu, Ayah, Om, dan Bibinya satu persatu. Setelah itu ia pergi ke kampus di antar Pak Ujang.
“Ayo, kita juga sarapan.” Ucap Aura.
Mereka ber-empat sarapan bersama-sama.
Aura mengantar Rizky hingga masuk ke dalam mobil.
Sementara itu di meja makan.
“Ayo kita kembali ke kamar, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu.” Ucap Arumi.
“Baiklah.” Amir menurut.
Setelah masuk ke dalam kamar, mereka berdua duduk di kursi dekat jendela.
“Aku tidak ingin pergi dari rumah ini.” Ucap Arumi.
“Apa?“ Amir kaget. “Bukankah sebelumnya kamu yang tidak ingin tinggal di rumah ini?” Tanyanya.
“Iya, tapi sekarang aku sudah berubah pikiran. Melihat Kak Aura yang begitu lembut dain baik. Aku jadi ingin tinggal disini dan berteman dengannya.” Arumi menjelaskan.
“Benarkah? Ma syaa Allah. Kalau begitu aku setuju. Kita tidak akan pindah dari sini.” Amir sumringah. “Lalu, kapan rencananya kamu akan mengambil pakaian dari rumahmu?”
“Emm, mungkin besok.” Jawab Arumi.
“Akan aku temani. Cuti kerja kita juga masih ada empat hari lagi.”
“Emm, tentang itu..” Arumi merasa sedikit ragu untuk mengatakannya pada Amir.
“Tentang apa?” Tanya Amir penasaran.
“Tentang kerja. Bolehkah jika aku resign? Aku ingin menjadi ibu rumah tangga saja.”
Amir terdiam.
__ADS_1
“Bolehkah?” Tanya Arumi lagi.
“Iya, tentu saja boleh. Aku tidak memaksa kamu harus kerja.” Jawab Amir lalu tersenyum.
“Terima kasih suamiku.” Ucap Arumi lalu memeluk Amir.
Amir membalas pelukannya sembari membelai kepala Arumi dengan lembut.
***
Keesokan harinya.
Amir menemani Arumi pergi ke rumah kontrakannya untuk mengambil pakaian.
“Rumah ini kosong?” Tanya Amir.
“Iya, sepertinya Kak Arin belum pulang dari luar kota.” Jawab Arumi.
“Biasanya berapa lama ia akan menginap di luar kota?” Tanya Amir lagi.
“Emm, sekitar enam sampai tujuh hari.” Jawab Arumi sambil mengemasi barang-barangnya.
Amir duduk di ruang depan sambil mengamati setiap sudut rumah.
Dilihatnya keadaan rumah yang tidak begitu baik membuatnya teringat masa lalu.
Masa-masa saat ia tinggal di gubuk bersama neneknya.
Setelah itu Aura hadir dan hidupnya menjadi semakin membaik.
Selain memberikan tempat tinggal yang lebih baik, Aura dan Rizky memberikannya pendidikan yang baik, menjadikannya anggota keluarga, memberinya kehormatan dan menjadikannya orang terpandang.
Sehingga tidak ada siapapun yang tahu bahwa dia adalah orang yang serba kekurangan di masa kecilnya.
“Bang, Amir.” Sapa Arumi dan membuyarkan lamunannya.
“Ya.” Sahut Amir.
Ia lihat Arumi menyerahkan sebuah amplop putih.
“Apa ini?” Tanya Amir sembari mengulurkan tangan dan meraih amplop tersebut.
“Isinya adalah surat pengunduran diriku dari perusahaan.” Jawab Arumi.
“Apa? Kamu sudah menyiapkan surat pengunduran diri?”
“Iya, karena sebelumnya aku sudah membuat keputusan, jadi sekalian saja aku siapkan suratnya. Aku hanya tinggal membicarakan hal ini padamu dan meminta persetujuan darimu.” Jawab Arumi menjelaskan.
“Oh, begitu. Kamu sudah menyiapkannya juga merupakan hal yang bagus.” Ucap Amir. “Kamu sudah selesai?” Tanyanya kemudian.
“Sudah, semua barang-barangku ada disini.” Jawab Arumi.
Sambil menunjuk dua tas berukuran besar.
“Ayo pulang.” Ajak Arumi.
“Ok.” Sahut Amir.
Mereka berdua meninggalkan kontrakan yang terlihat kumuh itu.
“Akhirnya aku bisa menikmati hidup menjadi Nyonya keluarga Kaya dan terpandang. Selamat tinggal gubuk reot.” Gumam Arumi didalam hatinya.
Amir merasa sedikit aneh melihat raut wajah Arumi tersebut.
“Apa yang ada didalam pikirannya?” Amir penasaran namun tidak memiliki nyali untuk bertanya.
__ADS_1
“Apakah semua orang memang berubah setelah menikah? Hmm.” Amir pasrah.