Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Curhatan Aura


__ADS_3

Bu Ayu membiarkan Aura putrinya menangis sejadi-jadinya di dalam pelukannya.


Bu Ayu tidak tau harus mengatakan apa, hingga akhirnya ia hanya bisa ikut menangis bersama putrinya.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua duduk bersebelahan di sofa.


“Ibu baru tau kalau Adik keguguran. Mengapa Adik merahasiakan hal ini dari Ibu?” Tanya Ibu seraya menghapus sia-sia air matanya yang mengalir.


“Maafkan Adik, Bu. Huhu. Adik terlalu sedih sampai-sampai tidak mau menceritakannya pada Ibu. Adik tidak mau menambah beban fikiran Ibu.” Jawab Aura.


“Iya, sudah Ibu maafkan. Tapi lain kali tidak boleh ada rahasia-rahasia lagi.” Pinta Ibu.


“In syaa Allah, Bu.” Sahut Aura. “Oh ya, kenapa Ibu bisa ada di sini?” Lanjutnya.


“Kemarin Nak Rizky menelepon Ibu dan menceritakan semuanya pada Ibu. Lalu dia mengirim orang ke kampung untuk menjemput Ibu. Mulai hari ini, Ibu akan tinggal di sini sementara waktu untuk menemani Adik.” Jawab Bu Ayu menjelaskan secara singkat tapi detail.


“Oh, begitu. Tapi kenapa Bang Rizky tidak mengatakan apapun pada Adik? Apa mungkin ini kejutan yang di maksud olehnya? Hurm.” Aura menerka-nerka.


“Kejutan?” Tanya Bu Ayu.


“Iya, Bu. Sudahlah, jangan terlalu difikirkan. Nanti Adik akan minta tolong Bi Sumi untuk menyiapkan kamar untuk Ibu.” Ucap Aura.


“Iya.” Sahut Bu Ayu.


“Bu, apa Bang Rizky juga mengatakan pada Ibu kalau kesehatan mental Adik sedikit terganggu?” Tanya Aura pelan.


“Tidak. Rizky hanya bilang pada Ibu kalau Adik selalu sedih, menyendiri dan mengurung diri di dalam kamar.” Jawab Bu Ayu.


“Iya, Bu. Adik tau pasti Bang Rizky akan menutupi hal ini dari Ibu. Lagi pula hal itu tidak perlu terlalu dikhawatirkan, in syaa Allah Adik akan tetap waras, hehe.” Ucapku sambil cengengesan untuk menghilangkan kegundahan Ibu.


“Iya, Ibu percaya itu.” Jawab Bu Ayu.


“Tapi, Bu. Adik benar-benar sangat kesal. Adik sudah lama menantikan saat-saat hamil dan memiliki anak sendiri. Tapi Qodarullah, ada orang yang dengan sengaja mencelakai Adik dan membuat Adik keguguran.” Ucap Aura sambil menundukkan wajahnya.


“Mencelakai bagaimana?” Tanya Bu Ayu penasaran.


“Ada orang yang mengirim paket kue ke rumah. Selama ini Bang Rizky sangat baik dan perhatian pada Adik, kasih sayang Bang Rizky tulus pada Adik. Jadi Adik tidak mencurigai apapun atas nama Bang Rizky. Dan ternyata di dalam kue tersebut ada antivirus yang sangat berbahaya jika dikonsumsi oleh orang hamil, namanya Ribavirin.” Jawab Aura panjang lebar.


“Jadi antivirus itu yang membuat Adik keguguran?” Tanya Bu Ayu lagi.


“Iya, Bu.” Jawab Aura. “Sayang sekali hingga saat ini pelakunya masih belum ditemukan oleh polisi. Padahal Aura ingin sekali bertanya padanya, mengapa tega menghabisi janin yang belum mengerti apa-apa?” Lanjutnya.


Bu Ayu mengelus kepala dan bahu Aura.


“Sabar, Nduk. In syaa Allah dia akan segera mendapat balasannya. Jika tidak dari manusia, maka pasti akan langsung dari Allah.” Ucap Bu Ayu menasihati putri bungsunya.


“In syaa Allah, Bu. Adik merasa sangat bahagia sekarang Ibu ada di sini bersama Adik. Bantu Adik melewati ujian ini.” Ucap Aura lalu bersandar di bahu Ibunya.


Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran (yang kamu jalani), yang akan membuatmu terpana, hingga kamu lupa pedihnya rasa sakit.


(Ali Bin Abi Thalib).


Waktu yang bersamaan di dapur.


“Ternyata tamu yang datang barusan adalah Ibu Nyonya Muda, Kak.” Ucap jihan pada Chaca.


“Oh, benarkah?” Tanya Chaca.


“Iya, saya mendengar Nyonya Muda memanggilnya Ibu dan langsung menangis di dalam pelukannya.” Jawab Jihan.

__ADS_1


“Alhamdulillah kalau begitu. Setidaknya sekarang ada Ibu Nyonya Muda yang bisa terus menemaninya.” Ucap Chaca.


“Iya, Kakak benar.” Sahut Jihan.


“Sedang membiacarakan hal apa ini?” Tanya Bi Sumi menimpali.


“Itu, Bu. Ibunya Nyonya Muda datang.” Jawab Chaca.


“Oh, Ibu Nyonya Muda sudah datang?” Tanya Bi Sumi.


“Iya, Bu. Memangnya Ibu sudah tau kalau Ibu Nyonya Muda akan datang ke sini?” Tanya Chaca.


“Iya, kemarin Tuan Muda yang memberitahukannya pada Ibu. Sudah ya, Ibu mau ke depan.” Jawab Bi Sumi lalu pergi meninggalkan Jihan dan Chaca.


“Iya, Bu.” Sahut Chaca.


Bi Sumi bergegas pergi menuju ruang tamu.


Tidak berapa lama kemudian, Bi Sumi pun sampai.


“Permisi, Nyonya.” Ucap Bi Sumi dengan sopan.


“Oh, kebetulan Bibi ada di sini. Saya mau minta tolong Bibi membersihkan kamar tamu untuk Ibu saya.” Ucap Aura pada Bi Sumi dengan lembut.


“Alhamdulillah sudah Bibi bersihkan kemarin, Nyonya Muda.” Jawab Bi Sumi. “Bibi ke sini mau bantu Ibu Nyonya Muda untuk membawakan tasnya masuk ke dalam kamar.” Lanjutnya.


“Oh, tidak perlu. Nanti saya sendiri saja yang membawanya ke kamar.” Ucap Bu Ayu.


“Baiklah kalau begitu.” Sahut Bi Sumi.


“Oh ya, Bi. Kemarin siapa yang menyuruh Bibi membersihkan kamar tamu?” Tanya Aura.


“Baik, Bi. Terima kasih.” Jawab Aura.


Bi Sumi pun pergi ke belakang dan menemui Jihan dan Chaca.


“Ada tamu kenapa tidak dibuatkan minum, Nduk?” Tanya Bi Sumi lalu mengambil gelas.


“Ini, Bu. Jihan sudah membuatkan minumnya.” Jawab Jihan sambil mengaduk-aduk isi gelas.


“Oalah, kenapa tidak langsung di bawa ke depan?” Tanya Bi Sumi lagi.


“Maaf, Bu. Keasikan ngobrol, hehe.” Jawab Jihan cengengesan.


Chaca ikut tertawa kecil mendengar jawaban Jihan.


“Sini biar Ibu saja yang membawanya ke depan.” Pinta Bi Sumi.


“Terima kasih, Bu.” Ucap Jihan seraya menyerahkan nampan yang ada ditangannya.


Bu Sumi mengangguk pelan lalu membawa teh yang sudah dibuatkan oleh Jihan.


“Silahkan di minum, Nyonya.” Ucap Bi Sumi setelah meletakkan teh yang dibawanya.


“Terima kasih, Bi. Tapi jangan panggil saya Nyonya. Saya tidak terbiasa. Panggil Bu Ayu saja.” Sahut Bu Ayu.


“Baik, Bu Ayu.” Jawab Bi Sumi lalu pergi lagi ke belakang.


“Bu, Ibu mau langsung istirahat di kamar atau mau Adik ajak keliling-keliling rumah dulu?” Tanya Aura.

__ADS_1


“Kita keliling saja dulu, Ibu pingin melihat-lihat rumah ini.” Jawab Bu Ayu.


“Ok. Ibu minum dulu tehnya, setelah itu kita keliling.” Ucap Aura sumringah.


Bu Ayu pun langsung menyeruput tehnya pelan-pelan. Setelah itu, mereka berdua pergi ke kamar tamu untuk menyimpan tas Bu Ayu terlebih dahulu.


“Bu, kita ke atas dulu yuk, kamar Adik dan Bang Rizky ada di atas.” Ajak Aura.


“Oh, iya.” Sahut Bu Ayu.


Mereka berdua mulai menaiki anak tangga. Setelah sampai di atas, Aura dan Bu Ayu langsung menuju kamar Aura yang letaknya tidak jauh dari tangga.


“Nah, ini dia kamar Adik, Bu.” Ucap Aura begitu mereka berdua masuk ke dalam.


“Wah, luas dan nyaman ya.” Ucap Bu Ayu.


“Alhamdulillah, Bu. Hehe.” Ucap Aura dan tertawa kecil.


“Oh ya, yang di sebelah kamar ini kamarnya siapa?” Tanya Bu Ayu.


“Oh itu kamar bekas Kak Agatha, Bu. Sekarang sudah kosong.” Jawab Aura.


Bu Ayu mengangguk pelan.


“Berarti yang di atas hanya Adik dan Rizky?” Tanya Bu Ayu lagi.


“Iya, Bu.” Jawab Aura.


Setelah itu mereka pergi ke teras untuk menikmati pemandangan. Dari teras atas terlihat hingga ke luar pagar. Di depan sana ada banyak kendaraan yang berlalu lalang.


Dan di sebalik pagar, ada halaman yang luas dan cukup untuk memarkir beberapa mobil mewah.


“Sepertinya Adik sudah terbiasa dengan suasana kota.” Ucap ibu Aura.


“Alhamdulillah begitu, Bu. Tapi Adik tetap belum berani keluar sendiri. Kalau mau jalan kemana-mana pasti bareng Bang Rizky.” Sahut Aura.


Kemudian mereka turun lagi ke bawah dan pergi menuju ruang sholat.


“Nah, ini ruang khusus untuk sholat, Bu. Ibu bisa sholat di sini kalau Ibu mau, di kamar juga boleh.” Ucap Aura.


“Oh, iya. Ada juga ya ruangan khusus sholat seperti ini. Ibu jadi pingin, hehe. Tapi sayang rumah kita kecil, sudah tidak cukup kalau mau buat ruangan seperti ini.” Ucap Bu Ayu.


“Iya, Bu. In syaa Allah kalau ada rezeki kita renovasi lagi rumahnya ya.” Aura mencoba untuk menghibur hati Ibunya.


“In syaa Allah.” Sahut Ibu Aura sumringah.


Setelah itu mereka pergi ke taman mini di belakang.


“Wah, halaman di belakang tidak kalah luas dari halaman yang ada di depan.” Ucap Bu Ayu.


“Iya, Bu. Karena itu di belakang sini di buat menjadi taman mini dan juga kebun.” Sahut Aura.


“Ibu pasti akan merasa sangat sangat betah tinggal di sini.” Ucap Bu Ayu.


“Alhamdulillah kalau begitu. Adik juga ikut senang jika Ibu senang bisa tinggal di sini.” Sahut Aura. “Oh ya, Bu. Sekarang sudah siang. Kita makan siang yuk.” Ajaknya.


“Baiklah, setelah itu Ibu mau mandi agar ketika sholat dzuhur nanti badan Ibu sudah wangi dan bersih.” Sahut Bu Ayu.


Mereka berdua tersenyum lalu masuk ke dalam. Bi Sumi di bantu oleh Chaca dan Jihan menghidangkan makan siang untuk Aura dan Ibunya.

__ADS_1


Setelah selesai makan siang, Aura mempersilahkan Ibunya untuk Ibunya bersih-bersih, sholat dzuhur dan juga istirahat dikamarnya.


__ADS_2