
Di dalam rumah Ustadz Ridwan.
“Assalamu’alaikum.” Ucap Zara dan Zayn serentak.
“Wa’alaikumussalam.” Sahut Ustadz Ridwan, Ustadzah Amina dan juga Arumi.
Zayn mencium punggung tangan Ustadz Ridwan. Zara juga mencium punggung tangan Ustadzah Amina dan juga Arumi.
Arumi hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
“Nak, ini adalah tamu yang kita tunggu.” Ucap Ustadz Ridwan pada Arumi.
- *Flashback* -
Arumi mulai membuka matanya perlahan. Ia memperhatikan sekelilingnya. Ia terbaring diatas ranjang dan sekelilingnya cat berwarna putih.
“Seingatku, aku berada di dalam mobil.” Gumamnya didalam hatinya.
Ia menggerakkan jari jemarinya. Semuanya kaku, kebas seolah-olah mati rasa.
“Ini rumah siapa?” Tanyanya didalam hatinya.
Arumi berkali-kali mencoba berdiri karena ingin mencari pemilik rumah. Tapi sayangnya ia tak mampu. Tubuhnya sangat lemah dan terasa kaku.
Tidak lama kemudian Maryam masuk ke dalam kamar.
Arumi dan Maryam saling bertatapan mata.
“Hah?” Maryam kaget. Ia bergegas keluar kamar dan pergi menemui Abi dan Umminya.
“Ummi, Abi.” Teriak Maryam sambil berlari-lari kecil menuju dapur.
“Ummi.” Panggil Maryam karena di dapur hanya ada Umminya.
“Ada apa sayang? Kenapa teriak-teriak seperti itu?” Tanya Ustadzah Amina dengan lembut tapi juga panik.
“Bibi itu sudah siuman. Ayo Ummi cepat lihat.” Ajak Maryam sembari menarik tangan Umminya.
“Ma syaa Allah, Alhamdulillah.” Ucap Ustadzah Amina sumringah.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar dan menemui Arumi.
“Alhamdulillah kamu sudah sadar, Nak. Bagaimana keadaanmu sekarang? Bagian mana yang sakit?” Tanya Ustadzah Amina dengan penuh kasih sayang.
“Emm.. emm.” Arumi ingin mengucapkan sesuatu, namun otot bibirnya juga masih terasa kaku.
Ustadzah Amina dan Maryam saling pandang.
“Temui Abi, Nak. Minta Abi untuk segera menghubungi Dokter Arman.” Perintah Ustadzah Amina.
“Baik, Mi.” Sahut Maryam. Kemudian ia pergi mencari Ustadz Ridwan.
Tidak lama kemudian Ustadz Ridwan muncul.
“In syaa Allah sebentar lagi Dokter Arman akan tiba.” Ucapnya pada Ustadzah Amina.
Ustadzah Amina mengangguk.
__ADS_1
Mereka berdua menunggu Dokter di ruang tamu. Sementara Maryam menemani Arumi didalam kamar.
Sepuluh menit kemudian Dokter Arman tiba. Mereka bertiga segera masuk ke dalam kamar Arumi.
“Orang yang mengalami koma dalam jangka waktu lama, saat siuman tidak segera dapat menggerakkan anggota badannya seperti orang normal. Selain masih dalam kondisi pemulihan, hal itu terjadi karena otot mengecil.” Ucap Dokter Arman menjelaskan setelah selesai memeriksa keadaan Arumi. “Otot yang mengecil karena lama tidak digerakkan maka pertama kali akan susah digerakkan. Kelainan ini disebut atrofi otot. Tidak perlu dipaksakan, pelan-pelan saja.” Lanjutnya.
Arumi mengerti dan mengangguk perlahan-lahan.
Semuanya merasa lega setelah mendengar penjelasan dari Dokter Arman.
Mereka membiarkan Arumi beristirahat hingga pagi tiba.
Saat Adzan subuh berkumandang, Arumi mulai mencoba menggerakkan tubuhnya. Alhamdulillah sudah bisa bergerak seperti orang normal.
Ia beranjak dari tempat tidurnya lalu keluar dari kamar.
Ustadzah Amina melihat Arumi lalu menghampirinya.
“Nak, mau sholat subuh?” Tanya Ustadzah Amina.
“Iya, Ibu.” Jawab Arumi dengan lembut.
Ustadzah Amina tersenyum lalu mengambilkan mukena untuk Arumi.
Setelah selesai sholat subuh, Arumi duduk diruang tamu bersama Ustadzah Amina dan Maryam.
“Saya ada dimana?” Tanya Arumi.
“Kamu ada di pesantren, Nak.” Jawab Ustadzah Amina.
“Kenapa saya bisa ada disini?” Tanyanya lagi.
“Oh.” Arumi mengangguk.
“Assalamu’alaikum.” Ucap Ustadz Ridwan yang baru kembali dari Masjid.
“Wa’alaikumussalam.” Sahut mereka bertiga serentak.
“Alhamdulillah, kamu sudah bisa beranjak dari tempat tidurmu.” Ucap Ustadz Ridwan pada Arumi.
“Alhamdulillah, Pak.” Sahut Arumi.
“Siapa namamu, Nak?” Tanya Ustadz Ridwan.
“Nama saya Arumi.” Jawab Arumi. “Saya sangat berterima kasih kepada Bapak dan Ibu yang sudah menyelamatkan nyawa saya. Bagaimana saya membalas budi ini?”
“Jangan merasa berhutang budi kepada kami. Karena kami sudah dibayar Allah dengan pahala, In syaa Allah.” Ucap Ustadz Ridwan.
“Alhamdulillah, Bapak dan Ibu baik sekali.” Ucap Arumi terharu. “Kalau saya boleh tahu. Sudah berapa lama saya ada disini?” Tanyanya.
“Lebih kurang sudah satu bulan tiga minggu.” Jawab Ustadz Ridwan.
“Apa? Sudah selama itu?” Arumi tampat kaget bercampur sedih.
“Qodarullah iya, Nak.” Sahut Ustadzah Amina.
“Oh ya, satu minggu yang lalu ada alumni pesantren yang datang ke sini. Sepertinya mereka mengenalmu. In syaa Allah nanti saya akan memberitahu kepada mereka bahwa kamu sudah siuman.”
__ADS_1
Arumi mengangguk dan tidak banyak bertanya lagi.
Setelah itu Ustadzah Amina dan Maryam menghidangkan makanan dan mereka segera sarapan pagi.
Setelah itu Ustadz Ridwan ada urusan sehingga ia lupa menghubungi Zayn. Saat sore hari barulah ia teringat dan segera menghubungi Zayn. Ia memberi tahu bahwa Arumi sudah siuman.
- *Flashback selesai* -
“Mereka tamu yang Bapak ceritakan?” Tanya Arumi.
“Benar.” Jawab Ustadz Ridwan sembari mengangguk pelan.
“Tapi aku tidak mengenal mereka, Pak.” Ucap Arumi.
“Maaf, Bibi memang tidak mengenal kami.” Ucap Zara dengan lembut. “Tapi apakah Bibi mengenal Om Amir?” Tanyanya.
“Bang Amir?” Arumi mengernyitkan dahinya.
Zara dan Zayn mengangguk.
“Muhammad Amir Fahri?” Tanya Arumi lagi.
“Iya, betul.” Sahut Zara.
“Tentu saja aku mengenalnya.” Jawab Arumi pelan. Kemudian wajahnya menunduk dan terpancarlah kesedihan yang mendalam.
“Bibi.” Zara berpindah tempat duduk dan duduk disebelah Arumi. Ia mengelus bahu Arumi dengan lembut. “Bibi, apakah seharusnya Bibi yang menikah dengan Om Amir?” Tanya Zara dengan pelan dan selembut mungkin agar Arumi tidak menjadi semakin sedih.
Arumi mengangguk lalu meneteslah air matanya. Ia memeluk Zara dan mengeluarkan segala kesedihannya bersama dengan air matanya yang mengalir deras.
Zara, Zayn dan Ustadz Ridwan sabar menanti hingga Arumi merasa lebih tenang.
Sedangkan Ustadzah Amina menyiapkan makan siang untuk Zara dan juga Zayn.
“Hiks. Hiks. Hiks.” Arumi menghapus air matanya. “Maaf, aku merasa sangat sedih. Aku tidak bisa mengontrol kesedihanku.” Lanjutnya.
“Apa Bibi tidak keberatan menceritakannya kepada kami?” Tanya Zara.
Arumi menganggukkan kepalanya berkali-kali sembari menghapus air matanya yang masih mengalir dipipinya.
Zara dan Zayn terlihat sangat penasaran.
“Tapi, bagaimana kamu bisa mengenal Bang Amir?” Tanya Arumi.
“Aku Zara. Aku keponakannya. Dan ini Bang Zayn suamiku.” Zara memperkenalkan dirinya dan juga Zayn.
“Oh, begitu.” Arumi mengangguk. “Boleh aku tau bagaimana kabarnya sekarang? Kenapa dia tidak ikut dengan kalian?” Tanyanya.
“Emm, itu karena….” Ucapan Zara terputus lalu menatap mata Zayn.
“Bagaimana ini? Bibi baru saja merasa tenang ssetelah menangis beberapa menit. Jika aku memberitahunya tentang Om Amir yang sudah menikah, dia pasti akan menangis lagi.” Gumam Zara didalam hatinya.
Zayn seakan mengerti kekhawatiran Zara.
“Emm. Maaf, Bi. Apa kami boleh makan siang terlebih dahulu baru kemudian bercerita?” Zayn minta izin dengan sopan.
“Oh, boleh. Maaf, aku lupa kalian juga pasti lelah.”
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Bi.” Zayn menenangkan Arumi agar tidak merasa bersalah.
“Sebaiknya memang ditinggal makan terlebih dahulu agar Bibi bisa menenangkan dirinya. Jika sedih terus menerus kemungkinan dia akan drop lagi.” Ucap Zayn didalam hatinya.