Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Ibu


__ADS_3

Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.


Thank you. *Hug.


Happy Reading.... 💕


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seminggu kemudian...


Sesuai dengan janji Bang Rizky minggu ini kami akan pergi mengunjungi Ibu. Besok pagi kami akan berangkat ke my hometown.


Sebaiknya aku telepon Ibu lagi untuk mengingatkan tentang lauk kesukaanku.


Ttutt.. Ttutt... Ttuut... Ttuutt... Panggilan tersambung..


"Assalamu'alaikum, Bu." ucapku begitu Ibu mengangkat teleponnya.


"Wa'alaikumussalam, Adik." sahut Ibu nun jauh di sana.


"Bu, in syaa Allah besok pagi kami berangkat ke rumah Ibu. Ibu jangan lupa masak sayur asam ikan nila, Adik sudah kepingin banget." ucapku to the point.


"In syaa Allah. Nanti Ibu pergi belanja bahan-bahannya. Adik besok hati-hati di jalan sama Rizky." jawab Ibu.


"In syaa Allah, Bu." ucapku.


"Nyetirnya juga jangan ngebut-ngebut. Ingat itu." ucap Ibu.


"Iya, Bu. Lagi pula Bang Rizky tidak pernah ngebut, Bu. Apa lagi sekarang Adik sedang hamil muda. Bang Rizky semakin tidak berani ngebut, Bu. Hehe." ucapku sambil tertawa kecil.


"Iya, syukurlah kalau begitu. Besok kabari Ibu lagi kalau sudah berangkat ya." pinta Ibu.


"Baik, Bu." sahutku.


"Ya sudah, Ibu tutup ya. Assalamu'alaikum." ucap Ibu.


"Wa'alaikumussalam, Bu." jawabku. Lalu Ibu mematikan teleponnya.


Alhamdulillah, akhirnya bisa berkunjung ke rumah Ibu. Nanti aku mau bawa Bang Rizky jalan-jalan di pinggiran pantai sambil menikmati es kelapa muda.


Aku beranjak dari kursi santai untuk mengemas pakaianku dan Bang Rizky. Aku masukkan ke dalam travel bag beberapa pasang pakaian yang akan kami bawa ke rumah Ibu besok.


***


Keesokan paginya...


Adzan subuh berkumandang membangunkan aku dan Bang Rizky.


Bang Rizky beranjak dari katil lalu pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan berwudhu. Setelah Bang Rizky keluar dari dalam kamar mandi, aku pula yang pergi untuk bersih-bersih dan berwudhu.


Kami berdua melaksanakan sholat rawatib terlebih dulu, baru kemudian sholat subuh berjamaah.


Setelah itu kami lanjutkan tilawah. Aku dan Bang Rizky membaca Al-Qur'an secara bergantian hingga selesai beberapa halaman.


Setiap pagi Bang Rizky memiliki kebiasaan olah raga, dia melakukannya di dalam kamar. Aku hanya memperhatikannya dari atas tempat tidur sambil ngemil dan kadang-kadang sambil memainkan gawaiku.


Terkadang Bang Rizky juga bersepeda pagi-pagi mengelilingi kompleks.


Pukul 7 Bang Rizky pergi mandi, aku siapkan pakaiannya di atas tempat tidur. Setelah Bang Rizky selesai, aku masuk ke dalam kamar mandi.


Kami berdua bersiap-siap untuk berangkat. Tapi kami sarapan pagi terlebih dulu.


Saat kami ke belakang, makanan sudah dihidangkan. Ummi dan Abi juga sudah menunggu kedatangan kami untuk sarapan pagi bersama-sama.


"Wah, sudah pada rapi. Ayo sarapan dulu." ajak Ummi begitu melihat aku dan Bang Rizky.


"Perginya berapa lama?" tanya Abi pada Bang Rizky.


"In syaa Allah kami pergi selama 3 hari, Bi." jawab Bang Rizky.


"Sudah mau berangkat ya?" tanya Ummi.


"Setelah sarapan kami langsung pergi, Mi." jawab Bang Rizky.


Lalu semuanya mulai menyantap sarapan pagi.


Aduuhh, tiba-tiba perutku mual. Bagaimana ini? Tidak mungkin aku muntah sekarang. Nafsu makan Ummi, Abi dan Bang Rizky bisa hilang.


Aku letakkan sendokku perlahan, lalu aku beranjak dari tempat dudukku pelan-pelan.


"Aura mau ke mana?" tanya Bang Rizky.


Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Bang Rizky karena mulutku sudah penuh. Lalu aku segera lari menuju kamar mandi.


Bang Rizky mengikutiku dari belakang.


Hueekk... Hueekk... Hueekk...


Aku muntahkan semua yang mau keluar.


Tokk.. Tokk.. Tokk...


"Aura baik-baik saja?" Bang Rizky mengetuk pintu kamar mandi dan terus memanggilku.


Hueekk... Hueekk... Hueekk...


Aku masih belum lega, jadi aku tidak menjawab Bang Rizky.


Setelah aku selesai muntah, aku bersihkan mulutku. Lalu aku buka pintu kamar mandi.


"Aura... Sayang..." Bang Rizky memegang pipi dan keningku. Ia terlihat sangat khawatir padahal ini bukan pertama kalinya aku muntah.


"Aura tidak apa-apa, Bang. Mutah itu hal biasa kalau sedang hamil, hehe." ucapku lalu tertawa kecil untuk mengusir rasa khawatir Bang Rizky.


"Alhamdulillah kalau tidak apa-apa." ucapnya lalu mengecup keningku. "Masih ada nafsu makan?" tanyanya.


"Masih, Bang. Rasanya perut Aura sudah kosong." jawabku.


"Ayo makan, Abang suapin." ajaknya.


Aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum padanya.


Saat kami kembali ke meja makan, Ummi dan Abi sudah selesai sarapan.


"Maaf Ummi, Abi." ucapku pelan.


"Tidak apa-apa." jawab Ummi.


"Iya, tidak apa-apa." sahut Abi. "Abi pergi kerja dulu ya." lanjutnya.


"Iya, Bi." sahutku.


Ummi pergi mengantarkan Abi ke depan.

__ADS_1


Bang Rizky menyuapi aku makan hingga selesai.


"Mau tambah?" tanya Bang Rizky saat nasi di piring sudah habis.


"Tidak, Bang. Aura sudah kenyang." jawabku.


"Ok." sahutnya lalu mengambilkan segelas air putih untukku.


"Terima kasih, Bang." ucapku.


"No problem." jawabnya.


Bang Rizky pergi ke kamar untuk mengambil travel bag yang berisi pakaian kami.


"Rizky mana?" tanya Ummi.


"Pergi ke kamar, Mi." jawabku.


Lalu Ummi memanggil Bi Sumi.


"Bi Sumii.. Bii...." teriak Ummi.


Aku lihat Bi Sumi berlari-lari kecil menghanpiriku dan Ummi.


"Saya, Nyonya." ucap Bi Sumi.


"Tolong ambilkan parsel buah yang kemarin saya suruh Bibi beli." pinta Ummi.


"Baik, Nyonya." sahut Bi Sumi. Lalu Bi Sumi pergi ke dapur untuk mengambil parsel buah yang di minta Ummi.


Beberapa saat kemudian Bi Sumi muncul bersama parsel buah.


"Ini Nyonya." Bi Sumi memberikan parsel tersebut pada Ummi.


"Terima kasih, Bi." ucap Ummi.


"Nggeh, Nya." sahut Bi Sumi. Setelah itu Bi Sumi pergi meninggalkan aku dan Ummi.


"Aura, bawa parsel buah ini. Ini oleh-oleh dari Ummi untuk Ibu kamu." ucap Ummi.


"Wah, terima kasih banyak, Mi." ucapku sumringah.


"Iya, maaf hanya bisa titip ini." ucap Ummi.


"Tidak apa-apa, Mi." jawabku.


Lalu Bang Rizky datang menghampiri kami.


"Wah, ada parsel buah. Dari mana?" tanya Bang Rizky.


"Dari Ummi untuk Ibu." jawabku.


"Oh." ucap Bang Rizky singkat.


"Kalian berdua hati-hati di jalan. Sampaikan salam Ummi untuk Ibu." ucap Ummi.


"In syaa Allah." sahutku dan Bang Rizky serentak.


Aku dan Bang Rizky mencium punggung tangan Ummi secara bergantian. Kemudian kami memulai perjalanan yang cukup lama. Lebih kurang empat jam baru kami akan tiba di kampung halamanku.


Selama perjalanan Bang Rizky fokus mengemudi, hanya sesekali mengajakku bercanda. Aku sendiri fokus memperhatikan rumah-rumah yang berjejer dipinggiran jalan.


"Abang tidak haus?" tanyaku.


Lalu aku buka sebotol air mineral, aku masukkan sedotan ke dalam mulut Bang Rizky. Dia pun minum perlahan-lahan sambil terus fokus menghadap ke depan dan memperhatikan jalan.


Alhamdulillah, sebelum adzan dzuhur berkumandang kami sudah tiba di rumah Ibu.


Bang Rizky memarkir mobil di depan kios.


Saat melihat mobil kami, Ibu langsung menghampiriku. Aku cium punggung tangan Ibu, begitu juga dengan Bang Rizky.


"Ayo masuk, Nak." ajak Ibu.


"Iya, Bu." jawabku.


Aku membawa parsel buah dan juga kue. Bang Rizky mengeluarkan travel bag dari bagasi mobil, lalu mengikutiku dan Ibu dari belakang.


Adzan dzuhur berkumandang.


"Mau sholat dulu atau makan siang dulu?" tanya Ibu pada kami.


"Solat dulu saja." jawab Bang Rizky.


Lalu Bang Rizky pergi ke masjid mengendarai sepeda motor Ibu. Aku dan Ibu sholat di rumah.


Aku bawa travel bag masuk ke dalam kamarku.


Kamarku terlihat sangat rapi dan bersih. "Ibu pasti membersihkan kamar ini saat tau kami akan datang." gumamku di dalam hati.


Aku pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu' dan langsung menunaikan sholat dzuhur empat rakaat.


Saat aku keluar dari kamar, Ibu sudah menghidangkan makanan di ruang tengah.


"Ibu, kenapa menghidangkan makanannya tidak menunggu Adik?"


"Tidak apa-apa, Nduk. Kamu pasti lelah baru sampai rumah. Tadi sudah beberapa jam diperjalanan." jawab Ibu.


"Tidak, Bu. Adik mana lelah, Adik cuma duduk-duduk saja di mobil, hehe." jawabku.


"Duduk-duduk saja juga bikin sakit pinggang, kan?"


"Iya sih, haha." ucapku sambil tertawa.


"Assalamu'alaikum." ucap Bang Rizky yang baru pulang dari masjid.


"Wa'alaikumussalam." jawabku dan Ibu serentak.


"Ayo makan, Nak." ajak Ibu.


"Baik, Bu. Saya mau ke belakang sebentar, mau cuci tangan." ucap Bang Rizky.


"Oh, iya." sahut Ibu.


Lalu Bang Rizky pergi ke dapur untuk mencuci tangan di kamar mandi.


Hueekkk.. Bang Rizky mual.


Tentu saja hal itu membuatku kaget. Aku langsung pergi ke dapur menghampirinya.


"Kenapa, Bang?" tanyaku.


"Aduh, Ra. Ada bau ikan, amis banget." jawab Bang Rizky sambil menutup hidungnya.

__ADS_1


"Mana??" tanyaku. Aku heran donk, karena aku tidak mencium apapun.


"Ada, amis banget malah." ucap Bang Rizky lagi.


Aku mulai mengendus-ndus mencari bau amis ikan yang membuat Bang Rizky jadi mual.


"Aura tidak ada menciun bau amis ikan, Bang." ucapku.


"Ada apa, Dik? Kenapa lama sekali?" tanya Ibu yang tiba-tiba datang.


"Bu, Ibu ada mencium bau amis ikan?" tanyaku pada Ibu


"Bau amis ikan? Kenapa?" Ibu balik bertanya padaku.


"Iya, apa Ibu ada mencium baunya?"


"Tidak ada." jawab Ibu.


"Apa Ibu ada membuang sampah ikan?" tanya Bang Rizky.


"Ada. Insang dan dalaman perut ikan nila yang Ibu bersihkan tadi pagi." jawab Ibu.


"Mungkin itu yang menimbulkan bau amis, Bu." ucap Bang Rizky.


"Oh, kalau begitu akan Ibu buang ke luar." ucap Ibu. Ibu lalu mengambil tempat sampah yang ada di dalam kamar mandi.


Aku merasa aneh, padahal aku yang hamil dan sering mual. Tapi kenapa tiba-tiba Bang Rizky juga ikutan mual ya? Apa memang bisa gantian seperti itu?


Setelah itu, kami pun mulai menyantap makan siang.


Saat Bang Rizky beristirahat di kamar, aku menemui Ibu di kios.


"Bu, Aura mau tanya." ucapku setelah berada di samping Ibu.


"Tanya apa, Dik?" tanya Ibu.


"Adik masih merasa aneh, Bu. Kenapa Bang Rizky mual saat mencium bau amis ikan? Dan anehnya lagi kenapa yang mencium bau itu hanya Bang Rizky? Adik dan Ibu tidak mencium bau apa-apa." tanyaku.


"Bisa saja, Dik. Karena Adik sedang hamil." jawab Ibu.


"Apa iya, Bu? Bukannya Adik yang mual-mual ya, Bu?" tanyaku masih tidak percaya.


"Bisa jadi Adik gantian mual dengan Rizky. Teman Ibu dulu ada juga yang tidak ngidam dan tidak mual. Yang ngidam dan mual malah suaminya." jawab Ibu.


"Oh, Adik baru tau kalau bisa seperti itu, Bu." ucapku sambil manggut-manggut. "Unik sekali pasangan itu ya, Bu." sambungku.


"Iya." jawab Ibu sambil tersenyum.


"Adik ke belakang ya, Bu. Mau cuci piring." ucapku.


"Iya. Setelah itu Adik istirahat saja dulu." ucap Ibu.


"Iya, Bu." sahutku.


Lalu aku pergi ke dapur untuk mencuci piring. Selama tinggal di rumah Bang Rizky aku sama sekali tidak pernah melakukan pekerjaan rumah yang dulu sering aku kerjakan sebelum menikah dengan Bang Rizky.


Setelah selesai mencuci piring, aku lanjut menyapu rumah. Lalu menyapu halaman.


Ada beberapa orang tetangga yang menyapaku ketika melewati halaman rumah kami.


"Eh, Aura. Kapan datang?" tanta Kak Rina.


"Tadi siang, Kak." jawabku lalu tersenyum padanya.


"Bagaimana kabarnya? Sudah hamil belum?" tanya Kak Rina lagi.


"Alhamdulillah sehat. Alhamdulillah juga sekarang sedang hamil." jawabku.


"Oh ya, sudah berapa bulan?"


"Alhamdulillah sudah masuk 4 bulan, Kak." jawabku.


"Alhamdulillah. Sudah dulu ya." ucapnya.


"Iya, Kak." jawabku.


Lalu Kak Rina pergi meninggalkan aku. Setelah selesai menyapu halaman, aku masuk ke dalam.


Aku lihat Bang Rizky masih tidur di dalan kamar. Sepertinya Bang Rizky kelelahan setelah menyetir lebih kurang 4 jam.


Beberapa menit lagi sudah masuk waktu sholat ashar. Dengan berat hati dan terpaksa, aku membangunkan Bang Rizky.


"Bang Rizky sayang." bisikku ditelinganya.


"Hmm." jawabnya dengan mata yang masih tertutup rapat.


"Bangun, Bang. Sebentar lagi sudah ashar. Abang apa tidak mau mandi?" tanyaku.


Lalu Bang Rizky membuka matanya pelan-pelan. Ia menatapku dan tersenyum.


Bang Rizky menarik tubuhku hingga jatuh di atas badannya. Ia memelukku dan mencium keningku.


Setelah itu Bang Rizky bangun dan pergi mandi.


Setelah Bang Rizky selesai mengganti pakaiannya, adzan ashar berkumandang. Bang Rizky pun bergegas pergi ke kamar mandi untuk berwudhu' dan segera pergi ke masjid agar tidak ketinggalan sholat berjamaah.


Sekarang giliran aku yang mandi. Setelah itu aku lanjut menunaikan sholat ashar empat rakaat.


Aku menghampiri Ibu di kios.


"Bu, mandi." ucapku.


"Adik jaga kios?" tanya Ibu.


"Iya, Bu. Nanti kalau ada yang beli, Adik tanya sama Ibu harga barang yang dibelinya." jawabku.


Maklumlah, sudah satu tahun lebih aku tidak menjaga kios, aku sudah tidak ingat lagi dengan harga barang-barang.


"Ya sudah. Ibu mandi dulu sebentar, sekalian sholat ashar." ucap Ibu.


"Iya, Bu." jawabku.


Setelah Ibu masuk ke dalam rumah, Bang Rizky pulang dari masjid. Ia parkir sepeda motor Ibu di samping kios.


"Assalamu'alaikum." ucapnya lalu menghampiri aku di kios.


"Wa'alaikumussalam." sahutku. "Abang masuk saja ke dalam. Aura mau jaga kios selagi Ibu mandi dan sholat ashar." ucapku.


"Oh, ya sudah. Abang masuk ke kamar ya. Mau buka laptop." ucapnya.


"Iya, Bang." jawabku.


Lalu Bang Rizky masuk ke dalam. Selama aku menjaga kios hanya ada beberapa anak kecil yang membeli jajan.

__ADS_1


Kalau hanya jajanan saja, aku tidak perlu mengganggu Ibu untuk bertanya tentang harga. Setelah anak-anak itu pergi, aku pula yang ikutan makan jajan, sudah kangen makanan ringan seperti ini, hehe.


__ADS_2