Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps 36


__ADS_3

Keesokan hari.


Zayn dan Zara bersiap-siap untuk menghadiri lomba Tahfidz.


Zayn duduk bersama dengan para juri yang lainnya. Yaitu Ustadz dan Ustadzah yang mengajar di pesantren tersebut. Sedangkan Zara duduk bersama dengan Ustadzah Amina.


Satu demi satu Peserta yang mengikuti lomba hafalan surah Al-Qur'an mulai tampil ke atas panggung.


Saat pukul dua belas isoma (istirahat sholat dan makan). Para juri menggabungkan hasil nilai mereka. Dan yang mendapat nilai tertinggi akan menjadi pemenangnya.


Saat sholat dzuhur, Ustadz, Ustadzah dan santri sholat berjama’ah hingga masjid penuh. Setelah selesai sholat, mereka bergantian dengan santri dan santriwati yang mengantri untuk sholat karena tidak memiliki cukup tempat untuk sholat berjamaah sekaligus.


Zara dan Zayn makan siang bersama.


“Setelah ini ada lomba apa lagi, Bang?” Tanya Zara.


“Masih lomba mengharal Al-qur’an. Hari ini khusus lomba itu saja, besok lomba yang lainnya.” Jawab Zayn.


“Oh.” Sahut Zara singkat. Kemudian ia lanjut makan hingga selesai.


“Jika kamu bosan, kamu boleh kembali ke dalam rumah dan menemani Bibi.” Ucap Zayn.


“Iya. Setelah ini aku akan kembali ke rumah dan melihat Bibi.”


Pukul dua Isoma berakhir.


Lomba menghafal Al-qur’an dilanjutkan untuk enam orang peserta yang tersisa.


Zara kembali ke rumah dan menemani Arumi. Karena sedari pagi Arumi sudah di tinggal sendiri.


Zara melihat Arumi dan teringat dengan ucapan Ibunya.


“Ketika Ibu mendengar cerita dari Om kamu dan Ayahmu, seharusnya dia wanita yang baik, sopan dan lemah lembut.”


“Apa mungkin karena terjadi sesuatu padanya lalu yang menikah dengan Om Amir adalah orang lain?” Zara bertanya didalam hatinya.


Zara menemani Arumi hingga tertidur.


“Zara. Bangun, Nak.” Ucap Ustadzah Amina dengan lembut.


“Hmmmm.” Zara membuka matanya perlahan. “Ustadzah.” Ucapnya pelan.


“Sudah Ashar.” Ucap Ustadzah Amina mengingatkan.


“Oh, baik. Syukron Ustadzah.” Sahut Zara lalu beranjak dari tempat duduknya disebelah tempat tidur Arumi.


Zara meninggalkan Ustadzah Amina di kamar Arumi. Kemudian ia pergi masuk ke kamarnya.


Dilihatnya jam diponselnya sudah pukul empat lebih sepuluh menit.


“Ah, sebaiknya aku mandi terlebih dahulu baru kemudian sholat.” Gumamnya.


Zara mengambil handuk beserta baju ganti di kamarnya lalu pergi ke kamar mandi yang terletak di dapur.


Setelah selesai mandi, ia lalu menunaikan tugasnya sebagai hamba.


Selesai sholat Ashar empat rakaat. Zara keluar lalu bergabung kembali ditengah keramaian.

__ADS_1


Ia mendengarkan pembawa acara menyampaikan pengumuman. Hari ini perlombaan telah selesai, In syaa Allah akan disambung lagi besok. Lalu lusa adalah hari pengumuman pemenangnya.


Tidak lama kemudian semua santri dan santriwati bubar, begitu juga dengan para juri dan guru.


Zara melihat Zayn sedang mengobrol dengan beberapa juri.


“Mungkin sedang membahas tentang nilai.” Pikirnya.


Setelah agak sepi dan tidak padat oleh santriwati, Zara pun beranjak dari tempat duduknya dan kembali masuk ke dalam rumah.


Zara masuk ke kamar Arumi dan melihat Ustadzah Amina dan Maryam sedang membersihkan tubuh Arumi menggunakan handuk basah.


Setelah itu Maryam mengganti pakaiannya dengan yang baru.


“Ma syaa Allah Ustadzah. Sungguh mulia sekali Ustadzah dan Maryam. Tabungan pahala Ustadzah dan Maryam pasti sudah banyak.” Ucap Zara sumringah.


“Aamiin ya Allah.” Ucap Maryam.


“Selain menjadi ladang pahala, hal ini memang sudah seharusnya kita lakukan sebagai saudara seiman.” Ucap Ustadzah Amina.


“Iya, Ummi.” Maryam menimpali.


Zara tersenyum karena bahagia. Di akhir zaman seperti ini masih tersisa manusia berhati Malaikat seperti keluarga Ustadz Ridwan ini.


Zara permisi lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.


Ia lihat Zayn sedang duduk di atas katil.


“Abang, kapan datang?” Tanyanya.


“Baru saja.” Jawab Zayn lalu keluar dari kamar membawa handuk dan baju. “Mau mandi.” Ucapnya datar.


Zara memainkan gawainya lalu melihat ada pesan masuk dari Nayla sahabatnya.


“Zara.” Tulis Nayla.


“Ada apa, Nay? Rindukah?” Balas Zara.


Setelah itu Zara membuka aplikasi berwarna biru sambil menunggu balasan dari Nayla.


Beberapa menit kemudian.


“Zara. Anak perempuan itu mencarimu.” Balas Nayla.


“Siapa? Anak perempuan yang mana?”


“Anak perempuan yang selalu membanggakan Papanya itu.”


“Oh, Angel. Ada perlu apa mencariku?”


“Untuk apa lagi kalau bukan untuk bertanya tentang Bang Arfa.”


“Jawab saja tidak tahu. Aku bukan pawangnya.”


“Aku juga sudah menjawab tidak tau. Tapi dia sangat ker*s kepala. Tidak bisa mengerti bahasa manusia. Membuatku kesal saja. Hmph!!”


“Hmmm. Sabar, Sayang. Anggap saja anak kecil yang sedang merengek mencari Ibunya.”

__ADS_1


“Haiissshhh. Aku tidak sesabar dirimu.”


Zara hanya membalas dengan emoji kiss.


“Oh ya, bagaimana keadaanmu disana?” Tanya Nayla kemudian.


“Alhamdulillah baik. Kamu?”


“Aku kesepian tanpa kamu uwuwuwuu.”


“Ahahahaa. Harusnya kalimat seperti itu kamu ucapkan pada pasanganmu.”


“Kenapa kamu membully jomlo sepertiku?”


“Hahaa. Maaf, bay the way terima kasih sudah menghiburku.” Zara masih tertawa pelan.


“Apa? Bukankah aku yang sedang kesal? Harusnya kamu yang mengbiburku. Kenapa malah kamu yang terhibur olehku? Arrghh.”


“Hahaha. Maaf. Tapi bukankah sekarang kamu sudah merasa baikan?” Tanya Zara.


“Iya, aku merasa lebih baik setelah chat denganmu.”


“Good.”


“Emm. I need to off. Mau pulang.”


“Ok, hati-hati dijalan.” Balas Zara.


Karena terlalu fokus pada ponselnya, Zara tidak sadar bahwa Zayn sudah masuk ke dalam kamar beberapa menit yang lalu.


“Eh, Bang Zayn kapan datang?” Tanya Zara.


“Saat kamu sedang tertawa bahagia sembari menatap ponselmu.” Jawab Zayn datar.


“Oh.” Zara mengangguk. “Bang, besok masih ada lomba apalagi?” Tanyanya kemudian.


“Ada lomba pidato, nasyid dan lomba Adzan.” Jawab Zayn.


“Oh.” Sahut Zara singkat. “Bang, kalau menurut pengamatan Abang, kira-kira kapan Bibi akan bangun dari komanya?”


“Allah lebih tahu. Kalau menurutku, tidak lama lagi. Namun kembali lagi kepada dirinya sendiri, seberapa besar keinginannya untuk sadar akan mempercepat atau memperlambat ia terbangun dari komanya.” Jawab Zayn.


“Hmmm. Bang, apa Abang pernah berpikir kalau dia adalah saudara kembar Bibi Arumi?” Tanya Zara serius.


“Mungkin saja iya. Tapi kita tidak tau mengapa dia bisa menjadi seperti ini. Karena itu kita harus menunggu dia sadar terlebih dahulu baru kemudian memberitahu Om Amir dan Tante Arumi.”


“Baiklah kalau begitu.”


“Aku mau melihat keadaan Bibi sekalian mau mengganti botol infusnya.” Ucap Zayn.


“Iya, aku juga mau melihatnya lagi.” Sahut Zara.


Selama ini ada seorang perawat dan Dokter yang akan datang setiap dua hari sekali ke rumah untuk melihat keadaan Arumi.


Dokter dan perawat juga akan mengganti botol infus setiap kali mereka datang.


Tapi selama Zayn berada di rumah Ustadz Ridwan, Zayn yang melakukan hal itu.

__ADS_1


Ustadz Ridwan juga berpesan pada Dokter yang biasa datang, untuk sementara ada Dokter yang menginap dirumahnya dan Dokter tersebut tidak perlu datang untuk beberapa hari kemudian.


__ADS_2