Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
First Love Cafe (2)


__ADS_3

Setelah jus alpukat pesanan Kak Agatha datang, kami lanjut memesan makanan. Sambil menunggu makanan datang, kami lanjutkan berbincang-bincang.


"Kalau Abang boleh tau, nama lengkap Aura apa?" tanya Bang Rizky padaku.


"Asyifahani Aura, Bang." jawabku.


"Oh, nama yang indah." ucapnya.


"Terima kasih." jawabku singkat.


"Aura berapa bersaudara?" tanyanya lagi.


"Dua bersaudara. Kakak Aura sudah menikah dan sudah di karuniai satu anak laki-laki." jawabku.


"Owh, sama donk. Abang juga cuma dua bersaudara. Kak Agatha satu-satunya saudari Abang." jelasnya.


Aku manggut-manggut tanda mengerti.


"Aura dulu di ponpes kenal sama Rizky?" tanya Kak Agatha.


"Kenalan sih tidak pernah, Kak. Tapi Aura tau Bang Rizky, karena sering ikut lomba. Dan banyak santriwati yang sering membicarakannya." jawabku.


"Hah? Membicarakan saya? Tentang apa?" tanya Bang Rizky. Aku merasa bahwa rasa penasarannya sangat besar.


"Banyak, Bang. Aura sudah lupa, hehe." jawabku cengengesan.


"Ma, Rasya mau pipis, ayo temani." ajak anak laki-laki Kak Agatha.


"Owh, ayo." ajaknya sambil berdiri dan menuntun Rasya. "Bella mau pipis juga tidak?" tanya Kak Agatha pada putrinya.


"Tidak, Ma. Nanti saja." jawab Bella.


"Bella, jus alpukatnya enak tidak?" tanya Bang Rizky pada keponakannya.


"Enak, Om." jawab Bella.


"Ini jus punya Om, Bella mau juga tidak?"


"Tidak, Om. Ini saja." ucap Bella.


Aku bisa melihat bahwa Bella dan Bang Rizky sangat akrab. Sayang sekali aku tidak seakrab itu dengan keponakanku, karena jarak rumah kita jauh.


"Ra, kenapa bengong?" tanya Bang Rizky, membuat aku tersadar.


"Eh, tidak apa-apa, Bang. Cuma teringat sama keponakan Aura." jawabku terus terang.


"Owh, Aura jarang ketemu ya sama dia? Siapa namanya?" tanya Bang Rizky lagi.


"Iya Bang, jarang. Namanya Farhan." jawabku.


"Mereka tinggalnya di mana?"

__ADS_1


"Di Namoterasi, Bang. Abang ipar Aura selalu kerja, jadi jarang berkunjung ke rumah." jelasku.


"Wah, jauh ya tempat tinggalnya."


"Iya, begitulah, Bang." ucapku. "Alhamdulillah makanan kita datang." sambungku ketika melihat seorang pelayan berjalan menuju meja kami.


"Selamat menikmati." ucap pelayan tersebut setelah selesai menata makanan di atas meja.


"Terima kasih, Mas." ucap Bang Rizky.


"Ada apa-apa lagi yang mau di pesan?" tanya pelayan.


"Sudah tidak ada, Mas." jawab Bang Rizky.


Pelayan tersebut mengangguk lalu pergi meninggalkan kami.


Aku sangat bersemangat dan ingin segera menyantap chicken chop yang ada didepanku ini. Kalau saja saat ini aku sedang makan bersama Luna, Icha dan Lilian, pasti aku akan langsung menyantapnya tanpa ragu. Tapi, berhubung saat ini yang ada didepanku adalah Bang Rizky, aku terpaksa harus kontrol ayu. Ckckckk.


Tidak mungkin aku makan seperti orang kesetanan dihadapannya. Malu!!


"Ayo di makan, Ra. Jangan cuma dilihatin saja." ucap Bang Rizky.


"Hah? Oh, iya." ucapku salah tingkah.


Kak Agatha dan Rasya kembali dari toilet.


"Ma, Rasya mau ayamnya." ucap Rasya.


"Iya, Ma." sahut Bella sambil menganggukkan kepalanya pelan.


Kemudian kami semua mulai menyantap makanan masing-masing, seketika itu suasana menjadi hening. Yang ada hanya suara kendaraan yang lalu-lalang. Sesekali Rasya dan Bella bergantian meminta sesuatu pada Mamanya. Kak Agatha sibuk mengurusi kedua anaknya sambil makan. Sementara aku dan Bang Rizky tenggelam dalam kesunyian dan fikiran masing-masing.


Setelah selesai makan, aku pergi mencuci tangan. Tidak sengaja aku bertabrakan dengan seseorang.


"Heh, kalau jalan lihat-lihat donk!" ucapnya dengan nada marah.


"Ma,,, maaf, saya tidak sengaja." ucapku gugup.


"Tidak sengaja apanya? Jelas-jelas kamu sengaja nabrak saya!" ucapnya dan berteriak.


"Mba, saya sudah minta maaf meskipun ini bukan sepenuhnya kesalahan saya. Bisakan tidak pake teriak-teriak." ucapku.


"Ada apa, Ra?" tanya Bang Rizky, dia menghampiriku setelah mendengar wanita itu berteriak.


Aku hanya diam, tidak menjawab.


"Owh, jadi ini temen kamu?" tanyanya pada Bang Rizky.


"Iya, ini temen saya. Memangnya kenapa?" Bang Rizky balik bertanya pada wanita itu.


"Tidak apa-apa. Tumben bawa cewek keluar." ucap wanita itu.

__ADS_1


"Bukan urusan kamu." sahut Bang Rizky. "Ayo, Ra. Tidak usah diladenin lagi." lanjut Bang Rizky dan mengajakku untuk kembali lagi ke meja kami.


"Abang kenal sama dia?" tanyaku pada Bang Rizky setelah aku duduk.


"Kenal, namanya Lucy. Dia sahabat sepupu Abang, Dona." jawabnya.


"Hah? Lucy ada di sini?" tanya Kak Agatha.


"Ada Kak, barusan papasan sama Aura." jawab Bang Rizky.


"Owh, kebetulan yang tidak baik." ucap Kak Agatha pelan.


"Tidak baik bagaimana maksudnya, Kak?" tanyaku penasaran.


"Tidak apa-apa. Tidak usah terlalu di fikirkan." jawab Kak Agatha.


Aku mengangguk perlahan. Kalau di lihat dari raut wajah Bang Rizky dan Kak Agatha, sepertinya mereka berdua tidak suka dengan wanita yang bernama Lucy itu. "Ada apa sebenarnya?" tanyaku di dalam hati.


"Habis dari sini Aura langsung pulang ke rumah?" tanya Bang Rizky padaku.


"Iya, Bang." jawabku singkat.


Kemudian Bang Rizky beranjak dari tempat duduknya, ia pergi menuju kasir.


"Bil Aura berapa, Bang?" tanyaku setelah ia kembali dari kasir.


"Bil apa?" tanyanya heran dan mengernyitkan dahinya.


"Yang tadi Aura makan donk." jawabku.


"Aihh.. Ada-ada saja kamu. Sudah jangan di fikirkan. Abang yang ngajak ke sini, berarti Abang traktir." jelasnya.


"Owh, begitu. Beneran nih tidak apa-apa?" tanyaku lagi.


"Sudah, Ra. Santai saja, lagi pula sama calon istri mana boleh perhitungan, hehe." ucap Kak Agatha dan tertawa kecil.


"Hah? Calon istri?" tanyaku merasa kaget.


"Iya, bener." jawab Bang Rizky sambil tersenyum. "Aura nanti pulangnya hati-hati ya. Kabarin Abang kalau sudah sampai rumah." lanjutnya.


"In syaa Allah, Bang." jawabku.


Tiba-tiba jantungku berdebar sangat kencang mendengar Bang Rizky mengiyakan ucapan Kak Agatha. Aku? Calon istrinya? Rasanya masih belum percaya aku sampai pada fase ini.


Semoga benar apa yang diucapkannya barusan, dan semoga keluarga besar Bang Rizky mau menerimaku dengan baik.


Tidak mudah bagiku untuk masuk ke dalam keluarganya, apa lagi goresan luka masa lalu kini masih terasa. Rasa trauma dan rasa takutku belum hilang sepenuhnya, namun bukan halangan bagiku untuk terus berjalan dan memulai hidup yang baru bersama seseorang yang kelak akan aku panggil suami.


Melihat respon Kak Agatha yang sangat baik padaku, aku jadi lebih berani untuk melangkah maju bersama Bang Rizky.


Melihat sikap Bang Rizky yang sangat baik pada keponakannya, membuatku yakin bahwa nanti dia juga pasti akan menjadi Ayah yang baik untuk anak-anakku. Dan yang paling aku harapkan adalah, dia bisa menjadi suami yang baik dan mampu melindungiku, serta mampu membimbingku menjadi sorang insan yang lebih baik lagi.

__ADS_1


__ADS_2