
Saat aku sedang mencuci pakaian perutku terasa sangat sakit sekali, tapi aku tahan karena belakangan ini sering terjadi kontraksi palsu.
Hanya tinggal menunggu waktunya saja, maka akan segera lahir anakku ke dunia ini.
Setelah aku selesai membilas pakaian dan memberinya pewangi, sakitnya semakin tidak bisa di tahan.
"Mamaaaaaaaaaaa, tolong Mea Maaaaa." teriakku dari dalam kamar mandi memanggil Mama.
Kemudian Mama datang dengan raut wajah yang biasa saja, tanpa ada rasa cemas sedikitpun.
"Ada apa teriak-teriak?" tanyanya santai.
"Perut Mea sakit, Ma. Tolong bawa Mea ke bidan atau rumah sakit." pintaku dengan wajah memelas.
"Tunggu sebentar, Mama telepon Rafli dulu."
Ya Allah, perut sudah sakit begini masih harus menunggu Bang Rafli. "Aku harus kuat demi anakku." batinku.
Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya Bang Rafli dan Ambulance datang.
Bang Rafli segera membantuku untuk naik ke Ambulance, sementara Mama seperti enggan untuk ikut mengantarkanku.
Dalam perjalan aku meminta Bang Rafli untuk menelepon Ibu, aku ingin memberitahukan Ibu kalau aku akan segera melahirkan. Aku juga ingin meminta Do'a dan Ridho dari Ibu agar aku bisa lancar melahirkan nanti.
Tuut... Tuut... Tuuut... panggilan tersambung.
"Assalamu'alaikum." sahut Aura.
"Wa'alaikumussalam, Dik, i...ini... Kakak... mau memberi tau... Kakak mau.... melahirkan..." ucapku terbata-bata karena sambil menahan sakit yang luar biasa.
"Ma syaa Allah, iya Adik pasti memberitahukannya pada Ibu." sahutnya.
"I..iya... Bilang sama Ibu... Kakak minta... Do'a dan Ridho Ibu." jawabku.
"Baik, Kak." ucap Aura.
Setelah itu aku menutup teleponnya karena sudah tidak mampu untuk berkata-kata. Sementara Bang Rafli duduk disampingku, ia memegang erat tanganku sambil mengelus-elus lembut rambutku.
"Yang kuat ya sayang." ucapnya pelan.
Aku hanya menganggukkan kepalaku.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung masuk ke dalam ruangan bersalin dan di temani oleh Bang Rafli.
"Bukaannya sudah sempurna, Dok." ucap seorang perawat.
Kemudian Dokter memberiku aba-aba untuk mengejan dan mengatur nafas, tapi sayang aku tak kuat. Nafasku tersengal-sengal, kepalaku pusing, pandanganku menjadi gelap hingga aku tak sadarkan diri lagi.
Saat aku siuman, suasana di sekitarku terlihat sangat sepi. "Apa yang terjadi?" tanyaku dalam hati karena tak melihat siapapun ada di dalam ruangan ini.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuklah seorang perawat membawa bayiku. Bayiku yang sangat mungil.
"Selamat ya, Bu. Anaknya laki-laki." ucap perawat tersebut sambil meletakkan anakku tepat disampingku.
__ADS_1
"Terima kasih Suster. Oh ya, suami saya dimana, Sus?" tanyaku.
"Baru saja keluar, Bu. Saya kurang tau suami Ibu mau ke mana." jawabnya lalu pergi meninggalkanku setelah ia selesai merapikan meja yang ada di samping tempat tidurku.
Tak lama kemudian masuklah Bang Rafli, Ibu dan juga Aura.
"Kamu sudah siuman, Mea?" tanya Bang Rafli sambil mengecup keningku dan kening anak kami secara bergantian.
"Alhamdulillah sudah, Bang." jawabku
Kemudian Bang Rafli menggendong si kecil dan mulai mengumandangkan Adzan di telinga kanannya.
"Perutnya apa sudah terasa sakit, Nak?" tanya Ibu.
"Memangnya kenapa, Bu?" aku balik bertanya pada Ibu.
"Rafli bilang kamu di sesar." jawab Ibu.
"Apa? Sesar?" tanyaku kaget. Lalu aku menyentuh perutku perlahan-lahan. Ternyata memang ada bekas di sana. Aku sama sekali tidak ingat apa-apa.
"Iya, tadi kamu tidak kuat untuk melahirkan normal. Makanya langsung di bawa ke ruang operasi untuk di sesar. Demi keselamatan nyawa kamu dan nyawa anak kita." jelas Bang Rafli.
"Owh, begitu." jawabku pelan sambil menatap malaikat kecilku.
"Keponakan Adik yang tampan ini sudah punya nama apa belum, Kak?" tanya Aura.
Ia lalu datang menghampiri anakku sambil mengelus-elus pipinya yang masih berwarna kemerah-merahan.
"Siapa namanya, Bang?" tanyaku pada Bang Rafli.
"Bagus, Mea suka." jawabku bersemangat.
"Kalau begitu kita panggil dia Farhan." ucap Bang Rafli.
"Nama yang bagus." ucap Ibu sambil tersenyum padaku.
Aku pun membalas senyuman Ibu.
"Oh ya Nak Rafli, kalau tidak keberatan Ibu mau membawa Mea ke rumah Ibu, Ibu mau merawat Mea selama Mea berpantang." ucap Ibu.
"Tidak perlu, Bu. Di rumah juga ada Mama, Mama pasti akan merawat Mea dengan baik, Ibu tidak perlu khawatir." sahut Bang Rafli.
Aku lihat wajah Ibu memancarkan kesedihan, untuk yang kesekian kalinya niat baik Ibu tidak di indahkan oleh Bang Rafli.
"Mea mau ikut Ibu saja, Bang." ucapku
"Tidak boleh!!!" ucapnya dengan nada yang sedikit tinggi.
Aku terkejut dan menudukkan kepalaku.
"Ya sudah tidak apa-apa kalau tidak boleh. Jangan bentak Mea seperti itu." ucap Ibu.
Bang Rafli hanya diam. Dia lalu pergi keluar untuk membayar biaya administrasi persalinanku.
__ADS_1
"Bu, Mea bingung harus bagaimana? Mea ingin ikut sama Ibu. Tapi tidak diizinkan Bang Rafli dan Mea harus patuh. Tapi kalau Mea tinggal dengan Mama, Mea tidak yakin Mama akan membantu Mea." ucapku sedih.
"Sabar ya, Nak. Semoga kehadiran Farhan membawa perubahan besar dalam hidup Mea." ucap Ibu lembut sambil mengelus-elus kepalaku dan mencium keningku.
"Amiin Allahumma Aamiin." ucapku dan Aura secara bersamaan.
***
Setelah menginap dua malam di rumah sakit, akhirnya aku di perbolehkan untuk pulang.
Ibu dan Aura langsung pulang ke rumah, tidak ikut mengantarkanku sampai ke rumah Bang Rafli.
Sesampainya di rumah, Farhan langsung di gendong oleh kakeknya. Papa kelihatan begitu bahagia saat pertama kali melihat cucunya, begitu juga dengan Mama. Baru kali ini aku lihat wajah Mama begitu bahagia, tawa dan senyumnya pun begitu tulus dan ikhlas, tidak di buat-buat.
Semoga do'a Ibu di ijabah oleh Allah, Farhan membawa perubahan besar dalam hidupku. Semoga dengan adanya Farhan sekarang, sikap Mama bisa berubah menjadi lebih baik padaku.
"Cucu Papa ini apa sudah di beri nama, Li?" tanya Papa pada Bang Rafli.
"Kami beri nama Farhan, Pa." jawab Bang Rafli.
"Wah, nama yang bagus dan juga keren." sahut mama.
"Iya dong, Ma. Papanya yang memberi nama juga keren, hehe." ucap Bang Rafli sambil tertawa kecil.
Aku lalu pergi masuk ke kamar, mengemas barang-barang yang baru di bawa dari rumah sakit.
Sesampainya aku di kamar, aku lihat pakaianku dan pakaian bang Rafli berserak di atas tempat tidur. Aku baru ingat, terakhir saat perutku sakit aku baru siap mencuci pakaian.
Alhamdulillah Mama mau tolong jemurkan pakaianku itu, meskipun setelah kering ditelantarkan di dalam kamar.
Setelah menyusun pakaian si kecil, aku segera melipat kain-kain yang berserak tersebut.
Dari dalam kamar aku mendengar suara tangisan Farhan, aku segera beranjak dari tempat dudukku hendak menuju ruang tengah dan mengambil Farhan.
Sesampainya di depan pintu langkahku terhenti, Bang Rafli masuk membawa Farhan yang sedang menangis.
"Mama bilang mungkin Farhan haus, kamu susui gih." ucap Bang Rafli.
"Baik, Bang." sahutku sambil mengambil Farhan dari pelukan Bang Rafli.
Kami berdua pun duduk di atas tempat tidur bersebelahan. Tangisan Farhan langsung berhenti saat aku meng-ASI-hinya. Ternyata dia memang benar-benar haus.
Bang Rafli yang ada disebelahku senyum-senyum sendiri ketika melihat expresi anaknya menyusui.
"Lucu banget anak Papa." ucapnya.
Aku tersenyum mendengarnya dan menatap wajahnya. Lalu tiba-tiba ia kecup keningku.
"Terima kasih, Mea. Sudah membuat Abang sebahagia ini." bisiknya di telingaku.
"Alhamdulillah, Bang. Ini semua rezeki dari Allah." jawabku. "Semoga keluarga kecil kita tetap utuh sampai maut memisahkan ya, Bang." sambungku.
"Aamiin ya Allah." jawabnya.
__ADS_1
Aku bersungguh-sungguh dalam mengatakan hal itu, meskipun aku takut Mama yang menjadi penyebab perpisahan kami nantinya.
Sejujurnya, hingga saat ini aku tidak tau apa yang membuat Mama tidak suka padaku. Dari awal aku datang kerumah ini aku selalu menuruti segala perintahnya, sebisa mungkin aku coba untuk tidak merepotkannya. Tapi ia seakan tidak bisa berbuat baik padaku, sekalipun tidak pernah.