Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Psikopat


__ADS_3

Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.


Thank you. *Hug.


Happy Reading.... 💕


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiga bulan sudah berlalu. HPL Luna sudah semakin dekat. Aku raih ponselku, lalu aku masuk ke dalam grup BFF dan memulai chat.


"Assalamu'alaikum, Lun. HPL tanggal berapa?" tanyaku.


Setelah itu aku tunggu dia membalasnya. Beberapa menit kemudian Lilian muncul.


"Wa'alaikumussalam. HPL apaan, Ra?" tanya Lilian.


"HPL itu singkatan dari Hari Perkiraan Lahir, Li. Sekarang usia kandungan Luna sudah sembilan bulan. Tidak lama lagi pasti dia akan melahirkan." balasku menjelaskan padanya.


"Oh, begitu. Iya ya, tidak terasa kandungan Luna sudah sembilan bulan." tulis Lilian. "Lalu bagaimana denganmu, Ra?" tulisnya lagi.


"Apanya yang bagaimana, Li?" tanyaku karena tidak mengerti apa yang dia maksud.


"Apa kamu sudah isi sekarang? Hehe." tulisnya.


"Masih belum, Li. Mungkin Allah masih ingin kami berdua pacaran, hehe." jawabku.


"Owh, maaf ya. Aku hanya iseng bertanya, tidak ada maksud yang lain." tulisnya.


"Not matter. Jangan jadi sungkan begitu." balasku.


"Ok, aku off ya. Mau lanjut kerja." tulisnya.


"Baik, Li." balasku.


Ternyata benar yang sering aku baca, saat orang lain bertanya "Sudah hamil?" rasanya sangat sakit sekali. Meskipun yang bertanya adalah sahabatku sendiri, tidak bisa kupungkiri rasa sakit itu selalu hadir.


Oh Allah, kuatkan hati hamba. Jika memang belum saatnya, jauhkan hamba dari pertanyaan-pertanyaan yang bisa menyakiti hati hamba. Hikss..... Aamiin ya Rabb.


Ting!! Bunyi ponselku. Akhirnya Luna menjawab pertanyaanku. Aku segera menghapus air mataku, karena menangis bisa membuat pandangan menjadi sedikit kabur.


"Wa'alaikumussalam. Seharusnya seminggu lagi, Ra. Tapi Alhamdulillah hari ini aku sudah melahirkan." balas Luna.


"Wah, ma syaa Allah. Kamu melahirkan di mana?" tanyaku antusias.


"Di Rumah sakit xxx." balasnya.


"Nanti setelah Bang Rizky pulang kerja. Kami langsung ke sana."


"Iya, Ra. Aku tunggu." Tulis Luna.


"Masih belum mau pulang, kan?" tanyaku untuk memastikan.


"Belum, mungkin besok pagi kami akan pulang." jawab Luna.


"Bay the way, anak kamu cewek atau cowok?" tanyaku.


"Alhamdulillah cewek." balasnya.


"Adu du du duhh... Aura tidak sabar ingin segera pergi ke sana untuk melihatnya." tulisku dan memberikan emoji love sebanyak-banyaknya.


"Hahahhh... Jangan lama-lama datangnya ya Buk."


"In syaa Allah, keponakan Ibuk sayang." balasku.


"Alhamdulillah, gimana rasanya melahirkan, Lun?" tanya Icha.


"Aku tidak mau menceritakannya, Cha. Nanti kamu malah takut mau melahirkan." balas Luna.


"Iya juga ya, Lun." balas Icha.

__ADS_1


Aku sangat tidak sabar menunggu Bang Rizky pulang. Rasanya ingin langsung pergi ke sana. Tapi aku tidak pernah pergi sendirian, takut nyasar.


"Masih ada dua jam lagi sebelum Bang Rizky pulang." gumamku di dalam hati. Kebetulan aku merasa ngantuk, aku tidur dulu saja.


Adzan ashar berkumandang membangunkanku dari tidurku. Aku kucek-kucek mataku perlahan-lahan. Lalu aku bangkit dan pergi ke kamar mandi.


Aku mandi terlebih dulu baru kemudian melaksanakan sholat empat rakaat. Setelah selesai sholat, aku langsung memakai pakaian yang bagus untuk pergi mengunjungi Luna si New Mom.


Setelah selesai siap-siap, aku turun ke bawah dan menunggu Bang Rizky.


"Nyonya Muda." panggil Chaca.


"Ada apa, Cha?" tanyaku dan tersenyum padanya.


"Tadi Mang Jaja menyuruh saya memanggil Nyonya Muda." ucapnya.


"Memangnya ada apa? Ada masalah?" tanyaku penasaran.


"Di depan ada seorang wanita yang kasar, ngotot mau masuk ke dalam rumah, katanya mau menunggu Tuan Muda pulang kerja." jawab Chaca menjelaskan.


"Pasti Ningrum." gumamku di dalam hati.


"Apa dia masih di depan?" tanyaku.


"Masih, Nyonya Muda. Dia tidak mau pergi." jawab Chaca.


"Baiklah, saya akan pergi ke depan untuk melihatnya." ucapku.


"Baik, Nyonya Muda." sahut Chaca.


Aku bergegas ke luar rumah dan menemui Ningrum.


"Mang Jaja." ucapku sesampainya aku di dekat pagar.


"Nyonya Muda. Wanita yang waktu itu datang, sekarang datang lagi." ucap Mang Jaja.


"Mang Jaja minggir dulu ya. Saya mau bicara dengannya." ucapku dengan lembut.


"Heh, Aura sombong. Cepat buka pintu gerbangnya, aku mau masuk. Aku mau menunggu my future husband pulang kerja." Ningrum memerintahku dengan kasar. Dengan percaya diri dia mengatakan bahwa Bang Rizky adalah calon suaminya.


"Maaf, siapa yang kamu maksud future husband itu?" tanyaku dengan sopan.


"Bang Rizky yang sekarang masih tersesat." jawabnya.


"Tersesat?" tanyaku dan mengkerutkan dahi. aku sama sekali tidak mengerti apa maksud perkataannya.


"Iya, Bang Rizky sekarang sedang tersesat. Itu sebabnya dia menikah denganmu. Padahal sebenarnya akulah cinta sejatinya." jawabnya dengan rasa percaya diri tingkat dewa.


"Oh, benarkah? Hehe." tanyaku lagi sambil tertawa kecil.


"Kenapa kamu tertawa? Kamu merendahkanku? Apa kamu sudah lupa dari mana kamu berasal? Kamu juga sama sepertiku, kita berasal dari kampung yang sama."


"Tidak, jangan samakan saya dengan dirimu. Karena saya tidak pernah coba merebut suami orang. Apa lagi menggunakan cara-cara yang bisa membuat saya menjadi Syirik." jawabku dan tersenyum padanya.


"Apa maksudmu?" tanyanya dan melotot.


"Apa kamu kira bisa menaklukkan Bang Rizky dengan cara hina seperti itu? Bang Rizky bukanlah orang yang mudah kamu guna-guna." jawabku menjelaskan.


"Maksudmu, itu tidak mempan?" tanyanya pelan. Sepertinya dia mulai sadar.


"Absolutely true. Bang Rizky sudah menyadari itu dan sudah membuangnya." jawabku.


Tiba-tiba mobil Bang Rizky datang. Dia membunyikan klakson. Mang Jaja pun membuka pintu gerbang.


Tidak aku sangka, Ningrum menggunakan kesempatan itu untuk menerobos masuk dan menyerangku.


"Aaaaaakkkhhhhhh.... Lepaskan!!" teriakku. Aku tidak menyangka dia akan mencekikku seperti ini.


Mang Jaja menarik tangan Ningrum, Bang Rizky menarik tubuhku dan menjauhkanku dari Ningrum.

__ADS_1


"Uhuk... Uhuk... Uhuk..."


"Hey, pergi dari sini, sekarang!! Dan jangan pernah datang lagi!! Atau aku akan menelepon polisi." Bang Rizky terlihat sangat marah. Bahkan selama tujuh bulan aku hidup bersamanya, aku tidak pernah melihat dia semarah ini.


Melihat Bang Rizky yang begitu emosi. Ningrum langsung pergi meninggalkan kami. Mang Jaja langsung buru-buru menutup pintu gerbang.


Aku merasa kesakitan dan menangis dalam pelukannya. Dia langsung coba untuk menenangkanku.


"Aura sayang. Apa masih sakit?" tanyanya dengan lembut dan mengangkat wajahku perlahan.


Aku lihat Bi Sumi, Jihan, Chaca, Ummi dan Pak Ujang berlari keluar. Mungkin karena mendengar teriakanku tadi.


"Ada apa, Nak?" tanya Ummi yang kelihatannya sangat khawatir.


"Ada orang gila, Mi." jawab Bang Rizky kesal.


"Orang gila?" tanya Ummi lagi.


"Lebih tepatnya psikopat." jawab Bang Rizky.


"Mang Jaja, kenapa orang seperi itu dibiarkan masuk?" Ummi memarahi Mang Jaja.


"Maaf, Nyonya." ucap Mang Jaja.


"Bukan salah Mang Jaja, Mi. Tadi dia ikut masuk saat mobil Rizky masuk." ucap Bang Rizky menjelaskan.


Aku masih dalam isak tangis. Bang Rizky masih terus berusaha membuatku merasa tenang.


Kami semua masuk ke dalam rumah. Jihan mengambilkan segelas air putih untukku.


Setelah aku mulai tenang, Bang Rizky mulai mengajakku bicara.


"Aura sudah baikan? Lehernya masih sakit tidak?" tanya Bang Rizky dengan penuh kasih sayang.


"Alhamdulillah sekarang Aura sudah merasa lebih baik." jawabku lalu tersenyum padanya.


"Memangnya wanita itu siapa?" tanya Ummi.


"Dia teman sekolah Aura ketika masih di Madrasah Ibtidaiyah, Mi." jawabku.


"Kalau dia teman Aura, kenapa bisa berbuat seperti itu?" tanya Ummi lembut.


"Mungkin karena tadi Aura tidak mengizinkan dia masuk." jawabku pelan.


"Bukan hanya karna itu, Mi." sahut Bang Rizky.


"Lalu apa lagi?" tanya Ummi.


"Sepertinya dia tertarik dengan Bang Rizky, Mi. Tadi dia sempat bilang kalau Bang Rizky ini calon suaminya." jawabku.


"Apa? Calon suaminya? Hahahahahahahh." Bang Rizky tertawa terbahak-bahak.


Ummi juga ikut tertawa mendengar ucapanku barusan.


Melihat Ummi dan Bang Rizky tertawa, aku juga ikut senyum-senyum.


"Berani sekali dia bicara seperti itu." ucap Bang Rizky.


"Ummi tidak menyangka bahwa anak Ummi ini masih saja jadi rebutan meskipun sudah menikah, hehe." ucap Ummi sambil cengengesan.


"Oh ya, Abang hampir lupa mau bertanya. Aura tumben pakai baju bagus begini, mau ke mana?" tanya Bang Rizky.


"Tadi Aura mau ajak Abang ke rumah sakit." jawabku.


"Rumah sakit? Aura sakit?" tanya Bang Rizky yang mulai cemas dan memeriksa tubuhku dari kepala hingga ujung kaki.


"Tidak, Aura tidak sakit. Aura mau menjenguk Luna. Katanya dia sudah melahirkan. Aura ingin melihat anaknya." jawabku menjelaskan.


"Owh, begitu. Aura tunggu sebentar ya. Abang mau ganti baju." ucapnya.

__ADS_1


"Iya, Bang." jawabku sambil menganggukkan kepalaku.


Lalu Bang Rizky bangkit dari tempat duduknya dan langsung naik ke atas.


__ADS_2