Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Good News


__ADS_3

Dua minggu pasca Aura mengalami keguguran...


“Sudah dua minggu, kenapa masih belum ketahuan?” Gumam Aura di dalam hatinya.


Ibu Aura datang menghampiri Aura yang sedang duduk di ruang baca. Dihadapannya ada sebuah buku yang terbuka, tapi tatapannya kosong. Melihat hal itu, Ibu Aura tau bahwa Anaknya sedang memikirkan sesuatu dan membuatnya tidak fokus membaca.


“Adik, sedang melamun ya? Mikirin apa?” Tanya Bu Ayu.


“Sudah dua minggu berlalu, tapi dia masih belum tertangkap, Bu.” Jawab Aura pelan. Wajahnya terlihat lesu.


“Dia? Dia siapa?” Tanya Bu Ayu yang tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh Aura.


“Lali-laki yang mengirim kue itu, Bu.” Jawab Aura.


Bu Ayu memandang wajah putrinya, terpancar jelas kesedihan diwajahnya.


“Sabar ya, Dik. In syaa Allah jika waktunya sudah tiba, dia tidak akan bisa sembunyi dimana-mana lagi.” Bu Ayu menasehati Aura sembari mengelus-elus kepalanya dengan lembut.


“Aamiin ya Allah.” Sahut Aura.


Iya menatap wajah Ibunya dan melemparkan senyumannya yang khas.


“Bu, Aura ingin makan kue. Kita kebelakang yuk, minta tolong Bi sumi atau Chaca pergi membelikan.” Ajak Aura.


“Iya.” Sahut Bu Ayu.


Aura menyimpan buku yang sedari tadi ada ditangannya tapi ia cuekin karena fikirannya traveling ntah kemana-mana.


Sesungguhnya ia tau, jika orang itu tertangkap dan masuk penjara tetap saja tidak akan bisa mengembalikan nyawa janinnya. Bahkan jika laki-laki itu di hukum mati sekalipun, tetap tidak bisa memgembalikan keadaan seperti semula.


Namun ia hanya ingin, orang yang bersalah harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Ia ingin orang itu mempertanggung jawabkan perbuatannya.


“Bi Sumi.” Sapa Aura begitu mereka tiba di dapur.


“Saya, Nyonya Muda.” Sahut Bi Sumi.


“Bibi sibuk tidak?” Tanya Aura.


“Tidak, hanya mengelap debu saja.” Jawab Bi Sumi.


“Kalau begitu boleh tolong belikan tahu isi, risol dan bakwan untuk saya? Saya kepingin makan kue goreng.” Ucap Aura.


“Boleh, Nyonya Muda.” Jawab Bi Sumi. “Bibi langsung pergi belikan ya.” Lanjutnya.


“Terima kasih, Bi.” Ucap Aura.


“Bi, saya ikut ya. Sekalian melihat-lihat sekitar sini.” Ucap Bu Ayu.


“Baik, Bu. Ayo.” Ajak Bi Sumi.


Aura tersenyum mengiringi kepergian Ibunya dan Bi Sumi.


Ia pergi duduk di pondok menunggu kedatangan Ibu dan Bi Sumi.


***


Diruang kerja Rizky...


Drtt... Drtt... Drtt... Drtt... Ponsel Rizky betgetar.


“Halo.” Ucap Rizky setelah menekan tombol hijau pada layar.

__ADS_1


“Apa benar ini nomor Pak Rizky?” Tanya seorang pria di seberang sana.


“Iya, saya sendiri.” Jawab Rizky.


“Kami dari kepolisian, ingin mengabarkan bahwa kami sudah berhasil menangkap pelakunya.” Ucapnya.


“Alhamdulillah. Saya akan segera pergi ke sana untuk bertemu dengan orangnya.” Ucap Rizky.


“Baik, Pak.” Sahut Pak Polisi.


Rizky menutup telepon dan merapikan meja kerjanya. Setelah itu ia bergegas pergi menuju kantor polisi.


Setelah beberapa menit mengemudi, Rizky pun tiba di kantor polisi.


“Selamat siang, Pak.” Ucap Rizky.


“Selamat siang. Mari saya antarkan Pak Rizky untuk bertemu dengan orangnya.” Ajak Pak Polisi.


Rizky mengangguk. Ia begitu semangat ingin menghajar orang yang sudah membunuh calon anaknya, orang yang sudah membuat istrinya menderita, orang yang sudah membuatnya hampir kelhilangan istrinya.


Rizky mengikuti langkah kaki Pak Polisi yang ada didepannya sambil mengepalkan kedua tangannya. Dia sudah menyiapkan tenaga dalamnya untuk segera menghajar penjahat itu.


Saat mereka tiba di depan sel, polisi membuka gemboknya. Lalu masuklah mereka berdua ke dalam.


Tanpa berkata sepatah katapun, Rizky langsung meninju wajah lelaki itu. Rizky terlihat begitu emosi dan marah, wajahnya pun memerah.


Lelaki itu pun jatuh tersungkur hingga bagian belakang kepalanya menghantam dinding penjara. Begitu kuatnya pukulan Rizky.


Dengan sigap Pak Polisi yang menemani Rizky di dalam sel, memegang tubuh Rizky.


Ia menahan Rizky agar tidak memukul tahanan itu lagi.


“Lepaskan!!!” Teriak Rizky.


Salah seorang Polisi masuk ke dalam sel dan membantu tahanannya untuk duduk.


Rizky coba mengontrol emosinya dan duduk di kursi yang sudah disediakan.


Setalah ia merasa lebih tenang, ia mulai menginterogasi lelaki itu.


“Siapa nama kamu?” Tanya Rizky.


“Nama saya Frans.” Jawab tahanan tersebut sambil menangis. Ia menangis karena kepalanya sakit dan berdarah.


“Kamu tau kenapa kamu di tahan?” Tanya Rizky lagi.


“Saya tau, Tuan.” Jawab Frans.


“Kenapa?” Tanya Rizky.


“Karena saya sudah membuat istri Tuan sakit perut.” Jawab Frans.


“Apa? Sakit perut?” Rizky terkejut mendengar jawaban Frans.


Frans menganggukkan kepalanya.


“Jika hanya sakt perut, kamu tidak akan menjadi buronan dan masuk penjara!” Bentak Rizky.


Frans menundukkan wajahnya, ia tidak berani menatap wajah Rizky yang begitu sangar.


“Istri saya keguguran, apa kamu tau itu?” Bentak Rizky lagi.

__ADS_1


“Tid..tidak, tidak mungkin keguguran Tuan. Saya bahkan tidak tau kalau istri Tuan sedang hamil.” Ucap Frans terbata.


Bisa dilihat dari raut wajahnya Frans, bahwa dia sangat terkejut.


“Apa kamu kenal istri saya?” Tanya Rizky.


“Tidak, Tuan.” Jawab Frans.


“Apa kamu mengenal saya?” Tanya Rizky lagi.


“Tidak, Tuan.” Jawab Frans.


“Lalu mengapa kamu mengirimkan kue ke rumah saya?” Tanya Rizky. “Bagaimana kamu bisa tau alamat rumah saya? Apa motif kamu sebenarnya?” Lanjutnya.


“Saya hanya di bayar. Tuan.” Jawabnya pelan.


“Di bayar? Siapa yang membayar kamu? Kenapa kamu mau melakukan perbuatan yang keji itu? Berapa banyak uang yang kamu hasilkan setelah membunuh calon anak saya?” Rizky menghujani Frans dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


“Saya adalah pekerja pesan antar makanan Online, Tuan.


Hari itu orderan saya sepi hingga tengah hari. Orderan pertama yang masuk adalah pesanan dari seorang wanita, ia meminta saya untuk membeli sebuah kue. Ia juga meminta saya untuk menulis kalimat di atas kue yang ia pesan.


Toko kue yang paling dekat dengan tempat saya mangkal adalah toko kue melati.


Saya chat wanita tersebut dan bertanya bentuk kue seperti apa yang dia inginkan?


Dia hanya bilang ‘Pilih yang paling cantik untuk istri teman saya.’


Karena saya tidak pandai memilih kue yang bagus, maka saya meminta karyawan toko kue tersebut untuk memilihkan bentuk kue yang cocok dengan kalimat yang dikirim oleh wanita itu.


Setelah saya mendapatkan kuenya, saya pun pergi mengantarkan kue tersebut ke alamat rumah wanita yang memesannya.


Sesampainya di sana, wanita tersebut membuka kotak kue yang saya bawa. Saya lihat dia menaruh sesuatu di atas kue tersebut.


Ketika saya tanya, dia jawab ‘Saya hanya ingin memberi pelajaran kepada orang yang sudah membuat saya sakit hati. Ini hanya akan membuat dia sakit perut, tidak akan membuatnya meninggal.’


Awalnya saya merasa takut mau mengirimkan kue itu ke alamat rumah Tuan yang dia berikan pada saya.


Tapi dia memberikan saya uang yang banyak. Hal itu membuat saya tidak ragu untuk mengirimkan kue itu.


Mengingat anak saya yang masih balita membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk mencukupi kebutuhannya.


Toh hanya akan sakit perut, minum obat dari warung juga sudah bisa sembuh. Itulah yang ada di benak saya waktu itu.


Setelah itu, saya libur kerja beberapa minggu demi menemani anak dan istri saya di rumah karena uang yang wanita itu berikan pada saya cukup untuk biaya kami hidup beberapa bulan.


Saya benar-benar tidak menyangka bahwa obat itu untuk menggugurkan.


Saya benar-benar minta maaf, Tuan. Hiks.” Frans menceritakan semuanya sambil terisak.


“Hufft.” Rizky menghempas nafasnya.


“Siapa nama wanita itu?” Tanya Rizky. Kini ia bertanya dengan wajar. Karena Frans hanyalah kambing hitam yang digunakan untuk menutupi kesalahan orang lain.


“Nama yang tertera di aplikasi adalah L. A. Rose.” Jawab Frans.


“L. A. Rose?” Rizky kaget.


Frans mengangguk.


“Itu berarti penjahat yang sebenarnya adalah Lucy Angelina Rose. Awas kamu Lucy!” Gerutu Rizky.

__ADS_1


“Sekarang sudah jelas, Pak. Segera tangkap wanita yang bernama Lucy Angelina Rose.” Pinta Rizky pada Pak Polisi.


Para Polisi pun mulai bergerak dan segera pergi ke rumah Lucy untuk menangkapnya.


__ADS_2