Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Syarat Dariku


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu, besok sudah tanggal lima. Itu artinya hanya dalam hitungan jam saja, Bang Rizky beserta keluarganya akan tiba.


Hatiku berdebar tak karuan, apakah dulu Kak Mea juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan saat ini?


Aku ingat waktu itu Kak Mea mengatakan kalau sudah tiba waktunya, aku juga pasti akan merasakan apa yang dia rasakan. Perasaan ini yang di sebut Kak Mea payah bilang. Memang benar, sulit untuk mendeskripsikan perasaan ini.


Sebenarnya aku memiliki beberapa permintaan yang belum aku sampaikan pada Bang Rizky. Sepertinya aku harus mengatakan hal itu padanya malam ini.


Jika nanti dia keberatan dengan permintaanku, dia masih punya waktu untuk membatalkan niatnya untuk datang melamarku.


Sekarang sudah pukul 08:25PM. Semoga dia ada waktu untuk bicara denganku.


"Assalamu'alaikum, Bang. Bisa kita bicara?" tulisku lalu aku langsung mengirim chat tersebut padanya.


Lima menit kemudian...


"Wa'alaikumussalam. Bisa, silahkan. Aura ingin bicara tentang hal apa?" balasnya.


"Aura ingin bertanya. Tapi Aura mohon, Abang jangan tersinggung ataupun marah, ya."


"In syaa Allah." balasnya.


"Aura ingin tau, apa Abang ada niat untuk poligami?" tanyaku. Ada sedikit perasaan takut dalam hatiku, takut kalau jawabannya adalah Iya.


"Kenapa Aura tanya tentang hal itu?" ia malah balik bertanya padaku.


"Jawab saja dulu, Bang. Iya atau tidak?" balasku.


"Tidak." tulisnya singkat.


Lega rasanya karena dia menjawab tidak.


"Alhamdulillah kalau begitu, Bang."


"Memangnya ada apa, Ra?" tanya Bang Rizky.


"Karena... Aura tidak mau di poligami." jawabku terus terang.


"Kalau misalnya tadi saya menjawab Iya, apa yang akan Aura katakan?" tanyanya.


"Aura akan mengatakan, Aura tidak akan menjadi salah satunya!" jawabku dengan tegas.

__ADS_1


"Owh, tenang saja. Saya tidak akan poligami." tulisnya dan menyelipkan emoji tersenyum.


"Kenapa tidak mau poligami? Abang takut tidak bisa adil ya?" tanyaku.


"Iya, mungkin dari segi materi saya bisa adil membaginya. Tapi tidak dengan hati." jawabnya.


"Iya, itulah yang Aura takutkan." tulisku.


Adil secara bahasa bermakna itikad baik dan istiqamah dalam menjalaninya. Sedangkan ‘Adil’ terkait dengan poligami, atau beristri lebih dari satu, adalah memberikan hak yang sama pada semua isterinya.


Dari Abu Hurairah RA Rasulullah SAW, bersabda:


"Siapa saja yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring." (HR. Ahmad dan Imam Empat).


Adil yang diwajibkan atas suami bukan dalam membagi perasaan dan cinta. Sebab hal itu melibatkan perasaan dan hati yang cenderung mudah terbolak-balik, sehingga hampir mustahil diberikan dalam kadar yang sama pada tiap istrinya.


Rasulullah SAW adalah pribadi mulia yang juga figur yang paling adil terhadap semua istrinya. Hal tersebut diakui oleh para isteri beliau SAW. Namun sebagai manusia biasa, beliau tak bisa membohongi hati yang cenderung lebih mencintai Bunda Aisyah dibanding isteri beliau yang lain.


Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh ‘Amr Bin al-‘Ash saat ia bertanya pada Rasulullah:


“Siapakah manusia yang paling Engkau cintai?” Beliau SAW menjawab: ‘Aisyah’. Lalu aku bertanya lagi: “Siapakah yang engkau cintai dari kalangan laki-laki?” Beliau menjawab: ‘Ayahnya Aisyah (Abu Bakar)’. Kemudian aku bertanya lagi : “Setelah itu siapa?” Beliau menjawab ‘Umar Bin Al-Khattab’. Kemudian Beliau menyebutkan beberapa orang. (HR. Bukhari).


Inilah sisi lain dari pribadi Rasulullah SAW yang juga manusia biasa, beliau ternyata merasakan sulitnya membagi rasa cinta terhadap isteri-isterinya. Hingga beliau mengadu pada Allah:


"Apa yang Aura takutkan?" tanya Bang Rizky. Bunyi handphone pertanda ada pesan masuk berhasil membuyarkan lamunanku.


"Aura takut jika nanti Abang memiliki istri yang lain. Abang akan cenderung lebih menyayanginya dari pada Aura." jawabku.


"In syaa Allah tidak akan. Kecuali jika ada jodoh. Hehehe." tulisnya.


"Apa?"


"Just Kidding, Ra. Please jangan ngambek." secepat kilat ia membalas chatku.


"Owh." tulisku. "Masih ada lagi yang ingin Aura sampaikan." lanjutku.


"Apapun itu, katakan saja, Ra. Jangan ragu-ragu untuk mengatakannya, kalau saya bisa pasti akan saya penuhi semua keinginan Aura."


"Aura mau Ijab Qobul di dalam masjid, boleh?" tanyaku.


"Tentu saja boleh." jawabnya.

__ADS_1


"Masih ada satu hal lagi." tulisku.


"Katakan saja. Dua, tiga, atau bahkan sepuluh juga tidak apa-apa, hehehe." balasnya.


"Sebelum Ijab Qobul, Aura mau Abang setor hafalan surah Al-ikhlas sebanyak tiga kali." pintaku.


"Kenapa tidak surah Ar-Rahman seperti yang kebanyakan di pinta Akhwat, Ra?"


"Tidak apa-apa, Bang. Dalam surah Al-ikhlas dijelaskan bahwa Allah adalah satu dan tidak ada duanya, tidak beranak dan tidak pula di peranakkan. Sedangkan dalam surah Ar-rahman dijelaskan tentang nikmat-nikmat yang telah Allah berikan." jelasku.


"Lalu?" tanyanya.


"Aura mau sebelum kita memulai hidup baru sebagai suami dan istri, kita ingat bahwa Allah adalah satu dan kita harus mendahulukan Allah dari hal-hal yang lainnya. Selalu melibatkan Allah dalam segala sesuatunya. Sehingga jika selalu ingat pada Allah, maka in syaa Allah kita juga pasti akan selalu mensyukuri segala nikmat-Nya. Wallahu 'alam bishawab. Itu hanya pendapat Aura saja, Bang. Dan satu lagi, membaca surah Al-ikhlas sebanyak tiga kali sama dengan mengkhatamkan Al-Qur'an." jelasku panjang lebar.


"Ma syaa Allah, baiklah kalau memang itu yang Aura inginkan. Abang tidak keberatan." jawabnya.


"Terima kasih, Bang. Kalau begitu sudah dulu ya, Bang. Sudah malam. Aura mau tidur."


"Iya, Ra. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." jawabku.


Alhamdulillah, aku merasa sangat bahagia karena Bang Rizky selalu memberi tanggapan yang baik atas apapun masukan dariku.


Aku pejamkan mataku dan perlahan-lahan tenggelam dalam dunia mimpi.


Saat Adzan subuh berkumandang, aku terbangun dari tidurku. Hari ini saat aku terbangun, aku merasa lebih semangat dari hari-hari yang sebelumnya.


Aku melaksanakan sholat sunnah rawatib dan sholat subuh. Setelah itu pergi membantu Ibu untuk membereskan peralatan makan yang akan kami gunakan nanti.


Saat matahari sudah menampakkan sinarnya, beberapa saudara datang membawa kue pesanan Ibu untuk dijadikan makanan pembuka nanti.


Ada juga beberapa tetangga yang datang untuk memasak lauk pauk untuk makan siang bersama keluarga Bang Rizky.


Aku bergegas mandi dan mempersiapkan diriku untuk menyambut kedatangan mereka.


Sekitar pukul 10:00PM, keluarga Bang Rizky tiba. Dua buah mobil terparkir di depan rumah kami.


Paman menyuruhku untuk tetap duduk di dalam, mereka dan Ibu yang akan menyambut kedatangan keluarga Bang Rizky.


Beberapa jam berlalu...

__ADS_1


Alhamdulillah, acara lamaran berjalan dengan lancar. Tanggal pernikahan juga sudah di tetapkan. Tanggal 02 bulan depan.


__ADS_2