Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Pergi


__ADS_3

Malam hari saat Rizky pulang kerja, ia menyampaikan sebuah kabar gembira untuk Aura.


Saat Rizky masuk ke dalam kamar, ia lihat istrinya sedang berbaring di atas tempat tidur sambil memainkan gawainya.


“Assalamu’alaikum, Aura sayang.” Ucap Rizky.


“Wa’alaikumussalam, Abang sudah pulang.” Sahut Aura. Ia kemudian bangun dan langsung menghampiri Rizky. Aura mencium punggung tangan suaminya.


“Sayang, beres-beres baju ya.” Pinta Rizky sumringah.


“Beres-beres baju? Untuk apa, Bang?” Tanya Aura yang belum tau apa-apa.


“Besok pagi kita akan pergi ke puncak.” Jawab Rizky yang semakin terlihat bahagia.


“Puncak?” Tanya Aura kaget, Aurapun terlihat sangat bahagia.


“Iya.” Jawab Rizky. “Jadi tadi Sidik nelpon Abang, dia bilang mau ajak kita liburan di puncak. Yaaa, double date gitu lah.” Lanjutnya.


“Wah, senengnya. Akhirnya bisa liburan lagi.” Ucap Aura dengan bahagia dan tertawa lebar. “Aura siapin sekarang deh barang-barang yang mau dibawa besok pagi.” Lanjutnya kemudian.


“Iya. Tapi bawa seperlunya saja ya sayang.” Ucap Rizky.


“Ok, Bang.” Sahut Aura dengan semangat yang kian membara.


Saat Aura sedang menyiapkan pakaian dan keperluan lainnya, Rizky pergi mandi.


***


Pagi hari, Aura dan Rizky berpamitan dengan orang rumah sebelum pergi.


Aura dan Rizky pamitan pada Abi dan Ummi. Namun saat Aura berpamitan dengan Bu Ayu, Bu Ayu merasa berat hati melepas kepergian mereka berdua.


“Nak, perasaan Ibu tidak enak.” Ucap Bu Ayu.


“Tidak enak bagaimana, Bu? Ibu sakit?” Tanya Aura yang merasa khawatir dengan Ibunya.


“Bukan itu, Nak. Ibu tidak sakit, Alhamdulillah Ibu baik-baik saja. Tapi ntah mengapa Ibu merasa khawatir kalau kalian berdua pergi hari ini. Perasaan Ibu tidak tenang.” Jawab Bu Ayu menjelaskan perasaannya.


“Kenapa bisa begitu, Bu?” Tanya Aura lagi.


“Ibu juga tidak tau, atau jangan-jangan terjadi sesuatu pada Kakakmu Mea.” Bu Ayu kemudian teringat pada anak sulungnya.


“Hmm.. Tidak terjadi apa-apa, Bu. Mungkin Ibu hanya sedang rindu dengan Kakak.” Ucap Aura coba menenangkan Ibunya. “Apalagi Ibu sudah lama tidak bertemu dengan Kak Mea. Mendingan sekarang Ibu telpon Kak Mea deh, supaya perasaan Ibu bisa jadi lebih tenang.” Lanjutnya.


“Iya, Ibu akan hubungi Kakakmu nanti.”


Aura kemudian tersenyum dan memeluk Ibunya.


Setelah berpamitan, Aura dan Rizky memulai perjalanan mereka menuju Vila di Puncak.


Dalam perjalanan mereka menuju puncak Aura merasa lapar dan haus, hal itu pun ia sampaikan pada Rizky suaminya.


Rizky menganggukkan kepalanya. Sepanjang jalan Rizky sambil mengemudi sesekali melemparkan pandangannya untuk mencari tempat makan untuk mereka berdua.


Sudah ada beberapa rumah makan yang ia lewati, tapi dengan sabar istrinya masih menunggu ia memberhentikan mobil dan singgah untuk makan. Aura bahkan tidak bertanya padanya mengapa rumah makan itu ia lewati?


Hingga akhirnya Rizky menemukan rumah makan yang menurutnya pas. Ia segera memarkirkan mobilnya dan mengajak Aura untuk turun.


“Aura sayang, sebenarnya dari tadi Abang mencari restoran agar kita berdua bisa makan dengan nyaman dan tenang. Tapi sayang disepanjang jalan Abang hanya melihat warung dan rumah makan. Kamu tidak keberatan jika kita makan di rumah makan seperti ini?” Rizky menjelaskan panjang lebar alasan mengapa ia melewati beberapa rumah makan tadi, bahkan tanpa ditanya oleh istrinya.

__ADS_1


“Tentu saja Aura tidak keberatan, selama makanan yang disajikan adalah makanan yang halal.” Jawab Aura sambil tersenyum manis.


Rizky merasa bahagia mendengar jawaban istrinya.


Mereka berduapun berjalan masuk ke dalam rumah makan tersebut dan duduk dikursi bersebelahan.


Mereka memesan makanan dan makan dengan bahagianya.


Tanpa mereka sadari sedari tadi sudah ada dua pasang mata yang mengikuti dan mengawasi mereka berdua.


Dan saat ini adalah saat yang paling tepat bagi mereka untuk beraksi, salah seorang dari mereka mengawasi Aura dan Rizky yang sedang asik makan. Dan seorang lagi sedang berada dibawah mobil.


Setelah temannya itu keluar dari bawah mobil, mereka berdua langsung pergi meninggalkan tempat itu.


“Halo, Bos.” Ucapnya sambil menelepon seseorang. “Sudah kami kerjakan sesuai rencana.” Lanjutnya. Ntah apa yang dikatakan seseorang disebrang sana, ia hanya mengatakan “Ok, Bos.” lalu mengakhiri panggilan.


“Ayo kita kembali ke markas untuk mengambil bayaran kita.” Ucapnya pada temannya. Temannya tersebut menganggukkan kepalanya. Lalu mobil yang mereka kendarai berbalik arah dan tidak lanjut mengikuti Rizky dan Aura.


Setelah selesai makan, Aura dan Rizky istirahat sebentar didalam mobil.


Aura meraih ponselnya dan ia melihat ada beberapa panggilan tak terjawab atas nama Ibunya. Ia tidak menhetahui hal itu karena ponselnya ia tinggalkan di dalam mobil.


“Ibu.” Ucap Aura pelan.


“Ada apa sayang?” Tanya Rizky.


“Ibu menelepon beberapa kali.” Jawab Aura.


“Telpon balik saja.” Ucap Rizky.


Aura menganggukkan kepalanya lalu mulai menghubungi nomor Ibunya. Tidak lama kemudian Ibu Aura menjawab panggilannya.


“Ada apa, Bu?” Tanya Aura setelah mengucapkan salam.


“Kenapa bisa begitu, Bu? Ibu jangan menangis. Kami baik-baik saja, tidak ada masalah apa-apa.” Ucap Aura coba menenangkan hati Ibunya.


“Tapi, Nak…” Ucapan Bu Ayu terputus, tak kuasa ia menahan sebak di dalam hatinya.


“Ibu, kami hanya pergi satu malam saja, tidak akan lama. Sebaiknya sekarang Ibu perbanyak Istighfar agar hati Ibu menjadi tenang.” Ucap Aura dengan santun dan lembut sama sekali tidak terlihat sedang menggurui Ibunya.


“Baiklah, Dik. Kabari Ibu setelah kalian sampai di sana.” Sahut Ibu mengalah.


“Baik, Bu.” Sahut Aura lalu panggilan terputus setelah keduanya mengucapkan salam.


“Ibu kenapa sayang?” Tanya Rizky yang terlihat khawatir.


“Tidak apa-apa, Bang. Ibu hanya merasa tidak tenang.” Jawab Aura. Dari raut wajahnya ia terlihat agak panik dan bingung.


“Lalu kamu kenapa?” Tanya Rizky lagi. Ia membelai pipi istrinya dengan lembut.


“Aura hanya kepikiran dengan Ibu. Sejak tadi pagi Ibu seperti tidak rela membiarkan kita pergi ke puncak hari ini.” Jawab Aura. “Kalau menurut Aura, biasanya feeling seorang Ibu itu kuat dan jarang sekali salah.” Lanjutnya.


Rizky hanya mendengarkan dengan seksama.


“Apa mungkin akan terjadi sesuatu dalam perjalanan kita kali ini?” Ucap Aura menebak-menebak.


“Astaghfirullah, jangan berfikir seperti itu. In syaa Allah tidak akan terjadi apa-apa. Jika ada orang jahat, Abang yakin Abang bisa melindungi istri Abang dengan tangan Abang sendiri.” Ucap Rizky dengan percaya diri.


“Hehe.” Aura cengengesan melihat tingkah suaminya yang menunjukkan otot kekarnya padanya.

__ADS_1


“Jadi, apa kita sudah bisa melanjutkan perjalanan kita tuan putri?” Tanya Rizky sambil menghidupkan mobilnya.


“Baiklah, hehe.” Sahut Aura tertawa kecil.


Mobil pun mulai melaju melanjutkan perjalanan yang hanya sekitar 2 jam saja sudah akan sampai pada tujuan.


Saat dijalan tanjakkan Rizky menambah kecepatannya. Tapi begitu dijalan datar, ia ingin mengurangi kecepatan mobilnya namun tidak berhasil.


Rizky istighfar didalam hatinya. “Inikah hal yang membuat Ibu khawatir?? Tapi bagaimana bisa ini terjadi? Bukankah tadi baik-baik saja?” Rizky bertanya-tanya didalam hatinya.


“Bang, bawa mobilnya jangan cepat seperti ini, Aura takut.” Ucap Aura membuatnya tersadar.


“Sayang, maaf.” Sahut Rizky.


Rizky melihat di depan sana ada sebuah jembatan papan. Ia berfikir bahwa dibawahnya adalah sungai, pasti aman bagi Aura jika Aura jatuh disana, dan tidak akan merasa sakit jika jatuh ke dalam air.


“Aura sayang, rem kita blong.” Ucap Rizky.


“Apa?” Ucap Aura sangat kaget.


“Didepan ada jembatan, Aura harus melopat ke sungai. Mengerti!” Pinta Rizky pada istrinya dengan ragu dan khawatir.


“Apa?” Aura kaget sekali lagi. “Aura takut, Bang.” Ucapnya kemudian.


“Abang tau, tapi terpaksa kita harus melakukan ini. Abang janji akan segera menjemput Aura setelah mobil ini berhasil Abang hentikan.”


Aura masih merasa takut.


Rizky membuka pintu mobil Aura.


“Sekarang sayang, lompatlah.” Perintah Rizky.


Tanpa fikir panjang, Aura segera mengikuti keinginan suaminya, ini pasti jalan terbaik fikirnya.


Bahkan mereka berdua tidak tau seperti apa keadaan di bawah jembatan.


Setelah Rizky melewati jembatan, ia memperhatikan jalan yang ada didepannya. Sawah yang ditanami padi terbentang sejauh mata memandang. Dan ada beberapa orang petani yang sedang bekerja di sana.


Para petani merasa heran dengan mobil yang mereka lihat, mengapa begitu laju?


Tidak lama kemudian mobil tersebut masuk kedalam parit dipinggiran sawah, tapi masih saja melaju kencang. Para petani yang merasa penasaran plus khawatir, berbondong-bondong mengejar mobil tersebut. Hingga akhirnya mobil itu menabrak sebuah batu yang cukup besar dan berhasil berhenti.


Rizky keluar dari mobil sambil memegang tangannya karena merasa kesakitan.


“Kamu kenapa, Nak?” Tanya salah seorang petani.


“Pak, tolong istri saya. Dia tadi melompat ke sungai dijembatan sana.” Ucap Rizky sambil merintih kesakitan.


“Apa? Itu sangat berbahaya, Nak.” Sahut Pak petani dengan sangat khawatir.


Lalu Bapak tersebut membawa beberapa orang untuk mencari Aura.


Sementara Rizky ditinggalkan di mobil bersama Ibu petani.


Rizky berjalan pelan ke mobil dan mencari ponselnya, ia meminta Sidik untuk datang menjemputnya dan memberitahukannya bahwa ia mengalami kecelakaan di dekat persawahan.


“Bu, apakah benar berbahaya dibawah jembatan itu?” Tanya Rizky dengan perasaan menyesal karena telah memaksa Aura untuk melompat bahkan setelah istrinya itu mengatakan kalau ia merasa takut.


“Benar, Nak. Dibawah jembatan itu sungainya tidak terlalu dalam, banyak bebatuan yang cukup besar. Jika seseorang terjatuh disana, kemungkinan dia akan pingsan jika kepalanya terbentur batu, dan akan segera hanyut karena airnya juga lumayan deras.” Jawab si Ibu menjelaskan secara detail.

__ADS_1


“Astaghfirullah, Auraaa.. maafkan Abang…” Teriak Rizky didalam hatinya.


Tanpa ia sadari air matanya mengalir deras. Si Ibu petani yang berada disebelahnya memijit-mijit bahunya untuk membuatnya merasa lebih tenang.


__ADS_2