
Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.
Thank you. *Hug.
Happy Reading.... đź’•
Siang itu Anton datang ke hotel dan menemui Rizky.
"Mba, saya mau bertemu dengan Rizky." ucap Anton pada resepsionis.
"Apa sebelumnya Bapak sudah membuat janji dengan Pak Rizky?" tanya resepsionis tersebut.
"Belum." jawab Anton.
"Baik, tunggu sebentar ya, Pak." ucap resepsionis dan mulai menelepon.
Beberapa saat kemudian, resepsionis meminta Anton langsung masuk ke ruangan Rizky.
Anton pun segera pergi ke arah yang ditunjukkan oleh reseprionis tersebut.
Tokk.. Tokk... Tok.. Anton mengetuk pintu ruangan Rizky.
"Masuk." ucap Rizky dari dalam.
Lalu Anton pun membuka pintunya.
"Hey, silahkan duduk." ucap Rizky dengan sopan.
"Terima kasih. Maaf jika kedatanganku mengganggu pekerjaanmu." ucap Anton.
"No problem. Lagipula sudah hampir waktu jam makan siang. Saya sudah menyelesaikan pekerjaan saya." ucap Rizky. "Tapi sayangnya saya tidak bisa lama-lama menemani kamu. Karena sebentar lagi saya mau keluar." lanjut Rizky.
"Oh, tidak apa-apa. Aku juga tidak lama." sahut Anton.
"Angin apa yang membawamu datang kemari?" tanya Rizky.
"jadi begini, Ky. Aku sudah mulai mendekati Lucy dengan bantuan sepupumu Dona. Tapi sepertinya usaha kami sia-sia." jawab Anton.
"Owh, hehe. Ternyata masalah Lucy." ucap Rizky sambil tertawa kecil.
"Jangan tertawakan aku." ucap Anton sedikit kesal.
"Maaf, aku tidak bermaksud mentertawakanmu." ucap Rizky yang merasa bersalah.
"Apa kamu punya saran untukku?" tanya Anton.
"Hurrm.. Sebentar saya fikirkan dulu." jawab Rizky lalu memikirkan sesuatu. "Apa Lucy tau kamu ketua mafia?" lanjutnya.
"Tidak tau. Dona yang menyuruhku untuk merahasiakan hal itu agar Lucy tidak takut padaku." jawab Anton jujur.
"Lalu apa Lucy tidak takut padamu?" tanya Rizky.
"Tentu saja. Dia bahkan berani berbicara kasar padaku." jawab Anton.
"Kalau begitu sebaiknya kamu tunjukkan jati diri kamu yang sebenarnya. Tunjukkan pada Lucy bahwa kamu adalah ketua mafia, orang yang berbahaya. Mungkin dengan begitu dia takut padamu dan bisa menuruti kemauanmu." Rizky memberikan saran pada Anton.
"Apa kamu yakin hal itu tidak akan membuat dia semakin menjauhiku?" tanya Anton yang masih ragu dengan saran Rizky.
"Never try, never know." jawab Rizky.
"Baiklah, kali ini aku juga akan mengikuti saran darimu. Terima kasih." ucap Anton.
"Ok, no problem." jawab Rizky lalu tersenyum.
"Kalau begitu aku permisi." ucap Anton lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Iya, kebetulan saya juga ada urusan di luar. Ayo keluar sama-sama." ajak Rizky.
"Ok." sahut Anton.
Lalu Anton dan Rizky keluar dari hotel beriringan. Anton masuk ke dalam mobilnya.
Rizky juga masuk ke dalam mobil pribadinya. Rizky akan pergi ke kampus untuk memata-matai Jihan.
Sesampainya di kampus, Rizky merubah pakaiannya. Ia tidak lagi memakai kemeja, jas dan dasi. Tapi ia memakai topi, kaca mata hitam, dan jaket kulit. Rizky menyamar sebagai salah satu mahasiswa di kampus tersebut agar tidak ada orang yang mengenalinya.
Dari kejauhan ia melihat ada keramaian. Karena Rizky merasa penasaran, ia pun ikut berkumpul dikeramaian tersebut untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Saat Rizky sudah sampai dibarisan yang paling depan, dia melihat Jihan sedang berlutut.
"Kalian lihat! Gadis kampung ini! Pembantu ini! Berlutut dihadapanku, Kanaya!! Hahaha." ucap Kanaya dengan bangga.
"Jihan, ayo bangun. Kamu jangan mengalah padanya." ucap Salsa sahabat Jihan.
"Tidak apa-apa, Sa. Nyonya Muda yang mengajariku untuk tidak melawan, aku harus bisa sabar, agar Allah tetap sayang padaku." jawab Jihan yang meneteskan air matanya.
Rizky sangat terharu mendengar ucapan Jihan. Dia tidak menyangka bahwa Jihan akan menuruti ucapan Aura dan rela dipermalukan seperti ini. Rizky tidak menyangka bahwa ucapan Aura bisa membuatnya menjadi gadis yang sesabar dan setabah ini. Mengalah bukan berarti kalah.
Belum sempat Rizky bertindak, Firman berlari-lari kecil datang menghampiri Jihan.
"Jihan, ayo bangun." pinta Firman.
"Dia tidak akan bangun kalau bukan aku yang memintanya." ucap Kanaya.
"Kalau begitu suruh dia bangun sekarang juga!!" bentak Firman.
"Boleh-boleh saja. Tapi ada syaratnya." ucap Kanaya.
"Apa syaratnya?" tanya Firman.
"Kamu harus jadi pacarku." jawab Kanaya.
Firman tidak bisa menjawab. Dia mengepalkan kedua tangannya.
"Kenapa? Kamu tidak tau harus menjawab apa? Kamu bingung harus memilih aku atau dia? Hahahaha." Kanaya tertawa bahagia.
Rizky sudah tidak tahan melihat kesombongan gadis yang bernama Kanaya ini.
"Jihan, berdiri." ucap Rizky.
Jihan kaget mendengar suara Tuan Muda yang sangat ia kenali.
"Kamu jangan berani ikut campur!!" bentak Kanaya.
Rizky membuka kacamatanya.
Jihan dan Kanaya sama-sama kaget melihat Rizky.
__ADS_1
"Tu.. Tu.. Tuan Muda." ucap Kanaya gugup.
"Jihan, ayo berdiri." pinta Rizky dengan lembut.
Salsa membantu Jihan berdiri.
"Tuan Muda, kenapa bisa ada di sini?" tanya Jihan.
"Saya bebas pergi ke mana saja yang saya mau." jawab Rizky.
Lalu Rizky menatap Kanaya. Kanaya terlihat sangat gugup dan takut, dia tidak berani menatap Rizky.
"Kamu putri Pak Baskara. Benar, kan?" tanya Rizky.
"Benar, Tuan Muda." jawab Kanaya pelan. Ia mundur beberapa langkah dan menyembunyikan dirinya di belakang Friska.
"Kamu dengar baik-baik. Jihan sudah seperti Adik saya sendiri. Saya tidak akan tinggal diam jika ada orang yang berani mengganggunya dan menindasnya." ucap Rizky dengan tegas.
"Ma.. Maaf, Tuan Muda." ucap Kanaya gemetar.
"Kali ini saya akan memaafkan kamu. Tapi saya harap ini yang terakhir. Kalau tidak, saya akan melaporkannya kepada orang tuamu. Mengerti!" ucap Rizky dengan tegas.
"Iya, saya mengerti." jawab Kanaya.
"Sekarang kalian semua boleh pergi." ucap Rizky. "Kecuali kamu." lanjutnya.
Orang yang di maksud oleh Rizky menghentikan langkah kakinya.
"Siapa namamu?" tanya Rizky.
"Nama saya Firman, Tuan." jawab Firman.
"Kenapa tadi kamu mebela Jihan?" tanya Rizky lagi.
"Karena Jihan adalah teman saya." jawab Firman.
"Bagus, kalau begitu lain kali kamu harus melindungi dia." ucap Rizky.
"Baik, saya pasti akan melakukannya." ucap Firman dengan semangat.
Rizky menanggukkan kepalanya.
"Kamu sudah tidak ada mata kuliah lagi, kan?" tanya Rizky pada Jihan.
"Sudah tidak ada, Tuan Muda." jawab Jihan.
"Ayo pulang." ajak Rizky.
"Iya." jawab Jihan. "Salsa, Firman. Saya pulang duluan." sambungnya.
"Iya, hati-hati." jawab Salsa.
"Hati-hati di jalan Tuan Mudan dan Jihan." ucap Firman.
Jihan dan Rizky menganggukkan kepalanya.
Dalam perjalanan pulang, ada banyak hal yang ingin ditanyakan Jihan pada Rizky. Bagaimana Rizky bisa mengenal Kanaya? Bagaimana Rizky bisa ada dikampusnya? Dan seterusnya.
Demi rasa penasarannya, Jihan memberanikan diri untuk bertanya pada Rizky.
"Tu.. Tuaan Muda." ucap Jihan takut-takut.
"Saya ingin bertanya." ucap Jihan.
"Tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan." jawab Rizky.
"Boleh saya tau bagaimana tuan bisa mengenal Kanaya?" tanya Jihan.
"Oh, jadi namanya Kanaya." ucap Rizky.
"Iya, Tuan." sahut Jihan.
"Saya pernah melihat Kanaya menjumpai Ayahnya di hotel. Pak Baskara adalah salah satu staff HRD di hotel." jawab Rizky menjelaskan.
"Oh begitu. Jadi Ayah Kanaya staff HRD." ucap Jihan yang sudah mengerti.
"Iya." jawab Rizky singkat.
"Lalu kenapa hari ini Tuan Muda ada di kampus? Apa Nyonya Muda yang meminta Tuan Muda untuk datang?" tanya Jihan lagi.
"Iya, tentu saja. Aura tidak akan pernah bisa merasa tenang jika orang-orang dia sayangi di tindas oleh orang lain." jawab Rizky.
"Owh. Terima kasih tadi Tuan Muda sudah membantu saya." ucap Jihan.
"Iya, jangan sungkan." sahut Rizky.
Rizky memberhentikan mobil di depan pintu gerbang rumahnya.
"Alhamdulillah kita sudah sampai. Kamu masuk sendiri saja. Saya mau langsung pergi ke hotel." ucap Rizky pada Jihan.
"Baik, Tuan Muda. Sekali lagi terima kasih." ucap Jihan.
"Iya, sama-sama." jawab Rizky.
Jihan pun turun dari mobil dan Rizky langsung pergi menuju hotel.
"Mang Jajaaa.... Tolong buka pintu gerbangnya." ucap Jihan sambil memanggil Mang Jaja.
"Iya, Neng. Tunggu sebentar." sahut Mang Jaja dari dalam.
Mang Jaja membukakan pintu untuk Jihan, lalu Jihan masuk ke dalam.
"Terima kasih, Mang." ucap Jihan.
"Iya. Sama-sama, Neng." jawab Mang Jaja.
Lalu Jihan masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Jihan langsung menaruh tas dan bukunya di dalam kamar.
"Kak Chaca. Nyonya Muda ada di mana?" tanya Jihan pada Chaca yang sedang istirahat di katilnya.
"Sepertinya ada di ruang baca." jawab Chaca.
"Ok. Saya pergi menemui Nyonya Muda dulu sebentar." ucap Jihan.
"Iya." sahut Chaca.
Kemudian Jihan pergi ke ruang baca untuk menemui Nyonya Muda.
__ADS_1
"Nyonya Muda." sapa Jihan begitu ia ada dihadapan Aura.
Aura menoleh dan langsung menutup bukunya.
"Iya, ada apa Jihan?" tanya Aura.
"Hari ini Tuan Muda datang ke kampus. Terima kasih karena Nyonya Muda sudah menintanya untuk membantu saya." ucap Jihan dengan lembut.
Aura tersenyum pada Jihan.
"Alhamdulillah. Semoga setelah ini, mereka tidak berani lagi mengganggu kamu." ucap Aura sumringah.
Jihan pun duduk berhadapan dengan Aura.
"Aamiin Allahumma Aamiin." sahut Jihan. "Sayang sekali tadi Nyonya Muda tidak ada di sana." lanjutnya.
"Kenapa?" tanya Aura.
"Kalau Nyonya Muda ada di sana pasti bisa melihat bagaimana ekspresi Kanaya. Dia sangat ketakutan, Nyonya Muda." jawab Jihan.
"Oh ya? Apa Bang Rizky kasar padanya?" tanya Aura lagi.
"Tidak. Tuan Muda tidak kasar. Tapi begitu Kanaya melihat wajah Tuan Muda, dia sudah langsung takut, hehe." jawab Jihan dengan bahagia.
"Oh, begitu. Apa mungkin baginya wajah Bang Rizky itu menyeramkan. Haha." ucap Aura yang ikut tertawa.
"Padahal Tuan Muda sangat tampan. Tapi bisa mebuat Kanaya takut hanya dengan melihat wajahnya. Haha." ucap Jihan.
"Iya. Hehe." Aura dan Jihan tertawa bersama-sama.
"Sekarang kamu sudah tidak bad mood lagi?" tanya Aura.
"Alhamdulillah sudah tidak, Nyonya Muda. Saya malah merasa sangat bahagia karena Kanaya sudah mendapat pelajaran atas keusilannya." jawab Jihan.
"Baguslah kalau begitu. Jadi mulai sekarang kamu sudah bisa pergi kuliah dengan semangat dan aman." ucap Aura.
"Alhamdulillah ya Nyonya Muda." sahut Jihan. "Oh ya Nyonya Muda. Di sini bukunya banyak sekali." sambung Jihan sambil memperhatikan sekeliling.
"Iya, kamu juga boleh baca buku apa saja yang kamu mau." ucap Aura.
"Benarkah?" Jihan terlihat bahagia.
"Iya." jawab Aura dan tersenyum pada Jihan.
"Terima kasih, Nyonya Muda. Saya memang sangat butuh buku-buku untuk mencari materi tentang agama islam dan sumber referensi." ucap Jihan.
"Nah, kebetulan di sini yang paling banyak buku agama, hehe." sahut Aura.
"Iya, saya boleh langsung keliling untuk mencari buku-buku yang saya butuhkan, Nyonya Muda?" tanya Jihan.
"Tentu saja, silahkan." jawab Aura.
Lalu Jihan mulai memilih dan memilah buku-buku yang ia butuhkan.
Setelah merasa cukup, Jihan meminta izin pada Aura.
"Nyonya Muda, saya pinjam 6 buku ini ya." ucap Jihan.
"Iya, silahkan." jawab Aura.
"Terima kasih, Nyonya Muda." ucap Jihan. "Apa pinjam buku di sini ada batas waktunya? Hehe." tanya Jihan.
"Hahahaha. Memangnya ini perpus kampus kamu?" Aura tertawa mendengar pertanyaan Jihan.
"Maaf, Nyonya Muda. Saya hanya bercanda. Lumayan, tidak harus pinjam buku ke perpus. Hehe." ucap Jihan sumringah.
"Iya, tidak apa-apa, yang penting bukunya bermanfaat." jawab Aura.
"Baiklah. Saya permisi dulu ya, Nyonya Muda."
"Iya." sahut Aura.
Lalu Jihan pun pergi meninggalkan Aura. Ia langsung masuk ke kamar dan mulai membaca buku-buku yang baru dibawanya.
"Kak Chaca suka membaca buku atau tidak?" tanya Jihan begitu ia tiba di kamar.
"Tidak terlalu suka. Kakak kalau membaca pasti ujung-ujungnya mengantuk. Tapi kadang-kadang mau juga membaca jika ada buku yang menarik." jawab Chaca. "Bay the way, ini buku dari mana? Banyak banget." lanjut Chaca.
"Ini saya pinjam dengan Nyonya Muda dari ruang baca." jawab Jihan. "Apa Kakak mau baca juga?" tanyanya.
"Tidak, kamu saja yang baca. Hehe." jawab Chaca.
"Hehe." Jihan tertawa kecil melihat ekspresi penolakan dari Chaca.
Di ruang baca, Aura merasa sangat bahagia melihat Jihan yang sudah kembali ceria seperti sedia kala. Tidak henti-hentinya Aura mengucapkan syukur Alhamdulillah.
Aura menyimpan buku yang ia baca tadi, ia pergi ke kamarnya dan menelepon Rizky suaminya.
Tutt... Tutt... Tutt... Panggilan tersambung.
"Assalamu'alaikum Aura sayang, ada apa?" tanya Rizky begitu ia menjawab panggilan Aura.
"Wa'alaikumussalam. Tidak ada apa-apa, Bang. Apa harus nunggu ada apa-apa baru Aura boleh menelepon?" Aura balik bertanya pada Rizky.
"Tidak juga." jawab Rizky.
"Abang sedang apa?"
"Sedang makan siang."
"Kenapa makan siang jam segini?" Aura heran.
"Karena tadi jam makan siang Abang pergi ke kampus Jihan." jawab Rizky.
"Oh, begitu. Alhamdulillah tadi Jihan sudah ceria lagi, Bang. Hehe." ucap Aura sumringah.
"Alhamdulillah kalau begitu." sahut Rizky.
"Oh ya, Bang. Jihan bilang kalau Kanaya takut sama Abang." ucap Aura.
"Iya, karena Abang kenal dengan orang tuanya. Ayahnya salah satu staff HRD di hotel." Rizku menjelaskan pada Aura.
"Owh, pantesan." sahut Aura. "Abang lanjut saja makannya. Mau Aura tutup teleponnya." sambungnya.
"Iya. Assalamu'alaikum." ucap Rizky.
"Wa'alaikumussalam." jawab Aura.
__ADS_1
"Semoga Kanaya memang benar-benar jera dan tidak akan menindas Jihan lagi." ucap Aura di dalam kamarnya dan tersenyum. Dia merasa sangat-sangat lega karena Bang Rizky sudah turun tangan untuk menolong Jihan. Dan utung saja Kanaya takut pada Bang Rizky.