Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps 39


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu. Angel masih terus menantikan kehadiran Arfa di kampus.


“Angel.” Suci menepuk bahu Angel pelan saat Angel sedang bersandar dikursi taman. “Kenapa akhir-akhir ini kamu sering melamun?” Tanyanya. Suci adalah teman satu kelas Angel.


“Ci, aku sedang memikirkannya.” Jawab Angel terus terang.


“Aiyaaa. Untuk apa terus memikirkannya? Kalau jodoh tidak akan kemana-mana. Santai saja.” Ucap Suci dengan tenang.


“Jodoh tidak akan kemana-mana. Tapi saingan yang dimana-mana. Huffft.” Angel menghempas nafasnya.


“Saingan? Maksudmu Kakak senior yang memakai cadar itu?” Tanya Suci sembari menatap wajah Angel yang mungil.


“Dia tidak termasuk sainganku. Kamu sendiri juga tau dia selalu menolaknya.” Jawab Angel. “Tapi aku menyadari bahwa bukan hanya aku saja yang tertarik pada Bang Arfa, tapi ada banyak pasang mata yang menatap Bang Arfa setiap kali dia menginjakkan kakinya di kampus kita ini.” Lanjutnya.


“Haiisshhh. Mereka semua tidak sebanding denganmu. Begitu juga aku.”


“Tapi tetap saja aku tidak suka melihat orang lain menatap priaku.”


“Ok, Ok. Aku mengerti. Sudahilah melamunnya, kelas sudah akan dimulai. Ayo masuk.” Ajak Suci.


“Huhh. Sepertinya aku tidak mau masuk kelas.” Angel merengut.


“Jangan begitu. Kalau nanti nilaimu jelek Papamu pasti akan merasa kecewa denganmu.” Suci memberi peringatan.


“Iya juga sih.” Sahut Angel lalu beranjak dari kursi taman dan mengikuti Suci masuk ke dalam ruang kelasnya.


Disisi lain.


Zara dan Nayla baru saja selesai belajar dan keluar dari kelas.


Mereka berdua pergi ke kantin untuk membeli makanan ringan dan minuman.


“Aku saja yang membelinya. Kamu duduk saja disini.” Ucap Nayla.


“Baik. Terima kasih, Nay.” Sahut Zara.


Zara pun duduk di kursi yang kosong.


Ia mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Penasaran apakah ada pesan dari Zayn.


Tapi ternyata tidak ada pesan apapun dari siapapun.


Kemudian dia menelusuri akun Instagram miliknya.


“Ini milikmu.” Ucap Nayla sambil menyerahkan makanan ringan serta minuman kepada Zara.


Kemudian Nayla duduk berhadapan dengan Zara.


“Terima kasih, Nay.” Ucap Zara sumringah.


Mereka berdua mulai makan.


“Zara, kamu pasti merasa tenang karena Bang Arfa tidak pernah datang lagi.” Nayla memulai obrolan.

__ADS_1


“Tentu saja. Memang sudah seharusnya dia melakukan hal ini sedari dulu.” Jawab Zara.


“Iya, aku setuju. Jika dia menghilang sejak dulu, pasti Angel tidak akan mencari-cari dia. Karena pasti belum sempat bertemu.”


“Ugh. Benar banget. Sekarang setelah Bang Arfa yang menghilang, Angel yang selalu datang. Hmm.”


“Iya, lagi pula tuh bocah bisa-bisanya langsung jatuh cinta cuma karena tampang Bang Arfa yang lumayan.”


“Dia masih remaja. Masa-masa puber seperti itu memang mudah jatuh cinta. Kita maklumi saja.” Ucap Zara. “Tapi, aku heran deh. Kenapa dia bisa tau aku dan Bang Zayn suami istri?”


“Oh ya? Dia tau?” Nayla kaget.


“Iya.” Jawab Zara.


“Sepertinya dia memang memiliki Papa yang serba bisa. Pufffttt.” Ucap Nayla sembari menahan tawa.


“Apa maksudmu?” Zara mengernyitkan dahinya karena merasa heran.


“Umm, mungkin Om Anton itu sudah menyelidiki identitasnmu atau mungkin sudah menanyakan hal ini pada Ayahmu. Bukankah mereka berdua teman lama?” Nayla mengangkat alisnya.


“Yang kamu katakan masuk akal. Mungkin Om Anton sudah menemui Ayahku.” Zara menyetujui pendapat Nayla.


Nayla menganggukkan kepalanya beberapa kali.


Sementara itu di rumah sakit tempat Zayn bekerja.


Ponsel Zayn bergetar. Namun karena ia masih memiliki pasien. Ia belum bisa menerima panggilan tersebut.


“Baik Ibu. Apa ada yang mau ditanyakan lagi?” Tanya Zayn setelah selesai konsultasi.


“Ok. Kalau begitu silahkan Ibu mengambil obat di Apotik.”


“Baik, Dok. Terima kasih.” Kemudian si Ibu keluar dari ruangan Zayn.


Zayn buru-buru mengambil ponselnya dari dalam laci dan melihat siapa yang menghubunginya berkali-kali?


“Ustadz Ridwan.” Ucapnya setelah melihat 3 panggilan tak terjawab dari Ustadz Ridwan.


Kemudian Zayn menelepon Ustadz Ridwan. “Mungkin ada hubungannya dengan Bibi.” Pikirnya.


“Assalamu’alaikum, Ustadz.” Ucap Zayn setelah Ustadz Ridwan menjawab panggilan darinya.


“Wa’alaikumussalam, Zayn.” Sahut Ustadz Ridwan dari kejauhan. “Zayn. Alhamdulillah dia sudah siuman.” Lanjutnya memberi kabar baik.


“Alhamdulillah. Lalu bagaimana keadaannya saat ini, Ustadz?”


“Dokter sudah memeriksanya. Alhamdulillah keadaannya sudah stabil.”


“Alhamdulillah. Apa dia memberitahu namanya, Ustadz.”


“Iya, Nak Zayn. Kami sudah bertanya padanya dan namanya adalah Arumi.”


“Apa? Arumi?” Zayn kaget.

__ADS_1


“Iya, Zayn. Kenapa kamu kaget seperti itu?”


Zayn tidak menjawab.


Ia melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. “Sudah pukul lima sore.” Gumamnya didalam hatinya.


“Em, begini saja Ustadz. In syaa Allah besok pagi-pagi sekali aku dan istriku akan berangkat ke sana. Setelah sampai disana akan aku ceritakan pada Ustadz.”


“Baiklah kalau begitu Nak Zayn.” Sahut Ustadz Ridwan.


Panggilan terputus setelah keduanya mengucapkan salam.


“Alhamdulillah Bibi sudah siuman. Tapi kenapa bukan hanya wajahnya tapi namanya juga sama seperti nama Istri Om Amir?” Zayn bertanya-tanya.


“Sudahlah. Sebaiknya sekarang aku pulang saja lalu memberitahu Zara mengenai hal ini.” Gumamnya.


Zayn beegegas pulang ke apartment karena jam prakterknya juga sudah berakhir. Saat itu ia juga sudah tidak memiliki pasien yang mengantri.


“Zayn.”


Langkah kaki Zayn terhenti karena mendengar seseorang memanggil namanya.


“Ada apa?” Tanya Zayn.


“Hari ini mobilku masuk bengkel. Boleh aku menumpang?” Tanya Nana.


“Tidak bisa. Aku ada hal penting yang harus aku urus. Kamu pulanglah naik taxi.” Jawab Zayn datar lalu meninggalkan Nana.


“Iiihhhhh. Zayn ngeselin banget sih.” Nana menjadi kesal karena rencananya tidak berhasil. “Bahkan untuk menumpang dimobilnya saja tidak ia izinkan.” Ucapnya ketus.


Nana mempehatikan Zayn dari kejauhan. Setelah ia memastikan mobil Zayn sudah pergi jauh, ia pun masuk ke dalam mobilnya yang ia parkir dipojokan.


Dalam perjalanan pulangnya, Zayn merasa semakin penasaran tentang Bibi Arumi. Rasanya ia sudah tidak sabar ingin bercerita dengan Zara. “Mungkin Zara memiliki petunjuk.” Pikirnya.


Biar bagaimanapun juga Zara pernah tinggal satu atap dengan Om Amir dan juga Bibi Arumi.


Tidak lama kemudian Zayn tiba di apartment. Ia meraih kunci lalu membuka pintu.


Saat ia masuk, ia melihat Zara sedang duduk di sofa. Jika dikatakan sedang menonton televisi, tapi matanya menatap ponsel. Jika dikatakan bermain ponsel, tapi telivisi menyala.


“Assalamu’alaikum, Zara.” Ucap Zayn.


“Wa’alaikumussalam, Abang sudah pulang.” Zara meletakkan ponselnya diatas nakas lalu menghampiri Zayn dan mencium punggung tangannya.


Setelah itu mereka berdua duduk di sofa.


Zayn mematikan televisi. Zara tidak bergeming.


“Ustadz Ridwan sudah menghubungiku.” Zayn mulai bersuara.


“Oh ya? Ada kabar tentang Bibi?” Tanya Zara antusias.


“Iya. Alhamdulillah Bibi sudah siuman. Ustadz Ridwan berkata, namanya adalah Arumi.” Jawab Zayn sembari menatap wajah cantik Zara.

__ADS_1


“Apa? Arumi??” Zara sangat kaget mendengar nama ini. Dia membelalakkan kedua bola matanya lalu spontan meremas bahu Zayn.


__ADS_2