Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Wedding preparations


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu keluarga Bang Rafli datang lagi ke rumah untuk menyerahkan uang hantaran dan juga menentukan tanggal pernikahan. Waktunya hanya tersisa dua bulan dari sekarang. Ah, sesingkat itu.


"Bu, jika nanti Kak Mea sudah menikah kita hanya berdua donk, Bu." ucapku pada Ibu dengan perasaan sedih.


"Iya, tidak mengapa, Dik. Kak Mea umurnya sudah hampir 24 tahun, memang sudah pantas untuk menikah. Lagipula tidak baik lama-lama." Ucap Ibu menasehati aku yang sedang sedih.


"Iya ya, Bu."


"Nanti jika Aura menikah juga Ibu hanya tinggal seorang diri, Ibu tidak merasa keberatan, malah Ibu bahagia karena anak-anak Ibu sudah bertemu dengan jodohnya masing-masing, bisa hidup lebih baik dan lebih bahagia lagi."


"Ah, jangan di bahas, Bu. Aura tidak ingin menikah tuh."


"Husstt... Tidak baik ngomong begitu."


"Aura takut kalau nanti dapat suami seperti Ayah yang suka main tangan, Bu." ucapku pelan dan bersandar pada bahu Ibu.


"Jika Adik takut atau trauma dengan kejadian di masa lalu, Ibu memakluminya, Nak. Tapi bukan berarti Adik tidak nikah-nikah. Apa yang terjadi pada Ibu dan Ayah cukup dijadikan pelajaran buat Adik supaya tidak salah dalam memilih. Dulu Ibu terlalu cinta sama ayahmu, sampai tidak minta pendapat Allah terlebih dahulu. Makanya sekarang Ibu menyesal, jadi Ibu harap nanti Adik kalau mau memilih pasangan harus melibatkan Allah ya, minta pendapat Allah melalui Sholat Istikharah." Ibu menasehati aku panjang lebar, sementara aku masih terus bersandar di bahunya.


"In syaa Allah, Bu." jawabku singkat.


"Ya sudah, kamu pergi mandi gih, sudah sore ini." perintah Ibu.


"Baik, Bu." jawabku singkat dan berlalu meninggalkan Ibu.


Yang Ibu katakan itu memang benar, cinta tanpa melibatkan Allah bisa membuat kita tersesat dan salah dalam memilih. Karena apa yang terlihat baik, belum tentu benar-benar baik buat kita. Hanya Allah yang tau apa yang terbaik buat hamba-Nya.


Tapi biarpun begitu aku bukan tidak ingin mencoba untuk membuka hati, hanya saja hingga saat ini memang belum ada satupun lelaki yang bisa membuat aku jatuh cinta. "Bagaimana bisa jatuh cinta? Jika ada yang mau Aura langsung buang muka." ucap hati kecilku dan membuat aku terkekeh sendiri.


"Apa yang lucu, Dik?" tanya Kak Mea saat melihat aku tertawa sendiri sambil menuju kamar mandi.


"Ha? Tidak ada, Kak. Kakak bikin Adik kaget ih." ucapku.


"Owh, maaf. Habisnya Kakak heran lihat Adik ketawa sendiri, mau masuk kamar mandi pula. Agak-agak horor gimana gitu."


"Hehe, Kakak bisa saja. Adik mandi dulu ya, Kak." ucapku sambil nyengir kuda. Sudah tidak tau lagi mau alasan apa. Hahahh. Kak Mea hanya mengangguk.


***


Hari ini Ibu dan Kak Mea sangat kerepotan mempersiapkan nama-nama sanak saudara dan teman-teman yang akan di undang di acara pernikahannya Kak Mea.


"Jangan sampai ada yang terlupa ya, Nak. Nanti kita dikira sombong." ucap Ibu pada Kak Mea.

__ADS_1


"Iya, Bu."


"Bagaimana respon Ayah saat Mea bilang mau menikah?" tanya Ibu pada Kak Mea.


"Kalau menurut Mea sih Ayah biasa saja, Bu. Biarpun Ayah bilang ikut bahagia dengan kabar ini." jawab Kak Mea.


"Lalu apa Ayah mau datang di acara pernikahan nanti?"


"Ayah bilang in syaa Allah datang, nanti saat Ijab Qobul Ayah mau jadi wali Mea."


"Owh, baguslah kalau begitu."


"Oh ya, Bu. Ibu sudah booking teratak sama peralatan makan jalan, Bu?"


"Sudah, tadi Ibu sudah deal sama pemiliknya. Sekalian sama make up dan juga 5 pasang baju pengantin."


"Waaaahhh, Mea jadi tidak sabar, Bu. Kepingin pakai bajunya." ucap Kak Mea kegirangan.


Melihat ekspresi Kak Mea yang seperti itu membuatku merasa yakin bahwa pilihannya sudah sangat tepat. Bagaimanapun juga Kak Mea lebih tahu seperti apa sifat lelaki yang akan menjadi suaminya.


"Semangat sekali Kakak." ucapku lalu ikutan duduk bersama Ibu dan Kak Mea.


"Rasanya seperti ingin meledak ya, kak? Hahahh." ucapku sambil tertawa lebar.


"Bisa jadi. Hahah." lalu kami bertigapun tertawa bersama.


Setelah selesai menulis nama-nama pada undangan, Kak Mea menyusunnya serapi mungkin. Setiap alamat di susun terpisah agar mudah nanti saat penyebaran undangannya. Satu alamat di susun dalam satu kantong plastik.


Ibu dan Kak Mea pergi menyebarkan undangan mengendarai sepeda motor. Aku di rumah menjaga kios sambil nonton TV. "Semoga selamat pergi dan pulang ya Allah." bathinku.


"Ra, beli cabai sama bawang, Ra." ucap Kak Ayu tetangga kami.


"Iya Kak, berapa?"


"Cabai merahnya 1ons, bawang merah juga 1ons. Sama sayuran ini 1 ikat." pintanya.


Kemudian akupun mulai menimbang cabai merah dan di susul menimbang bawang merah.


"Berapa totalnya, Ra?" tanya Kak Ayu saat aku sudah selesai menyiapkan pesanannya.


"Rp.10.000 Kak." jawabku.

__ADS_1


"Oh ya, dengar-dengar Mea mau menikah ya?" tanyanya sambil menyerahkan selembar uang berwarna ungu.


"In syaa Allah iya, Kak."


"Kapan?"


"Sekitar sebulan setengah lagi, Kak. Nanti Kakak juga bakalan di undang. Hehehh." jawabku sambil cengengesan.


"Oh. Sama orang mana?" tanya nya lagi.


"Orang Namoterasi, Kak."


"Jauh ya. Memangnya sudah berapa lama kenalnya? Lalu calon suaminya kerja apa?" pertanyaannya semakin lama semakin banyak.


"Kalau itu Aura kurang tau, Kak. Aura nggak ada nanya-nanya sama Kak Mea. Kakak kalau mau tau lebih banyak, bagusan nanya langsung sama Kak Mea saja." jawabku.


"Owh begitu. Mea mana?"


"Pergi sama Ibu nyebar undangan."


"Oh ya sudah deh kalau begitu, aku pulang saja ya. Titip salam saja sama Mea, semoga lancar sampai hari H."


"Iya, Kak." jawabku singkat.


Tetangga-tetangga sudah pada kepo. Sebenarnya informasi seperti itu untuk apa mereka ya? Aku yang calon Adik Iparnya aja tidak kepengen tau dia kerja apa dan sebagainya.


"Btw ini sudah 2 jam lebih, kenapa Ibu dan Kak Mea belum pulang ya? Apa belum lapar? Inikan sudah waktunya makan siang." aku bertanya-tanya di dalam hatiku. Aku lihat keluar rumah, belum ada tanda-tanda kehadiran Ibu dan Kak Mea. Akhirnya aku masuk lagi ke dalam rumah dan lanjut menonton TV.


Setengah jam kemudian Ibu dan Kak Mea pulang. Mereka berdua terlihat sangat kelelahan. Mereka turun dari sepeda motor dan langsung duduk di depan TV. Aku pergi ke dapur untuk mengambilkan air minum.


"Capek ya?" tanyaku.


"Banget, Dik." jawab Kak Mea.


"Ini juga belum semua, Dik. Lanjut besok lagi." sahut Ibu.


"Ya sudah. Mau langsung makan siang tidak? Adik hidangin makanannya ya."


"Iya, Dik. Kami sudah lapar banget ini." ucap Kak Mea.


Kemudian aku langsung bergegas menyiapkan makanan. Aku juga sudah lapar dari tadi, tapi tetap mau menunggu Ibu dan Kak Mea pulang untuk makan bersama-sama. Tidak enak rasanya makan sendirian.

__ADS_1


__ADS_2