
Sore hari saat Rizky pulang kerja, Aura menyambutnya dengan penuh suka cita. Ia mengukir senyum semanis mungkin untuk menunjukkan pada suaminya bahwa saat ini ia sudah merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.
“Alhamdulillah, istri Abang tercinta sudah bisa senyum sekarang. Tidak murung lagi.” Ucap Rizky sumringah lalu langsung menenggelamkan Aura dalam dekapannya yang hangat dan penuh kasih sayang.
“Alhamdulillah, hehe.” Jawab Aura cengengesan. “Oh ya, Bang. Terima kasih untuk kejutannya hari ini. Dengan adanya Ibu di sisi Aura, Aura jadi merasa lebih baik. Aura jadi menyesal karena tidak menceritakan hal ini pada Ibu lebih awal.” Lanjutnya dengan manja.
“Tidak apa-apa. Yang sudah berlalu biarkanlah berlalu. Jangan di ungkit lagi. Karena sekarang yang terpenting bagi Abang adalah, senyum Aura sudah kembali lagi dan Aura sudah bisa ceria lagi.” Ucap Rizky.
“Iya, hehe.” Sahut Aura.
“Sudah mau maghrib, Abang mau mandi sebentar.” Ucap Rizky seraya melepaskan pelukannya.
“Siap boss.” Sahut Aura.
Rizky meraih handuk dan segera menuju kamar mandi.
Terbersit di benak Aura untuk menjodohkan Lilian sahabatnya dengan Dokter Wahyu sahabat suaminya. Karena setaunya, Dokter Wahyu juga masih single.
Saat adzan maghrib berkumandang, Aura dan Rizky pun berwudhu’ secara bergantian.
Setelah itu mereka menunaikan sholat maghrib berjamaah di dalam kamar. Kemudian di susul dengan sholat rawatib 2 rakaat.
Aura meraih Al-Qur’an lalu mulai membacanya dengan tartil. Aura dan Rizky mengaji secara bergantian hingga adzan isya berkumandang.
“Alhamdulillah sudah adzan isya. Aura mau wudhu’ lagi.” Ucap Aura lalu menyimpan Al-Qur’an yang ada ditangannya.
“Iya.” Sahut Rizky.
Mereka berdua berwudhu’ sekali lagi meskipun wudhu’ yang sebelumnya belum batal. Kemudian Aura dan Rizky menunaikan sholat isya berjamaah.
Selesai sholat, Aura merapikan mukenanya dan juga sajadah.
“Ayo turun, makan malam.” Ajak Rizky.
“Iya, Bang.” Sahut Aura.
Mereka berduapun turun ke bawah dan langsung menuju meja makan.
“Wah, ternyata sudah pada ngumpul. Kami telat ya?” Ucap Rizky begitu ia melihat Abi, Ummi dan Bu Ayu sudah stand by di meja makan.
“Tidak apa-apa. Ayo langsung duduk saja.” Pinta Ummi.
Aura dan Rizky pun duduk bersebelahan. Setelah Bi Sumi selesai menghidangkan makanan. Mereka pun mulai menyantap makan malam.
Setelah selesai dinner, mereka lanjut mengobrol hingga lupa waktu.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pulul 22:30WIB. Mereka semua memutuskan untuk pergi ke kamar masing-masing dan beristirahat.
“Bang.” Ucap Aura begitu mereka tiba di dalam kamar.
“Iya sayang, ada apa?” Tanya Rizky dengan lembut.
Aura memberi isyarat pada Rizky untuk segera duduk di sebelahnya. Rizky pun menuruti keinginan istrinya.
“Bang, Dokter Wahyu masih single kan?” Tanya Aura to the point.
“Hah? Kenapa?” Rizky tidak langsung menjawab. Rizky merasa terkejut mendengar pertanyaan Aura. Selama ini Aura tidak pernah bertanya yang aneh-aneh padanya, apa lagi bertanya tenyang laki-laki.
“Jawab dulu doknk.” Pinta Aura dengan manjanya.
“Iya, masih single. Lalu kenapa?” Tanya Rizky yang sudah tidak sabaran ingin segera mengetahui apa penyebab istrinya bertanya demikian.
__ADS_1
“Kebetulan besok Lilian juga mau datang ke sini untuk bertemu dengan Aura. Bagaimana kalau kita kenalkan saja mereka berdua, mana tau berjodoh.” Jawab Aura.
“Oh, itu toh alasannya bertanya Dokter Wahyu masih single?” Tanya Rizky yang sudah bisa menebak maksud istrinya.
“Iya.” Jawab Aura sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Sepertinya susah, sayang.” Ucap Rizky pelan.
“Loh, kenapa susah? Kan hanya kenalan.” Tanya Aura.
Sebelum Rizky menjawab pertanyaan Aura. Dia mengambil nafas dalam-dalam terlebih dahulu, lalu melepaskannya perlahan-lahan. Barulah ia siap untuk menjawab pertanyaan istrinya.
“Tiga tahun yang lalu, tunangan Dokter Wahyu mengalami kecelakaan lalu meninggal di tempat. Semenjak saat itu, Dokter Wahyu menutup dirinya dan tidak mengizinkan wanita manapun datang untuk mendekatinya. Selama ini, dihatinya hanya ada tunangannya itu. Tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan posisinya. Atau lebih tepatnya, Dokter Wahyu yang tidak mengizinkan posisi itu di isi oleh orang baru.” Jawab Rizky menjelaskan.
“Oh, kasihan sekali dia.” Ucap Aura yang prihatin dengan keadaan Dokter Wahyu.
“Iya.” Sahut Rizky. “Sekarang lebih baik kita tidur, sudah malam.” Lanjutnya seraya mengecup kening Aura dengan kelembutan.
“Iya, Bang.” Ucap Aura yang ikut masuk ke dalam selimut bersama Rizky.
***
Ting!! Ponsel Aura berbunyi tanda ada sebuah pesan masuk.
“Humm. Dari Lilian.” Gumamnya. Lalu ia membuka pesan tersebut.
“Assalamu’alaikum, Ra. Kirim alamat lengkap kamu. Aku sudah otw naik taxi.” Tulis Lilian.
“Wa’alaikumussalam. Iya, Li.” Balas Aura. Lalu ia mengetik alamat lengkap tempat ia tinggal dan segera mengirimnya pada Lilian.
Aura memasukkan ponselnya ke dalam saku gamisnya lalu berniat untuk pergi menemui Ibunya.
Saat ia sedang mencari-cari keberadaan Ibunya, ia dapati Ibunya sedang asik mengobrol dengan Ummi.
Ia pergi ke belakang menuju taman mini untuk menikmati angin sepoi-sepoi dan menikmati keindahan bunga-bunga yang di rawat dengan baik oleh tukang kebun, yaitu Pak Ujang.
“Cha, nanti kalau teman saya datang, langsung ajak ke belakang ya. Namanya Lilian.” Aura berpesan pada Chaca.
“Baik, Nyonya Muda.” Jawab Chaca.
Dua puluh menit kemudia, Chaca datang bersama Lilian.
“Ra.” Panggil Lilian begitu ia melihat Aura.
Aura langsung menoleh dan beranjak dari tempat duduknya. Lilian berlari-lari kecil menuju Aura dan langsung memeluk sahabatnya itu.
Chaca yang menemani Lilian ke belakang, segera pergi ke dapur untuk membuatkan minum.
“Lilian, Aura kangen.” Ucap Aura.
“Sama, aku juga.” Sahut Lilian.
Lilian melepaskan pelukannya lalu memperhatikan Aura dari kepala hingga kaki.
“Kamu kurusan ya?” Tanya Lilian yang terlihat sedih.
“Iya. Sedikit, hehe.” Jawab Aura dan tertawa kecil.
“Apa mau aku bawa jalan-jalan dan kuliner? Kita cari tempat makan yang enak-enak.” Ajak Lilian dengan semangat yang membara.
“Aura sih mau, tapi hari ini ada Dokter yang akan datang untuk memeriksa keadaan Aura.” Jawab Aura dengan lembut.
__ADS_1
“Yah, sayang banget. Padahal aku pingin jalan bareng kamu.” Ucap Lilian sambil memonyongkan bibirnya.
“Wah, maju dua centi tuh. Hahaha.” Aura mledek Lilian.
Lilian hanya membalas ucapan Aura dengan tertawa.
“Kita mau ngobrol di sini saja atau di dalam?” Tanya Aura.
“Di sini juga boleh. Di dalam juga boleh. Dimana-mana boleh.” Jawab Lilian.
“Hehehe. Kalau begitu kita duduk di sini saja.” Ucap Aura.
“Ok.” Sahut Lilian.
Chaca datang membawakan dua gelas syrup untuk Aura dan Lilian.
“Terima kasih, Cha.” Ucap Aura.
“Sama-sama Nyonya Muda.” Sahut Chaca.
“Cha? Namanya Icha juga?” Tanya Lilian yang hanya mendengar penggalan nama Chaca.
“Bukan Icha, tapi Chaca. Hehe.” Jawab Aura sambil tertawa kecil.
“Owh, Chaca.” Ucap Lilian sambil manggut-manggut. “Maaf ya, Cha. Panggilan kamu mirip dengan nama teman kami, Icha.” Lanjutnya.
“Iya, Non. Tidak apa-apa.” Ucap Chaca dan tersenyum manis.
“Kamu pasti lebih muda dari kami, kelihatan dari wajahnya.” Ucap Lilian.
“Iya, benar.” Jawab Chaca.
“Aura sayang...” Terdengar suara Rizky memanggil nama Aura.
Aura segera mencari-cari sosok Rizky.
“Ayo masuk. Bang Rizky dan Dokter Wahyu sudah datang.” Ucap Aura.
Lilian segera meneguk syrup yang baru saja dibawakan oleh Chaca. Kemudian dia menyusul Aura dan Chaca yang sudah jalan lebih dulu.
Rizky mengajak Aura untuk menemui Dokter Wahyu yang sudah menunggu di ruang tamu. Lilian juga ikut bersama mereka.
“Alisya.....!!” Ucap Dokter Wahyu yang sangat kaget. Sampai-sampai ia beranjak dari tempat duduknya. Matanya tak berkedip menatap sosok Lilian yang ia kira adalah Alisya, tunangannya yang sudah meninggal tiga tahun yang lalu.
“Alisya? Alisya siapa? Alisya bukannya nama istri Bang Sidik?” Tanya Aura seraya menatap wajah Rizky.
“Alisya itu..”
“Teman saya.” Dokter Wahyu langsung memotong ucapan Rizky. “Bisa kita bicara sebentar?” Pinta Dokter Wahyu pada Rizky.
“Baik.” Sahut Rizky.
Lalu mereka berdua segera menepi dan berbicara secara pribadi.
“Itu Donter yang datang untuk memeriksa kamu, Ra?” Tanya Lilian berbisik pada Aura.
“Iya.” Jawab Aura pelan.
“Tampan.” Bisik Lilian lagi.
Aura tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
“Tadinya aku berniat untuk menjodohkan kalian, tapi sepertinya tidak mudah untuk melakukan hal itu.” Gumam Aura di dalam hatinya.