
Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.
Thank you. *Hug.
Happy Reading.... 💕
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat sedang asik mengobrol dengan Ummi dan Kak Agatha di depan TV, tiba-tiba aku merasa mual. Aku segera lari menuju kamar mandi.
Huek... Huek... Huek...
Aihh, perutku rasanya tidak enak sekali. Kepalaku juga pusing.
Huek... Huek... Huek...
Setelah beberapa kali muntah, aku keluar dari dalam kamar mandi. Kak Agatha menghampiriku.
"Aura, mual ya? Sini Kakak oleskan minyak kayu putih." Kak Agatha memapahku kembali duduk di sofa.
"Terima kasih, Kak." ucapku. Kak Agatha pun mulai mengoleskan minyak kayu putih di pundakku. Setelah itu aku lanjut oles di bagian perut dan dada agar anginnya keluar dari tubuhku.
Tepat pukul dua belas, Ummi meminta Bi Sumi untuk menghidangkan makan siang di meja makan. Lalu aku, Ummi, Kak Agatha, Rasya dan Bella makan siang.
Setelah selesai makan siang, aku pergi masuk ke dalam kamarku untuk menunaikan sholat dzuhur empat rakaat. Sedangkan Ummi dan Kak Agatha sholat dzuhur di ruang sholat.
Pukul dua Kak Agatha pamit untuk pulang ke rumahnya.
"Cium tangan Nenek dan tangan Ucu, sayang." perintah Kak Agatha pada Rasya dan Bella.
Rasya dan Bella menuruti perintah Mamanya, mereka berdua mencium punggung tanganku dan Ummi secara bergantian.
"Hati-hati di jalan." ucap Ummi pada Kak Agatha. "Jangan ngebut." lanjut Ummi.
Kak Agatha mengendarai mobil sendiri tanpa supir pribadi.
"In syaa Allah, Mi. Lagi pula bawa dua bocil, mana berani ngebut-ngebut, hehe." jawab Kak Agatha sambil cengengesan.
"Rasya, Bella, sini cium pipi Nenek dulu donk." pinta Ummi, lalu Ummi berlutut agar Rasya dan Bella mencium Ummi.
"Iya, Nek." ucap Bella.
Bella mencium pipi kanan Ummi, sedangkan Rasya mencium pipi kiri Ummi. Setelah itu Ummi mengeluarkan dua lembar uang. Satu lembar untukk Rasya dan yang satunya lagi untuk Bella.
"Uangnya di simpan baik-baik." ucap Ummi.
"Iya, Nek." jawab Rasya dan Bella serentak. Mereka berdua terlihat sangat bahagia menerima uang jajan dari Neneknya.
"Oh ya, Kak. Aura mau mengucapkan terima kasih karena sudah bawain cemilan, puding dan alpukat." ucapku lalu tersenyum pada Kak Agatha.
"Cuma begitu saja, tidak perlu bilang terima kasih." ucap Kak Agatha.
__ADS_1
"Kalau begitu besok lagi. Haha." aku tertawa sambil menutup wajahku karena malu. "Just kidding, Kak." sambungku.
"Iya, tidak masalah. Kami berangkat sekarang ya." ucap Kak Agatha.
"Iya, hati-hati." sahut Ummi.
Kemudian Kak Agatha dan anak-anaknya masuk ke dalam mobil dan perlahan-lahan pergi meninggalkan pekarangan rumah kami.
"Ummi, kepala Aura pusing." ucapku sambil memegang kepalaku yang tiba-tiba pusing lagi.
"Oh, Aura istirahat saja dulu di kamar ya. Tidur siang. Mudah-mudahan nanti setelah bangun tidur pusingnya sudah hilang." ucap Ummi memberi saran.
"Baik, Mi. Aura naik ke atas ya." ucapku.
"Iya." sahut Ummi.
Aku pun naik ke atas untuk tidur siang. Pukul 15:23WIB aku terbangun. Aku masih berbaring di katil hingga adzan ashar berkumandang.
Saat adzhan, aku bangkit lalu pergi ke kamar mandi untuk wudhu' dan menunaikan sholat ashar.
Pukul lima Bang Rizky pulang kerja. Aku baru selesai mandi.
"Abang, kapan sampai?" tanyaku. Ketika aku keluar dari kamar mandi Bang Rizky sedang duduk di kursi santai.
"Baru saja." jawabnya, lalu meraih handuknya. Bang Rizky langsung pergi mandi.
Beberapa menit kemudian Bang Rizky keluar dari kamar mandi, aku sudah menyiapkan pakaian untuknya di atas tempat tidur.
"Aura pucat banget." Bang Rizky terlihat sangat khawatir.
"Hari ini Aura sudah muntah berkali-kali, Bang. Dari tadi siang juga kepala Aura pusing." ucapku pelan. Tubuhku rasanya lemah tak berdaya.
"Kita pergi ke dokter ya." ajaknya.
"Tidak perlu, Bang. Aura hanya butuh istirahat. Banyak makan sayur dan makan buah." ucapku.
"Oh, tunggu sebentar." ucapnya lalu pergi meninggalkanku sendirian di kamar.
"Bang Rizky mau kemana? Tergesa-gesa begitu." gumamku di dalam hati. Setelah Bang Rizky pergi, aku baringkan lagi tubuhku.
***
Rizky berlari-lari kecil menuju dapur hendak mengambilkan buah untuk istrinya.
Sesampainya di dapur, Rizky langsung memotong beberapa buah apel dan buah mangga.
"Tuan Muda. Sedang apa? Kalau butuh apa-apa bisa minta sama Bibi." ucap Bi Sumi yang sedang melihat Rizky nemotong buah.
"Tidak apa-apa, Bi. Ini saya cuma potong buah saja, untuk Aura." jawab Rizky.
"Nyonya Muda ngidam lagi, Tuan?" tanya Bi Sumi.
__ADS_1
"Tidak, Bi. Ini asupan untuk Aura agar tidak kekurangan nutrisi karena hari ini sudah muntah berkali-kali." jawab Rizky.
"Owh, kalau begitu Bibi tinggal ya Tuan Muda." ucap Bi Sumi.
"Baik, Bi." Rizky tersenyum pada Bi Sumi.
Setelah Rizky memotong buah yang cukup untuk Aura, Rizky lanjut membuat jus Alpukat. Setelah itu dia kembali lagi ke kamar.
***
Kreekkk.. Suara pintu kamar di buka.
Aku melihat Bang Rizky masuk ke dalam kamar dan membawakan segelas jus alpukat dan juga buah yg sudah dipotong-potong di mangkuk.
"Aura sayang, abang bawakan buah. Kita makan sama-sama ya." ucap Bang Rizky.
Aku bangun perlahan-lahan dan duduk tepat disampingnya. Wajahku pucat, badanku lemas. Semoga malaikat kecilku yang di dalam tidak kenapa-kenapa. Aamiin ya Allah.
"Terima kasih ya, Bang." ucapku.
"Iya, sama-sama." jawab Bang Rizky.
"Padahal tadi pagi Kak Agatha sudah minta Jihan untuk membuatkan jus alpukat untuk Aura. Sekarang Abang buatkan jus alpukat lagi untuk Aura. Kakak dan Adik kompak banget, hehe." ucapku sambil cengengesan.
"Oh, ya?" tanya Bang Rizky tidak percaya.
"Iya." jawabku sambil mengangguk-anggukkan kepalaku.
"Tapi yang ini beda. Ini buatan Abang spesial untuk istri Abang tercinta, haha." ucap Bang Rizky dengan pedenya sambil menyuapiku.
"Iya iya." jawabku lalu tersenyum padanya.
Ya Allah, hingga hari ini Aura tidak henti-hentinya bersyukur karena telah menjadi bagian dari keluarga ini.
Terutama menjadi istri Bang Rizky, Aura sangat bersyukur karena bisa menikah dengan laki-laki yang sangat baik dan sangat perhatian seperti dia. Alhamdulillah.
"Aura masih mau lagi?" tanya Bang Rizky. Tidak terasa buah yang di mangkuk sudah habis.
"Tidak, Bang. Besok saja lagi." jawabku.
"Ok. Kalau begitu sekarang minum jus alpukatnya." ucap Bang Rizky lalu menyodorkan segelas jus.
"Aura minum setengah saja, sisanya Abang yang minum ya." ucapku.
"Iya sayang." jawabnya.
Kemudian aku meminum jus alpukat setengah lalu sisanya aku berikan pada Bang Rizky.
"Terima kasih banyak Bang Rizky sayang." ucapku lalu memeluknya.
"Sama-sama." jawabnya lalu mengecup keningku dan membelai rambutku dengan lembut.
__ADS_1
Semoga kebahagiaan di dalam rumah tangga kita berkekalan hingga akhir hayat. Aamiin Allahumma Aamiin.