Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Aura Histeris


__ADS_3

Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.


Thank you. *Hug.


Happy Reading... đź’•


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat Chaca teriak mencari ibunya, Bi Sumi Ada di taman mini. Mendengar Chaca teriak-teriak memanggilnya, Bi Sumi langsung lari ke dapur untuk menemui putrinya.


“Ada apa, Nduk?” Tanya Bi Sumi pada Chaca saat mereka sudah bertemu.


“Nyonya Muda berdarah, Bu. Huu..uu.” Chaca menangis karena terlalu panik dan takut terjadi sesuatu yang tidak baik pada majikannya.


“Astaghfirullah, di mana?” Bi Sumi juga ikut panik setelah tau Aura berdarah.


“Di ruang tamu, Bu.” Jawab Chaca.


Lalu mereka berdua langsung pergi ke ruang tamu.


Bi sumi memeriksa keadaan Aura. Dilihatnya darah yang mengalir sudah banyak, bahkan wajah Aura juga pucat.


“Ada apa ini?” Tanya Ummi yang baru pulang dari undangan.


“Alhamdulillah, Nyonya sudah pulang. Ayo bawa Nyonya Muda ke rumah sakit.” Ajak Bi Sumi.


“Apa yang terjadi pada Aura?” Ummi ikutan panik.


“Saya tidak tau, Nyonya. Tadi Nyonya Muda sedang makan kue saat saya tinggal. Lalu saat saya kembali ke sini lagi, Nyonya Muda sudah pingsan. Hiks hiks hiks.” Jawab Chaca yang masih menangis.


“Ya sudah. Ayo bantu saya bawa Aura ke mobil.” Ucap Ummi. “Chaca ikut ke rumah sakit supaya nanti bisa cerita dengan Rizky apa yang terjadi.” sambung Ummi.


Mereka pun membawa Aura masuk ke dalam mobil. Lalu segera meluncur ke rumah sakit.


Setelah Aura dilarikan ke UGD, Ummi menelepon Rizky.


“Assalamu’alaikum, Rizky.” Ucap Ummi saat Rizky sudah menjawab telepon.


“Wa’alaikumussalam. Ada apa, Mi?” Tanya Rizky.


“Ke rumah sakit sekarang.” Pinta Ummi.


“Ummi sakit?” Tanya Rizky.


“Bukan Ummi, tapi Aura.” Jawab Ummi.


“Apa? Aura?” Rizky yang kaget langsung beranjak dari tempat duduknya.


“Iya.” Jawab Ummi.


Rizky yang sedang panik dan terlalu mengkhawatirkan Aura, langsung pergi menuju rumah sakit.


Fikirannya hanya tertuju pada Aura dan hampir saja ia mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan.


“Ummi, Aura di mana?” Tanya Rizky begitu ia sampai di rumah sakit.


“Tenang, Nak. Aura masih di dalam ruang UGD.” Jawab Ummi.


“Kenapa bisa begini? Padahal tadi siang Aura masih baik-baik saja dan masih ceria.” Ucap Rizky lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


Ia membanting bok*ngnya dan duduk di sebelah Ummi.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Rizky yang emosi.


“Ummi juga tidak tau.” Jawab Ummi. “Chaca, coba ceritakan bagaimana kejadian yang sebenarnya?” Tanya Ummi pada Chaca yang ikut ke rumah sakit bersama Ummi.


“Tadi Mang Jaja memberi sekotak kue pada saya. Mang Jaja bilang itu untuk Nyonya Muda. Awalnya saya dan Nyonya Muda tidak tau siapa yang mengirim kue itu. Tapi saat Nyonya Muda membuka kotak kue, Nyonya Muda langsung berfikir bahwa Tuan Muda yang mengirimkan kue itu untuknya.” Jawab Chaca yang terus saja menundukkan wajahnya. Ia takut jika Tuan Muda marah padanya.


“Kue apa?” Tanya Rizky yang bingung. “Saya tidak membeli kue apapun.” Sambungnya.


“Ah, benarkah?” Chaca langsung menatap Rizky.


“Iya. Kue apa yang kamu maksud?” Tanya Rizky lagi.


“Kue nya masih ada di rumah, Tuan Muda.” Jawab Chaca lalu mengeluarkan gawainya dari dalam saku. “Saya sempat foto kue nya sebelum di makan oleh Nyonya Muda. Ini fotonya Tuan Muda.” Lanjutnya sambil menyerahkan ponselnya pada Rizky.


Rizky meraih ponsel Chaca dan melihat foto kue yang dimaksud oleh Chaca.


Tidak berapa lama kemudian, Dokter keluar dari ruang UGD. Ummi, Rizky dan Chaca beranjak dari tempat duduknya dan terus menghampiri Dokter.


“Dokter, bagaimana keadaan Aura?” Tanya Ummi.


“Bagaimana keadaan istri saya, Wahyu?” Tanya Rizky.


“Aura sudah melewati masa kritisnya. Tapi sayangnya, Aura sudah keguguran bahkan sebelum ia sampai ke rumah sakit.” Jawab Dokter.


“Apa? Keguguran?” Rizky sangat kaget mendengar penuturan Dokter Wahyu.


“Astaghfirullah. Nyonya Muda, hiikksss.” Ucap Chaca pelan dan terisak.


Ummi lemas dan terduduk di atas kursi setelah tau Aura keguguran.


“Iya, benar. Keguguran. Dan kami ingin meminta persetujuan keluarga pasien untuk melakukan operasi Dilation and Curettage (D&C) atau biasa di sebut dengan kuret. Operasi ini bertujuan untuk mengeluarkan jaringan di dalam uterus ketika terjadi keguguran.” Ucap Dokter Wahyu.

__ADS_1


“Baiklah, lakukan yang terbaik untuk istri saya. Saya percaya padamu, Wahyu.” Ucap Rizky. “Tapi apa saya boleh tau, apa yang menyebabkan istri saya mengalami keguguran?” Tanya Rizky.


“Untuk hal itu kami belum bisa menjawabnya. Kami akan mengambil sample darah Aura dan mengeceknya di lab. Setelah hasilnya keluar kami pasti akan langsung memberitahukan keluarganya. Banyak-banyak sabar dan berdo’a, Ky.” Jawab Dokter Wahyu.


Rizky hanya mengangguk pelan dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Mi, Rizky tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Aura setelah dia tau bahwa dia sudah kehilangan bayinya.” Ucap Rizky pada Ummi. Rizky sangat sedih bahkan air matanya juga mengalir.


“Sabar, Nak.” Ucap Ummi sambil mengelus-elus bahu Rizky, supaya Rizky bisa merasa lebih tenang. Padahal Ummi juga sangat terpukul dengan kejadian ini.


Setelah Rizky setuju bahwa Aura akan menjalani operasi kuret, Aura langsung dipindahkan dari ruang UGD ke ruang operasi.


Rizky terus saja menggenggam tangan Aura yang masih terbaring di ranjang dan tak sadarkan diri.


Sesampainya di ruang operasi, Ummi, Rizky dan Chaca menunggu di luar.


Rizky tau betul bagaimana Aura sangat mendambakan kehamilannya ini. Tapi Qodarullah, Allah sudah mengambilnya lagi sebelum dia dan istrinya sempat menggendong malaikat kecil yang sudah lama mereka nantikan.


Chaca masih saja sedih mengingat bagaimana bahagianya Aura siang tadi, tapi sekarang malah terbaring lemah di rumah sakit.


“Cha, minta Bi Sumi untuk menyimpan kue yang kamu katakan tadi.” Pinta Rizky.


“Baik, Tuan Muda.” Jawab Chaca.


Kemudian Chaca menelepon ibunya dan meminta ibunya untuk menyimpan kue yang mencurigakan itu.


Setelah lama menunggu, akhirnya Dokter Wahyu keluar dari ruang operasi.


Ummi, Rizky dan Chaca langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Dokter Wahyu.


“Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar. Pasien akan segera kami pindahkan ke kamarnya.” Ucap Dikter Wahyu.


“Alhamdulillah.” Ucap mereka bertiga serentak.


Lalu para perawat keluar dari ruang operasi dan membawa Aura menuju kamarnya untuk beristirahat.


“Ummi, jika Ummi lelah, Ummi pulang saja bersama Chaca dan Pak Ujang. Rizky yang akan menemani Aura di sini.” Ucap Rizky.


“Tidak, Ummi mau tetap di sini hingga Aura siuman.” Jawab Ummi.


“Baiklah, kalau begitu Chaca saja yang pulang duluan dengan Pak Ujang.” Ucap Rizky.


“Baik, Tuan Muda.” Sahut Chaca. Lalu Chaca keluar dari rumah sakit dan menemui Ayahnya yang sedari tadi menunggu di dalam mobil.


Satu jam kemudian...


Rizky melihat jari-jari Aura bergerak perlahan-lahan.


“Ummi, sini.” Panggil Rizky dengan berbisik pada Ummi.


“Lihat jari-jari Aura, Mi.” Ucap Rizky.


Ummi tersenyum dan mengangguk.


Ummi dan Rizky fokus pada kedua mata Aura, setia menunggu hingga kedua matanya terbuka.


Dengan perlahan-lahan, Aura mulai membuka matanya. Saat matanya terbuka, ia melihat Rizky dan Ummi tersenyum padanya.


“Ki..ta..di..mana?” Tanya Aura terbata-bata.


“Alhamdulillah, Aura sudah siuman. Kita berada di rumah sakit, sayang.” Jawab Rizky.


“Aura sakit apa?” Tanya Aura.


“Aura harus tetap tenang dan sabar ya, sayang.” Pinta Rizky.


Rizky tidak tega memberitahukan yang sebenarnya pada Aura. Lalu ia memberi kode pada Ummi melalui matanya, ia minta Ummi yang menyampaikan hal itu pada Aura.


“Aura, apapun yang akan Ummi katakan nanti, kamu harus janji kamu akan sabar dan Ikhlas.” Ucap Ummi.


“Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Aura yang sudah semakin penasaran.


“Kamu.... keguguran.” Jawab Ummi dengan berat hati.


“Apa? Keguguran? Tiddaaaaaaaakkkkkkk.... Aaaaaaaa.... Tidak mungkin........” Aura langsung menangis histeris dan langsung terduduk di tempat tidurnya.


“Sabar sayang.” Ucap Rizky.


“Sabar, Nak.” Ucap Ummi yang langsung memeluk tubuh Aura.


“Aaaaaaa.. Aaaaaa.. Itu tidak benar kan, Bang?” Tanya Aura yang menangis dengan sejadi-jadinya.


Gantian Rizky yang memeluk Aura.


“Qadarullah Wama Sya’a Fa’al. (Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan). Kita harus ikhlas, sayang.” Ucap Rizky yang memeluk Aura dengan erat agar Aura bisa lebih tenang.


“Tidaaaaakkkkk!!” Teriak Aura. “Aura tidak boleh keguguran, tidak boleeehhhh!! Huuwwaaaaaaaa!” Aura masih saja histeris dan meronta-ronta, bahkan dalam pelukan Rizky pun Aura memberontak.


Rizky tidak sanggup melihat istri tercintanya tersiksa bathin seperti ini. Ia pun pergi menemui Dokter Wahyu.


“Wahyu, apa ada cara untuk membuat Aura tenang?” Tanya Rizky begitu ia sudah masuk ke dalam ruangan Dokter Wahyu yang merupakan sahabatnya itu.


“Ada, kita terpaksa memberinya suntikan obat penenang agar ia bisa tertidur lagi.” Jawab Dokter Wahyu.

__ADS_1


“Baiklah, lakukan saja.” Sahut Rizky.


Lalu mereka berdua kembali ke ruangan Aura.


Di dalam kamar Aura masih menangis meronta-ronta. Ummi mengelus-elus punggungnya untuk menenangkannya, namun usaha Ummi itu sia-sia saja.


Dokter Wahyu langsung menyuntikkan obat penenang. Perlahan-lahan Aura mulai memejamkan matanya dan tidak sadarkan diri.


Setelah itu Dokter Wahyu meninggalkan kamar Aura. Rizky mengikuti Dokter Wahyu dari belakang.


Setelah tiba di ruangan Dokter Wahyu, ia bertanya pada Rizky.


“Ada hal apa lagi, Ky?” Tanya Dokter Wahyu.


“Hikss hiks.. Izinkan aku menangis di sini sebentar saja.” Ucap Rizky yang kedua pipinya sudah basah.


“Iya, menangislah jika itu bisa membuatmu jadi lebih baik.” Sahut Dokter Wahyu.


“Hatiku sangat sakit melihatnya seperti itu. Argghh.” Ucap Rizky.


“Iya, aku tau. Walaupun aku masih jomblo, tapi aku bisa mengerti rasa sakit yang kamu maksudkan. Mungkin rasa sakitmu itu mirip dengan rasa sakitku ketika aku kehilangan Alisya dulu.” Ucap Dokter Wahyu sambil duduk dikursinya.


“Hikss. Maafkan saya, saya tidak bermaksud mengingatkanmu pada Alisya.” Ucap Rizky pelan.


“Tidak apa-apa. Ini bukan salahmu, aku yang belum bisa mengikhlaskan kepergiannya. Padahal dia sudah meninggal 3 tahun yang lalu.” Jawab Dokter Wahyu.


“Wahyu, terima kasih atas tumpangannya. Saya mau kembali ke kamar Aura.” Ucap Rizky lalu bangkit dari tempat duduknya.


Ttokk... Ttokk... Ttokk.. Tiba-tiba ada yang mengetok pintu.


“Masuk.” Ucap Dokter Wahyu.


Lalu masuklah seorang perawat wanita mengantarkan sebuah file.


“Ini hasil tes lab pasien bernama Aura, Dok.” Ucap perawat tersebut.


“Ok, terima kasih.” Ucap Dokter Wahyu sambil membuka file yang diberikan oleh perawat itu.


“Sama-sama. Saya permisi, Dok.” Ucap perawat tersebut lalu pergi meninggalkan ruangan Dokter Wahyu.


Rizky tidak jadi meninggalkan ruangan Dokter Wahyu, ia langsung penasaran dengan hasil tes lab milik Aura.


Setelah Dokter Wahyu selesai membaca hasilnya, Rizky langsung bertanya padanya.


“Bagaimana hasilnya?” Tanya Rizky antusias.


“Di sini tertulis bahwa Aura ada mengonsumsi obat antivirus yang biasanya digunakan dalam kombinasi dengan interferon untuk mengobati hepatitis C berkelanjutan. Nama antivirus itu adalah Ribavirin. Ribavirin sangat berbahaya untuk dikonsumsi oleh ibu hamil. Bahkan, seorang wanita disarankan untuk menunggu selama 6 bulan setelah menghentikan pengobatan ribavirin jika ingin memulai program hamil.” Jawab Dokter Wahyu menjelaskan.


“Anti virus apa? Saya tidak pernah melihat Aura mengonsumsi obat selain vitamin ibu hamil.” Ucap Rizky heran.


“Hmm, mungkin ada seseorang yang mencampurkannya ke dalam makanan.” Dokter Wahyu menebak-nebak.


“Bisa jadi, karena Chaca tadi cerita ada orang yang mengantarkan kue ke rumah. Nah setelah makan kue itu Aura pingsan dan mengeluarkan banyak darah.” Ucap Rizky.


“Kalau begitu ambil sample kue itu dan bawa ke sini. Saya akan mengantarkannya ke lab untuk di periksa.” Pinta Dokter Wahyu.


“Baik, sebentar.” Sahut Rizky.


Kemudian Rizky menelepon ke rumahnya.


“Halo.” Bi Sumi menjawab panggilan Rizky.


“Bi, tolong suruh Chaca atau Jihan datang ke rumah sakit bersama Pak Ujang membawa sample kue yang di makan oleh Aura.” Perintah Rizky.


“Baik, Tuan Muda.” Sahut Bi Sumi. Lalu Rizky menutup telepon.


Di rumah Rizky, Bi Sumi mengambil sedikit kue lalu memasukkannya ke dalam tupperware berukuran kecil. Setelah itu pergi ke kamar Jihan dan Chaca.


“Nduk, tolong antarkan ini ke rumah sakit. Tuan Muda minta sample kue ini.” Ucap Bi Sumi.


“Chaca atau Jihan yang pergi, Bu?” Tanya Chaca.


“Pergi berdua juga tidak apa-apa.” Jawab Bi Sumi.


“Tapi nanti Ibuk jadi sendirian di rumah kalau Jihan dan Kak Chaca pergi.” Ucap Jihan.


“Tidak apa-apa, hanya sebentar saja. Setelah sample kue ini di terima Tuan Muda, kalian berdua langsung pulang,” jawab Bi Sumi.


“Baik, Bu.” Sahut Chaca.


Kemudian Jihan dan Chaca bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.


“Kak, Nyonya Muda kasihan banget ya. Padahal Nyonya Muda orangnya sangat baik.” Ucap Jihan.


“Iya, Kakak juga tidak menyangka bahwa kue itu bisa membuat Nyonya Muda keguguran.” Sahut Chaca.


“Jihan merasa, sepertinya ada sesuatu di dalam kue itu.” Ucap Jihan.


“Kakak juga berdikir demikian. Mungkin memang ada sesuatu di dalam kue ini, itu sebabnya Tuan Muda Rizky meminta sample kue ini.” Ucap Chaca.


“Sudah-sudah, Do’akan saja semoga Nyonya Muda segera sembuh dan bisa tabah menjalani ujian ini.” Ucap Pak Ujang yang sedang mengemudi.


“Iya, Pak.” Sahut Chaca.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, mereka pun tiba di rumah sakit. Chaca dan Jihan turun dari mobil dan langsung pergi menemui Tuan Muda Rizky, sekalian mengunjungi Nyonya Muda dan melihat keadaannya.


__ADS_2