Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Wedding Sahabat Baikku


__ADS_3

Tak terasa, dua hari lagi sahabat baikku Luna akan melangsungkan pernikahannya.


Pestanya di gelar dengan megah dan meriah, karena Yusuf adalah anak pengusaha yang sukses di kota Medan.


"Dik." terdengar suara Ibu memanggilku.


"Ya, Bu." sahutku dari dalam kamar, aku letakkan buku novelku dan langsung beranjak dari ribaanku untuk segera menghampiri Ibu. "Ada apa, Bu?" tanyaku saat sudah berada di sebelah Ibu.


"Adik jaga kios ya." pinta Ibu sambil merapihkan meja kios.


"Memangnya Ibu mau pergi ke mana?" tanyaku.


"Ibu mau pergi rewang ke rumahnya Luna." jawab Ibu.


"Bukankah pestanya masih dua hari lagi, Bu." ucapku dengan mimik wajah heran.


"Iya sih, tapi sudah dipersiapkan dari sekarang. Maklumlah, pestanya megah dan meriah. Pastilah jauh-jauh hari sudah pada kerepotan mengurus ini itunya. Kakakmu Mea dulu juga dua hari sebelum hari H sudah dipersiapkan segala sesuatunya." jelas Ibu.


"Iya juga ya, Bu."


"Iya. Ibu berangkat sekarang ya, Nak. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, Bu." sahutku.


Setelah Ibu pergi, aku teringat dengan handphoneku, sudah dari pagi aku belum memegangnya. Aku bahkan lupa di mana aku meletakkannya.


Aku kembali masuk ke dalam kamar dan mencari gawaiku itu, tapi tidak aku temukan. Aku cari di dapur tidak ada, di atas kulkas juga tidak ada.


Kemudian aku menuju meja TV, "Ternyata HPnya ada di sebelah TV" gumamku di dalam hati.


Saat aku menghidupkan layarnya, aku melihat ada pesan wasap dari Ryan. Sejak dua jam yang lalu ia mengirim chat tersebut. Aku tidak mengetahui hal itu karena saat itu aku sedang asik membaca novel.


"Kalau di balas sekarang kira-kira dia marah tidak, ya?" tanyaku dalam hati.


"Duuuhhhh." Aku bingung, bahkan tanpa sadar sedari tadi aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. "Balas saja deh, dari pada tidak sama sekali." fikirku.


Aku membuka kolom chat, di sana tertulis "Assalamu'alaikum, Ra."


Setelah mengetik "Wa'alaikumussalam, Yan." aku langsung mengirimnya.


Sepuluh menit kemudian Ryan pun membalas chatku.


"Balasnya lama amat, ngapain saja?" tanyanya.


"Baca novel." jawabku singkat.


"HPnya memang di taruh di mana?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Di sebelah TV." jawabku.


Aneh sekali ya Ryan, hal-hal seperti itu saja dia bahas. Bahkan kelihatannya dia marah karena aku lama membalas chatnya. Padahal kita masih 'bukan siapa-siapa'.


"Cuek amat jawabnya." ucapnya.


"Tidak, Aura biasa saja. Memangnya ada apa?" kali ini aku yang bertanya padanya.


"Kamu sudah Sholat Istikharah?" tanya Ryan.


"Sudah, tapi belum dapat jawaban."


"Memangnya sudah berapa kali Sholatnya?"


"Ada deh, nanti bakalan Aura kabarin. Tenang saja."


"Iya, tapi jangan lama-lama ya."


"In syaa Allah."


"Ok." ucapnya.


Setelah itu aku tidak membalas chatnya lagi. Aku memang masih belum mendapat mimpi apa-apa, padahal sudah lima aku melaksanakannya. Hanya saja aku mulai merasa ilfiil padanya.


***


Tepat pukul 10 pagi, para saksi mengatakan "SAH" pada saat akad nikah Luna dan Yusuf.


Aku menghampiri Luna, aku mengucapkan selamat dan memeluknya.


"Jangan lupa nanti hadir juga di acara resepsi ya, Ra." pintanya.


"In syaa Allah tuan putri." sahutku.


"Iiihhh, kok tuan putri sih." ucapnya malu-malu.


"Owh iya, salah ya. Harusnya ratu, hehe. Hari ini kan kamu dan Yusuf jadi raja dan ratu sehari." ucapku sambil mencubit manja kedua pipi sahabatku itu.


Ia tersenyum bahagia, bahkan seingatku aku belum pernah melihat senyum bahagia yang seperti itu.


Setelah selesai acara Ijab Qobul, aku pun langung pulang. "Assalamu'alaikum, Bu." ucapku sesampainya aku di rumah.


"Wa'alaikumussalam. Sudah selesai akad nikahnya, Dik?" tanya Ibu.


"Sudah, Bu. Ibu kalau mau undangan ke rumah Luna biar Adik yang jaga kiosnya. Lumayan, hari ini banyak orang, banyak juga pembelinya, hehe."


"Ya iyalah banyak orang, ada yang pesta." ucap Ibu.

__ADS_1


Aku hanya nyengir mendengarnya.


"Ibu siap-siap dulu ya."


"Iya, Bu." sahutku.


Lalu aku teringat pada Ryan. Aku akan chat dia sekarang juga.


"Assalamu'alaikum Yan, Aura mau ngomong penting." setelah merasa yakin dengan keputusanku, aku mengirim pesan tersebut.


"Wa'alaikumussalam. Iya, silahkan." balasnya. Mungkin di sana dia sedang memegang HP, jadi bisa langsung membalas chatku.


"Sebelumnya Aura minta maaf ya. Asif jiddan, Yan. Aura tidak bisa terus kepernikahan seperti yang Ryan inginkan." ucapku. Cukup lama aku pandangi kalimat itu sebelum aku mengirimkannya pada Ryan.


"Kenapa, Ra?" tanyanya.


"Karena Aura tidak bisa." jawabku.


"Pasti ada alasanny, kan?"


"Iya. Tadinya Aura memang mau menikah sama kamu, Yan. Tapi setelah seminggu ini Aura Sholat Istikharah, perasaan Aura ke kamu jadi hambar dan niat untuk menikah sama kamu menjadi tidak mantap. Jadi Aura tidak bisa menikah sama kamu." jelasku panjang lebar, "Semoga dia nggak marah dan mau mengerti" Do'aku dalam hati.


Sudah lima belas menit berlalu, Ryan masih diam. Sama sekali tidak ada respon atas ucapanku itu. Mungkin dia kecewa, atau mungkin juga marah, ntahlah.


"Ting!" IPhoneku berbunyi tanda ada pesan masuk. Segera kuraih gawaiku dan melihat pesan dari siapakah itu.


"Dari Ryan." ucapku dalam hati. Aku buka kolom chat kami dan di sana tertulis,


"Seharusnya kamu jujur sama saya kalau memang kamu menolak, Sholat Istikharah itu hanya alasan kamu saja, iya kan?" ucapnya. Mataku terbelalak membaca tulisannya itu.


"Astaghfirullah, Yan. Aura tidak bohong. Sholat Istikharah yang Aura lakukan bukanlah kedok semata, tapi Lillahi Ta'ala. Jika kita tidak berjodoh, maka pasti Allah telah menyiapkan seseorang yang jauh lebih baik dari Aura buat kamu, Yan."


"Sudahlah, Ra. Jangan banyak alasan. Saya kira kamu memang wanita yang tepat buat saya. Tapi ternyata saya salah menilai kamu, Ra."


"Jika kamu berfikir seperti itu tentang Aura, tafadhol." ucapku. Aku malas berkomentar, aku takut nanti salah ngomong malah memperkeruh suasana dan membuat masalah bertambah besar.


"Ok, berarti kamu meng'iya'kan ucapan saya."


"Aura tidak bilang 'iya'. Tapi kalau kamu berfikir seperti itu ya tafadhol. Allah lebih tau dari pada kita."


"Halah, munafik kamu, Ra."


"Astaghfirullah." ucapku dalam hati. Aku tidak mau lagi balas chat dia. "Sepertinya bukan kamu yang salah menilaiku, tapi aku yang salah menilaimu, Yan." ucapku kesal.


Ini adalah salah satu alasan mengapa aku sulit membuka hati. Karena aku takut terjadi kesalah fahaman jika aku menolak si pria, dan kini ketakutanku itu telahpun terjadi.


Semoga nanti Ryan mau merubah fikiran negatifnya itu menjadi fikirian yang positif tentang diriku.

__ADS_1


Setelah Ibu pulang dari resepsi Luna, aku pun bersiap-siap untuk pergi ke sana. Aku ingin sekali melihat sahabat baikku itu, pasti dia sangat cantik dalam balutan gaun pengantin yang indah.


Sesampainya di acara pesta Luna, aku lihat dia sedang sibuk berfoto dengan suaminya, dengan berbagai gaya dan beberapa kali ganti gaun pengantin. Sedangkan aku hanya bisa menikmatinya dari kejauhan sambil berkhayal,"Andai aku pengantin wanita, siapakah pengantin prianya?"


__ADS_2