
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Tak lama lagi Bang Rizky akan tiba di rumah.
"Ya Allah, apa yang harus Aura lakukan? Mata Aura masih terlihat sembab." gumamku di dalam hati.
Aku baringkan tubuhku di atas kasur dan aku balut tubuhku dengan selimut hingga menutupi wajahku.
20 menit kemudian, pintu kamar di buka. Aku mendengar suara langkah kaki masuk. Hanya Bang Rizky yang akan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Harusnya saat ini aku bangun dan menyambut kedatangannya seperti biasanya, serta mencium punggung tangan kanannya. Tapi kali ini aku tidak berdaya.
"Aura sayang, tidak baik tidur setelah ashar." ucap Bang Rizky lembut dan membelai rambutku dengan penuh kasih sayang.
Aku hanya diam.
Perlahan-lahan ia tarik selimut hingga terlihatlah wajahku.
"Oh, ternyata Aura pura-pura tidur. Kenapa?" tanyanya padaku.
"Tidak apa-apa, Bang. Tadi Aura kedinginan setelah keluar dari kamar mandi." jawabku.
Ia tersenyum dan menatapku.
Aku lihat dia mengernyitkan dahinya. "Mungkinkah dia sudah menyadari bahwa mataku sembab?" tanyaku di dalam hati. Lalu aku palingkan wajahku.
Lalu tiba-tiba ia meletakkan tangannya dipipiku, perlahan-lahan ia menarik wajahku menghadap ke arahnya lagi.
"Aura tadi menangis?" tanyanya. Dari raut wajahnya aku bisa melihat rasa khawatir yang begitu besar. "Kenapa menangis?" tanyanya lagi.
"Tidak apa-apa, Bang." jawabku dan tersenyum padanya.
"Biasanya senyum Aura terlihat sangat manis, tapi kali ini terlihat pahit. Pasti ada sesuatu yang Aura sembunyikan dari Abang." ucapnya.
"Abang bisa saja becandanya." ucapku. Aku berusaha agar ia tidak bertanya apa-apa lagi dan menaruh rasa curiga padaku.
"Mungkin Aura sedang tidak mood untuk cerita dengan Abang. Tidak masalah." ucapnya. Ia tersenyum padaku lalu pergi meninggalkanku.
***
Di ruang tamu. Rizky memanggil Bi Sumi, Chaca, Pak Ujang dan Mang Jaja.
"Hari ini ada tamu?" tanya Rizky.
"Ada, Tuan Muda." jawab Chacha.
"Siapa?" tanya rizky lagi.
"Nona Lucy dan Nona Dona." jawab Chaca.
"Apa mereka berdua bertemu dengan Nyonya Muda?" tanya Rizky.
"Nona Lucy dan Nona Dona datang memang mencari Nyonya Muda, Tuan Muda." jawab Chaca.
"Apa ada yang mendengarkan percakapan mereka?" tanya Rizky.
Chaca ingin menjawab, tapi ia merasa takut dan ragu.
"Bi Sumi?" tanya Rizky pada Bi Sumi, berharap bisa mendapatkan jawabannya.
"Saya tidak tau, Tuan Muda. Tadi siang saya pergi ke pasar belanja bahan makanan." jawab Bi Sumi. "Saat saya pergi dan saat saya pulang, saya tidak bertemu dengan Nona Lucy dan Nona Dona." lanjutnya.
__ADS_1
"Kalau begitu hanya Chaca yang menemani Nyonya Muda di rumah, benar kan?" ucap Rizky.
"I..iya.. Tuan Muda." jawab Chaca terbata-bata dan menundukkan kepalanya.
"Apa kamu mendengar perbincangan mereka dengan Nyonya Muda?" tanya Rizky pada Chaca.
Chaca hanya diam.
"Ketika saya bertanya, saya menginginkan jawabannya. Mengerti!" ucap Rizky dengan tegas.
"Ayo di jawab, Nduk." pinta Bi sumi pada Chaca.
"Erm... Maaf, Tuan Muda. Saya tidak berani." ucap Chaca pelan.
"Tidak ada yang perlu kamu takutkan, saat ini mereka berdua tidak ada di sini." ucap Rizky.
"Ba... baik... Tuan Muda. Akan saya ceritakan." ucap Chaca. Kemudian dia menarik nafas dan mulai bercerita pada Rizky meskipun dia takut majikannya itu akan emosi ketika mengetahui penghinaan yang di terima istri tercintanya.
"Awalnya saya tidak ada niat untuk menguping pembicaraan mereka, tetapi ketika saya melihat Nona Lucy mendorong Nyonya Muda hingga jatuh dan terduduk di atas sofa, saya segera bersembunyi di sebalik dinding agar tidak ada yang tau kalau saya mengintip perbuatan Nona Lucy dan Nona Dona. Setelah itu Nona Lucy membentak Nyonya Muda, begitu juga dengan Nona Dona. Nona Dona dan Nona Lucy bersikap sangat kasar pada Nyonya Muda. Bahkan Nona Lucy mengatakan bahwa Nyonya Muda gadis miskin yang ingin merebut harta warisan Tuan Muda. Nona Dona juga mengatakan Nyonya Muda munafik. Itulah yang bisa saya sampaikan, Tuan Muda." ucap Chaca panjang lebar.
"Damn it! Berani-beraninya mereka berbicara seperti itu." ucap Rizky sedikit berteriak lalu menumbuk sofa yang sedang ia duduki."Apa Ummi tidak ada saat itu?" tanya Rizky.
"Tidak ada, Tuan Muda. Nyonya Besar sedang pergi pengajian." jawab Chaca. "Tapi tidak lama kemudian Nyonya Besar datang, lalu sikap Nona Lucy dan Nona Dona berubah menjadi baik." lanjutnya.
"Mang Jaja, lain kali jika mereka berdua datang, jangan buka pintu pagar. Katakan pada mereka, saya tidak mengizinkan mereka masuk." perinta Rizky pada Mang Jaja.
"Baik, Tuan Muda." ucap Mang Jaja menganggukkan kepalanya.
Lalu tiba-tiba Ummi datang menghampiri mereka.
"Ada apa kumpul-kumpul di sini?" tanya Ummi.
"Loh, memangnya kenapa?" tanya Ummi merasa heran dengan keputusan yang di buat oleh putranya.
"Mereka berdua kasar dengan Aura, Mi." jawab Rizky.
"Tapi Dona itu sepupu kamu. Kalau tidak boleh datang ke sini, nanti apa kata Om kamu?" ucap Ummi. "Lucy juga anaknya teman Abi. Tidak baik kalau di larang main ke sini." lanjut Ummi.
"Baiklah, kalau Ummi masih mau mengizinkan mereka datang. Tapi dengan satu syarat, mereka boleh masuk hanya jika Ummi juga ada di rumah." pinta rizky.
"Iya." ucap Ummi lembut.
"Mang Jaja. Mereke berdua boleh masuk hanya kalau Ummi ada di rumah. Mengerti!" ucap Rizky pada Mang Jaja.
"Mengerti, Tuan Muda." jawab Mang Jaja.
"Kalau begitu semuanya sudah boleh bubar." ucap Rizky.
"Baik, Tuan Muda." Ucap Pak Ujang, Bi Sumi, Mang Jaja dan Chaca secara bersamaan.
"Mungkin mereka bersikap seperti itu karena Lucy belum bisa move on dari kamu." ucap Ummi pada Rizky.
"Mi, seandainya Ummi melihat sendiri apa yang mereka lakukan pada Aura." ucap Rizky.
"Iya, Ummi tau. Sebelum mereka menyadari kehadiran Ummi, Ummi mendengar omongan mereka, sedikit." ucap Ummi.
"Jadi, Ummi mendengarnya?" tanya Rizky kaget.
"Tentu saja." jawab Ummi.
__ADS_1
"Lalu mengapa Ummi masih mau menerima kehadiran mereka di sini?" tanya Rizky.
"Tidak baik memutus tali silaturahim. In syaa Allah, Ummi akan menegur mereka jika mereka mengulanginya lagi." ucap Ummi.
"Baiklah, Mi." ucap Rizky.
"Oh ya. Apa kamu pernah bercerita tentang harta pada Aura?" tanya Ummi.
"Tidak pernah, Mi. Karena Rizky yakin, tanpa tau tentang hal itu, Aura tetap mau menerima Rizky. Aura bukan tipe wanita yang memandang harta dan status, Mi." jawab Rizky.
"Iya, Ummi sependapat dengan Rizky."
"Mi, Rizky ke kamar, ya. Mau ganti pakaian dan bersih-bersih." ucap Rizky lalu pergi meninggalkan Ummi.
Ummi hanya menganggukkan kepalanya.
***
Saat Bang Rizky masuk ke dalam kamar, aku masih membalut tubuhku dengan selimut.
"Aura sayang, jangan sedih lagi." ucap Bang Rizky.
Aku bangkit dan duduk disampingnya.
"Aura tidak sedang bersedih, Bang." ucapku sambil tersenyum padanya.
Lalu tiba-tiba Bang Rizky memeluk tubuhku. Aku dapat merasakan kehangatan dan kasih sayang yang ia curahkan. Ternyata ada orang yang menyayangiku sedalam ini, sehangat kasih sayang Ibu.
"Abang sudah tau, Chaca sudah menceritakan semuanya pada Abang." ucapnya, masih memelukku.
"Iya, Aura bahkan tidak tau apa-apa tentang harta. Hiks..." ucapku, ntah mengapa aku meneteskan air mata lagi. Dadaku masih terasa sesak jika mengingat kejadian tadi siang.
"Sudah, sudah, jangan menangis lagi." ucapnya sambil menghapus air mataku. "Besok Abang akan minta Kak Agatha menemani Aura di rumah, ya." lanjutnya.
"Iya, Bang." sahutku sambil menganggukkan kepalaku.
Aku tidak menyangka kalau rasa sayang Bang Rizky padaku bisa sebesar itu.
Alhamdulillah, aku sangat bersyukur karena tidak salah dalam memilih pasangan hidup. Ia pasti akan selalu melindungiku.
"Bang, boleh Aura bertanya?" ucapku.
"Tentu saja boleh, mau menanyakan apa?"
"Kenapa dulu Abang sekolah di pesantren yang sama dengan Aura? Bukankah masih banyak pesantren lain yang fasilitasnya lebih bagus dan lebih lengkap?"
"Oh, itu karena Abi yang mau Abang mau sekolah di sana." jawabnya.
"Kenapa?" tanyaku lagi.
"Karena pemilik sekolah pesantren itu adalah sahabat Abi yang dulu sekolah di mesir bersama Abi. Abi yakin, jika Abang sekolah di sana, Abang tidak hanya sekedar mendapatkan ijazah, tapi juga ilmu yang banyak." jelasnya sambil membelai-belai rambutku.
"Owh, begitu." ucapku.
"Iya." sahutnya. "Ya sudah, Abang mau mandi. Sebentar lagi maghrib." lanjutnya.
"Iya, Bang." ucapku dan tersenyum padanya.
Meskipun keluarga Bang Rizky adalah keluarga kaya raya dan terhormat, mereka tetap bersikap bersahaja. Ma syaa Allah, sangat mengagumkan. Aku benar-benar wanita yang beruntung karena bisa menjadi bagian keluarga ini..
__ADS_1