Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps 35


__ADS_3

Ustadzah Amina masuk ke dalam kamar bersama Maryam lalu memeriksa keadaan seseorang yang berada didalam kamar tersebut.


“Bi, telepon Dokter. Demamnya tinggi.” Pinta Ustadzah Amina yang terlihat semakin panik.


“Tenang, Mi. Disini juga ada Dokter. Bukan begitu Zayn?” Ustdz Ridwan tersenyum.


“Iya, Ustadz.” Jawab Zayn.


“Tunggu sebentar lagi. Setelah Zayn selesai makan, dia pasti akan memeriksanya.” Ucap Ustadz Ridwan pada istrinya.


Ustadzah Amina mengangguk lalu masuk lagi ke dalam kamar.


Beberapa saat kemudian, Zayn dan Zara selesai makan lalu dipersilahkan masuk ke dalam kamar.


Zara dan Zayn kaget melihat sosok yang sedang terbaring diatas tempat tidur. Mereka berdua bertatapan mata seakan tak percaya.


“Ustadzah, sejak kapan dia ada disini?” Tanya Zara yang sangat penasaran.


“Dia disini sudah satu bulan lebih.” Jawab Ustadzah Amina.


“Lalu, bagaimana dia bisa ada disini?” Tanya Zayn.


“Hummm. “ Ustadzah Amina menghela nafas. “Panjang ceritanya.” Lanjutnya.


“Baiklah, kalau begitu aku akan memeriksanya terlebih dahulu.” Ucap Zayn.


Zara dan Ustadzah Amina mengangguk. Kemudian Maryam dan Umminya keluar dari kamar.


“Bagaimana, Bang?” Tanya Zara setelah Zayn selesai memeriksanya.


“Hanya demam biasa. Aku akan menulis beberapa obat agar segera dibelikan dan diberikan padanya.” Jawab Zayn.


Setelah itu Zara dan Zayn keluar dari kamar. Zayn memberikan resep obat lalu Ustadz Ridwan meminta Maryam untuk segera membelinya di apotik.


“Ustadz, tolong ceritakan pada kami bagaimana dia bisa ada disini?” Zayn bertanya pada Ustadz Ridwan.


“Baik, akan saya ceritakan.” Sahut Ustadz Ridwan. “Kejadiannya sudah satu bulan lebih berlalu. Saat itu ada beberapa santri yang sedang mendapatkan tugas untuk mencari kayu bakar. Karena akan mengadakan acara memanggang ayam bersama-sama.”


“Saat itu ada seorang santri yang mengadu telah melihat mayat.”


“Sepertinya dia dilempa*kan dari atas tebing dan menggelinding hingga ke dasar tebing.”


“Beberapa guru pergi melihatnya dan ternyata dia masih hidup walaupun dalam keadaan kritis.”


“Kami segera membawanya ke rumah sakit yang paling dekat dari sini.”


“Alhamdulillah masa kritisnya berhasil ia lalui. Tapi Qodarullah, di koma hingga saat ini.”


“Kami semua berpendapat bahwa dia adalah korban pambu**han.” Ucap Ustadz Ridwan mengakhiri ceritanya.


“Jika Ustadz berpikir demikian, mengapa tidak melapor pada polisi?” Tanya Zayn.


“Sudah. Kami sudah melaporkannya pada polisi.” Jawab Ustadz Ridwan. “Tapi setelah satu minggu polisi tidak mendapatkan apapun, tidak mendapatkan identitasnya juga tidak mengetahui para pelaku. Akhirnya kasusnya ditutup oleh polisi.” Lanjutnya kemudian.

__ADS_1


“Astaghfirullah.” Zara dan Zayn Istighfar serentak.


“Zayn, berhubung kamu berasal dari kota. Maukah kamu membantu kami untuk menemukan keluarganya?” Tanya Ustadzah Amina.


“Sebenarnya, sepertinya kami mengenalnya Ustadzah.” Ucap Zayn.


“Ma syaa Allah, benarkah?”


Ustadzah Amina dan Ustadz Ridwan sumringah.


“Alhamdulillah. Kami merasa lega.” Ucap Ustadz Ridwan.


“Hanya saja, kami terpaksa harus tetap membiarkan dia tinggal disini hingga dia siuman.” Ucap Zayn.


“Kenapa?” Tanya Ustadz Ridwan.


“Bukankah tadi Ustadz berkata kemungkinan dia adalah korban pembu**han? Aku khawatir kalau harus membawanya pulang saat dia masih sakit seperti ini.” Jawab Zayn. “Biarkan dia disini dulu hingga ia siuman. Setelah itu kita bisa bertanya padanya apa yang telah ia alami.” Lanjutnya.


Zayn menatap Zara. Zara mengangguk.


“Baiklah, kami setuju. Seperti itu memang lebih baik baginya.” Ucap Ustadz Ridwan. “Sekarang sebaiknya kalian istirahat dulu. Kalian pasti lelah dalam perjalanan panjang untuk sampai kesini.” Lanjutnya.


Zayn mengangguk.


Kemudian Ustadzah Amina memberitahu Zayn dan Zara letaknya kamar mereka berdua.


“Terima kasih Ustadzah.” Ucap Zayn dan Zara serentak.


Zayn dan Zara masuk ke dalam kamar mareka lalu meletakkan koper disamping tempat tidur.


“Bang, apa sebaiknya kita memberi tahu Om Amir? Kalau kita bertemu dengan wanita yang wajahnya mirip sekali dengan Tante Arumi.” Tanya Zara pada Zayn.


“Aku tadi sempat berpikir seperti itu. Tapi setelah aku pertimbangkan lagi, sebaiknya kita menunggu hingga ia siuman. Setelah itu kita akan bertanya padanya mengenai identitasnya.” Jawab Zayn.


“Hmm. Baiklah. Aku akan menjaga rahasia ini.” Ucap Zara. “Apa mungkin dia saudara kembar Tante Arumi? Tapi kenapa bisa menjadi korban? Hmmm.” Lanjutnya bertanya.


“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Sebaiknya kamu langsung membereskan barang-barang kita.” Perintah Zayn.


“Baiklah.” Jawab Zara.


Kemudian Zara memindahkan pakaian mereka dari dalam koper ke dalam lemari.


Setelah selesai Sholat Ashar.


Zayn dan Ustadz Ridwan berencana keluar untuk melihat persiapan lomba tahfidz besok.


“Aku juga ikut, Bang. Aku ingin melihat-lihat pesantren ini.” Ucap Zara.


“Emm.” Zayn sedang berpikir.


“Maryam, temani Kak Zara berkeliling.” Pinta Ustadz Ridwan pada Putrinya.


“Baik, Bi.” Jawab Maryam. “Ayo, Kak Zara.” Ajak Maryam.

__ADS_1


“Ayo.” Zara sumringah.


Zayn dan Ustadz Ridwan memperhatikan serta mengawasi para santri dan penata panggung. Mereka berdua memastikan semuanya aman terkendali agar tidak ada kecelakaan yang terjadi saat lomba besok.


“In syaa Allah semuanya aman, Ustadz.” Ucap Zayn.


“Amiin. Semoga besok acaranya berjalan lancar.”


“Aamiin ya Allah.”


Sementara itu Zara dan Maryam berkeliling.


“Disini perpustakaan kami, Kak.” Ucap Maryam.


“Wah, banyak sekali koleksi bukunya.” Ucap Zara sambil memperhatikan buku satu demi satu. “Tapi kenapa tempat ini kosong?” Tanya Zara.


“Karena santi dan santriwati semuanya sedang sibuk mempersiapkan diri untuk lomba besok, Kak.” Jawab Maryam.


“Oh ya? Memangnya besok ada lomba apa saja?”


“Ada banyak, Kak. Kalau aku beritahu sekarang, pasti acara besok jadi tidak seru lagi buat Kakak, hehe.” Maryam cengengesan.


“Iya, juga. Oh ya, berapa usiamu?”


“Alhamdulillah aku sudah lima belas tahun, Kak. Kelas satu Aliyah.” Jawab Maryam.


Zara menganggukkan kepalanya.


Setelah itu mereka berdua keluar dari ruang perpustakaan.


Maryam membawa Zara mengunjungi kantin, ruangan Lab, aula dan tempat-tempat lainnya.


Setelah lelah berkeliling, Maryam dan Zara kembali ke rumah.


“Aku boleh masuk ke kamar itu?” Zara menunjuk kamar Arumi.


“Boleh, Kak.” Jawab Maryam.


Zara tersenyum lalu masuk ke dalam kamar membawa sebuah Al-Qur’an.


Ia tilawah disebelah Arumi yang terbaring koma.


Zara berharap Arumi bisa segera sadar karena mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang ia bacakan.


Tidak lama kemudian Zayn dan Ustadz Ridwan kembali.


Zayn tersenyum melihat Zara yang sedang tilawah disebelah Arumi.


Sedangkan Maryam membantu Ustadzah Amina di dapur, memasak makanan untuk makan malam.


Ustadz Ridwan adalah pemilik pesantren ini. Di antara tiga bersaudara, Abinya yaitu Kiyai Abdullah mewariskan pesantren ini kepadanya.


Sedangkan adik-adiknya semuanya tinggal di kota bersama keluarga mereka masing-masing. Namun mereka berdua sering berkunjung ke pesantren bersama anak-anak dan istrinya. Bahkan salah satu santi disana adalah keponakan Ustadz Ridwan yang seumuran dengan Maryam putrinya semata wayang.

__ADS_1


__ADS_2