Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps. 17.


__ADS_3

Sore hari saat Zara pulang dari kampus.


Zara melihat Ibunya sedang membaca buku di ruang tamu.


Ia pun menghampiri Ibunya, setelah mengucapkan salam ia mencium punggung tangannya lalu duduk di sebelah Ibunya.


“Ibu sedang membaca buku apa?” Tanya Zara.


“Ibu baca Novel. Karena Ibu suka dengan isinya, Ibu jadi membacanya sekali lagi.” Jawab Aura.


“Owh, begitu.” Ucap Zara sambil melihat sampul buku dan membaca judulnya. “Ibu, kira-kira kapan Om Amir dan Bibi Arumi akan pindah ke apartment?” Zara merasa sedikit gelisah dan sedih karena akan segera berpisah denga Omnya.


“Ibu tidak tahu, sayang.” Jawab Aura sambil mengelus bahunya.


“Kami tidak akan pindah.” Ucap Arumi yang muncul tiba-tiba.


“Benarkah? Syukurlah.” Ucap Zara sumringah.


“Bukankah kemarin..”


“Itu kemarin.” Arumi langsung memotong ucapan Aura. “Sekarang kami sudah berubah pikiran. Lagi pula rumah ini cukup luas untuk kita tinggali bersama.” Lanjutnya ketus.


“Siapa juga yang mau pindah dari sini dan hidup mandiri. Disana aku harus melakukan semuanya seorang diri, sedangkan disini ada ART yang bisa disuruh-suruh. Hmph!” Gumam Arumi didalam hatinya.


Aura dan Zara saling bertatapan mata melihat mimik wajah Arumi.


“Bibi kenapa berdiri saja? Duduklah disini bersamaku dan Ibu.” Ucap Zara dengan sopan.


Karena sejak tadi Arumi hanya berdiri disebelah sofa sembari menyilangkan tangannya di depan dada.


“Apa? Bibi? Panggil aku Tante! Aku tidak mau dipanggil Bibi, norak, kampungan!” Ucap Arumi dengan nada yang kasar.


“I-iya, Ta-tante.” Sahut Zara dengan gugup karena merasa takut pada Arumi.


Setelah itu ia beranjak dari tempat duduknya lalu masuk ke dalam kamarnya.


“Astaghfirullah. Apakah ini sifat Arumi? Bagaimana bisa Amir jatuh cinta pada wanita kasar sepertinya?” Aura Istighfar didalam hatinya sambil memperhatikan Arumi yang berjalan menuju balkon.


“Kreakk!!” Zara membuka pintu kamarnya secara perlahan-lahan lalu mengintip. Ia memperhatikan apakah masih ada Tante Arumi didekat Ibunya? Setelah memastikan Arumi tidak ada didekat Ibunya. Ia pun memanggil Ibunya.


“Ibu!”


Aura menoleh ke arah pintu kamar Zara.


“Sini, Bu.” Zara meminta Ibunya untuk menghampirinya.


Aura pun menurut. Ia masuk ke dalam kamar Zara.


Aura meletakkan buku yang ia pegang di atas nakas. Lalu mereka berdua duduk di atas katil.

__ADS_1


“Ibu, kenapa Tante Arumi jadi kejam?” Tanya Zara pelan, seperti sedang berbisik.


“Memangnya sebelumnya kamu kenal? Memangnya awalnya sifatnya tidak seperti ini?” Aura balik bertanya.


“Aku tidak tau, Ibu.” Jawab Zara pelan.


“Ketika Ibu mendengar cerita dari Om kamu dan Ayahmu, seharusnya dia wanita yang baik, sopan dan lemah lembut. Tapi kenapa kenyataannya malah seperti ini? Hmm.” Aura terlihat seperti sedang berpikir.


“Mungkin Om Amir melebih-lebihkan cerita agar Ibu dan Ayah mau metestui pernikahan mereka.” Zara berpendapat.


“Mungkin juga.”


“Atau mungkin selama ini Tante Arumi berakting jadi wanita baik-baik untuk membuat Om Amir tertarik.” Zara berpendapat lagi.


“Hal ini juga mungkin saja benar. Ibu yakin Om Amir akan mencari pasangan yang baik. Dan karena Ibu terlalu yakin, hingga akhirnya Ibu tidak meminta Ayahmu untuk menyelidiki latar belakang Tante Arumi terlebih dahulu.” Aura merasa bersalah dan bersedih.


“Sudahlah Ibu, jangan menyalahkan diri Ibu. Nasi sudah menjadi bubur. Biar bagaimanapun juga sekarang dia adalah istri Om Amir yang sah. Kita lihat saja kedepannya bagaimana? Semoga Om Amir bisa mendidiknya dan menjadikannya wanita yang lebih baik.” Zara coba menenangkan hati Ibunya.


“Iya, yang kamu katakan benar. Sebaiknya sekarang kita fokus pada pernikahanmu.” Ucap Aura sambil tersenyum manis.


“Iya, Ibu.” Zara membalas senyum Ibunya.


Setelah selesai mengobrol, Aura meninggalkan Zara sendirian didalam kamarnya.


“Jika nanti hal ini menimpaku bagaimana?”


“Argh!! Aku mulai su’udzon lagi. Sudahlah, aku serahkan saja semuanya kepada Allah.”


***


Tiga minggu kemudian, Zara sudah mulai ujian semester.


Ia sangat serius belajar dan menghindari Arumi karena merasa takut. Ia takut rasa takutnya pada Arumi membuatnya tidak fokus dalam ujian.


Sampai-sampai ia meminta Rini atau Bi Jumi mengantarkan makanannya ke dalam kamar.


Setelah hari ke lima ujian, Amir merasa khawatir pada Zara. Lalu ia menghampiri Zara ke kamarnya.


Tokk.. Tokk.. Tokk.. Amir mengetuk pintu kamar Zara.


Kreaakk!! Zara membuka pintu kamarnya.


“Ada apa, Om?” Tanya Zara.


“Beberapa hari ini kamu selalu berada di dalam kamar. Apa kamu sakit?”


“Haha.” Zara tertawa kecil. “Tentu saja tidak, Om. Aku hanya sedang serius belajar.” Lanjutnya.


“Benarkah? Hanya karena itu saja?” Tanya Amir yang tidak percaya pada ucapan Zara.

__ADS_1


“Iya, benar. Besok adalah hari terakhir aku ujian. Setelah itu, semuanya akan kembali normal. Aku sangat ingin mendapatkan nilai yang bagus dan memuaskan, jadi harus fokus belajar.” Ucap Zara dengan yakin.


“Owh, baiklah. Kalau begitu Om tidak akan mengganggu kamu lagi. Selamat belajar. Semangat!”


“Baik, Om.” Ucap Zara lalu menutup pintu kamarnya.


Setelah itu Amir pergi menuju meja makan untuk makan malam bersama Istrinya, Abang dan Kakaknya.


“Amir, kamu dari mana? Maaf, karena kami sudah makan duluan.” Ucap Rizky.


“Tidak apa-apa, Bang. Tadi aku mengobrol sebentar dengan Zara. Aku merasa khawatir karena beberapa hari ini dia tidak keluar dari kamar. Ternyata sedang fokus belajar.” Amir menjelaskan.


Rizky mengangguk.


“Seandainya kamu tau kalau dia takut dengan istrimu.” Ucap Rizky didalam hatinya.


Apapun yan terjadi didalam rumah itu, Aura selalu menceritakannya pada Rizky.


***


Pagi hari Zara pergi ke kampus dengan penuh semangat. Karena hari ini adalah hari terakhir ujian semester.


Meskipun ruang ujian Zara dan Nayla berbeda, namun mereka makan siang bersama setelah selesai ujian.


“Alhamdulillah, ujian semester sudah berakhir.” Ucap Zara lega.


“Alhamdulillah, aku juga merasa bersyukur dan lega. Hanya tinggal menunggu hasil. Semoga sesuai harapan.” Ucap Nayla.


“Aamiin ya Allah.” Sahut Zara.


“Aamiin.. yang paling tulus.” Ucap seseorang.


Zara dan Nayla menoleh secara bersamaan.


“Yaelah, kenapa kamu datang sih, Bang.” Ucap Nayla ketus.


“Kenapa? Tidak suka? Zara saja tidak mengatakan apapun.” Ucap Arfa.


“Kami sudah selesai makan. Sekarang mau pulang.” Ucap Zara cuek. Ia lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menjauh.


“Hahahahaha.” Nayla mentertawakan Arfa. “Kasian banget deh. Dicuekin.” Lanjutnya lalu berlari-lari kecil menuju Zara yang ada dihadapannya.


Arfa terdiam di tempat.


“Zara, ntah kapan kamu akan mengingatku? Apakah kamu sama sekali tidak ingat dengan kejadian itu?” Arfa bertanya didalam hatinya.


“Apakah kejadian berdarah-darah seperti itu adalah hal biasa bagimu? Sehingga tidak meninggalkan bekas dihatimu dan juga ingatanmu.”


“Kejadian belasan tahun lalu yang sangat sulit aku lupakan, bisa dilupakan begitu saja olehmu.” Arfa merasa sedih.

__ADS_1


__ADS_2