
Apa mungkin Lilian tidak ingat dengan Bang Rizky? Bathinku.
"Bang Rizky itu senior kita, tapi cuma beda satu tingkatan saja." ucapku menjawab pertanyaan Lilian.
"Owh, Bang Rizky yang sering lomba MTQ itu ya?" tanya Lilian lagi.
"Iya, betul." jawabku. "Jadi, Aura merasa cocok tidak dengan Bang Rizky?" tanyaku pada Aura.
"Aura belum tau sih, lagi pula belum terlalu kenal." jawab Aura.
"Kalau dengan Ryan bagaimana?" tanya Lilian.
"Hah? Ryan?" tanya Aura.
"Iya, Ryan itu teman sepupu aku. Jadi waktu itu Ryan pernah main ke rumah sama Doni sepupu aku. Dia tanya-tanya tentang Aura, aku jawab setauku saja. Dia juga minta nomor whatsapp kamu, aku kasi. Gitu ceritanya." ucap Lilian menjelaskan pada Aura.
"Oh, jadi waktu itu kamu yang memberikan nomor Aura pada Ryan?" tanya Aura.
"Iya. Memangnya Ryan tidak bilang?" tanya Lilian.
"Tidak, waktu itu dia cuma bilang dapat nomor Aura dari teman. Tapi Aura tidak tau nama temannya siapa." ucap Aura.
"Oh gitu. Jadi dia sudah ada menghubungi kamu dari whatsapp?" tanya Lilian lagi pada Aura.
"Sudah. Tapi kita tidak usah bahas Ryan ya." pinta Aura.
"Loh, memangnya kenapa?" tanya Lilian merasa heran dan mengernyitkan dahinya.
"Aura malas saja. Kita bahas yang lain saja ya." pinta Aura lagi.
"Iya, kita bahas tentang Lilian saja." ucapku menimpali obrolan mereka berdua. Aku dapat merasakan bahwa Aura merasa tidak nyaman saat membahas Ryan.
"Tentang Aku?" tanyanya.
"Iya. Jadi laki-laki seperti apa yang kamu sukai, Li?" tanyaku lagi.
"Aku maunya yang tampan, mapan, tinggi, putih, mainly deh pokoknya." jawab Lilian penuh rasa semangat.
"Hah? Sadar tidak kamu tadi barusan ngomong apa?" tanyaku.
"Sadar. Tapi sayang banget, nyari yang begitu susahnya payah bilang, hurmm." ucapnya lesu dan memanyunkan bibirnya.
"Tuh tau, hahahaha. Makanya cari yang bersahaja saja, Li." ucap Aura sambil tertawa.
"Bener banget tuh apa yang barusan di katakan oleh Aura." timpalku.
"Yang bersahaja nyarinya juga susah." ucap Lilian.
__ADS_1
"In syaa Allah ada. Jodohkan cerminan diri. Kalau mau jodoh yang bersahaja, maka di mulai dari diri kita sendiri. Kita juga harus bisa bersikap bersahaja." ucap Aura.
"Bener juga yang kamu katakan, Ra." sahut Lilian.
Setelah menghabiskan bakso kami masing-masing, kamipun memutuskan untuk pulang.
"Kalian berdua jangan sampai tidak datang ya di acara pernikahan Icha." ucapku sebelum kami berpisah.
"In syaa Allah hadir." jawab Aura semangat.
"Aku juga in syaa Allah hadir. Beri tau aku acaranya tanggal berapa." sahut Lilian.
"Ok, nanti undangannya bakalan sampai ke rumah kalian lebih dulu dari pada rumah yang lain." ucapku.
"Siip. Jadi, kita sampai sini dulu ya. Kapan-kapan kita makan bareng lagi." ucap Lilian.
"Iya, Li. Icha bener-bener minta maaf ya karena tadi sempat su'udzon sama kamu." sahutku.
"It's okay. Aku tidak marah." ucap Lilian.
"Makasih juga ya, Li. Sudah di traktir makan bakso hari ini, hehe." ucap Aura.
"Iya iya. Suatu hari nanti kita pasti akan cerita tentang hari ini, hehe." ucap Lilian dan tersenyum manis.
"Yuppz!" ucapku. Aku dan Aurapun ikut tersenyum bahagia.
"Ra, Icha antar mau ya. Kasihan kalau harus jalan lagi." aku menawarkan tumpangan untuk Aura.
"Siapa bilang merepotkan." jawabku.
"Kalau begitu, aku jalan duluan ya. Aku mau nyari angkot." ucap Lilian.
"Iya. Hati-hati ya, Li." ucapku dan Aura.
Setelah Lilian membayar bil makanan kami, diapun pergi dan mencari angkot. Sedangkan aku mengenderai sepeda motor bersama Aura.
Sesampainya di rumah Aura, aku masuk dan ngobrol lagi bareng Aura.
"Sekarang kamu sudah merasa lega kan, Cha?" tanya Aura padaku saat kami sudah berada di ruang tamu rumahnya.
"Alhamdulillah. Lega banget, Ra." jawabku. "Aku benar-benar tidak menyangka kalau Lilian tidak marah dan sudah melupakan perasaannya pada Bang Abdullah." lanjutku.
"Itu semua sudah menjadi kehendak Allah. Kalau Icha dan Bang Abdul memang berjodoh karena Allah, Allah pasti akan memudahkan segala urusan kalian berdua. Dan ini salah satunya, tidak ada kesalah fahaman antara Icha dan Lilian." ucap Aura panjang lebar. Dia selalu tau bagaimana memperlakukan sahabatnya dengan baik. Bahkan tutur katanya begitu lembut dan sopan, hingga siapapun yang berargumen dengannya merasa tenang dan nyaman.
"Bener banget apa yang Aura bilang. Berarti sebenarnya Icha hanya harus mempercayakan segala sesuatunya pada Allah, kan?"
"Iya. Semua rencana Allah pastilah yang terbaik buat hamba-Nya."
__ADS_1
"Aamiin. Makasih banget ya, Ra. Icha selalu bersyukur karena bisa memiliki sahabat seperti Aura." ucapku dan tersenyum padanya. Aurapun membalas senyumanku dengan senyumannya yang khas.
"Alhamdulillah kalau begitu." ucapnya.
"Sekarang Icha pamit ya. Icha sudah lama di luar, takut nanti Ibu nyariin Icha."
"Iya, Cha. Hati-hati ya di jalan. Jangan ngebut-ngebut."
"Siap. Icha mana berani ngebut, hehe." ucapku sambil cengengesan. "Assalamu'alaikum, Ra." lanjutku sambil menyalakan sepeda motor.
"Wa'alaikumussalam." sahutnya.
Kemudian akupun menjalankan sepeda motorku meninggalkan rumah Aura. Hanya dalam waktu lima belas menit aku pun sampai di pekarangan rumahku.
"Assalamu'alaikum." ucapku saat masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumussalam, Kakak dari mana saja?" tanya Yumna Adikku.
"Alhamdulillah hari ini Kakak dapat rezeki. Di traktir makan bakso sama teman Kakak." jawabku.
"Yumna tidak di bawakan baksonya?" tanyanya lagi dan membuat aku kaget.
"Tidak ada, memangnya Yumna mau?"
"Ya mau donk, Kak."
"Ya sudah, ayo kita beli seporsi buat Yumna." ajakku.
"Serius Kak?" tanyanya, wajahnya yang tadi kusam tiba-tiba berubah menjadi riang.
"Iya, serius. Pamitan dulu gih sama Ibu." perintahku.
"Siap bos." sahutnya lalu pergi mencari Ibu untuk berpamitan.
Beberapa menit kemudian Yumna muncul bersama Ibu.
"Mau kemana lagi? Kamu itu sudah mau menikah, tidak baik sering-sering keluar." ucap Ibu.
"Mau beli bakso buat Yumna, Bu. Sebantar saja, tidak akan lama. Ibu mau bakso juga tidak?" tanyaku pada Ibu.
"Hmm, ya sudah. Hati-hati, ibu juga mau seporsi." jawab Ibu.
"Baik, Bu. Kami keluar sebentar ya." ucapku pada Ibu. "Ayo, Yum." ajakku.
"Iya. Ingat ya jangan lama-lama." pesan Ibu pada kami
"Iya, Bu." ucapku dan Yumna serentak.
__ADS_1
Lalu aku dan Yumna pun bergegas pergi menuju warung bakso yang paling dekat dengan rumah kami.
Sesampainya di sana, aku memesan 2 porsi bakso dan membeli beberapa kue sebagai tambahan. Kan tidak mungkin nanti aku cuma liatin Ibu sama Yumna makan bakso. Jadi aku inisiatif buat beli beberapa kue agar aku bisa ikut makan bersama Ibu dan Yumna nanti.