Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Ada yang Marah-marah


__ADS_3

Dikediaman Lucy...


"AaaaaaaaaAAAaaaaarrrrrrggggghhhhhh!!!!!" teriak Lucy di dalam kamar tidurnya.


"Praaanggg!!!!" di susul gelagar suara gelas pecah yang di banting olehnya.


"Aku benci Aura.... Aku benci Aura... Aku benci...!!!!!" kata-kata itu terus-terusan dia ulang, menggambarkan suasana hatinya yang kian memanas karena mengetahui hubungan Aura dengan Rizky makin hari makin hangat dan bahagia.


Di luar kamar tidur Lucy, Bi Minah sedang menguping serta mengawasi majikannya tersebut. Khawatir kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Ya Allah, Non Lucy kenapa lagi ini?" Bibi bertanya-tanya.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka.


"Astaghfirullah... Astaghfirullah... Astaghfirullah..." ucap Bibi latah karena kaget.


"Bibi ngapain sih? Nguping ya?" ucap Lucy dengan nada kesal dan sedikit berteriak.


"Ngapain, ngapain, eh ngapain?" ucap Bibi yang latah lagi sambil menutup mulutnya. "Anu, Non. Bibi mendengar suara Non Lucy teriak-teriak, ada apa?" lanjut Bibi.


"Bodo ah. Beresin kamar aku, sekarang!" perintah Lucy dengan emosi.


"Iya, iya, iya.. Iya, Non." jawab Bibi yang latah sambil mengelus-elus dadanya perlahan. "Non Lucy makin hari makin kasar saja." ucap Bibi pelan setelah Lucy pergi meninggalkannya.


Begitu Bibi masuk ke dalam kamar Lucy, semuanya berantakan. Pecahan gelas dan mangkuk buah berserak dimana-mana, isi lemari berhamburan, seprei dan bantal tidak karuan, meja rias berantakan dan kran di kamar mandi tidak dimatikan.


"Ya Allah, ini kamar atau hutan yang habis terkena tragedi angin ****** beliung?" ucap Bibi ketika menyaksikan kamar Lucy yang sudah seperti kapal pecah karena kalah perang.


"Baru saja Bibi mau santai-santai dan maskeran di belakang, haiiihh." ucap Bibi mengeluh.


Meskipun tubuh Bibi terasa lemas karena harus membereskan kamar Lucy yang super berantakan ini, ia tetap melakukan pekerjaan tersebut. Karena memang itulah tugas Bibi sebagai ART di rumah ini.


Di ruang tamu, Lucy menelepon Dona dan memintanya untuk datang.


"Bi ijaaaahhh... Biiii....." teriak Lucy memanggil pembantunya yang lain.


"Iya, saya Nona Lucy." sahut Bi Ijah sambil berlari-lari kecil menuju tempat duduk Lucy.


"Ambilkan aku jus jeruk, donk!" perintah Lucy pada Bibi.


"Nggeh, Non." jawab Bibi sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian Bibi langsung pergi ke dapur untuk membuat jus jeruk.


Setelah selesai, Bi Ijah langsung mengantarkan jus jeruk tersebut.


Lima belas menit kemudian, Dona tiba dikediaman Lucy.


"Kamu kenapa? Uring-uringan?" tanya Dona begitu ia duduk di sebelah Lucy.


"Iya, aku sebal banget." gerutu Lucy.


"Memangnya sebal kenapa? Ada yang cari masalah sama kamu?" tanya Dona lagi.


"Tau tidak? Kemarin Rizky dan Aura jalan-jalan di Mall, pakai acara gandengan tangan segala lagi, sok romantis, kan?" ucap Lucy menjelaskan hal yang membuatnya pitam.


"Oh, kamu melihatnya dengan mata kepalamu sendiri?" tanya Dona.


"Tidak. Barusan Nina nelpon aku dan menceritakan hal itu. Hati aku langsung panas mendengarnya. Hikss.." jelas Lucy sambil meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Aduh, jangan nangis donk. Aku jadi bingung harus bagaimana." ucap Dona.


Sebenarnya Dona tidak tega melihat temannya ini kian tersiksa batin setelah Rizky dan Aura menikah.


Meskipun Dona sudah berkali-kali menasehati Lucy agar melupakan Rizky, Lucy tetap tidak bisa melakukannya.


"Aku sedang sakit hati. Bagaimana bisa aku tidak menangis. Hikss.. Hikss.." ucap Lucy.


"Kamu kenapa tidak cari laki-laki lain saja sih? Di luar sana masih banyak yang mau sama kamu. Kamu putri tunggal dan anak orang kaya. Kamu hanya perlu mengangkat jarimu untuk menunjuk pria yang kamu pilih." ucap Dona coba menasehati sahabatnya.


"Tidak bisa, Na. Aku sudah terlanjur cinta mati sama Rizky. Argh!!" ucap Lucy sambil menumbuk-numbuk bantal yang ada di sofa.


Dona jadi merasa bingung menghadapi sahabatnya.


"Hurrmm.." ucap Dona menghela nafas pelan.


"Aku harus cari hiburan, ayo ajak aku pergi ke suatu tempat." pinta Lucy pada Dona sambil bersandar di bahu Dona.


"Baiklah, ayo kita pergi main bowling saja." ajak Dona.


"Hmm, boleh juga." ucap Lucy sambil mengangkat kepalanya dari bahu Dona. "Kalau begitu, aku ganti baju dulu." lanjutnya.


"Iya, aku tunggu di sini." sahut Dona.


Kemudian Lucy beranjak dari tempat duduknya.


Beberapa menit kemudian...


"Ayo, Na." ajak Lucy.


"Ayo." sahut Dona.


Dona langsung membayar dua putaran untuk dua orang, sedangkan Lucy pergi memilih-milih sepatu yang khusus digunakan saat bermain bowling.


"Ada bawa kaos kaki?" tanya penjaga meja kasir.


"Ada, Pak." jawab Dona.


Setiap kali main bowling, penjaga pasti akan menanyakan hal tersebut.


Setelah mengambil resit, Dona pun pergi menuju ke tempat Lucy dan ikut memilih-milih sepatu yang sesuai dengan ukuran kakinya.


Ketika akan main bowling, memang harus menggunakan sepatu yang sudah khusus disediakan agar tidak terpeleset. Karena itulah, walaupun mereka menggunakan sneakers, mereka harus tetap mengganti sepatunya.


Setelah selesai memilih dan mengganti sepatu. Mereka mulai bermain bowling secara bergantian.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedari tadi terus mengawasi mereka.


Namanya Anton, anak pemilik Mall ini. Anton sering berkeliling untuk mengawasi semua penyewa. Siapa sangka akhirnya ia melihat Lucy dan langsung tertarik dengannya.


Tanpa fikir panjang, Anton langsung menghampiri Lucy dan Dona yang sedang asik bermain.


"Hei, ini aku bawakan minum untuk kalian, sepertinya kalian berdua sudah kelelahan." ucap Anton sambil menawarkan dua botol minuman dingin.


Saat mendengar suara seseorang, Dona dan Lucy langsung menoleh ke arah suara tersebut.


"Tidak, terimakasih." tolak Dona, karena dia tidak kenal dengan Anton.

__ADS_1


"Tidak baik menolak rezeki." ucap Anton.


"Kalau hanya minuman seperti itu, kami juga bisa membelinya." sahut Lucy sombong.


"Cih, sombong sekali. Tapi aku suka." ucap Anton dan tersenyum sinis. "Boleh aku tau siapa namamu, Nona?" tanya Anton pada Lucy.


"Siapa namaku bukanlah urusanmu." ucap Lucy.


"Betul." sahut Dona.


"Ayo, Na. Kita pergi dari sini. Aku sudah tidak mood main bowling." ucap Lucy dan langsung mengganti sepatunya.


"Tunggu!! Apa kamu tidak tau sedang berhadapan dengan siapa?" ucap Anton yang mulai kesal.


"Itu sama sekali tidak penting." ucap Lucy yang tidak kalah kesal.


Mendengar hal itu, Anton langsung menelepon anak buahnya agar menjaga pintu keluar area bowling.


"Kalian tidak akan bisa keluar dari sini. Hehe." ucap Anton sambil cengengesan.


"Apa maksudmu?" teriak Lucy.


"Anak buahku sudah mengelilingi area ini. Itu artinya kalian tidak akan bisa pergi tanpa izin dariku." jawab anton dan tersenyum manis.


"Wah, kita kena sial nih, Cy." ucap Dona.


"Katakan, apa yang kamu inginkan?" tanya Lucy lagi pada Anton.


"Aku hanya ingin tau namamu." jawab Anton santai.


"Namaku? Untuk apa?" tanya Lucy.


"Hanya sebuah nama, apa sulit bagimu untuk memberitahukannya padaku?" Anton balik bertanya pada Lucy.


"Cy, sebaiknya kamu jawab saja. Firasatku tidak enak, sepertinya dia bukan pria sembarangan." bisik Dona pada Lucy.


"Ok, aku akan memberitahukan namaku, tapi setelah itu kami berdua boleh pergi." ucap Lucy.


"Tentu saja." sahut Anton.


"Namaku Lucy Angelina Rose." ucap Lucy memberitahukan nama lengkapnya.


"Nama yang indah untuk seorang wanita yang indah." ucap Anton.


"Cih." sahut Lucy dan memalingkan wajahnya.


"Kami sudah boleh pergi, kan?" tanya Dona.


"Iya, Silahkan." jawab Anton. "Apa tidak ada yang mau menanyakan namaku?" lanjut Anton.


"Tidak penting!" sahut Lucy. Kemudian Lucy menarik tangan Dona dan bergegas pergi dari tempat itu.


Setelah Dona dan Lucy pergi, Anton memanggil salah satu anak buahnya.


"Selidiki latar belakang keluarga Lucy Angelina Rose." perintah Anton.


"Baik, Tuan Muda." jawab anak buah Anton.

__ADS_1


Sejak saat itu, Anton terus saja memikirkan Lucy. Fikirannya dipenuhi dengan nama Lucy, Lucy, dan Lucy.


__ADS_2