Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Queen Wanna Be??


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu, cuti BangRizky sudahpun berakhir. Hari ini Bang Rizky sudah mulai masuk kerja lagi.


Tok.. Tok.. Tok.. Suara pintu kamarku di ketuk.


"Masuk." ucapku.


Lalu seseorang membuka pintu kamarku dan terdengar suara langkah kakinya.


"Maaf mengganggu, Nyonya Muda. Saya mau menyusun pakaian yang sudah di setrika." ucap Chaca pelan.


"Owh iya, silahkan." ucapku, lalu aku pun menghampirinya yang sedang berdiri di depan pintu lemari.


Dengan hati-hati ia menyusun pakaian yang dibawanya.


"Sini, saya bantu." ucapku sambil meraih lipatan pakaian yang berada di dalam keranjang.


"Jangan, Nyonya Muda." ucap Chaca sambil menepis tanganku perlahan. "Ini tugas saya." sambungnya.


"Tidak apa-apa. Saya juga sudah terbiasa melakukan pekerjaan ini ketika tinggal bersama Ibu." ucapku, lalu aku meraih pakaian yang ada di dalam keranjang.


Kali ini Chaca tidak berani menepis tanganku lagi.


"Boleh saya tanya sesuatu?" tanyaku pada Chaca ketika kami sudah selesai menyusun pakaian.


"Boleh, Nyonya Muda. Mau tanya apa?"


"Usia kamu berapa tahun?"


"Alhamdulillah usia saya sudah 20 tahun, Nya." jawab Chaca.


"Kalau begitu kamu panggil saya Kakak saja. Tidak perlu menyebut Nyonya Muda." pintaku dengan lembut.


"Tidak bisa begitu, Nya. Kalau saya lancang menyebut Kakak, Bapak dan Ibu pasti marah dengan saya." ucapnya pelan dan menundukkan kepalanya.


"Iya juga sih. Hurrm." ucapku lalu menghela nafas berat. "Tidak apa-apa kalau kamu tidak boleh memanggil saya Kakak, tapi kamu maukan menganggap saya sebagai Kakak? Saya tidak punya Adik dan kamu tidak punya Kakak. Dengan begitu kita bisa saling memiliki." lanjutku.


"Tentu. Tentu saja saya mau, Nya." ucapnya dengan semangat. "Saya merasa sangat beruntung bisa memiliki Kakak seperti Nyonya Muda. Nyonya Muda sangat baik." lanjutnya.


"Terima kasih, Cha." ucapku lalu tersenyum padanya.


"Saya yang seharusnya mengucapkan terima kasih pada Nyonya Muda." ucapnya dan membalas senyumanku.


"Oh ya, saya masih ada kerjaan di bawah. Saya tinggal dulu ya, Nyonya Muda." lanjut Chaca.


"Iya, Cha." sahutku.

__ADS_1


Setelah Chaca pergi, aku lanjut membaca novel.


Beberapa menit kemudian, pintu kamarku di ketuk lagi.


"Silahkan masuk." ucapku.


"Maaf, Nyonya Muda. Di bawah ada yang ingin bertemu dengan Nyonya Muda." ucap Chaca.


"Oh ya? Siapa, Cha?" tanyaku tak percaya. Apa mungkin di Kota ini ada yang mengenalku dan tau aku tinggal di sini.


"Nona Dona dan Nona Lucy, Nyonya Muda." jawab Chaca.


"Mereka? Mau apa?" tanyaku masih merasa heran.


Aku tidak kenal dengan mereka berdua. Bahkan belum pernah bertemu dengan Dona sebelumnya.


"Saya tidak tau, Nya. Tapi saran saya, Nyonya Muda harus berhati-hati dengan mereka berdua." ucap Chaca pelan.


"Baik." jawabku.


Kemudian aku beranjak dari tempat dudukku, aku pun turun untuk menemui Dona dan Lucy.


Sesampainya aku di ruang tamu. Lucy langsung mendorongku, hingga aku terduduk di atas sofa.


"Heh, queen wanna be, kamu kira kamu sudah menang? Lihat saja nanti, aku pasti akan merebut Rizky dari kamu." ucapnya dengan emosi yang meluap-luap.


"Iya, jangan pura-pura polos kamu. Aku tau niat kamu menikah dengan Rizky, kamu pasti mengincar harta warisannya, iya kan?" ucap wanita yang bernama Dona. Ia membentakku.


"Harta warisan?" tanyaku lagi. Aku merasa sangat heran dengan statement mereka berdua. Aku bahkan tidak tau harta warisan apa yang sedang mereka bicarakan.


"Iyaaa.. Aduuuhh.. Kamu jangan pura-pura polos deh. Orang miskin yang datang dari kampung seperti kamu ini, datang ke sini pasti karena menginginkan harta keluaraga Rizky." ucap Lucy, dia menghinaku tapi aku justru melihat sisi buruk dari dirinya. Kata-kata yang ia keluarkan itu justru mencerminkan dirinya sendiri.


"Harta warisan apa, sih? Alhamdulillah Ummi dan Abi masih sehat wal afiat. Tidak usah membicarakan harta warisan lagi." ucapku.


"Tidak usah pura-pura polos. Kamu pasti tau kalau Abi memiliki hotel bintang lima dan 18 cabang di berbagai kota. Sebagian besar cabang sudah atas nama Rizky." sahut Dona.


"Saya tidak tau tentang hal itu." jawabku.


"Alah, masih pura-pura polos." ucap Lucy.


"Dia bukan polos, Cy. Tapi munafik." ucap Dona.


"Absolutely true." sahut Lucy membenarkan ucapan Dona.


Sungguh hatiku merasa sangat pedih. Pernyataan dan hinaan yang mereka lontarkan begitu menyayat hatiku.

__ADS_1


"Eh, ada Lucy dan Dona. Kapan datang?" ucap Ummi yang tiba-tida datang menghampiri kami.


Sepertinya Ummi tidak mendengar apa yang tadi mereka katakan.


"Baru saja, Tante." ucap Lucy manja. Ia bergegas menghampiri Ummi untuk mencium punggung tangan Ummi. Begitu juga dengan Dona.


"Tante dari mana?" tanya Dona.


"Baru pulang dari pengajian." jawab Ummi. "Ohya, sudah diambilkan minum, belum?" tanya Ummi.


"Belum, Tante." jawab Dona.


"Biiiii......." Ummi memanggil Bi Sumi.


"Mi, Aura saja yang pergi mengambilkan air minum untuk Lucy dan Dona." ucapku pada Ummi.


"Oh, ya sudah." ucap Ummi dan tersenyum padaku.


Kemudian aku bergegas pergi ke dapur. Akhirnya aku bisa menghindar dari mereka berdua. Hampir saja air mataku mengalir di depan mereka. Jika hal itu terjadi, mereka berdua pasti merasa senang dan puas karena telah berhasil menyakiti hatiku dan membuatku menangis.


Sesampainya aku di dapur. Chaca menghampiriku.


"Nyonya Muda, sabar ya." ucapnya dengan lembut.


"Tidak apa-apa. Jangan khawatir." jawabku sambil mengelus lembut bahu Chaca.


"Nyonya Muda masuk ke kamar saja. Saya yang akan mengantarkan minum untuk Nona Lucy dan Nona Dona." ucapnya.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Cha." ucapku dan tersenyum. Kemudian aku pergi ke kamarku.


Chaca menganggukkan kepalanya perlahan dan membalas senyumku.


Aku benar-benar tidak menyangka kalau ternyata Abi sekaya itu. Aku juga benar-benar tidak tau kalau Bang Rizky sudah memiliki sebagian besar cabang hotel.


Dan aku juga masih bingung mengapa orang sekaya Bang Rizky memilih pesantren yang sama denganku. Sekolah pesantren yang kebanyakan santri dan santriwatinya adalah orang yang berasal dari kalangan menengah seperti aku.


Aku tidak menyangka bahwa dikalangan orang-orang menengah itu, ada orang sekaya Bang Rizky.


Tak terasa mengalirlah butir-butir bening di kedua pipiku. Kata-kata yang mereka lontarkan tadi masih teringat jelas dan masih menyayat hatiku tiap kali aku mengingatnya.


Meskipun mudah bagiku mengatakan "Allah lebih tau tentang isi hatiku." Tapi tetap saja air mata ini enggan berhenti mengalir.


Hiks... Hiks... Hiks... Ibuuu.......


Aku akan membuktikan pada mereka, bahwa alasanku menikah dengan Bang Rizky bukan karena hartanya yang berlimpah. Aku pasti akan membuktikannya.

__ADS_1


Aku mengusap air mataku. Aku tidak mau mataku menjadi sembab dan bengkak. Kalau mataku bengkak, pasti Bang Rizky akan merasa sangat khawatir.


Aku segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukaku, agar mataku tidak bengkak saat nanti Bang Rizky pulang kerja.


__ADS_2