
Tiga bulan sudah berlalu..
"Aura sakit?" tanya Bang Rizky yang melihatku sedang berbaring sambil memegang perut.
"Iya, Bang." jawabku pelan.
"Ayo kita pergi ke dokter." ajaknya.
"Tidak perlu, Bang. Aura cuma sakit biasa." ucapku.
"Sakit biasa juga harus ke dokter." ajaknya lagi dan memegang tanganku.
"Aura cuma senggugut saja, Bang. Cukup minum air hangat untuk mengurangi rasa sakitnya. Nanti juga sembuh sendiri." ucapku menjelaskan keadaanku pada Bang Rizky.
Aku kira aku bisa hamil dengan cepat seperti Kak Mea. Tapi ternyata takdirku berbeda dengan Kakak.
"Aura sayang." ucap Bang Rizky sambil menepuk bahuku.
"Ah, iya." jawabku dan langsung menoleh ke arahnya.
"Dari tadi Abang panggil, Aura tidak dengar?" tanyanya.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku perlahan.
"Kenapa? Aura mikirin apa?" tanyanya lagi dengan lembut.
"Anak." jawabku dengan singkat.
"Hah? Anak?"
"Iya, Bang." jawabku.
Terlihat dari raut wajahnya bahwa ia sangat kaget mendengar ucapanku barusan.
"Aura ingin anak." ucapku, agar ia bisa langsung mengerti kemauanku tanpa banyak tanda tanya dibenaknya.
"Abang juga mau." ucapnya dan mengecup keningku.
"Sekarang usia pernikahan kita sudah tiga bulan. Tapi Aura belum punya tanda-tanda apapun." ucapku pelan. "Sekarang malah datang bulan." lanjutku.
"Sabar, sayang. Masih tiga bulan. Ada tuh yang sudah menikah sepuluh tahun, tapi baru di beri karunia." ucap Bang Rizky dengan lembut.
"Iya, Aura tau. Pasti wanita itu memiliki kesabaran yang sangat luar biasa. Aura juga tau , kesabaran tiada batasnya. Tapi tetap saja, rasa ingin ini tidak bisa dihindari." ucapku dan bersandar dibahunya.
"Iya, Abang mengerti. Bagaimana kalau kita honeymoon lagi." ucapnya memberikan saran.
"Di mana?" tanyaku, aku langsung menatap wajahnya dengan serius.
"Abang memiliki sebuah Villa di daerah pegungungan. Di sana udaranya juga sejuk." ucapnya sambil mengedipkan mata kanannya.
"Humm.. Kapan kita pergi? Sepertinya tempat itu sangat menyenangkan." ucapku dengan semangat.
"Tentu saja menyenangkan. Di sana udaranya masih bersih dan bebas dari volusi. Udaranya terasa sangat segar, jauh berbeda dengan udara di kota." jelasnya. "In syaa Allah kita pergi setelah cuti Abang disetujui." lanjutnya.
"Baiklah, Aura tunggu." ucapku sambil memeluknya.
Aku sangat bersemangat untuk pergi ke Villa bersama Bang Rizky. Tidak sabar rasanya ingin jalan-jalan di sana dan juga jogging.
__ADS_1
Keesokan harinya Bang Rizky berangkat kerja dan langsung mengajukan cuti selama 4 hari. Minggu depan kami akan pergi ke sana.
***
Hari ini dengan penuh semangat, aku mengemas pakaianku dan juga pakaian Bang Rizky.
Hari ini Bang Rizky pulang lebih awal agar kami bisa segera pergi ke Villa.
"Ra, pakaian sudah selesai di kemas?" tanya Bang Rizky saat masuk ke dalam kamar.
"Wah, hari ini Abang pulang cepat." ucapku. "Baru saja Aura selesai mengemas pakaian yang akan kita bawa." lanjutku.
"Iya, tadi Abang izin pulang cepat."
"Abang mau mandi dulu?" tanyaku.
"Iya, tidak enak rasanya kalau tidak mandi." jawabnya.
"Kalau begitu Aura langsung siap-siap saja, ya." ucapku.
"Iya." jawabnya sambil tersenyum.
Setelah membalas senyuman Bang Rizky, aku langsung bangkit dari tempat dudukku untuk mengganti pakaianku.
Tidak lupa aku juga menyiapkan pakaian yang akan di pakai oleh Bang Rizky. Aku meletakkannya di atas kasur agar nanti setelah mandi, Bang Rizky bisa langsung mengenakan pakaiannya.
Setelah selesai, kami langsung turun ke bawah untuk berpamitan dengan Ummi.
"Miii....." panggil Bang Rizky.
Lalu Ummi keluar dari kamarnya.
"Iya, Mi." jawab Bang Rizky.
"Kalian berdua hati-hati di jalan. Jangan ngebut dan jangan lupa memberi kabar pada Ummi kalau sudah sampai di Villa. Supaya Ummi tidak khawatir." ucap Ummi menasehati Bang Rizky.
"Baik, Ummi. Do'akan kami agar selamat di jalan." pinta Bang Rizky.
"Iya, Nak. Ummi do'akan agar kalian berdua selamat pergi dan pulang nanti." ucap Ummi.
Setelah selesai berpamitan, Ummi mengantar kami hingga masuk ke dalam mobil. Bi Sumi dan Chaca juga ikut mengantar serta mendo'akan kami berdua.
Setelah dua puluh menit mengendarai mobil, Adzan Ashar berkumandang. Lalu kami singgah ke sebuah masjid untuk menunaikan sholat Ashar.
Saat Bang Rizky menungguku di sebelah mobil, aku melihatnya sedang mengobrol dengan seorang pria paruh baya.
"Siapa, Bang?" tanyaku pada Bang Rizky setelah pria paruh baya itu pergi.
"Abang juga tidak mengenalnya. Dia hanya bertanya ke mana kita akan pergi." jawab Bang Rizky.
"Lalu Abang jawab apa?" tanyaku lagi.
"Abang jawab saja dengan jujur. Kita akan pergi ke Villa yang berada di daerah pegunungan itu." jawabnya.
"Ayo masuk ke mobil, hari sudah semakin sore. Takut nanti kita sampai sana sudah baghda maghrib." sambung Bang Rizky.
"Iya." jawabku lalu kami berdua masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Saat diperjalanan, Bang Rizky melihat mini market. Kami pun singgah untuk membeli beberapa makanan ringan dan minuman.
"Wah, indah sekali pemandangannya, hijau hijau." ucapku ketika kami memasuki kebun teh. Di kebun teh ini termasuk tempat yang sepi.
"Iya, Abang dulu dengan Kak Agatha sering main-main di sini ketika kami masih kecil." sahut Bang Rizky.
"Owh, kita juga boleh main-main di sini, Kan?" tanyaku.
"Tentu saja boleh." jawab Bang Rizky. "Eh, itu bukannya bapak yang tadi ya." ucap Bang Rizky lalu memberhentikan mobilnya.
"Iya, Bang." jawabku. "Bang, ini tempat sepi, Abang harus hati-hati. Dulu pernah ada kejadian di kampung, ada orang tua yang minta tolong di tengah jalan, tapi ternyata itu cuma tak tik untuk membegal." jelasku pada Bang Rizky sambil memegang tangannya. Firasatku tidak enak, aku tidak mau Bang Rizky keluar dari mobil.
"In syaa Allah tidak apa-apa. Percaya pada Abang." ucapnya meyakinkanku. Lalu dia keluar dan menghampiri pria paruh baya itu.
Lalu tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu mobil, dia juga mengeluarkan pisau belati untuk mengancamku.
"Keluar..!!" bentaknya.
Mendengar hal itu, Bang Rizky langsung menoleh. Dan dia segera berlari ke arahku. Tapi sayang, Bang Rizky di pukul oleh pria paruh baya yang menyebabkan Bang Rizky keluar dari mobil.
Bang Rizky terjatuh dan merasa kesakitan. Tapi dengan sigap dia bangkit lagi untuk melawan. Saat Bang Rizky mengarahkan tinjunya pada Bapak itu, pria yang ada di sebelahku berteriak padanya.
"Jangan sakiti Ayahku, atau aku akan membunuh wanita ini." ucap laki-laki yang berada di sebelahku. Dia memegang tanganku dan menempatkan pisau belati dekat dengan leherku.
"Jangan, jangan sakiti istriku. Katakan, apa yang kalian inginkan?" tanya Bang Rizky.
"Kami ingin semua yang kalian bawa, temasuk mobil ini. Dan wanita ini, aku pasti akan mencicipinya terlebih dulu sebelum merenggut nyawanya. Hahahahh." ucap anak ini sambil tertawa. "Ayah, bunuh pria itu." perintahnya pada Ayahnya.
"Dengarkan aku, jika kalian ingin selamat, enyahlah dari sini sekaran juga. Atau kau akan menyesal karena sudah berani berbicara seperti itu padaku." ucap Bang Rizky.
Bang Rizky sudah sangat emosi, aku dapat melihatnya ketika ia mengepalkan kedua tangannya.
Sekarang hanya aku saja yang perlu nemikirkan cara untuk mengelabui pria bau ini. Huffftttt!!!
"Aha, aku ada ide." ucapku di dalam hati. Kamu lihatlah keahlianku, aku memang terlihat lemah lembut, tapi aku sudah belajar silat selama di ponpes. Sedangkan suamiku yang kamu ancam itu, dia bukan hanya bisa silat, tapi dia juga menguasai tawkwondo dan sudah sabuk hitam. Kalian berurusan dengan orang yang salah.
"Aaaaaahhhhhhh.... Tolooooonnnggggg..... Dikakiku ada ulaaaarrrrr....." teriakku secara tiba-tiba.
Spontan laki-laki yang memegangiku itu melepaskan tangannya. Dia langsung menghindar dan menjauh dariku. Aku tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku langsung mengangkat kaki kananku dan menendangnya hingga ia terjatuh.
Begitu juga dengan Bang Rizky, ia langsung memberikan pukulan untuk laki-laki yang berada didekatnya.
Bang Rizky memberiku isyarat agar aku segera masuk ke dalam mobil. Lalu aku menurutinya.
Sebelum Bang Rizky sempat masuk ke dalam mobil, ada lima orang lagi yang datang. Sepertinya mereka semua adalah geng bapak itu.
Aku memperhatikan dengan seksama Bang Rizky memberi pukulan dan tendangan pada mereka semua. Cukup waktu sepuluh menit untuk mengalahkan mereka semuanya. Setelah itu Bang Rizky menyusulku masuk ke dalam mobil.
"Abang hebat." ucapku dengan bangga.
"Tentu saja, siapa dulu donk!" sahutnya. Diwajahnya terlihat begitu banyak keringat yang mengalir.
"Abang pasti lelah. Sini Aura lap dulu keringatnya." ucapku sambil mencari tisu di dalam tasku.
"Tidak apa-apa. Nanti saja di Villa Abang bersihkan. Sebaiknya kita langsung meninggalkan tempat ini." ucap Bang Rizky sambil menyalakan mobil dan melanjutkan perjalanan kami.
"Baik, Bang." jawabku dan langsung memakai sabuk pengaman.
__ADS_1
Jika kita tetap berada di sana, mungkin akan ada lagi preman yang datang. Hummm.