
Pukul 12 tengah hari, Aura dan Rizky tiba di Indonesia. Pak Ujang sudah menunggu di pintu keluar sejak beberapa menit yang lalu.
“Sini saya bawakan, Tuan Muda.” Ucap Pak Ujang sambil meraih koper yang ada di tangan Rizky.
“Terima kasih, Pak.” Ucap Rizky lalu melepaskan koper dari genggamannya.
Setelah koper berpindah ke tangan Pak Ujang, Rizky tidak membiarkan tangannya kosong, ia pun meraih tangan Aura dan menggandengnya.
Aura hanya bisa tersenyum bahagia melihat ulah suaminya itu.
Pak Ujang pun memimpin jalan menuju mobil.
Dalam perjalanan, Rizky melihat jam ditangannya dan ternyata sudah masuk waktu sholat dzuhur.
“Pak, nanti kalau ada masjid kita mampir dulu ya, sholat dulu.” Ucap Rizky.
“Baik, Tuan Muda.” Sahut Pak Ujang.
Tidak berapa lama kemudian mereka mendapati ada sebuah masjid, Pak Ujang pun masuk ke halaman masjid dan memarkirkan mobilnya.
“Ayo sayang.” Ucap Rizky pada istrinya.
“Iya.” Sahut Aura dengan lembut.
Pak Ujang dan Rizky pergi ke tempat wudhu’ laki-laki, sementata Aura pergi ke tempat wudhu’ wanita.
Pak Ujang dan Rizky sholat di lantai atas. Sementara Aura lebih memilih sholat di lantai bawah.
Setelah Aura selesai menunaikan sholat, ia bergegas pergi ke tempat mobil diparkir. Ia lihat Pak Ujang dan suaminya sudah menunggu disana.
Kenapa Aura lama? Karena pakaian perempuan lebih ribet dari pada laki-laki. Laki-laki hanya perlu melipat kain baju lengan dan celana untuk wudhu’, sedangkan wanita, harus membuka kaos kaki, handshock dan jilbab. Setelah selesai wudhu’ langsung pakai lagi jilbab, handshock dan kaos kaki. Begitulah dunia wanita, hehe.
Rizky melihat istrinya berjalan menuju mobil, lalu ia membukakan pintu mobil dan mempersilahkan istrinya untuk masuk terlebih dahulu.
“Terima kasih, Bang.” Ucap Aura dengan lembut.
“Iya, sama-sama.” Sahut Rizky dan tersenyum manis.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah.
“Stop, Pak. Stop!!” Pinta Aura secara tiba-tiba.
“Ada apa, sayang??” Tanya Rizky yang menjadi panik.
“Itu seperti Lilian, Bang.” Jawab Aura sambil menunjuk ke arah seorang gadis yang berdiri di tepi jalan.
“Iya.” Sahut Rizky.
“Aura samperin ya.”
__ADS_1
“Iya, hati-hati. Abang dan Pak Ujang masuk ke dalam duluan.” Sahut Rizky.
Aura menganggukkan kepalanya lalu membuka pintu mobil perlahan. Ia pun turun dan bergegas pergi menghampiri Lilian.
“Liii…..” Panggil Aura.
Lilian pun menoleh ke arah asal suara.
“Aura…” teriaknya lalu berjalan menuju Aura. “Aku baru saja dari rumahmu. Tapi kata Ibu mertuamu kamu belum pulang dari luar negri.” Lanjutnya.
“Iya, betul. Aura baru saja pulang. Ayo masuk lagi ke rumah. Pasti ada hal penting yang membawa kamu datang ke sini kan?” Tanya Aura.
“Iya, aku mau curhat tentang Dokter Wahyu.” Jawab Lilian. Lalu wajahnya terlihat sedih.
“Eh, kenapa jadi sedih?”
“Ntar aku ceritain semuanya.” Jawab Lilian.
Lalu mereka berdua berjalan dan masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam, Aura langsung menghampiri Ibunya dan Ummi lalu mencium punggung tangan mereka berdua satu persatu
Rizky dan Aura membagi-bagikan oleh-oleh yang mereka bawa.
Aura meminta izin pada Bu Ayu, Ummi dan juga Rizky untuk mengobrol berdua bersama Lilian.
***
“Iya, benar. Kamu siapa?” Balas Lilian.
“Saya Wahyu.”
“Oh, Dokter Wahyu yang waktu itu memeriksa Aura?” Tanya Lilian.
“Iya, benar.” Balas Dokter Wahyu. “Apa aku mengganggu?” Lanjutnya.
“Tidak.” Balas Lilian.
Obrolan mereka via chatting berlanjut beberapa hari hingga Dokter Wahyu memutuskan untuk mengajak Lilian makan malam di sebuah restoran mewah.
Lilian pun menyetujui hal itu dan berharap jika mereka berdua bisa berjodoh dan hidup bahagia seperti ketiga temannya.
Hingga saat makan malam tiba, Dokter Wahyu tiba lebih dulu dan duduk menunggu Lilian.
“Hai, Dok.” Sapa Lilian dan langsung duduk di depan Dokter Wahyu.
“Kalau di luar tidak perlu memanggil saya Dokter, panggil saya Wahyu saja.” Ucap Dokter Wahyu.
“Baik, Dok. Emm, maksud saya Wahyu, hehe.” Lilian terlihat salah tingkah dan malu.
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Nanti lama-kelamaan kamu pasti akan terbiasa memanggil nama saya.” Ucap Dokter Wahyu sambil tersenyum. Ia menyadari bahwa Lilian merasa sangat canggung
“Oh ya, Sya. Kamu mau makan apa?” Tanya Wahyu. “Eh, maksud saya, Lilian kamu mau makan apa?” Ucapnya mengoreksi nama. Ia sadar bahwa tadi ia teringat dengan Alisya.
“Aku pesan yang ini saja.” Jawab Lilian sambil menunjuk buku menu. Ia tidak menghiraukan kata ‘Sya’ yang di sebut oleh Dokter Wahyu.
“Ok.” Sahut Wahyu. Lalu ia memanggil pelayan dan memesan makanan.
Mereka berdua pun mengobrol tentang tempat tinggal, pekerjaan dan hal lainnya. Dan tanpa sadar Dokter Wahyu ntah sudah berapa kali menyebut ‘Sya’ ketika ia ingin menyebut nama Lilian.
Semakin lama keadaan menjadi semakin canggung diantara keduanya. Lilian mulai menyadari adanya hal yang tidak beres dengan Dokter Wahyu.
“Jika ‘Sya’ ini adalah teman atau pasiennya, tidak mungkin dia terus-terusan menyebut namanya.” Itulah yang ada di dalam fikiran Lilian.
***
“Begitulah ceritanya, Ra.” Ucap Lilian setelah ia selesai cerita tentang kesalah pahaman yang terjadi di malam itu.
“Oh, begitu.” Aura manggut-manggut tanda mengerti dengan apa yang telah terjadi. “Jadi intinya adalah, Dokter Wahyu terus-menerus ingat dengan si ‘Sya’ saat kalian makan malam.” Lanjutnya.
“Iya, aku penasaran banget sebenarnya siapa dia? Lali-laki ataukah perempuan?”
“Nanti aku coba sampaikan hal ini pada Bang Rizky, mungkin saja Bang Rizky tau siapakah gerangan ‘Sya’ ini.” Ucap Aura dan mencoba menenangkan Lilian sahabatnya.
“Ok. Aku tunggu kabar dari kamu. Secepatnya kamu harus membicarakan hal ini padanya ya.” Pinta Lilian.
“Iya, kamu tenang saja. Aura yakin tidak akan ada hal buruk apapun.” Ucap Aura. “Tapi, kalau misalnya itu adalah nama seseorang di masa lalu Dokter Wahyu bagaimana? Mantan misalnya. Apa yang akan kamu lakukan?” Tanya Aura.
“Huuuffftttt.” Lilian menghempas nafasnya. “Aku tidak tau, Ra. Semoga saja bukan.” Jawab Lilian. “Tapi jika ini berkaitan dengan masa lalunya, aku broken heart donk, Ra. Hikss.” Lanjutnya.
“Memangnya kamu suka sama Dokter Wahyu?” Tanya Aura yang penasaran.
“Iya.” Jawab Lilian pelan.
“Secepat ini?” Tanya Aura kaget dan membelalakkan kedua bola matanya.
“Iya, lagian kamu juga tau kalau aku jomlo sudah lama. Aku nggak bisa bohong kalau aku suka dia diawal karna wajahnya yang tampan. Tapi sekarang, perasaan aku sudah semakin nyaman dengannya karna selama ini dia juga perhatian sama aku, Ra. Walaupun kami jarang komunikasi, tapi setiap kali ada kesempatan chat, saat itu juga ada perhatian yang ia berikan padaku. Hatiku langsung meleleh dibuatnya.” Jawab Lilian panjang lebar dan manja.
“Iya, Aura tau. Dan Aura juga tau kalau kamu orangnya baperan. Hehe.” Ledek Aura. “Diperhatiin dikit aja langsung berbunga-bunga.” Lanjutnya sambil menyenggol lengan Lilian.
“Ra, temen kamu ini sedang dilema. Jangan diledekin donk, iiih.” Ucap Lilian kesal.
“Iya iya maaf.” Ucap Aura sambil memeluk Lilian dari samping.
“Iya, aku maafin.” Sahut Lilian sambil tersenyum. “Oh ya, sudah sore. Aku pamit pulang ya. Kamu juga pasti capek, harus banyak-banyak istirahat.” Lanjutnya.
“Iya. Ayo, Aura antar ke depan.”
Setelah berpamitan, Aura mengantar Lilian ke depan. Aura juga menemani Lilian menunggu taxi. Setelah Lilian naik taxi barulah Aura masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar untuk menemui suaminya.
__ADS_1