
Aura menemui Bi Sumi didapur.
“Bi, sudah seminggu berlalu. Saudara Bibi tidak jadi datang kesini untuk bekerja?” Tanya Aura sambil mengernyitkan dahinya.
“Emm, Itu. Maaf, Nyah. Kemarin ada urusan keluarga. Mendadak banget. Jadi keponakan saya itu belum bisa datang.” Jawab Bi Sumi.
“Oh, begitu. Baiklah, tidak apa-apa.” Ucap Aura dengan lembut.
Aura duduk sambil memperhatikan Bi Sumi yang sedang merajang sayuran untuk dimasak.
Lalu tiba-tiba Mang Jaja memanggil Bi Sumi dari pintu samping.
“Bi, ada yang mencari Bibi.” Ucap Mang Jaja berteriak.
“Siapa, Mang?” Tanya Aura lalu menghampiri Mang Jaja di pintu.
“Eh, ada Nyonya Muda. Hehe.” Ucap Mang Jaja cengengesan. “Maaf ya Nyonya Muda. Tadi saya teriak-teriak begitu.” Lanjutnya merasa tidak enak pada Aura.
“Tidak apa-apa, Mang. Siapa yang datang?”
“Tadi katanya keponakan Bi Sumi, Nyah.”
“Oh, Rini sudah datang.” Bi Sumi meninggalkan pekerjaannya dan langsung pergi ke depan untuk menemui Rini keponakannya.
Sementara itu Aura menunggu di ruang tamu.
Ia juga sudah memanggil Rizky yang berada di ruang baca.
Bi Sumi membawa Rini menghadap Tuan Muda dan Nyonya Muda selaku majikannya.
“Siapa nama kamu?” Rizky mulai bertanya.
“Nama saya Rini, Tuan. Tapi lebih suka dipanggil Syahrini. Hihihii.” Jawab Rini tertawa kecil dan centil.
Rizky membelalakkan kedua bola matanya melihat tingkah Rini.
Ia menatap Aura sembari mengernyitkan dahinya.
Tatapan matanya menyampaikan “Ini ART baru kita?”
Aura mengangguk sambil menahan tawa.
Melihat ekspresi Rizky dan Aura, Bi Sumi menyenggol lengan Rini lalu berbisik.
“Jaga sikapmu. Didepan majikan harus sopan.”
“Maaf, Bi. Bawaan lahir, hehee.” Jawab Rini cengengesan.
Aura semakin merasa lucu melihat tingkah Rini.
Kemudian Rizky melanjutkan pertanyaannya.
Setelah selesai bertanya ini dan itu, Rizky memberikan keputusan pada Aura.
Rizky hanya memberikan syarat pada Rini agar tidak bertingkah genit dihadapannya.
__ADS_1
Ia sadar bahwa tidak mungkin ia bisa mengubah tabiat Rini, apalagi itu sudah pembawaannya sejak lama. Pasti sudah mendarah daging dan tidak mungkin bisa berubah dalam sekejab.
Rini menerima syarat yang diajukan oleh majikannya itu. Hanya saja ia mengatakannya dengan jujur bahwa ia minta maaf jika suatu saat nanti ia tidak sengaja melakukan hal itu dihadapan Rizki selaku majikannya yang ia segani.
“In syaa Allah saya akan memakluminya jika memang tidak disengaja.” Ucap Rizky.
“Terima kasih, Tuan Muda.”
“Dan… satu lagi. Tolong berpakaian yang lebih sopan dan tertutup.” Pinta Rizky.
“Baik, Tuan Muda.” Lagi-lagi Rini mengangguk.
Setelah itu Rizky beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke ruang kerjanya.
Aura yang sedari tadi hanya senyum-senyum sendiri akhirnya mulai bersuara.
“Rini, tingkah kamu lucu banget. Saya jadi terhibur. Hehe.” Ucap Aura sambil tertawa kecil.
“Terima kasih, Nyonya Muda.” Rini Sumringah.
“Hanya saja, didepan suami saya sikap seperti itu memang tidak boleh. Apalagi suami saya orangnya menjaga pandangan, jadi Rini jangan merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh suami saya tadi.” Ucap Aura serius.
“Iya, Nyah. Saya tidak tersinggung.” Ucap Rini. “Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih banyak karena Nyonya Muda sudah mau menerima saya bekerja disini bersama Bibi. Meskipun saya banyak kurangnya.” Lanjutnya terharu.
“Iya, sama-sama. Kamu baik-baik bekerja disini.”
Aura meraih uang yang ada disaku gamisnya lalu menyerahkannya pada Rini.
“Ini ada beberapa lembar uang. Kamu pergilah beli baju yang lebih tertutup.” Ucap Aura.
Rini menatap Bi Sumi. Karena ia tidak berani langsung menerima uang sebelum melakukan pekerjaan apapun.
Kemudian Rini memberanikan diri meraih uang yang ada ditangan Aura.
“Ma syaa Allah, ini lima ratus ribu, Nyah. Banyak banget. Nanti kalau gaji saya dipotong sisanya hanya….”
“Tidak akan dipotong gaji.” Aura langsung memotong ucapan Rini. “Ini pemberian dari saya. Bukan pinjaman.” Lanjutnya lalu tersenyum manis.
“Ya Allah. Terima kasih banyak, Nyah. Saya benar-benar beruntung bisa bekerja disini.” Rini terisak.
Mengingat betapa susahnya selama ini keluarganya dalam menghasilkan uang. Kini ditangannya ada uang yang begitu banyak baginya, bahkan ia mendapatkannya secara cuma-cuma.
Bi Sumi mengelus lembut kepala Rini untuk membuatnya merasa lebih tenang.
“Sudah, jangan bersedih.” Ucap Aura.
“Assalamu’alaikum, Ibu.” Zara yang baru pulang kuliah langsung menemui Ibunya untuk membicarakan keputusannya menikah dengan Zayn.
“Wa’alaikumussalam. Anak Ibu sudah pulang.” Aura menyambutnya dengan wajah yang berseri-seri seperti biasanya.
Zara mencium punggung tangan Ibunya.
Kemudian ia menatap Rini dan Bi Sumi.
“Bi, ini siapa?” Tanya Zara.
__ADS_1
“Ini keponakan Bibi, Nona Muda. Namanya Rini.” Jawab Bi Sumi.
“Rini ART baru kita. Ibu yang memintanya bekerja disini untuk membantu Bi Sumi.” Ucap Aura menjelaskan bahkan sebelum Zara bertanya.
“Owh, begitu.” Zara manggut-manggut.
“Bi, bawa Rini ke kamarnya.” Perintah Aura.
“Baik, Nyah. Bibi dan Rini permisi kebelakang.” Ucap Bi Sumi.
“Iya, Bi.” Sahut Aura.
Zara menggandeng tangan Ibunya lalu membawanya masuk ke dalam kamarnya.
“Ibu.” Ucap Zara ketika mereka berdua sudah duduk di atas katil.
“Ada apa, Sayang?” Tanya Aura.
“Bagaimana dulu perasaan Ibu saat menikah dengan Ayah?” Zara balik bertanya.
“Kenapa bertanya seperti ini?” Aura mengernyitkan dahinya karena merasa heran dengan sikap anaknya.
“Aku hanya ingin memastikan keputusanku ini sudah tepat atau belum.” Jawab Zara pelan.
“Hmmm. Dahulu sebelum Ibu memutuskan untuk menerima lamaran Ayahmu, Ibu melakukan Sholat Istikharah terlebih dahulu.”
“Aku juga sudah melakukannya, Bu.”
“Lalu, bagaimana perasaanmu?”
“Aku merasa semakin ingin menikah dengan Bang Zayn. Tapi takut juga ini adalah tipu daya syaitan, Ibu.”
“Apa selama ini kamu menyukai Zayn?”
“Tidak, Ibu. Bahkan memikirkannya saja tidak pernah.”
“Lalu, apa belakangan ini kamu selalu memikirkannya?”
“Iya, karena akan menikah dengannya. Aku beberapa kali memikirkannya untuk menimbang-nimbang.”
“In syaa Allah perasaanmu sudah tepat, sayang.”
“Apa Ibu yakin?”
“In syaa Allah. Ibu yakin.” Jawab Aura meyakinkan putrinya. “Ibu bisa merasa yakin karena sebelum Ibu memilih Ayahmu. Ibu juga sudah pernah sholat istikharah beberapa kali untuk pria lain. Tapi hati Ibu mati rasa dan tidak ada niat yang kuat untuk menikah dengannya.” Lanjut Aura menjelaskan.
“Oh, begitu.” Zara mengerti.
“Jadi, apa itu artinya putri Ibu bersedia menikah dengan Zayn?” Aura menggoda putrinya.
“Hahahahaa.” Zara merasa malu lalu menutup wajahnya dengan bantal berbentuk love berwarna merah muda.
“Baiklah, Ibu sudah mengerti. Ibu akan membicarakan hal ini pada Ayahmu.” Ucap Aura.
Zara masih menyembunyikan wajahnya disebalik bantal love.
__ADS_1
“Kamu istirahatlah dan jangan lupa untuk bersih-bersih terlebih dahulu.” Lanjut Aura.
“Baik, Ibu.” Sahut Zara.