Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Season 2: eps. 9


__ADS_3

Amir dan Rizky duduk bersebelahan.


Amir tampak gugup, sesekali jari-jemarinya bergesekan menandakan ia sedang merasa tak nyaman.


“Amir. Sudah berapa usiamu?” Tanya Rizky memulai obrolan.


“Sudah hampir tiga puluh tahun, Bang.” Jawab Amir.


“Usiamu ini sudah sangat cukup untuk membina rumah tangga. Apakah kamu tidak memikirkannya?”


“Memikirkannya?” Amir mengernyitkan dahinya.


“Iya. Tentu saja. Apa kamu tidak memiliki seseorang yang kamu sukai untuk kamu halalkan?” Rizky to the point.


“Aku….” Amir menunduk.


“Aku apa?” Rizky menyentuh bahu Amir dan menatapnya.


“Aku menyukai rekan kerjaku. Tapi aku malu.” Jawabnya pelan.


“Kamu sungguh berterus terang. Bagus, aku suka itu. Hehe.” Rizky cengengesan.


Wajah Amir memerah.


“Tapi..”


“Tapi apa? Dia sudah menikah?” Tanya Rizky dengan eksprsi wajah yang kaget, ia tak menyangka bahwa Amir akan mencintai istri orang.


“Bukan begitu, Abang jangan berpikir terlalu jauh. Dia belum menikah.” Amir menjelaskan secepat kilat.


“Oh, Alhamdulillah.” Rizky merasa lega. “Lalu apa masalahnya?” Tanya Rizky dengan serius.


“Dia sangat cantik, pintar, baik, bahkan seniorku di kantor. Aku merasa tak pantas untuknya.” Amir merasa minder.


“Lalu apakah kamu jelek, bodoh, jahat? Sehingga tidak pantas untuknya?”


“Abang.” Amir kaget dan langsung menatap Rizky mendengar ucapan Rizky tersebut.


“Hahahaa.” Rizky tertawa melihat ekspresi wajah Amir.


“Tidak ada istilah pantas atau tidak. Yang ada hanyalah mau atau tidak mau. Kelebihan dan kekurangan yang kita miliki pasti akan selalu melengkapi kelebihan dan kekurangan pasangan kita. Kamu hanya perlu mencoba, bertanya padanya, apakah dia mau menikah denganmu atau tidak?”


“Begitu terus terang, aku tidak berani. Aku tidak memiliki nyali sebesar itu.”


“Hmmm.” Rizky menghela nafas. “Baiklah, Abang akan mewakilimu. Kamu hanya perlu memberitahuku siapa wanita itu.” Rizky menepuk-nepuk bahu Amir dengan lembut.


“Tapi, jika nanti dia menolak. Bagaimana aku akan melanjutkan kerja di kantor yang sama dengannya?”


“Haiisshhh. Kenapa kamu brgitu pesimis?”


“Maaf, Bang. Aku hanya merasa takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja bisa terjadi.” Amir terlihat lesu.


“Iya, tidak salah kamu khawatir. Tapi kita tidak akan pernah tahu hasil akhirnya jika kita tidak berani mencobanya.” Rizky membujuk.


“Baiklah, Bang. Aku akan mendengarkan Abang.” Ucap Amir.


Rizky mengangguk dan tersenyum.


Amir meraih ponselnya dari dalam saku celananya. Ia kemudian membuka sosial media dan mencari profil wanita yang ia sukai itu.

__ADS_1


“Ini wanita yang aku maksud, Bang.” Ucap Amir sembari menyerahkan ponselnya pada Rizky.


Rizky meraih ponsel tersebut lalu melihat ke layarnya.


“Wah, nama dan wajah yang bagus. Kamu tidak salah memilih dalam rupa. Semoga juga tidak salah menilai dalam Akhlaqnya.” Ucap Rizky lalu mengembalikan ponsel Amir.


“Aamiin.” Sahut Amir.


“Aku akan mengatur waktu untuk mengunjungi kantormu dan bertemu dengannya. Kamu tunggu saja, tidak perlu buru-buru. Dan jangan gugup.”


“Baik, Bang. Terima kasih. Abang adalah Abang terbaik didunia ini. Aku sangat bersyukur Allah memasukkanku ke dalam keluarga ini.”


“Abang juga bersyukur bisa memiliki Adik sepertimu.”


Setelah selesai mengobrol, Amir dan Rizky pergi ke kamar masing-masing.


Aura menyambut kedatangan suaminya dengan gembira dan perasaan yang tidak sabar ingin mendengarkan cerita dari suaminya.


“Bagaimana, bagaimana, bagaimana?” Aura kepo.


“Apanya yang bagiamana, sayang?” Rizky menggoda istrinya.


“Amir bagaimana?”


“Amir tidak gimana-gimana.” Rizky tersenyum.


“Iiiddiihhh.” Aura manyun.


“Hahahaa.” Rizky tertawa puas.


“Segitu tidak sabarnya.” Ucap Rizky kemudian.


“Hehe.” Rizky masih tertawa karena senang melihat ekspresi wajah Aura yang sangat imut baginya.


“Baik, baik, akan Abang beri tahu.”


Wajah Aura berubah menjadi tidak sabar.


“Hmmm.” Rizky menghela nafas. “Amir menyukai seseorang. Tapi dia sangat pesimis, takut ini takut itu.”


“Maksudnya takut ditolak?” Tanya Aura.


“Iya, begitulah.”


“Hmm. Belum mulai perang sudah takut kalah.”


Aura terlihat sedang memikirkan sesuatu.


“Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Abang sudah membujuknya untuk mencoba. Diterima atau tidak, dia harus siap dengan konsekuensinya.” Ucap Rizky menenangkan Aura.


“Owh, Alhamdulillah kalau begitu. Semoga dia langsung diterima tanpa syarat ini itu, hehe.” Aura sumringah.


“Aamiin ya Allah. Ayo istirahat, Abang sudah mengantuk.” Ajak Rizky.


Aura mengangguk. Rizky memeluk Aura hingga keduanya terlelap.


***


Dikampus.

__ADS_1


Zara terlihat tidak fokus belajar karena pikirannya terus memikirkan pertemuan keluarga malam nanti.


Nayla menyadari hal itu, tapi ia tidak berani mengganggu Zara.


“Zara sampai begitu setresskah menghadapi pelajaran ini?” Gumam Nayla didalam hatinya.


Kebetulan, mata kuliah hari itu adalah mata kuliah yang tidak terlalu disukai oleh Zara.


Padahal Zara sama sekali tidak memikirkan pelajarannya.


Pikirannya dipenuhi oleh nama sesorang, yaitu Zayn.


Hingga mata kuliah berakhir, Zara masih terlihat seperti orang yang sedang berpikir keras.


“Zara, Dosen sudah keluar. Kamu jangan terlalu memikirkan pelajaran lagi.” Ucap Nayla pelan.


“Ah!” Zara kaget. “Eh, iya. Maaf.” Ia jadi salah tingkah.


“Kamu kenapa? Sakit?” Nayla menyentuh dahi Zara dengan punggung tanyannya.


“Tidak, aku tidak sakit.” Jawab Zara.


“Lau kenapa? Kamu terlihat begitu tertekan.” Nayla khawatir.


“Ini.. Itu…” Zara gugup.


“Kamu pasti merahasiakan sesuatu dariku.” Nayla menebak.


“I-iya. Aku..” Zara masih belum berani berterus terang pada Nayla.


“Baiklah, jika begitu berat mengucapkannya. Jangan dipaksa.” Nayla sangat pengertian.


“Terima kasih bestie. Kamu memang paling pengertian. Ayo aku traktir kamu makan.” Zara berubah jadi semangat dan terlihat bahagia. Sepertinya bebannya sudah hilang.


Karena Nayla tidak memaksanya untuk cerita, ia jadi merasa lega.


“Hari ini kamu mau makan apa saja, aku yang akan membayarnya. Ayo, jangan sungkan.”


“Baiklah, Tuan Putri. Aku pasti akan menguras isi dompetmu. Hahahaa.” Nayla tertawa kencang.


Hal itu menarik perhatian beberapa orang yang ada disekitar mereka.


“Sssttt! Pelankan suaramu, aku tidak mau mentraktir orang lain lagi. Cukup hanya kamu seorang.” Bisik Zara.


“Iya. Maaf.” Nayla tertawa sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Sesampainya di kantin kampus, Nayla memesan beberapa makanan. Tentu saja makanan yang ia pesan itu juga ia share dengan Zara.


“Nay, aku sama sekali tidak mengerti dengan pelajaran tadi. Kamu bisa mengajari aku?”


“Boleh-boleh saja.” Jawab Nayla sambil mengunyah makanan.


“Satu bulan lagi akan ujian semester. Rasanya waktu satu bulan itu sangat singkat. Aku takut ada mata kuliah yang tidak lulus, aku tidak mau mengulang.” Zara khawatir pada dirinya sendiri.


“Jangan khawatir, kamu begitu pintar bagaimana mungkin ada mata kuliah yang tidak lulus.” Ucap Nayla. “Jika perlu, kita sering-sering saja menginap bersama agar bisa belajar bersama.” Nayla mengusulkan.


“Ide yang sangat brilliant. Aku setuju.” Zara sumringah.


Keduanya terlihat semangat dan bahagia.

__ADS_1


Setelah itu fokus pada makanan masing-masing dan menyantapnya hingga tak bersisa.


__ADS_2