Istikharah Menyatukan Kita

Istikharah Menyatukan Kita
Ungkapan Rindu yang Ribet


__ADS_3

Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.


Thank you. *Hug.


Happy Reading.... 💕


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat aku sedang asik memandang foto-foto Tasya anaknya Luna. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku.


Ttokk... Ttokk... Ttokk... Seseorang mengetuk pintu.


"Masuk saja, tidak di kunci." ucapku.


"Nyonya Muda." ucapnya setelah ia membuka pintu.


"Jihan, ada apa?" tanyaku.


Jihan jalan perlahan menuju tempat tidurku.


"Alhamdulillah, hari ini saya sudah mulai kuliah. Saya mau izin pergi ke kampus." jawabnya.


"Wah, Alhamdulillah. Kamu hati-hati di jalan. Semangat belajar dan jangan lupa share ilmunya dengan saya." ucapku memberi semangat.


"In syaa Allah, Nyonya Muda. Saya permisi dulu." Sahut Jihan.


"Iya, kamu perginya naik angkot ya?" tanyaku.


"Iya, Nyonya Muda." jawabnya.


"Kalau kamu butuh apa-apa jangan sungkan untuk memintanya pada saya." ucapku.


"Baik, Nyonya Muda." ucapnya.


Aku mengantarkan Jihan hingga depan pintu gerbang. Setelah itu dia berjalan kaki sendirian dan mencari angkot.


"Mang Jaja." sapaku.


"Iya, Nyonya Muda." jawabnya lalu menghampiriku.


"Apa Ningrum pernah muncul lagi di sekitar sini?" tanyaku.


"Pernah, Nyonya Muda. Waktu itu dia hanya melihat-lihat. Saat saya tegur, dia langsung pergi." jawab Mang Jaja.


"Owh, begitu." ucapku. "Kalau begitu, saya masuk dulu ya." lanjutku.


"Baik, Nyonya Muda." sahut Mang Jaja.


Seingatku dulu saat masih sekolah, Ningrum adalah anak yang aktif bersosal. Dia mudah berteman dengan siapa saja. Tidak sepertiku yang introvert, aku takut tidak di terima dengan baik oleh orang lain.


Dari aku Madrasah sampai lulus dari sekolah pesantren. Orang yang paling dekat denganku adalah Luna.


Tak jarang ada orang yang suka menjahiliku, dan Luna lah orang yang selalu menjadi lawan mereka.


Ningrum salah satu anak yang suka mengejekku karena keluargaku broken home.

__ADS_1


Aku tidak pernah menyimpan dendam pada siapapun, karena waktu itu kita hanyalah anak-anak yang belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.


Ketika Lulus dari Madrasah, Ningrum dan orang tuanya pindah rumah. Aku tidak tau saat itu mereka pindah kemana. Dan sekarang baru kita bertemu lagi.


Ntah apa yang menyebabkan Ningrum tiba-tiba jadi memusuhiku seperti itu. Jika karena Bang Rikzy, bukankah seharusnya dia sadar bahwa sesuatu yang tidak ditakdirkan menjadi miliknya, tidak akan pernah menjadi miliknya meskipun ia mencoba untuk merebutnya.


Ting!! Suara ponsel menyadarkanku dari lamunanku.


"Chat dari Bang Rizky." ucapku pelan. Lalu aku membuka isi chat yang baru saja ia kirimkan.


"Assalamu'alaikum, Aura sayang." tulisnya.


"Wa'alaikumussalam." balasku.


"Alif Fathah, Kaf Dhamah, Ro Kasrah, Nun Sukun, Dal Dhamah, Kaf Fathah, Mim Dhamah." tulisnya lalu di susul emoji love.


Alif fathah adalah A, kaf dhamah adalah KU, ro kasrah adalah RI, nun sukun berarti N atau nun mati, dal dhamah adalah DU, kaf fathah adalah KA dan yang terakhir mim dhamah adalah Mu.


"Hahahahahahahaha." aku tertawa lepas saat tau apa maksud dari isi chatnya Bang Rizky tersebut.


"Mau bilang 'Aku Rindu Kamu' saja segitu ribetnya ya, Bang?" balasku sambil tertawa.


Bang Rizky bisa saja membuat hatiku senang sampai seperti ini.


"Ribet tapi Aura suka, kan?" balasan dari Bang Rizky.


"Iya suka, lucu." tulisku.


"Memang agak ribet, tapi kesannya mendalam, hehe." tulis Bang Rizky lalu memberikan emoji kiss bertubi-tubi.


"Sekarang sih belum, tapi sebentar lagi Abang akan pergi ke kitchen." jawabnya.


"Owh, ya sudah. Kerja baik-baik, jangan TP TP." balasku.


"TP TP, apa itu?" tanyanya.


"Tebar Pesona. Wkwkwkk." balasku.


"Hahahahh. Abang tidak perlu tebar pesona, yang kepincut juga sudah banyak." tulisnya.


"Yeahh, you right." balasku.


"But i only love you, my sweetheart." tulisnya dan memberikan emoji kiss.


"I know." balasku lalu aku memberikan emoji hug.


"Abang mau pergi ke kitchen, nanti kita lanjut lagi. Assalamu'alaikum." tulisnya.


"Iya, Bang. Wa'alaikumussalam." balasku.


Usia pernikahanku dan Bang Rizky sudah mendekati satu tahun. Tapi aku masih belum mendapatkan tanda-tanda kehamilan.


Setiap bulan aku selalu mens bahkan satu bulan dua kali aku cuti sholat.


"Apa aku tidak subur ya? Atau jangan-jangan rahimku bermasalah?" tanyaku di dalam hati.

__ADS_1


Ah tidak, aku tidak boleh berfikiran buruk seperti itu. Aku harus yakin bahwa Allah pasti akan memberikan kami rezeki zuriat. Ini hanya tentang waktu.


"Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman."


(Q.S. Ali-Imran ayat 139).


"Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat."


(Q.S. Al-Baqarah ayat 45).


Dua ayat Al-qur'an itu cukup untuk membuatku merasa lebih tenang. Separtinya nasihat yang pernah aku berikan pada Jihan, kini juga cocok untuk diriku sendiri. Aku masih harus banyak bersabar dan berdo'a.


Untuk membuang segala fikiran buruk, aku pergi menemui Chaca.


Saat aku kebelakang, aku lihat Chaca dan Bi Sumi sedang beristirahat di pondok kecil dekat taman mini dan kebun. Sepertinya mereka sudah tidak memiliki pekerjaan lagi.


"Nyonya Muda." ucap Chaca saat melihatku datang menghampiri mereka.


"Saya boleh ikut duduk-duduk di sini?" tanyaku.


"Tentu saja boleh." jawab Bi Sumi.


"Bi, Aura boleh bertanya pada Bibi?" tanyaku.


"Boleh, Nyonya. Kalau Bibi bisa menjawabnya, pasti akan Bibi jawab." jawab Bibi.


"Tanda-tanda hamil itu seperti apa, Bi?"


"Nyonya Muda sedang hamil?" tanya Chaca.


"Belum, Cha. Cuma ingin tau tanda-tanda awalnya seperti apa." jawabku dengan lembut.


"Owh, begitu." ucap Chaca.


"Ketika Bibi hamil, tanda-tanda awal yang Bibi rasakan adalah sakit pinggang, kemudian Bibi tiba-tiba tidak suka dengan bau-bau tertentu, lalu mulai ngidam berbagai macam makanan." ucap Bibi menjelaskan padaku.


"Apa dulu Bibi setelah menikah langsung hamil?" tanyaku.


"Tidak Nyonya Muda. Bibi hamil setelah dua tahun menikah." jawab Bibi.


"Owh, lumayan lama ya, Bi." ucapku.


"Allah yang menentukan kapan kita akan hamil. Nyonya Muda jangan sedih ya jika sering di tanya kapan hamil?" ucap Bibi menasehati aku.


"Bagaimana Bibi bisa tau kalau saya sering dapat pertanyaan seperti itu?" tanyaku heran.


"Karena dulu Bibi juga seperti itu. Sampai dua tahun Bibi mendengarkan pertanyaan seperti itu, hehe. Sudah seperti makanan sehari-hari." jawab Bibi.


"Iya, Bi. In syaa Allah saya tidak akan sedih ataupun tersinggung jika ada yang bertanya seperti itu." ucapku lalu tersenyum.


"Supaya ngobrolnya lebih enak, bagaimana kalau Chaca masuk ke dalam mengambil cemilan dan minuman." ucap Chaca.


"Iya, bolah." jawabku.


Bi Sumi pun menganggukkan kepalanya. Kemudian Chaca beranjak dari tempat duduknya dan bergegas masuk ke dalam untuk mengambil minuman dan cemilan yang akan menemani kami santai-santai di sini. Menikmati keindahan bunga-bunga dan menikmati tiupan angin sepoi-sepoi yang memberikan rasa nyaman.

__ADS_1


__ADS_2