
“Bang Zayn, apa Abang tau siapa Papanya?” Tanya Zara.
“Tidak. Memangnya penting?”
“Papanya adalah Paman Anton.”
“Siapa itu?”
“Dia Mafia.” Bisik Zara ditelinga Zayn.
“Sudahlah, tidak usah takut. Negara kita adalah negara hukum. Lagi pula Putrinya sendiri yang suka mencari masalah. Dia selaku orang tua nya tidak mungkin tidak tahu watak Putrinya.” Ucap Zayn. “Sudahlah, aku mau pergi ke rumah sakit.” Lanjutnya.
“Iya. Aku juga mau masuk.” Sahut Zara. “Tumben bicaranya panjang, hehe.” Ucap Zara didalam hatinya lalu cengengesan.
“Eh, tapi… Bagaimana bisa Angel mengetahui bahwa aku dan Bang Zayn adalah suami istri?” Langkah Zara terhenti. “Apa mungkin dia meminta Papanya untuk menyelidiki aku?” Zara menebak..
Saat berada didalam mobil, Zayn berpikir.
“Anton? Seorang Mafia? Kenapa nama ini terasa sangat familiar? Hmmm.” Anton berpikir lalu teringat masa lalunya.
- Flashback -
Zayn berusia tujuh tahun.
“Dia mencoba kabur lagi.” Ucap seorang Preman yang memerintahkan Zayn untuk menjual obat terlarang.
Mereka berdua mengikat tangan dan kaki Zayn dikursi.
“Aku sudah lelah mengurusnya.” Ucap rekannya lalu menampar wajah Zayn.
Zayn yang masih kecil saat itu hanya bisa menangis dan pasrah.
“Kalau bukan karena Boss Romi dan Boss Anton menginginkan dia tetap hidup, sudah lama aku ingin menghabis**ya.”
“Benar sekali.”
- Flashback selesai -
“Apa yang mereka masksud adalah Anton Papanya Gadis itu?” Pikirnya lalu menyalakan enjin dan melaju.
Setibanya di rumah sakit. Zayn melihat ada secangkir kopi di atas mejanya.
Zayn berpikir bahwa itu adalah pemberian dari perawat yang membantu pekerjaannya.
Setelah Zayn menyeruput kopi itu, Nana muncul dari sebalik pintu.
“Gimana rasa kopi buatanku? Enak tidak?” Tanya Nana dengan ramah.
Zayn menoleh.
“Biasa saja.” Jawab Zayn. “Kenapa masuk ke dalam ruanganku sesuka hatimu? Kalau aku tahu ini pemberianmu, aku tidak akan meminumnya.” Lanjut Zayn ketus.
“Ini rumah sakit bukan milikmu bukan juga milikku. Aku mau pergi kemana saja terserah aku. Lagi pula ini ruangan praktek, bukan ruangan pribadi.” Jawab Nana manja.
“Keluar!” Perintah Zayn. “Jam praktekku sudah mulai.” Lanjutnya.
“Cihh!!” Nana menghentakkan kakinya lalu berjalan menuju pintu untuk keluar dari ruangan tersebut.
“Tunggu!” Ucap Zayn.
Nana sumringah lalu bergegas menghampiri Zayn di mejanya.
__ADS_1
“Nama Papamu Anton bukan?” Tiba-tiba Zayn teringat.
“Iya, kenapa?”
“Kamu memiliki Adik perempuan bernama Angel?” Tanya Zayn lagi.
“Ugh, iya. Dia Adik tiriku. Memangnya ada apa?” Nana penasaran.
“Tidak ada apa-apa. Sekarang kamu sudah boleh pergi.”
“Hufftt.” Nana menghempas nafasnya. Lalu pergi meninggalkan Zayn.
“Pantas saja Gadis bernama Angel itu tahu bahwa aku Suami Zara. Ternyata dia Adiknya Nana. Mungkin Nana pernah menyebut namaku dihadapan Adiknya itu.” Gumam Zayn.
Angel tiba di perusahaan.
Ia langsung naik lift dan masuk ke dalam ruangan Anton.
“Papa.” Panggil Angel.
“Ada apa sayang?” Tanya Anton. Kemudian ia mempersilahkan sekretarisnya untuk undur diri.
“Bagaimana hasil penyelidikan Papa?”
“Hmm. Sepertinya Papa sudah diblokir olehnya. Sebab itu Papa tidak bisa menemukan identitasnya. Baik secara online maupun offline. Bahkan rekan bisnis Papa tidak ada yang memiliki rekan kerja sama yang bernama Arfa.” Anton menjelaskan.
“Apa? Jadi maksud Papa dia kemungkinan adalah musuh Papa?” Angel terlihat lesu. Ia mengetahui bahwa Papanya memiliki beberapa musuh.
“Sepertinya begitu, Sayang.” Jawab Anton pelan.
“Haduuhhhh. Bagaimana ini? Kenapa bisa seperti ini?” Angel tertunduk lesu.
“Sayang, kamu masih muda. Bahkan usiamu masih delapan belas tahun. Masih banyak pria diluar sana yang bisa kamu dapatkan.” Anton menasehati.
“Hmmm.” Anton menghela nafas.
Ia melihat putrinya tertunduk lesu begitu seperti melihat dirinya sendiri di masa lalu ketika ia mengejar Lucy.
“Oh ya, Pa.” Tiba-tiba Angel teringat dengan Zayn.
“Apa Papa tau Kak Nana menyukai seorang pria bernama Zayn?” Tanya Angel.
“Tidak. Siapa dia?” Anton penasaran.
“Dia suami Zara. Seorang Dokter juga sama seperti Kak Nana.” Jawab Angel.
“Zara?” Tanya Anton.
“Iya, Pa.” Jawab Angel.
“Hmm. Mungkinkah Zara adalah putri Rizky?” Anton menebak didalam hatinya.
“Pa, hari ini Bang Zayn membentak aku didepan umum. Aku ingin Papa memberinya peringatan. Atau pelajaran juga boleh supaya dia tidak sembarangan lagi membentakku di kemudian hari.” Ucapan Angel membuat Anton tersentak
“Sayang, Papa tidak bisa memberi pelajaran begitu saja pada orang lain tanpa tau masalah yang sebenarnya.” Anton menasehati dengan lembut.
“Demi aku, Pa. Aku mohon.” Angel memelas.
“Hmmm. Baiklah. Hanya jika bukan kamu yang mencari masalah terlebih dahulu. Papa pasti akan menyuruh anak buah Papa untuk menghaj**nya.”
“Ugh.” Angel menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Saat melihat reaksi Angel seperti itu. Anton sudah tahu pasti Angel yang mencari masalah terlebih dahulu.
Meskipun Anton adalah Mafia yang kejam. Tapi ia hanya akan kejam terhadap orang yang bersalah dan terhadap musuh-musuhnya.
Ia memanjakan putrinya namun bukan berarti ia selalu menuruti keinginan putrinya itu.
***
Sore hari Zayn dan Zara pergi mengunjungi Jihan di Aura Cafe & Resto.
Didalam mobil saat perjalanan.
“Bibi Jihan ini. Apa aku pernah bertemu dengannya?” Tanya Zayn.
“Aku tidak tahu.” Jawab Zara.
“Apa dia hadir saat kita Akad?” Tanya Zayn lagi.
“Emm. Seingatku, Bibi Jihan tidak hadir. Aku juga tidak tahu kenapa.” Jawab Zara.
“Oh.” Sahut Zayn lalu masuk ke pekarangan Resto dan memarkirkan mobilnya.
Zara dan Zayn turun dari mobil. Mereka masuk dan duduk di dekat jendela agar bisa menikmati pemandangan. Ada kolam kecil dan air mancur ditengah-tengah halaman Resto.
“Tuan dan Nyonya. Ini buku menu, silahkan dilihat.” Seorang Pelayan wanita menghampiri mereka lalu meletakkan buku menu diatas meja.
“Terima kasih.” Ucap Zayn.
“Oh ya, Mbak. Aku ingin bertemu dengan Bibi Jihan. Apakah beliau ada?” Tanya Zara dengan lembut.
“Ibu Jihan ada diruangannya. Akan saya panggilkan.”
“Terima kasih, Mbak.”
“Sama-sama.” Sahut Pelayan tersebut lalu undur diri.
“Kamu yakin ingin memesan makanan dari Restoran ini?” Tanya Zayn.
“Iya, yakin seratus persen. Jika Abang sudah mencoba masakannya. Abang pasti akan sangat menyukainya.” Zara antusias.
Zayn hanya mengangguk pelan.
Tidak lama kemudian, Jihan tiba lalu duduk disebelah Zara.
Zara dan Jihan saling berpelukan.
“Tumben datang.” Ucap Jihan. “Ini suami kamu?” Tanyanya.
“Iya, Bi. Ini Bang Zayn suamiku, hehe.” Zara tertawa kecil. “Aku mau membicarakan sesuatu.” Lanjut Zara.
“Oh ya, apa itu?” Tanya Jihan.
“Aku dan Bang Zayn tinggal berdua di apartment. Bibi tahu betul aku tidak bisa memasak. Selama ini Bang Zayn selalu memesan makanan dari luar. Jadi aku berpikir mungkin sebaiknya aku memesan makanannya dari Resto ini saja.” Zara menjelaskan.
“Oh, begitu.” Jihan mengangguk. “Bibi sangat senang jika kalian berdua suka masakan Resto ini.” Lanjutnya.
“Lalu bagaimana dengan budgetnya? Untuk makan berapa kali? Dan harus diantar pukul berapa?”
“Untuk budget aku tidak akan memberi patokan, Bi. Yang penting makanannya bervariasi. Cukup untuk dua orang dua atau tiga kali makan.” Jawab Zayn. “Setiap hari kami meninggalkan apartment pukul delapan pagi. Jadi sebaiknya makanan dihantar sebelum pukul tujuh pagi.” Lanjutnya.
Zara mengangguk mengiyakan ucapan Zayn tersebut.
__ADS_1
“Oh, Baiklah. Bibi akan menyuruh bawahan Bibi untuk mengaturnya.” Sahut Jihan.
Setelah selesai membicarakan masalah makanan, mereka lanjut mengobrol dan saling bertanya kabar masing-masing.