
Assalamu'alaikum teman-teman readers... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini.. Ayo dukung author dengan cara like, komen, rate, vote dan fav.
Thank you. *Hug.
Happy Reading.... 💕
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah aku selesai mandi, aku membuka ponselku dan melihat apakah Luna sudah membalas chatku atau belum.
"Ternyata Luna belum membalasnya." gumamku di dalam hati.
Aku chat Luna lagi.
"Lun, kalau isi mimpinya tidak baik, sebaiknya jangan diceritakan. Masih ingat dengan haditsnya, kan?" tulisku. Lalu aku selipkan kutipan hadits.
"Hadits riwayat Ibn Majah dari Abu Hurairah. "Jika salah seorang dari kalian melihat mimpi yang tidak ia sukai, hendaknya ia mengubah posisi tidurnya, meludah ke kiri tiga kali, memohon kepada Allah kebaikan mimpi itu, dan berlindung kepada-Nya, dari keburukannya." sambungku. Lalu mengirim pesan tersebut pada Luna.
Bang Rizky masuk ke dalam kamar.
"Oh, sudah pulang. Kenapa lama, Bang?" tanyaku pada Bang Rizky.
"Iya, tadi Abang di ajak ngobrol dulu di masjid. Aura sudah mandi?"
"Sudah, Bang." jawabku.
"Oh, Abang mau mandi dulu ya." ucapnya.
"Iya." sahutku.
Ting!! Bunyi pertanda ada pesan masuk.
Aku lihat nama Luna tertera di sana. Aku langsung membuka kolom chatnya dan membaca apa yang ia tulis.
"Aku tidak tau ini termasuk mimpi buruk atau bukan. Tapi ntah mengapa selalu ada dorongan yang membuatku ingin menceritakannya padamu, Ra." balas Luna.
"Ya sudah ceritakan saja." pintaku.
"Sebelum aku ceritakan, kamu harus janji terlebih dulu." balasnya.
"Janji apa?" tanyaku lalu mengernyitkan dahiku, meskipun Luna tidak akan bisa melihatku.
"Janji kalau kamu akan mencari tau tentang arti mimpi ini." balasnya.
"In syaa Allah. Nanti akan Aura diskusikan terlebih dulu dengan Bang Rizky." tulisku.
"Kenapa harus kasi tau Bang Rizky?" tanya Luna.
"Karena Aura dan Bang Rizky sudah janji akan selalu terbuka. Tidak boleh ada yang disembunyikan." balasku.
"Baiklah. Aku mulai cerita nih.
Kita berdua berdiri di tepi laut, waktu itu airnya keruh banget. Lalu kamu pergi, Ra. Karena air lautnya keruh, kamu tidak suka. Tapi setelah kamu pergi, airnya malah berubah jadi jernih. Aku mimpi seperti ini sebanyak tiga kali.
__ADS_1
Dan yang ke empat, aku mimpi kita naik di atas perahu. Waktu itu airnya juga keruh baget. Aku lihat kamu turun dari perahu, dan setelah kamu turun dari perahu. Kamu masuk ke dalam air, airnya berubah jadi jernih.
Aku tidak tau ini termasuk mimpi buruk atau bukan. Tapi yang pasti menurut aku ini mimpi yang aneh dan perasaanku jadi tidak enak." tulis Luna panjang lebar.
"Oh, begitu isi mimpinya. Kalau menurut Aura mimpinya memang aneh sih." balasku. "Aura jadi penasaran ingin tau arti mimpi ini." sambungku.
"Iya, kamu tanya dengan ustadz atau ustadzah yang kamu percayai, Ra." tulis Luna.
"In syaa Allah. Tapi semoga arti mimpinya baik ya, Lun." balasku.
"Aamiin Allahumma Aamiin." tulis Luna.
Ya Allah, kira-kira apa arti mimpi itu? Semoga tidak tentang hal buruk. Aamiin.
Kreekk!! Suara pintu kamar terbuka. Bang Rizky masuk.
"Aura sedang memikirkan hal apa?" tanya Bang Rizky yang melihatku sedang melamun.
"Hah? Eh, Abang. Sudah selesai mandi, hehe." jawabku yang kaget bercampur gugup.
"Aura sayang, ada apa?" tanya Bang Rizky dengan lembut. Dia memang selalu bisa menebak setiap ekspresiku.
"Barusan Luna chat, Bang." jawabku.
"Lalu?" tanya Bang Rizky penasaran.
"Isi chatnya Abang baca saja sendiri, ya." ucapku dengan lembut lalu menyerahkan ponselku pada Bang Rizky.
Bang Rizky pun membaca isi chatku dan Luna dengan seksama.
Setelah Bang Rizky selesai membacanya, ia menatap kedua mataku.
"Bagaimana menurut Abang?" tanyaku pelan.
"Kalau menurut Abang, tidak ada salahnya kalau Aura mau mencari tau arti dari mimpi ini. Tapi yang namanya mimpi, bisa datang dari Allah dan juga bisa datang dari syaitan. Jadi jangan terlalu di percaya." jawab Bang Rizky lalu tersenyum padaku.
"Kalau begitu, Aura boleh bertanya dengan Ustadzah Shahida?" tanyaku.
"Iya, tentu saja boleh." jawab Bang Rizky lalu mengecup keningku.
Aku pun memulai chatku dengan Ustadzah Shahida.
"Assalamu'alaikum Ustadzah, saya Aura." tulisku lalu mengirimnya.
Tidak bisa kupungkiri bahwa aku juga merasa deg-degan setelah membaca isi chat Luna. Apakah kehadiranku menyebabkan airnya menjadi keruh? Tapi kenapa? Ada banyak tanda tanya di dalam benakku. Mungkin aku hanya akan bisa merasa tenang setelah mengetahui arti dari mimpi itu.
Ting!! Dengan semangat aku meraih gawaiku. "Ustadzah Shahida sudah membalas chatku." itulah yang terlintas di benakku.
Tapi ternyata.....
"Iiihhhh... Operator nyebelin." ucapku ketus.
Ting!! Sekali lagi. Kali ini beneran dari Ustadzah Shahida.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam. Iya Aura, bagaimana kabarnya?" balas Ustadzah Shahida.
"Alhamdulillah Aura masih dalam lindungan Allah, Ustadzah. Ustadzah sendiri bagaimana?" tanyaku.
"Alhamdulillah masih dalan lindungan Allah dan tidak kurang satu apapun." balas Ustadzah Shahida.
"Ada sesuatu yang ingin Aura tanyakan pada Ustadzah." aku mulai serius.
"Iya, tafadhol. Tanyakan saja." balas Ustadzah.
Aku forward chat dari Luna.
"Aura ingin tau apa arti dari mimpi itu, Ustadzah." tulisku.
"Owh, boleh-boleh saja. Tapi tetap saja Allah yang maha tau, Allah yang paling tau. Apa yang Ustadzah sampaikan kemungkinan masih bisa salah." balasnya.
"Iya, Ustadzah." tulisku.
Aku lihat Ustadzah Shahida sedang mengetik. Aku dengan sabar menunggu hingga Ustadzah mengirim jawabannya kepadaku.
"Arti mimpi yang pertama adalah, akan ada musibah yang menimpa. Dan mimpi yang ke dua berarti mampu bersabar dan bisa bangkit dari keterpurukan." tulis Ustadzah.
"Maksudnya akan ada yang terkena musibah, tapi pada akhirnya ia mampu melewatinya. Begitu Ustadzah?" tanyaku.
"Iya, tepat sekali." balasnya.
"Siapa yang akan terkena musibah, Ustadzah? Luna atau Aura?" tanyaku lagi.
"Aura. Tapi Ustadzah hanyalah manusia biasa, tempatnya salah. Aura mohon perlindungan pada Allah ya." jawab Ustadzah.
"In syaa Allah. Jazakillah Khairan Katsiiraa (semoga Allah Membalasmu dengan kebaikan yang banyak) atas jawabannya Ustadzah." tulisku.
"Waiyyaki Aura." balas Ustadzah Shahida.
Aku pergi menemui Bang Rizky yang sedang menonton breaking news.
"Bang, baca deh." ucapku lalu memberikan ponselku pada Bang Rizky.
Bang Rizky pun meraih gawaiku dan membaca isi chatku dan Ustadzah Shahida.
Setelah ia selesai membacanya, Bang Rizky mengusap rambutku dengan lembut.
"Kira-kira apa yang akan terjadi ya, Bang?" tanyaku pelan.
"In syaa Allah tidak akan terjadi apa-apa. Aura tidak perlu khawatir. Jangan terlaku difikirkan." jawab Bang Rizky.
"Iya, Bang." ucapku.
"Lagi pula Ustadzah Shahida sudah bilang kalau dia bisa saja salah. Jadi Aura tidak perlu cemas memikirkannya." Bang Rizky menasehatiku.
"Iya, Bang." jawabku lalu tersenyum pada Bang Rizky, suamiku yang paling memahamiku.
Mungkin hal itu bukanlah hal yang mudah untuk aku lupakan, bisa jadi aku juga akan sering kepikiran. Tapi apapun yang akan terjadi nanti, mau tidak mau, sanggup tidak sanggup, pasti akan tetap dijalani.
__ADS_1